NovelToon NovelToon
Nasib Gadis Peramal Miskin

Nasib Gadis Peramal Miskin

Status: tamat
Genre:Duda / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:15.4k
Nilai: 5
Nama Author: Hasna_Ramarta

Karena hutang pada mantan kekasihnya dan biaya kuliah yang nunggak, Fahira terpaksa mencari sampingan dengan menyamar sebagai peramal.


Akhirnya lapak jasa ramalnya didatangi pelanggan pertama, dia seorang duda ganteng yang kaya raya. Sudah lima tahun menduda. Ternyata duda itu merupakan tetangga sebelah rumah kos-kosan Fahira yang sudah lama Fahira taksir.

Fahira akhirnya merencanakan sesuatu. Dengan menyamar sebagai peramal, dia menjerat duda itu.

Apa yang dilakukan Fahira sebagai Peramal palsu pada sang duda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Rahasia Yang Terbongkar

  Bertubi-tubi kemarahan Gelora dia tumpahkan pada Faheera yang saat ini hanya bisa ternganga tidak percaya. Tiba-tiba Faheera tidak sadarkan diri, tubuhnya lemas tidak bertulang. Faheera pingsan tapi pendengarannya masih bisa mendengar.

  "Tanpa harus mengaku iya, dengan pingsan saja dia memperlihatkan bahwa dia benar-benar melakukan pengkhianatan terhadapmu. Apa mama bilang, dia itu hanya memanfaatkan uangmu saja. Dia sama saja sama si Kemi. Dasar pengkhianat," umpat Bu Nora seraya menyerempet tubuh Faheera dengan kakinya tipis dan berlalu, diikuti Wisna yang melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan Bu Nora.

  Dua pelayan Gelora yang sejak tadi berada di sana merasa iba melihat Faheera dibiarkan begitu saja. Dua pembantu itu Bi Jelita dan Bi Sonia saling lempar tatap dan bermaksud menolong Faheera yang pingsan.

  "Den, ijinkan kami mengobati Non Faheera. Terlepas dari masalah dengan Den Lora, ijinkan kami mengobati Nona dengan memberinya minyak kayu putih di hidungnya," mohon Bi Sonia pada Gelora yang sejak tadi berdiri dengan marah.

  "Bawalah, dan baringkan di sofa itu. Obati semampu kalian, saya tidak mau membawa atau mengobati pengkhianat itu. Dia pun telah tega berkhianat di belakang saya karena memberikan uang yang saya transfer untuk kuliahnya, justru diberikan pada mantan kekasihnya itu." Gelora benar-benar marah terlihat wajahnya yang memerah.

  Bi Sonia dan Bi Jelita menggotong tubuh Faheera ke atas sofa dan membaringkannya di sana. Mereka berdua bahu membahu mengobati Faheera atas dasar kemanusiaan.

  "Lita, ambil minyak kayu putih di laci loker aku, sekalian bikinkan air teh hangat dengan sedikit gula," titah Bi Sonia pada Bi Jelita. Bi Jelita segera mengikuti permintaan Bi Sonia, dia segera berlari ke belakang dan mengambil minyak kayu putih serta membuat air teh hangat dengan sedikit gula.

  Bi Sonia memijit pelan pelipis dan tengkuk Faheera, berharap dengan sentuhan tangannya Faheera segera sadar dari pingsan, selagi menunggu Bi Jelita datang membawa kayu putih dan air teh hangat sedikit gula.

  "Ini kayu putihnya." Bi Jelita menyodorkan kayu putih ke arah Bi Sonia. Bi Sonia sigap membuka tutup kayu putih lalu menuangkan isinya seujung jari lalu dioleskan dekat hidung Faheera.

  Tidak lama kemudian, tubuh Faheera bergerak-gerak dan Faheera sadar dari pingsannya. Tiba-tiba tangisnya pecah begitu saja. Faheera sedih sebab vidio rekaman yang dilihatnya tadi saat menghampiri Faris di sebuah taman dan membayarkan hutangnya pada laki-laki itu, dituduh sebagai pengkhianatan terhadap Gelora dan Faheera memberikan amplop berisi sejumlah uang pada lelaki itu atas uang transferan dari Gelora.

