NovelToon NovelToon
Dalam Pelukan Dosa

Dalam Pelukan Dosa

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Anak Genius / One Night Stand / Romantis / Hamil di luar nikah / Cinta setelah menikah / Tamat
Popularitas:26.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ifah Latifah

“Gue ngelakuin itu tanpa ada rasa ke lo, Na.”

Hidup Alana yang sempurna berubah drastis ketika dia hamil anak mantan kakak kelasnya, Rayyan.

Mimpi Alana sudah di depan mata yaitu untuk kuliah di Seoul National University. Sedangkan Rayyan, laki-laki itu punya pacar yang sangat dicintai. Tapi bagaimana dengan bayi dalam rahim Alana?


Update hari jumat, sabtu, dan minggu!

Happy Reading, Guys

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifah Latifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19 - Malam Pertama

Hari sudah mulai malam. Tidak ada yang berbeda dari hari-hari sebelumnya, selain status Alana dan Rayyan yang sudah berubah.

Sejak sore, Alana kembali muntah-muntah, dia tidak mau makan. Setelah ribuan kali dibujuk oleh Rayyan, Alana akhirnya mau makan. Alana hanya makan sedikit, itupun setelah makan, dia kembali muntah-muntah.

“Lo gak papa, Na?”

Rayyan mendekati Alana yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi.

Alana menggeleng pelan. Wajahnya pucat setelah mengeluarkan isi perutnya.

“Istirahat, Na. Mau gue buatin teh anget?” tawar Rayyan.

Alana menggeleng lagi. “Gue istirahat aja.”

Rayyan mengangguk, membiarkan Alana masuk ke dalam kamar. Sedangkan Rayyan kembali ke ruang keluarga. Merapikan bantal yang ada di ujung sofa panjang, kemudian merebahkan badannya.

Baru beberapa saat Rayyan merebahkan tubuhnya sambil bermain ponsel, Ira datang menghampiri.

“Kok kamu tidur di sini, Ray?” 

Rayyan menoleh. “Emang Ray harus tidur dimana lagi, Bun?”

“Di kamar lah. Sama Alana.”

Rayyan menatap Ira cengo, kemudian menggeleng pelan. “Gak ah, Ray tidur di sini aja. Gak enak sama Lana.”

“Gak enak gimana? Kan kalian sekarang udah jadi suami istri.”

Rayyan tersenyum kecut. Dia masih merasa asing dengan kata-kata itu apalagi mengingat hubungan mereka tercipta karena hal yang tidak diinginkan.

“Bunda kan tahu sendiri apa yang terjadi antara Ray dan Lana, Bun. Gak enak lah Bun kalo harus satu kamar sama Lana.”

“Gimana kalian bisa bangun rumah tangga yang baik kalau jauh-jauhan gini? Gak baik loh suami istri tidur pisah ranjang gini. Apalagi ini malam pertama kalian.”

“Buunnn.”

“Masuk, Ray. Alana pasti izinin kok.”

“Tapi, Bun-

“Kan kalian sendiri yang minta untuk menikah, ya sudah, jalani selayaknya pernikahan yang sebenarnya.”

Rayyan menghela napas pelan, kemudian terpaksa mengangguk mengiyakan. Setelah sedikit memberikan wejangan pada Rayyan yang hanya ditanggapi Rayyan dengan anggukan, Ira masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.

Sedangkan Rayyan dengan ragu memutuskan untuk bangun. Rayyan membuka pintu kamar sambil memeluk bantal yang biasa digunakannya untuk tidur di ruang keluarga.

Rayyan menoleh pada Alana yang sedang melamun sambil rebahan di kasur. Alana menoleh saat pintu itu terbuka.

“Kata bunda gak baik kalau gue tidur di luar,” ucap Rayyan memberi penjelasan.

Alana hanya diam membiarkan Rayyan masuk. Meskipun samar-samar, Alana mendengar percakapan Rayyan dengan Ira.

“Lo tidur aja, Na. Gue gak akan tidur kok,” ucap Rayyan sambil meletakkan bantal yang dibawanya ke kasur. 

Kemudian, Rayyan duduk di kursi belajarnya. Di kasur, Alana masih bergerak tidak nyaman. Dia merasa canggung berada satu kamar dengan Rayyan. Apalagi sekarang sudah malam. Tanpa Alana sadari, jantungnya berdetak lebih kencang daripada biasanya.

Rayyan yang menyadari Alana merasa tidak nyaman, membuka mulut.

“Lo tenang aja, Na, gue gak akan ngapa-ngapain lo.”

Mendengar itu, Alana sedikit merasa lega. Jujur saja, Alana masih takut. Alana masih sering teringat kejadian malam itu, malam bersama Rayyan. Meskipun sudah tidak setakut dulu. Tidak ada sedikit pikiran dalam benak Alana untuk melakukan hal itu lagi, meskipun sekarang mereka sudah menikah.

