Semenjak mama dan kakek meninggal, hidup Ryuna seperti kereta api tanpa rel. Memiliki papa, namun dia tak pernah mencintai mamanya dan menginginkan dirinya. Bagi papanya, hidup dengan mamanya itu hanya sebuah kecelakaan dan paksaan.
Memiliki kepribadian introvert dan pendiam. Ryuna sering kali di-bully dan dipandang remeh oleh teman-teman satu sekolahnya.
Hidup Ryuna terasa komplit.
Ya, komplit untuk semua luka dan derita.
Tapi, sikap lembut Barry padanya membuat Ryuna sering kali marah dan tak membutuhkan belas kasihannya.
Barry menegaskan bahwa dia benar-benar mencintainya. Tapi, semua lelaki di mata Ryuna sama saja. Mereka hanya sosok pria kasar yang berhati dingin.
Apakah Barry juga bersikap dingin seperti papanya suatu hari nanti? Apakah mungkin cinta yang dilontarkan Barry itu tidak semata-mata hanya untuk menjebak lalu mempermalukannya di depan semua orang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kei68, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19. Membatasi Rasa Suka
..."Akan ada kepahitan saat kamu berharap kepadanya (manusia), dan akhirnya kamu memutuskan untuk hanya berharap kepada Allah semata."...
...***...
^^^Pratama^^^
^^^Senang bertemu denganmu. Lain kali kita bertemu lagi boleh?^^^
Dasar bodoh. Gue lagi berusaha buat menghindar, tapi lo malah minta bertemu lagi. Ryuna menggaruk pelipisnya, bingung dengan situasi sekarang.
Di sisi lain ia senang karena orang yang disukainya sekarang berada dekat dengannya tapi di sisi lain ia ingin menjauh dari pria itu sebab dirinya tak ingin lagi menumbuhkan rasa suka itu semakin dalam. Salah satu cara untuk meredakan dan menetralkan rasa itu kembali adalah dengan menghindar, maka dari itu akan mudah prosesnya untuk melupakan setelahnya. Mengambil risiko ini memang berat baginya tapi inilah yang harus dilakukan jika tak mau bertanam luka lagi.
Tapi, bagaimana sekarang? Ryuna tampak frustrasi. Baru kali ini ia menemukan cowok sederhana, namun begitu ia sukai.
Karena kebingungan, akhirnya Ryuna memilih untuk tidak membalas pesan itu dan mencoba untuk mengabaikannya sampai besok harinya hal itu malah dipertanyakan cowok itu secara langsung, ditemuinya tepat di depan kelasnya. Hal itu cukup mengejutkan bagi teman sekelas Ryuna yang diketahui tak pernah dekat dengan cowok mana pun.
“Mau apa lo ke sini?” Ryuna dibuat kaget olehnya.
Namun, Dewa tampak biasa saja tak menghiraukan tatapan mata dari kelas Ryuna yang hendak bertanya-tanya.
“Mending kita bicara di bawah.” Ryuna mendahului cowok itu yang ikut menuruni anak tangga.
Kenapa dia harus malu? Dewa tersenyum miring, ini benar-benar aneh. Di saat semua perempuan ingin sekali kenal dekat dengannya cewek yang satu ini malah terlihat risih dengan keberadaannya.
“Kenapa lo ke kelas gue?” Tanyanya lagi.
Kini mereka berada di samping gedung sekolah, tidak terlalu banyak siswa yang berlalu lalang di sana.
“Kemarin gue chat, tapi lo nggak balas. Gue ingin tau kenapa?” Tanyanya.
Ryuna terkekeh gila dihatinya, hanya dengan alasan sekecil itu dia nekat menemuinya di kelas. Dirasakannya bukan itu alasannya, pasti cowok itu mencari cara agar dia bisa bertemu dengannya.
“Alasan yang keren.” Gumam Ryuna tanpa sadar.
“Hmm? bilang apa?” Dewa sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan.
Ryuna menatapnya ketus. “Gue nggak suka lo datang ke kelas gue, jadi jangan pernah lagi melakukan itu lagi."
“Gue jadi bingung, lo pernah bilang gue suka sama gue. Tapi, sikap lo kok begini saat gue bertatap langsung sama lo?”
Ryuna tersenyum kecil, namun dilukis rasa kecewa dalam hatinya. Karena lo telah buat gue kecewa dan patah hati, hati yang patah akan sulit diluruskan lagi. Kalaupun bisa tetap aja bakal meninggalkan bekas di sana.
Pertemuan antara Dewa dan Cheishaven masih membekas di pikiran Ryuna, ternyata Dewa memiliki tunangan? Tapi, diputuskan begitu saja hanya karena kesalahpahaman di antara mereka.
Mula-mula Ryuna memang kecewa mendengar pria itu telah memiliki tunangan, tapi ia lebih kecewa lagi saat mendengar dia tak mau memperjuangkan apa yang harus diperjuangkan.
Bagaimana bisa Dewa mudah memutuskan pertunangan mereka hanya karena kesalahan kecil? Setelah itu ditinggalkannya hanya karena alasan kecewa yang membekas di hati. Dia tak mau lagi maju untuk menghadang permasalahan yang akan mereka hadapi selanjutnya.
Jika dipikir-pikir lagi, Dewa adalah tipe orang yang tak mau berjuang dan muda menyerah. Dia tak mau memiliki masalah dengan orang lain untuk itu dia memilih menghindari masalah itu dengan menjauhi mereka.
Ryuna pernah menyukai Dewa, tapi merasa jika tak pantas untuk dilanjutkan lagi rasa itu sebab ini adalah keputusan yang salah.
