seorang gadis rambutnya dikuncir cepol, memakai kaca mata tebalnya. gadis itu bernama melati atmaja, gadis berusia 25 tahun seorang desainer yang memiliki butik cukup ternama di jakarta. gadis itu adalah putri dari pasangan agung atmaja dan dahlia atmaja..
suatu hari gadis itu terpaksa harus menerima perjodohan yang telah di atur keluarganya untuk menggantikan sang kakak.
jadi bagai mana perasaanmu ketika kamu di jodohkan dengan laki-laki yang sedari dulu menjadi musuhmu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aprilia frahesta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
sampai siang melati masih saja mendiamkan varo, bahkan ketika selesai mandi ia membaringkan tubuhnya dan membungkusnya dengan selimut.
"yank kamu ngomong dong kalau aku ada salah, jangan diemin kayak gini yank" varo benar-benar bingung karna semenjak kemarin malam melati terus saja bungkam dan tidak mau bicara sedikit pun dengannya.
"yank bangunlah makan dulu, dari tadi pagi kamu belum makan"
melati sama sekali tidak menggubris semua perkataan varo ia masih larut dengan pengalaman buruk yang pernah ia alami dulu.
"yank aku juga punya batas kesabaran, aku ini suamimu. kalau ada masalah atau aku ada salah terhadapmu bicaralah. jangan hanya diam saja" bentak varo, ia benar-benar kesal kepada melati ia bergegas keluar dari kamar dan membanting daun pintu dengan sangat keras.
"sebenarnya apa salahku.? kenapa dia terus saja mendiamkanku" varo terus berjalan menyusuri tepian pantai, ia benar-benar bingung harus apa. karna melati tidak pernah mendiamkannya seperti ini, bahkan dulu di awal menikah ia sering berbuat kasar dan membentak melati masih begitu sabar menghadapinya.
"apa aku salah kalau aku meminta hakku sebagai seorang suami" gumam varo sambil mengacak rambutnya dengan frustasi.
malam itu jam sudah menunjukkan pukul 22.00 sedangkan varo belum juga kembali ke kamarnya.
"kemana dia.? kenapa dia belum kembali selarut ini, apa aku keterlaluan ya sudah mendiamkannya seperti ini. benar kata varo, dia suamiku dia berhak tau masalaluku. yah aku akan membicarakannya nanti setelah dia kembali"
cukup lama melati menunggu suaminya itu pulang, berkali-kali ia melirik ke arah jam dinding dan kini sudah menunjukkan pukul 23.30 namun tidak ada tanda-tanda suaminya itu akan kembali.
"apa dia marah dan meninggalkanku sendiri disini"
"ah tidak-tidak, dia tidak mungkin meninggalkanku. semua ini memang salahku" gumam melati sambil menangis sesenggukan.
tak lama setelah itu terdengar suara pintu terbuka varo tampak masuk kedalam kamar dengan penampilan yang begitu kacau, ia bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
melati bergegas bangun dan menyiapkan baju ganti untuk varo, di letakkannya baju itu di atas sofa, dan ia kembali mendudukan dirinya di atas tempat tidur. ia masih saja terus menangis, ia merasa bersalah kepada suaminya karna terus saja mendiamkannya.
setelah selesai berpakaian varo bergegas menuju ranjang namun belum sempat ia merebahkan tubuhnya, melati telah dulu memeluknya dengan erat.
"maafkan aku varo, aku salah karna terus mendiamkanmu" ujarnya dengan sesengukan
"lepaskan aku" ucap varo sambil berusaha melepaskan pelukannya melati, bukannya melepaskan pelukannya, melati justru mempererat pelukannya
"kamu benar, kamu adalah suamiku tidak seharusnya aku menyembunyikan apapun darimu, seharusnya aku berbagi cerita dengamu dan tidak menutup-nutupi apapun itu"
"yank lepasin, kalau kamu memelukku dengan erat seperti ini aku susah nafasnya yang. kamu mau membunuhku ya.? apa kamu mau menjadi janda" melati dengan cepat langsung melepaskan pelukannya.
"aku sudah memaafkanmu, tetapi jangan diamkan aku seperti tadi, aku tidak bisa jika kamu diamkan. kalau ada masalah bilang, dan kalau aku ada salah bilang jangan malah mendiamkanku"
"maafin aku yank" ucap melati sambil menyenderkan kepalanya kedada bidang suaminya.
"sebenarnya apa salahku.? kenapa kamu mendiamkanku seperti itu. apa aku salah, kalau aku meminta hakku sebagai seorang suami.?" melati menggelengkan kepalanya pelan ia kembali menangis, karna suaminya sampai berfikir seperti itu.