Alana mengubah posisi tidurnya menghadap dinding, membelakangi Rayyan. Tidak lama kemudian, Alana sudah terlelap dalam tidurnya. Rayyan menoleh pada Alana, kemudian kembali menghadap ke depan.

“Demi apa gue udah nikah.”

...***...

Malam semakin larut. Rayyan belum juga tidur, masih duduk sambil memainkan ponsel dengan diterangi lampu belajar. Dia memang tidak berniat tidur. Mau tidur dimana? Rayyan merasa tidak enak jika harus tidur satu ranjang dengan Alana, lagipula Alana pasti merasa tidak nyaman dengan hal itu.

Beberapa kali Rayyan menoleh pada Alana. Tubuh Alana masih bergerak-gerak, bukan tidak bisa diam dalam tidur, tapi Alana terlihat gelisah dalam tidurnya. Berkali-kali, dia bergerak tidak nyaman dan mengubah posisi tidurnya. 

“Papa,” ucap Alana pelan dalam tidurnya. 

Alana membuka mata dan menatap ke sekeliling dan hanya mendapati Rayyan yang masih duduk di depan meja belajar. Rayyan mendekati Alana, duduk di kasur. 

“Ada apa, Na? Lo mimpi buruk?” 

Alana bangun, kemudian duduk di atas kasur.

“Gue, gue kangen papa sama mama.”

Rayyan menghela napas pelan. “Gue ambilin lo minum ya bentar.”

Rayyan bangun dan keluar dari kamar. Di dalam kamar, Alana mulai terisak dalam tangisnya.

“Kok nangis lagi, Na?” celetuk Rayyan yang baru datang dengan membawa air minum. “Udah, jangan nangis, ini lo minum dulu.”

Rayyan memberikan gelas berisi air minum itu pada Alana. Alana mengambil itu dan meminumnya disela-sela isakan lirih.

Rayyan mengambil gelas itu kembali, kemudian meletakkannya di atas meja. Rayyan yang bingung harus berbuat apa, hanya bisa menatap Alana.

“Gue kepikiran papa. Gue kangen sama papa.”

Lagi-lagi, Rayyan hanya bisa menghela napas pelan.

“Mau kesana besok?” tawar Rayyan. “Tapi lo jangan sedih kalo pas kita kesana gak sesuai sama ekspektasi lo.”

Alana menggeleng pelan. Dia yakin jika ke rumah besok, Alana dan Rayyan tidak akan dibukakan pintu. Itu hanya akan melukai Alana lebih dalam.

“Terus mau lo gimana?”

Alana kembali menggeleng pelan. Alana tidak tahu harus bagaimana. Alana hanya berharap rasa sedih ini segera hilang.

Rayyan mengacak rambutnya kasar. “Ya sudah, lo tidur lagi aja.”

Rayyan bangun dan kembali duduk di depan meja belajar, memberikan ruang pada Alana untuk tidur. Alana kembali menurut, dia merebahkan tubuhnya di atas kasur.

15 menit berlalu, ketika Rayyan menoleh, mata Alana masih terbuka lebar. Alana sudah mencoba untuk tidur, tapi tidak bisa. Dia masih kepikiran dan gelisah.

“Kenapa lagi, Na?”

Alana kembali duduk di atas kasur. “Gak bisa tidur.”

Rayyan menatap jam yang ada di ponselnya. Pukul 00.48. 

“Sekarang mau apa?” tawar Rayyan berbaik hati.

Alana menunduk, dia mengusap pelan perutnya. Rayyan mengernyitkan kening, dia curiga.

“Gue mau mangga, boleh?”

Nah kan! Rayyan menatap Alana tidak percaya. “Semalem ini?”

“Kalau gak mau juga gak papa,” ucap Alana lirih.

Rayyan menghembuskan napas kasar sambil mengacak rambut. Sesaat kemudian, dia menoleh pada Alana. “Tapi habis makan mangga, lo tidur.”

Alana mengangguk pelan.

Rayyan bangkit dari tempat tidur.

“Ray,” panggil Alana yang membuat Rayyan menoleh. “Kalau bisa mangganya yang masih muda ya,” pinta Alana lirih.

Rayyan kembali menghela napas kasar. “Iya.”

Rayyan mengambil jaket di dalam lemari, dan kunci motor sambil mengumpat pelan. “Bajingan! Dimana gue cari mangga tengah malem gini?”

Rayyan mengambil ponsel dan mengetikkan pesan di ponselnya.

^^^Woi! Manusia-manusia setan! ^^^

Rayyan berjalan keluar dari kamar. Pesannya itu belum juga dibalas oleh teman-temannya.