  "Mas Gelora," sebutnya seraya bangkit dan menghampiri tangga lalu menaikinya. Faheera menuju kamar Gelora dan ingin menyampaikan sesuatu pada Gelora tentang rekaman vidio itu.

  Faheera memasuki kamar, di sana Gelora beserta ibu dan Wisna adik iparnya tengah mencak-mencak mengobrak-abrik tas milik Faheera. Di situ mereka menemukan sebuah penemuan yang mengungkapkan sebuah fakta yang mencengangkan bagi Gelora.

  "Jadi selama ini dugaan Mama dan adikku benar, kamu menipu aku dan berusaha memanfaatkan aku untuk mendapatkan uang dariku kemudian kamu kasihkan pada bajingan itu, yang tidak lain mantan kekasihmu itu. Dasar penipu." Gelora berteriak sembari melempar tas Faheera dan mengenai muka Faheera lumayan keras.

  "Bukkkggg."

  "Itu tidak benar, Mas. Dengarkan dulu penjelasan Heera. Demi Allah semua itu tidak benar. Heera mohon Mas Lora percaya sama Heera. Heera tidak berkhianat dan menipu Mas Lora. Tadi Heera menemui laki-laki itu hanya untuk membayar hutang dan ...."

  "Dan uang itu uang transferan anakku bukan? Dasar penipu, sama saja. Itu artinya kamu telah memanfaatkan uang kiriman anakku hanya untuk memberikannya pada laki-laki yang menjadi kekasihmu itu. Huhhh dasar bodoh, menjijikan," potong Bu Nora mengumpat Faheera yang kini mulai menangis.

  "Tidak Mas, dengar penjelasan dariku dulu. Tolong Mas, dengar sebentar saja, Heera mohon." Faheera masih memohon berharap Gelora mau mendengar.

  "Dan bukti ini sudah cukup kuat bagiku. Ternyata kamu pura-pura menjadi dukun palsu untuk menjebakku. Aku sudah tahu tujuan kamu mengarahkan kartu jodoh itu supaya mengarah padamu dan bodohnya aku percaya begitu saja semua yang kamu katakan itu. Dasar pengkhianat dan penipu. Angkat kaki dari rumah ini."

  Gelora berkata dengan tegas saat semua rahasia Faheera terbongkar secepat itu. Faheera terpuruk sedih, mengapa rahasianya harus terbongkar dengan cepat, padahal ia sudah berusaha menyembunyikan semua aksesoris peramalnya dengan sangat rapi. Padahal semua itu tidak pernah ia maksudkan untuk kejahatan ataupun sengaja ingin menjebak Gelora. Gelora datang ke lapaknya saja secara tidak terduga.

 "Dia tidak bisa ngomong apa-apa, sudah jelas dia memang sengaja menjadi peramal palsu hanya untuk menjebak kamu Lora," tuding Bu Nora menyeringai benci pada Faheera.

  "Tidak, semua itu bohong, Ma. Bukan seperti itu ceritanya. Heera mohon dengarkan sekali saja penjelasan Heera. Heera menjadi peramal palsu, sebelumnya bukan untuk menjerat atau menjebak Mas Lora, tapi Heera butuh uang untuk baya hutang."

  "Alah alasan, omongan kamu hanya untuk membela diri dari kebohonganmu. Semua sudah terbongkar, kamu masuk ke dalam kehidupan Gelora hanya untuk merusak kebahagiaannya dan mendapatkan harta darinya. Untung saja keburu ketahuan sebelum umur perkawinan kalian seumur jagung," jebret Bu Nora puas karena kebusukan Faheera kini terbongkar.