"lantas kenapa kamu mendiamkanku yank.? ceritalah aku ini suamimu, dan kita adalah suami istri harusnya kamu membagi bebanmu kepadaku"
melati menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan. dengan sedikit keberanian melati menceritakan apa yang telah terjadi kepada dirinya dan kakaknya dulu
flashback on
dulu waktu aku masih kelas sembilan, aku mengikuti les piano, dan kebetulan hari itu aku pulang lumayan larut malam sekitar pukul 22.00 sedangkan papa dan mama sedang berada di luar negeri, dan pak maman sopir pribadi papa sedang pulang kampung, jadi satu-satunya yang bisa menjemputku adalah kakak.
aku masih setia menunggu kakak, di karnakan macet karna ada kecelakaan jadi kakakku sedikit terlambat. tak lama datanglah sekitar 4 orang preman mendekatiku
"sendirian aja nih adik manis, kita temani ya.?"
"iya kita temani ya adik manis"
aku bergegas ingin pergi dan berlari dari tempatku, namun belum sempat aku pergi mereka telah menahanku dan dengan kasar mereka menarikku ke lahan kosong disamping tempat les musikku.
dua diantaranya memegangi tanganku dan satunya lagi memelukku dari belakang dan kedua tangannya mer***s dadaku dengan kasar, sedangkan yang satunya hanya duduk menonton aksi teman-temannya.
"hey kalian, lepaskan adikku" ucap mawar yang baru saja datang.
"wah-wah ternyata ada bidadari yang mau menyelamatkan adiknya" ucap mereka sambil melepaskanku, aku pun berlari dan langsung memeluk kakakku.
"pergilah dari sini mel cepat"
"tidak kak, aku tidak mau pergi. aku mau menemani kakak disini"
"tidak pergilah mel, kakak tidak ingin terjadi sesuatu terhadap dirimu"
"tapi aku juga tidak ingin kakak kenapa-kenapa"
"pergilah, cari bantuan. kakak bisa jaga diri kakak" dengan terpaksa aku meninggalkan kakakku sendirian, untuk mencari bantuan.
namun jalanan itu begitu sepi, tidak ada seorang pun yang lewat disana, dengan cepat aku menelefon polisi, sambil menunggu polisi aku kembali lagi ketempat semula, namun aku terlambat mereka telah memperkosa kakakku secara bergantian.
aku hanya bisa menangis di tempat persembunyianku, sambil terus melihat kakakku diperkosa oleh preman-preman itu tanpa bisa berbuat apa-apa. dan tak lama setalah itu polisi datang, aku langsung keluar dari tempat persembunyianku bersama dengan para polisi itu, preman-preman itu ditangkap oleh polisi. dan aku segera membantu kakakku yang sudah tidak sadarkan diri, bahkan wajahnya juga terdapat lebam-lebam tanda pukulan ketika kakakku berusaha melawan mereka.
setelah kejadian itu kakakku selalu mengurung diri di kamarnya. dia tidak mau pergi sekolah, yang dia lakukan hanya melamun setiap hari.
"kakak maafkan mel. mel terlambat minta bantuan hingga kakak harus mengalami kejadian yang keji itu" ucapku dengan merasa sangat bersalah kepada kakak, karna apa yang menimpa kakak, semua itu gara-gara aku.
"kamu tidak salah mel, justru kakak bersyukur karna bukan kamu yang mengalaminya. keluarlah mel, kakak ingin sendirian"
"tapi aku ingin menemani kakak"
"kakak bilang keluar mel" dengan terpaksa aku meninggalkan kakak sendirian dikamar.
hari berganti bulan. sudah satu bulan semenjak kejadian itu, dan kakakku sering kali mual-mual di pagi hari dan dia tidak suka dengan aroma makanan yang menyengat.
"kakak mau kemana.?" tanyaku yang baru saja pulang dari sekolah, dan berpapasan dengan kakak yang hendak memasuki mobilnya.
"kakak pergi dulu sebentar, kamu dirumah saja"
ini untuk pertama kalinya setelah insiden itu kakakku mau keluar rumah.
*"sebenarnya kakak mau kemana.?"* gumam melati dalam hati ia benar-benar khawatir kepada kakaknya, apa lagi setelah kejadian itu kak mawar mengalami depresi.
namun tak begitu lama mawar telah kembali kerumah.
"kakak dari mana saja.? aku menghawatirkan kakak"
"kakak hanya keluar sebentar untuk mencari angin" ucapnya sambil masuk kedalam kamarnya.
pagi itu kami sekeluarga telah berkumpul dimeja makan.
"bibi sudah mengantarkan makanan untuk kakak.?"
"belum non, ini bibi baru mau mengantarkan makanan untuk non mawar" jawab bibi sambil mengambil nasi dan beberapa lauk pauk, beserta segelas air putih, dan segelas susu.
"biarkan mel yang membawakan sarapan kakak bi"
"biar bibi saja non, non melati selesaikan saja sarapannya. nanti non melati malah kesiangan kesekolahnya"
"iya mel biar bibi saja" ucap mama.
