Assalamualaikum readers ketemu lagi di novel Author lagi, semoga kalian tidak bosan membaca novel Author, Happy reading....
CINTA BISA BERTAHAN DALAM KESEDERHANAAN
TETAPI TIDAK DALAM PENGHINAAN
CINTA ITU SUCI DAN HARUS DI HORMATI
KETIKA RASA HORMAT DALAM CINTA MENGHILANG
CINTA ITU AKAN PERLAHAN PERGI.
Bastian Wirayudha pria berusia 33 tahun harus hidup seperti robot di dalam keluarga istrinya shopia Valentine Grace 30 tahun, kehidupan Bastian di istana mewah milik istrinya tak ubahnya seorang budak, ia harus mengikuti setiap perkataan ayah mertuanya yang dikenal seorang konglomerat yang memiliki kekuasaan yang besar di bidang ekonomi maupun pemerintahan.
Bastian bukanlah pria miskin, ia juga berasal dari keluarga pengusaha yang cukup mapan, tapi karena strata keluarga Bastian lebih rendah, maka Bastian seperti tidak ada harga dirinya di keluarga istrinya.
suatu hari ia bertemu gadis sederhana yang menyimpan sejuta rahasia, yang menyadarkan dia akan sebuah arti cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Mia. t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 31
Mata Ghina membelalak saat menatap sosok pria yang berjalan di koridor.
di koridor depan...
Terlihat seorang pria tinggi berjalan bersama sekretarisnya sambil membaca sebuah berkas di tangannya.
" Pak...Bastian "
" Gawat.."
" Belum saatnya dia tahu, bisa mati aku "
Ghina terlihat panik dan matanya menoleh ke kiri dan ke kanan untuk mencari tempat yang aman untuk bersembunyi.
Bastian masih belum melihat posisi Ghina.
Pria itu sedang melihat beberapa dokumen di tangannya sambil sesekali berbicara dengan sang sekretaris.
Karena fokus pada berkas, ia tidak melihat ke depan.
Ghina semakin panik karena jarak mereka semakin dekat.
Sementara itu, langkah Bastian semakin mendekat.
Sepuluh meter.
Delapan meter.
Lima meter
Ghina sudah hampir kehilangan akal.
" Ya Tuhan..."
" Bagaimana ini...matilah aku...." gumam Ghina.
Tiba-tiba
Srettt
seseorang menarik tangan Ghina dan membawanya masuk ke sebuah ruangan Accounting yang terlihat sepi.
Brak
pintu langsung di tutup dari dalam
Ghina langsung bersandar di pintu.
Jantungnya berdebar kencang.
" Astaga...hampir saja "
Ranti menahan tawa.
" Kamu seperti buronan."
" Aku hampir mati."
" Kamu berlebihan."
" Tidak! Aku belum siap ketahuan."
" Kali ini kamu berhutang nyawa padaku, wahai saudaraku "
" Syukurlah...kamu datang tepat waktu Ranti "
" Terimakasih "
ucap Ghina sambil mengusap dadanya.
" Hampir saja "
gumam Ghina kembali.
" Kamu sudah selesai?" tanya Ranti.
" Sudah "
" Tadi aku baru mau menghubungi kamu " kata Ghina.
" Aku sebenarnya menunggumu sejak tadi, tapi Tiba-tiba aku kebelet pipis, jadi aku pergi ke toilet, untung aku cepat kembali, bagaimana kalau aku telat sedikit, bisa hancur rencanamu "
Ghina hanya mengangguk pelan
Wajah Ghina yang tadi terlihat panik kini sudah bisa bernafas lega.
Bagaimana kalau tadi ketahuan, apa alasan yang harus ia katakan.
Sedangkan ia belum siap untuk bertemu, walaupun wajah itu begitu di rindukannya.
" Ingat, kamu berhutang padaku Ghina "
" iy, aku tahu "
" Nanti kamu harus membayarnya"
" Membayar...mau aku traktir ?"
Ranti menggelengkan kepalanya.