  "Mas Lora sih, percaya dengan mulut manis dan wajah sok cantik binal ini. Sudah kami katakan dia itu sama sekali tidak benar, tapi Mas Lora tidak pernah percaya." Wisna ikut bersuara mengata-ngatai Faheera.

  "Demi Allah semua itu tidak benar Mas. Dengar dulu penjelasan Heera. Heera akan bercerita sejujurnya sama kalian, tolong dengar sekali saja. Heera mohon Mama, Mbak Wisna. Tolong percaya Heera," mohon Faheera seraya menangis dan bersujud.

  "Mana mungkin anakku percaya lagi sama kamu setelah kebusukan kamu terbongkar semua. Sekarang tinggalkan rumah anakku. Dalam waktu 1x24 jam, kamu harus angkat kaki dari rumah ini," tegas Bu Nora bengis.

  "Tidak, Heera mohon jangan usir Heera dari rumah ini. Mas Lora, dengarkan Heera, Mas. Demi Allah semua bukti yang ada ini tidak ada hubungannya dengan pengkhianatan Heera, karena Heera tidak berkhianat atau menipu kamu. Heera benar-benar mencintai kamu Mas."

  "Alah bullshit. Jangan banyak omong. Mulai detik ini segera berkemaslah dan pergi dari rumah ini," ketus Wisna seraya menepis tangan Faheera dari tangan Gelora.

  Wisna dan Bu Nora kompak menarik tangan Gelora untuk meninggalkan Faheera di dalam kamar yang kini terpuruk dan menangis. Faheera meraung-raung ingin mengejar Gelora. Namun sayang Gelora sudah menjauh karena ditarik ibu dan adiknya.

***

  Satu jam kemudian, Faheera telah membereskan semua barang-barangnya. Dia bertekad akan meninggalkan rumah Gelora setelah dirasa semua penjelasan dari bibirnya tidak bisa didengar atau dipercaya oleh Gelora.

  Setelah itu, Faheera segera menulis sebuah surat untuk Gelora. Dengan diiringi tangis, Faheera menjelaskan semua duduk perkara yang terjadi selama ini dalam hidupnya. Mengapa ia menjadi peramal palsu dan mendatangi Faris lalu memberikan sebuah amplop yang isinya uang, uang atas kerja kerasnya selama menjadi peramal palsu.

  Setelah semua tertumpah dalam sebuah surat, Faheera melepas cincin kawin di jari manisnya, lalu meletakkan cincin itu di atas sepucuk surat yang telah dia tulis panjang lebar tadi.

1
Evy
Itu tandanya istri mu hamil Pak ..
Evy
Sedihnya...
Evy
Hanya salah paham saja...
Evy
Ternyata ada juga ya orang yang butuh di ramal...bukan hanya ramalan cuaca.Ramalan jodoh juga banyak peminatnya...
Nasir: Hehehehehh😄😄😄
total 1 replies
Suyatno Galih
Bki Pokal lagi km heera/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Suyatno Galih
pintar km lora, km iket heera dg anak dan waktu good
Suyatno Galih
faheera hamil ya
Nasir: Wahhh, mksh Kak udah mampir di karya lama sy. Love seIndonesia Raya buat Kakak.
total 1 replies
Suyatno Galih
sedih/Sob/, tinggal tnggu waktu km lora akan menyesal
Suyatno Galih
nah kan nah kan nah kan, jd perkoro,
Suyatno Galih
faheera cari perkoro rumit, knp nggak mt temani suami mlh lebih aman, jd msh nangis lagi
Suyatno Galih
bkan malah pesan di hp sj yg jd prasangka buruk faheera, km km nemui Faris wl cm byr utang tp km tdk ijin suami jg jd hal buruk oon/CoolGuy//CoolGuy/ce mslh dak mau ijin
Suyatno Galih
nyinyir ember rusak temen faheera ini, pake nanya praktek sgl
falea sezi
minggat iku gowo duwek. lah. tolol mikir harga diri heleh pret
Nyakti Usman
terharu
Nasir: Makasih Kak....
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!