Nama Davina Ane Birawa
Berat Badan 80kg, Tinggi 150cm
Gendut itu yang pertama kali orang lihat dari diriku, bukan kepintaranku, kepandaianku atau kesuksesanku, bahkan wajah manisku ini hilang karena berat bandanku. Ya karena Aku Gendut, terus kenapa?..........
Nama Dipa Madaharsa
Tampan, wibawa, pintar, pandai, dan sukses. Namun angkuh.......
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuli Susilowati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dipa Madaharsa
Ane menatap Dipa dengan tatapan yang tidak suka, bodohnya kenapa dia tidak pergi saja. Tapi bagaimana jika bahan-bahannya tidak kembali nanti. "Ah.... " teriak Ane dalam hati.
"Hai tuan yang tidak tahu namanya dan tidak mau dipanggil tuan, kenapa kau mengerjai ku sih?" tanya Ane.
Dipa tidak menjawab pertanyaan Ane, dia masih sibuk mengunyah makanannya dengan santai.
"Hai jawab dong" teriak Ane, yang membuat mata pelanggan restauran melihat ke arahnya.
"Apa kamu tidak malu teriak-teriak seperti ini didepan tamu yang lain" ucap Dipa.
"Ah aku sudah tidak peduli dengan mereka. Yang aku perduli kan sekarang adalah bahan-bahan ku, cepat kembalikan" ucap Ane.
"Aku sudah bilang, nanti aku antar kan setelah aku selesai makan" ucap Dipa sambil menyeruput teh hangatnya.
"Mana mungkin aku bisa percaya kamu begitu saja, kita tidak saling kenal" ucap Ane.
"Makanya cari tahu siapa aku" ucap Dipa yang tidak mau kalah.
"Cari dimana dan buat apa?" tanya Ane.
"Katanya mau saling kenal" jawab Dipa.
"Kenapa repot sekali harus mencari informasi tentang mu, kita kan bisa berkenalan langsung" ucap Ane.
Dipa selesai makan, dia tidak menyambung ucapan Ane. Dia lebih memilih berdiri meninggalkan Ane. "Bukannya aku terkenal ya, kenapa dia tidak tahu sama sekali tentang ku sih" batin Dipa yang kecewa.
"Hai tunggu, kenapa malah aku ditinggal sih" teriak Ane lagi.
Ane sebenarnya sangatlah malu, dia teriak-teriak sama seseorang, namun tidak direspon sama sekali.
Dipa kembali masuk dan Ane pun akhirnya ikut masuk ke dalam mobil. Anjar yang melihat tuan dan calon nyonya nya masuk segera menjalankan mobil.
"Anjar antar aku ke hotel Angkasa" ucap Ane memohon.
"Iya nona saya akan mengantarmu, tapi sebelumnya kita mampir sebentar" ucap Anjar.
"Mampir lagi, kenapa kalian mengerjai ku sih" ucap Ane kesal.
"Maaf nona, saya tidak mengerjai anda" jelas Anjar.
"Lalu ini apa, aku tidak mengenal tuan mu yang sombong ini. Ditanya namanya dia tidak mau menjawab, malah suruh nyari sendiri. Makan tidak di tawari sama sekali, dia enak-enak kan makan sendiri. Aku dibuat seperti orang gila teriak-teriak sama dia, tapi tidak direspon sama sekali" ucap Ane yang sudah mau menangis.
Baginya hari ini adalah hari yang sial buatnya, bertemu dengan orang aneh dan sombong.
"Tuan, Nona mohon tunggu sebentar" ucap Anjar.
Anjar keluar dari mobil dan masuk ke sebuah rumah mode terkenal di kota S yang memiliki toko bahan-bahan pakaian yang lengkap didalamnya.
Sebelumnya Anjar sudah menyuruh anak buahnya untuk mencari bahan yang dibutuhkan Ane kepada suruhannya. Dengan cepat suruhannya sudah menemukan dimana bahan itu bisa didapat.
Selama ditinggal Anjar, Ane dan Dipa hanya diam saja. Dipa memilih diam karena egoisnya, Ane memilih diam karena masih kesal dengan lelaki yang sangat menjengkelkan dibelakangnya. Ane mengajaknya mengobrol pun paling tidak direspon lagi.
"Maaf Tuan dan Nona Ane menunggu" jelas Anjar yang tiba-tiba masuk ke dalam mobil.
Tanpa ada jawaban Anjar kemudian melajukan mobilnya. Kurang dari lima belas menit mereka sudah sampai di hotel Angkasa tempat Ane mengikuti kompetisi.
Pelayan melihat mobil tuannya datang segera mendekat, namun Anjar tiba-tiba keluar dan mengatakan bahwa tuannya tidak turun, jadi pelayan tidak usah membukakan pintu untuknya.
Ane kemudian turun dari mobil tanpa mengucapkan terima kasih atau apa karena rasa kesalnya.
"Tolong bantu nona ini membawa barang-barangnya sampai kamarnya" perintah Anjar.
"Baik tuan" jawab pelayan sopan.
"Ah tidak terima kasih, biar saya yang membawa sendiri" ucap Ane merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa nona, biar saya bantu" ucap pelayan itu.
"Iya Nona Ane, lebih baik pelayan ini membantumu" jelas Anjar. "Dan ini kado dari tuan saya" tambah Anjar.
"Kado apa?" tidak-tidak jangan membuatku bingung" jelas Ane.
"Terima lah, ini adalah bahan atau aksesoris yang sedang anda cari tadi" ucap Anjar.
"Apa dari mana kamu tahu" tanya Ane.
Anjar tidak menjawab dia langsung masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan Ane yang masih penasaran.
"Tuan dan sopirnya sama-sama menyebalkan" omel Ane.
"Maaf nona?" tanya pelayan yang mendengar umpatan Ane.
"Oh maaf" ucap Ane.
"Silahkan masuk Nona, mari saya antar" ucap pelayan.
Ane kemudian masuk ke dalam hotel di ikuti pelayan dari belakang.
"Bapak boleh tanya sesuatu?" ucap Ane.
"Iya silahkan Nona?" ucap pelayan.
"Bapak mengenal orang tadi?" tanya Ane.
"Maksud nona tuan Anjar asisten pribadi tuan Dipa" jelas pelayan tersebut.
"Tuan Dipa?" jelas Ane.
"Iya nona, Tuan Dipa pemilik hotel ini" jelas pelayan. Yang sontak membuat Ane terkejut.
"Pemilik hotel ini bukannya adik ipar Adena" batin Ane.
"Dipa Madaharsa"
.
.
.
.
.
Bersambung