" Uang ..."
Ranti kembali menggeleng.
" Terus kamu mau aku membayarmu pakai apa "
Ranti tersenyum lebar dengan mata yang berkedip.
Ghina menatapnya curiga.
" Jangan bilang kamu..."
" Iya benar sekali, bantu aku mendekati adikmu ya ..."
Ghina sudah menduganya....
Ghina menghela nafas berat.
" Itu akan susah Ranti, adikku itu seperti batu pegunungan yang keras dan kokoh, tidak akan mudah membuatnya luluh "
" Makanya itu aku butuh bantuanmu "
" Adikmu itu sangat menggemaskan Ghina " kata Ranti sambil membayangkan wajah Ghani.
" Ck..sepertinya kamu mudah tertarik pada pria tampan "
" Eit....jangan memfitnah ya, aku belum pernah pacaran, aku hanya baru tertarik pada...."
Tiba-tiba
Sstttt...Ghina mengulurkan jarinya ke arah bibir Ranti.
Di luar ruangan.
Langkah Bastian dan sekretarisnya terdengar melewati koridor.
Membuat Ghina refleks menahan napas.
Beberapa detik yang terasa sangat lama akhirnya berlalu.
Setelsh Suara langkah itu semakin menjauh.
Barulah Ghina mengembuskan napas panjang.
" Aman.."
Ranti sampai tertawa kecil.
" Kamu lucu sekali."
Namun Ghina masih memegang dadanya.
Karena baru beberapa menit menjadi karyawan PT Cakra Buana...
Ia hampir tertangkap oleh orang yang sama sekali belum tahu bahwa salah satu staf paling absurd di perusahaannya kini diam-diam pindah ke Kota Y dan akan bekerja satu gedung dengannya mulai besok.
******
Sedangkan di apartemen mewah, Marion duduk di sebuah sofa, dengan tangan yang membawa gelas wine.
Mata Marion menatap ke arah tempat tidur, di mana tubuh Shopia yang tertidur dengan tubuh tanpa sehelai benangpun, tubuhnya hanya terbungkus selimut tebal.
Marion tersenyum tipis sambil tangannya mengoyang-goyangkan gelas winenya.
" Kini, aku bisa mengambil apa yang menjadi milikmu Bastian, kamu akan tahu bagaimana rasanya jika cintamu pergi darimu"
" Tidak hanya istrimu yang akan aku ambil, ke mewahan yang kamu rasakan saat ini akan perlahan aku ambil..." gumam Marion, lantas ia meminum minumannya.
Tubuh Shopia perlahan bergetar, tangan Shopia meraba kasur yang ada di sampingnya.
Saat ia tak merasakan apa yang di cari, perlahan ia membuka matanya.
Shopia tersenyum tipis saat melihat Marion yang menggunakan bathrobe duduk di sofa.
" Kamu sudah bangun sayang " tanya Shopia dengan suara yang serak.
" Iya, tidurmu nyenyak sekali sayang, aku jadi nggak tega untuk membangunkanmu " kata Marion.
Shopia menyibak selimutnya, sehingga tubuhnya yang tak menggunakan apapun itu terpampang nyata si depan mata Marion.
perlahan Shopia turun dari ranjangnya dan berjalan pelan ke arah Marion.
Shopia langsung duduk di atas pangkuan Marion.
" Apa kamu sudah pesan makanan "
" Sudah..lihatlah " kata Marion sambil menunjukan beberapa makanan di atas meja.
Shopia dengan jarinya mengusap lembut dada bidang Marion.
" Kenapa hari begitu cepat berlalu, tak terasa hari sudah sore " kata Shopia saat matanya melihat ke arah jendela.
Marion tersenyum lebar, ia meletakkan gelasnya di atas meja.
Lantas tangannya langsung memegang pinggang Shopia.
" Apa kamu akan pulang ?"
Shopia tersenyum lebar.
" Kamu inginnya gimana?" tanya balik Shopia.