Dari perihal sebuah nama saja contohnya setelah disusul lebih jauh lagi tentang pria itu ternyata memiliki nama lengkap Dewa Ardan Pratama dan dia hanya mengakui nama Pratama saja padahal orang-orang di luar sana memanggilnya dengan nama Dewa.
Bukan itu saja, sebenarnya Dewa bukanlah tipenya, tapi entah kenapa dirinya selalu saja melihat pria itu. Ia suka dengan kesederhanaannya yang tak pernah neko-neko. Tapi, mengingat Dewa orang yang terlalu ramah pada semua perempuan hal itu yang membuat Ryuna batal menyukainya karena menurutnya buat apa mengenali banyak perempuan dan tersenyum ramah pada mereka, sebab Ryuna orang yang suka cemburu maka dari itu ia tak mau orang yang disukainya melihat lebih orang lain.
Tapi, ia menyadari posisinya, memangnya dirinya siapa? Bukan siapa-siapa kok. Ryuna juga tahu diri, bahkan banyak orang di luar sana yang pantas bersamanya dan itu bukanlah dirinya.
Jangan terlalu berharap karena jika tahu bagaimana dia yang sebenarnya maka hati akan kecewa. Itulah kata-kata yang harus diingatnya, Ryuna menghela napas kecil.
Seharusnya aku membatasi rasa suka ini.
...***...
Barry sudah mendengar semua cerita dari Viona di mana Ryuna telah menyukai orang lain dan itu bukanlah dirinya, memang inilah risiko jika menyukai orang lain.
Terkadang tidak seperti yang dipikirkannya gadis itu akan suka padanya sewaktu-waktu karena sering mengganggunya, tapi ternyata salah.
Pagi ini juga sudah dilihatnya sendiri saat cowok yang merupakan kakak kelasnya datang menyapa Ryuna dan mereka sedang membicarakan sesuatu sebelum akhirnya mereka pergi entah ke mana.
“Sudahlah Barry mending cari cewek lain yang bisa suka sama lo apa adanya.” Lucio menasihati temannya itu yang tampak murung duduk di bangkunya sambil menatap lurus dengan tatapan kosong.
“Jangan bilang yang kayak gitu sebenarnya lo ucapkan untuk diri lu sendiri.” Balas Barry dingin. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan keluar entah pergi ke mana.
“Apa?” Lucio kembali memikirkan yang baru diucapkannya.
Untuk dirinya? Mungkin memang benar, karena nyatanya ia suka pada Viona yang malah menyukai temannya sendiri, Rafan.
Sedangkan Barry menatap dingin pada dua orang yang ada di sekitar sekolah. Mereka tampak saling bertukar cerita, Ryuna hanya akrab pada orang yang dikehendakinya. Bukan padanya dan cowok mana pun, tapi hanya pada pria beruntung itu.
Napasnya terdengar berat, sesak dada masih dirasakannya. Hal yang didapatnya adalah kecewa yang sama, mulanya ia dibuat patah hati oleh Sheva, lalu sekarang Ryuna.
Apakah dirinya tak bisa mendapatkan seseorang yang bisa mencintainya dengan tulus? Di saat dirinya melabuhkan sebuah rasa pada satu orang yang membuat ia yakin, tapi berkali-kali ia gagal dalam mendapatkan seseorang itu.
Dua orang yang memiliki paras cantik, namun tak ada salah satu di antaranya yang menjadi temannya. Mereka telah menemukan kebahagiaannya sendiri. Barry pergi dari balkon sekolah lalu masuk ke dalam ruangan meninggalkan dua orang berlainan jenis itu larut dalam percakapan hangat mereka.
“Jadi, lo suka outdoor daripada berada di suatu ruangan?” Dewa tersenyum kecil, sinar mentari yang menerpanya membuat alis mata tegasnya terlihat memesona saat di mana matanya mengecil menyesuaikan kontras penglihatannya.
“Begitulah, kadang kalau aku terus berada di suatu ruangan rasanya kurang bebas, pengap.” Ungkap Ryuna menoleh ke samping sejenak.
Ia terus melangkah bersama dengan langkah pria itu yang tampak menyamakan kecepatan langkahnya.
Ryuna mencoba untuk mengenal pria itu yang pada akhirnya adalah keputusannya, hasrat hatinya terasa sulit jika dipaksakan untuk menghindar sebelum memecahkan rasa penasarannya seperti apakah sebenarnya pria ini.
Keadaan tampak tenang saat mereka larut dalam percakapan sederhana tentang aktivitas mereka hingga tentang keluarga mereka.
Tampaknya Dewa luwes berteman dengan siapa saja, lihat saja bagaimana dia tak berhentinya memulai percakapan yang topiknya terus ada. Beda dengan Ryuna yang hanya bertanya sesekali lalu hanya betah dalam mendengarkan ocehan lelaki itu dengan senyuman kecil yang kini telah terukir pertama kalinya untuk Dewa.
Terkadang saat kelelahan sudah menghampiri bahkan tidak akan ada secuil pun lagi rasa berharap itu karena disaat itu juga Allah sudah mematikan rasa itu untuknya dan menggantikannya dengan yang bisa menghargai dirinya.
Terima kasih
semangat dan sukses selalu ya
jgn lupa mmapir ya 🤗😍
Numpang promote juga ya
kalau sempat ke karya ku juga ya guys... terimakasih..
SEMANGAT... JAGA KESEHATAN KALIAN...
Numpang promote juga ya
kalau sempat ke karya ku juga ya guys... terimakasih..
SEMANGAT... JAGA KESEHATAN KALIAN...
sukses iya kak untuk karyanya
jangan lupa mampir di karya pertamaku yang menceritakan tentang cowok letoy yang selalu ditolak sama cewek dalam judul THE FAILED PLAYBOY.
Terimakasih 🙏
salam damai dari keturunan raja