^^^Gue tau lo pada belom tidur!^^^

Jeri

Apaan sih

^^^Bantuin gue cari mangga^^^

Dikta

Kampret! Gila lo semalem ini nyari mangga

Riza

Ngidam lo, malem-malem gini nyari mangga

^^^Ah berisik lo pada! Info tukang mangga yang masih buka jam segini^^^

Riza

Panjat aja pohonnya

Jeri

Nah ide bagus

^^^Naik pohon pala lo!^^^

Riza

Lagian nyari mangga tengah malam gini

Mana adaa

Dikta

Ngapain sih tengah malem gini cari mangga

^^^Buat ngepet!^^^

^^^Bacot lo semua^^^

^^^Tau gak^^^

Jeri

Gak

Riza

2

Dikta

3

^^^Ah gak guna banget lo pada^^^

Dikta

Ngaca! Lo nongol pas butuh doang! Temen apaan

Riza

Tau tuh! Mana gak pernah nongkrong lagi sekarang

Dikta

Dipingit kali

Riza

Nikah dong hahahaha

Eh jangan-jangan mangganya

Ada yang hamil di rumah lo???

Jeri

Ngaco lo!

Yakali Tante Ira hamil

Riza

Siapa tau kan

Jeri

Gak ada bapaknya bego!

^^^Serius ini, info tukang mangga yang masih buka^^^

Jeri

Keknya tante gue punya pohon mangga, panjat ada noh

Riza

Tengah malem gini manjat pohon ahahaha 

Duduk di atas bareng kunti

^^^Dimana?^^^

Dikta

LO SERIUS RAY?

Rayyan menyalakan motor setelah Jeri mengirim alamatnya. Rayyan sudah tidak peduli lagi darimana dia dapatkan mangga itu. Yang penting dapat.

...***...

Satu jam berlalu, Alana masih duduk melamun di kamarnya. Otaknya tidak bisa berhenti memikirkan kedua orang tuanya.

“Melamun terus, tar kesambet lo,” celetuk Rayyan yang sudah berdiri di depan pintu kamar.

Alana menoleh. “Udah pulang?” tanya Alana.

“Gak berbobot banget pertanyaan lo. Kalau belum, terus ini siapa? Setan?” sahut Rayyan nyolot.

Alana hanya diam dan menunduk. Alana tidak mendengar suara motor Rayyan, itu lah alasannya Alana bertanya.

“Nih! Gue dapet mangganya!” Rayyan menunjukkan sebuah plastik yang berisi mangga. “Bentar, gue kupas dulu.”

Rayyan berjalan menuju dapur untuk mengupas dan memotong mangga itu. Rayyan memotong mangga itu dengan tidak santai. Ira bahkan sampai terbangun karena mendengar suara pisau yang mengenai talenan. Tapi, Ira tidak banyak berkomentar saat Rayyan bilang itu untuk Alana.

Setelah beberapa saat berkutat di dapur untuk memotong mangga, Rayyan kembali ke kamar. Dia memberikan piring yang berisi mangga yang sudah dipotong kecil-kecil.

“Ya Allah baik banget sih gue,” ucap Rayyan memuji diri sendiri.

Alana menerima piring itu. “Makasih.”

Rayyan ikut duduk di kasur dengan bersandar pada dinding.

“Sori, ngerepotin lo.”

Rayyan hanya bergumam pelan. Dia menguap lebar. Naik pohon mangga malam-malam sungguh menguras tenaga, mana banyak semut lagi.. Rayyan menatap Alana yang sedang memakan mangga itu. Sebuah senyuman kecil tersungging di bibir Rayyan.

...***...

1
Che Putri Badar
semangat thor ..
lanjuuuut..
Eva Marlina siboro
jngan sampai alana keguguran ya thor,,, 🙏
Eva Marlina siboro
lnjt dong thor,,, 🙏
Eva Marlina siboro
😮‍💨😮‍💨😮‍💨
Ani Shofia
bagus ceritanya lanjutkan
Endah Ekayanti
bagus banget
Dev
semangat Thor lanjutin sampai end..ceritanya pas (gk berlebihan) dan realistis banget..
Chillzilla: Ditunggu lanjutannya yaa
total 1 replies
Dev
kurang komunikasi sih sepasang manusia ini..
Dev
cerita ini cukup menguras emosi Thor..keren ceritanya..
mayang sari
seru ceritanya🙂😚
mayang sari
duarrrr🤯
mayang sari
rayyan, rayyan, harusnya kamu ngerasa bersalah
mayang sari
duuh si rayyan😔
mayang sari
kenapa pintu kamar hotel gak dikunci Alana?
Aura Al
kasihan lana di tinggal sendiri trus
Aura Al
mobil papa padil pasti lagi ngitai
Aura Al
rayan kurang peka terhadap lana
Aura Al
bagus banget cerita thor seru
Chillzilla: makasii... ditunggu kelanjutannya yaa
total 1 replies
Kamiblooper
Wih, seruu banget nih ceritanya! Jangan lupa update ya thor!
Cô bé mùa đông
🤩Bikin baper banget deh si author ini, jangan jangan dia nyasar jadi scriptwriter
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!