" Apa bisa kamu malam ini tinggal di sini, aku masih merindukanmu "
Shopia kembali tersenyum.
" Baiklah, aku akan di sini semalam, kita bisa berpesta sampai pagi "
" Bagaimana dengan Bastian?"
" Ia tidak akan pulang ke rumah, ia sering pulang ke apartemennya " kata Shopia.
" Baguslah, kita bisa menghabiskan malam ini bersama "
tanpa menunggu waktu Marion kembali menyerang tubuh Shopia.
Di sore itu keduanya kembali merengguk manisnya madu dunia.
Tanpa memikirkan kalau ada dua hati yang akan terluka.
****
Sedangkan di kamar Vallen, gadis kecil itu terus menangis.
Sejak pulang sekolah Vallen terlihat rewel, dan ternyata setelah di periksa Lina, tubuh Vallen ternyata demam.
Lina terus menenangkan Vallen.
perlahan Lina memegang dahi Vallen kembali.
" Panas sekali padahal sudah di kasih obat penurun panas " gumam Lina.
Lina mengambil sebuah kompres untuk anak dan menempelkan pada dahi Vallen.
" Daddy...Daddy...cus ..Vallen mau Daddy..." kata Vallen sambil menangis pelan.
" Vallen jangan nangis terus ya, Cus mau telpon Daddy, nanti kalau Daddy dengar vallen nangis Daddy akan cemas "
Vallen menganggukkan kepalanya.
" Sekarang Vallen tidur dulu ya, nanti kalau Daddy sudah datang, encus bangunin "
Vallen kembali mengangguk dan mencoba menutup matanya.
Tak lama Vallen pun tertidur.
Suster Lina mengambil ponselnya dan menghubungkan Bastian.
" Selamat sore tuan muda "
" Sore Lina, ada apa " sahut Bastian dari seberang.
Bastian selalu cepat jika mendapatkan telepon dari susternya Vallen.
" Tuan, nona kecil badannya sangat panas "
" Apa kamu sudah memberikannya obat "
" Sudah tuan, Sepulang sekolah tadi nona kecil badannya sudah panas, setelah makan siang langsung saya beri obat penurun panas, tapi sampai saat ini panasnya tidak turun tuan, tambah naik "
" Mommynya di mana , apa tadi ia tidak jemput sekolah "
" Tidak tuan, nyonya pergi setelah mengantar nona kecil, dan tadi kami pulang hanya bersama sopir"
Bastian menghela nafas berat.
" Baiklah aku segera pulang, tetap awasi Vallen, jangan tinggalkan dia "
" Baik tuan "
######
Jangan main- main dengan Keluarag Manggala & Narendar apalagi Keluaraga dari bestiè sebelahnya yang sekaligus jadi besan Manggala yaitu keluarga Pradipta ( Dio Fandi Pradipta ) semua keturunan dari tiga keluarga besar adalah bibit premium.. 🥰🥰🥰
Bastian akan lebih kaget lagi jika tahu siapa Ghina sebenarnya.. belum lagi ketangGuhan dalam. bela dirinya yang bergelar sabuk hitam malah mungkin melebihi itu.. jadi walaupun keluarga Tan mau bikin ulah pada Ghini atau Bastian.. siap- siap aja akan di kerangkeng di bawah tanah milik pribadi kelurga besar Ghina..
Yakinlah Bastian.. langkah yang kau ambil sudah tepat Bahakan kamunakan dapat kebahagiaan yang tidak kamu bayangin sebelumnya.. begitupun dengan anakmu Vallen.. akan mendapatkan kasih sayang yang Tulus dari Ghina & Keluarga besarnya...
Keberanianmu sangat gentle sebagai perempuan yang bermartabat Ghina.., Mantap + KeReeenNn...👍🏻👍👍🏻💙💛💙😘😘😘
menyesal tiada guna ...
Uh.. Udah jedag jedug aja tu jantung bas! Spa kabar tu jantung klo kamu tahu siapa ghina sebenarnya? 🤭🤭