"tidak ma, pokoknya mel mau menyuapi kakak makan"
*"entah mengapa perasaanku tidak enak, aku ingin sekali berada di samping kakak"* gumam melati dalam hati.
ia bergegas mengambil nampan makanan itu dan pergi menuju kamar mawar.
"kakak aku bawain sarapan nih, aku suapin ya" ucap melati sambil menerobos masuk kedalam kamar mawar.
prang.......
nampan yang ia bawa, jatuh karna melihat kondisi kakaknya yang mengenaskan, dan dari mulutnya keluar busa.
"mama........ papa...." melati berteriak sekencang mungkin memanggil kedua orang tuanya. ia langsung berhambur memeluk tubuh mawar yang telah terkulai lemas di lantai.
"kenapa sih mel kamu teriak-teriak gitu" ucap mama dari luar kamar, dan ketika mereka memasuki kamar putri sulungnya, betapa terkejutnya melihat putri sulung mereka dengan kondisi mengenaskan.
"astaga, apa yang terjadi dengan kakakmu mel.?"
"melati tidak tau pa, tadi sewaktu aku masuk, kakak sudah seperti ini. tapi mel menemukan ini pa" melati memberikan sebuah tespack yang terdapat dua garis merah itu kepada papa.
"astaga, mawar hamil" ucap papa sambi mengusap kasar wajahnya, sedangkan mama mulai menangis setelah mendengae kak mawar hamil
"ayo cepat bawa mawar kerumah sakit pa.!"
"iya ma" ucap papa sambil membopong tubuh mawar
setibanya dirumah sakit dongket dan beberapa perawat langsung menangani mawar di dalam ruang ICU.
"kenapa lama sekali"
"tenanglah ma, kita berdoa saja semoga putri kita baik-baik saja"
"gimana aku bisa tenang pa, sedangkan putri kita di dalam sedang berjuang dan mempertaruhkan hidupnya" mama memeluk papa tak henti-hentinya air matanya jatuh membasahi pipinya. sedangkan papa matanya nampak sudah memerah dan berkaca-kaca.
untuk pertama kalinya melati melihat kedua orang tuanya sedih seperti ini. tak beberapa lama dokter yang menangani mawar keluar dari dalam ruangan. kami semua bergegas berdiri menghampiri dokter itu
"bagaimana kondisi putri kami dok.?" tanya papa.
"maaf bapak, ibu. kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun Tuhan berkehendak lain. putri bapak, dan ibu tidak bisa diselamatkan"
"tidak dok itu tidak mungkin"
papa nampak telah menangis air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh juga, sedangkan mama sudah tidak sadarkan diri.
semenjak kejadian itu, mama dan papa menjadi overprotektif kepadaku. bahkan mereka memberiku sopir pribadi sekaligus seorang bodyguard.
dan semenjak itu, aku merubah penampilanku menjadi melati yang culun, berkacamata tebal
flashback off
"maafkan aku sayang, aku tidak mengetahui kalau kamu mempunyai pengalan seburuk itu" ucap varo sambil menghujani pucuk kepala melati dengan ciuman.
"tidak apa-apa varo, harusnya aku yang meminta maaf kepadamu, karna aku telah mendiamkanmu"
"tidak masalah. sekarang berjanjilah kepadaku, kalau kamu tidak akan menyembunyikan apapun dariku"
"iya aku berjanji"
"jadi mawar atmajaya adalah kakakmu.?"
"iya, apa kamu mengenal kakaku.?"
"iya dia satu angkatan denganku tapi dia anak IPA dua"
"iya, seharusnya kalau kakak masih ada dia seumuran denganmu"
"iya. dia dulu gadis yang cantik, selain cantik dia juga baik"
"apa kamu menyukai kakakku.?"
"tidak, aku hanya kagum saja terhadapnya. karna waktu itu aku sudah berpacaran dengan amanda. sedangkan mawar dan amanda dulu bermusuhan karna manda pernah merebut rio kekasih mawar"
"aku fikir kamu menyukai kakakku"
"tidak, kamu adalah gadis pertama yang aku sukai"
"kamu berbohong. kalau aku yang pertama lalu nona amanda itu apa.?"
"aku tidak berbohong yank, kamu memang yang pertama. aku dan manda dulu terpaksa, aku lelah karna di terus-terusan mengejarku jadi aku terpaksa menerimanya."
"baiklah aku percaya kepadamu suamiku"
"yasudah tidur yuk ini sudah larut malam"
melati mengaggukan kepalanya sambil terus memeluk suaminya dengan erat, begitu pula sebaliknya varo pun juga membalas dekapan istrinya juga tidak kalah erat. hingga tak butuh waktu lama mereka telah lelap dibuai oleh mimpi.
kata "itu" mestinya digunakan sbg petunjuk bhw keadaan/kondisi yg digambar oleh kalimat dimaksud terjadinya sdh lewat(bentuk lampau...)🙏