Sebuah takdir mempertemukan keempat gadis cantik dengan masa lalu yang kelam. Penghianatan, kebohongan, mereka rasakan dan terima dari orang-orang terdekatnya. Luka di masa lalu membuat mereka bangkit dan bersikeras untuk membalas dendam pada semua orang yang pernah menyakitinya di masa lalu. Mereka bersatu untuk mencapai tujuan besarnya itu. Keempat gadis ini sosok yang sangat cerdik dan berbakat. Kehadiran mereka bagaikan bom peledak yang kapanpun bisa menghancurkan. Karena tekad kuatnya itu, di masa depan nanti dunia akan berada dalam genggamannya. Mereka inilah yang terlahir sebagai, "Queen of the World".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Yais, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANAK BUAH LEA TEWAS
Lea memberitahu Jasmine jika ponsel itu milik Layla gadis yang sudah ia tolong kemarin.
"Kenapa ponselnya masih ada bersamamu?" tanya Jasmine.
"Aku lupa mengembalikannya." jawab Lea.
Tidak lama ponsel itu berdering. Jasmine memberikannya pada Lea, tapi dia tidak mau menjawabnya. "Kau saja yang menjawabnya." ucap Lea.
Saat Jasmine menjawab telepon itu, terdengar suara perempuan. Dia meminta Lea untuk memberikan alamat rumahnya karena besok pagi dia sendiri yang akan mengambil ponselnya.
"Bilang padanya jika kekasihnya itu tahu dimana alamat rumahku. Tidak perlu lagi aku memberitahunya." ucap Lea.
Perkataan Lea terdengar oleh Layla di telepon. Jasmine langsung mematikan ponselnya.
"Kenapa kekasih dari gadis itu tahu alamat rumahmu?" tanya Rae heran.
Lea memberitahu ketiga temannya jika kekasih gadis itu adalah Ji-Hoon. Ketua dari polisi miter itu. Ketiga temannya tidak percaya. Lea memberitahu mereka jika orang tua gadis itu adalah orang tuanya yang telah meninggalkan dirinya saat kecil.
"Bukankah kau bilang mereka sudah bercerai?" tanya Jaane.
"Dulu memang iya, tapi mungkin sekarang mereka sudah kembali."
Lea tidak pernah tahu jika takdir akan mempertemukan kembali dia dengan orang tuanya. Sikap ibunya kini telah berubah. Dia melayani suaminya dengan baik. Dia juga sangat mencintai kedua putrinya. Semua ia tunjukkan saat sedang makan malam tadi.
"Kau tahu apa yang aku rasakan?" tanya Lea. "Aku sangat sesak, rasa sakit itu kembali muncul setelah sekian lama. Dia menunjukkan cinta pada gadis itu di depanku. Apa kau bisa membayangkan seperti apa aku saat itu?"
"Tenangkan dirimu!" ucap Rae.
"Apa kau menabrakkan mobilmu karena hal ini?" tanya Jasmine.
"Duniaku sangat kacau. Aku sedang tidak baik-baik saja. Sejak kecil aku tidak pernah mendapat cinta dari perempuan itu, dan sekarang dia menunjukkan jika dia sangat mencintai putrinya." ucap Lea sambil menangis.
Jasmine melihat Lea begitu terpukul. Dia tidak pernah menunjukkan kesedihannya seperti ini. Lea terlihat paling berani dan dingin diantara mereka. Bahkan terkadang dia tidak mau tahu urusan orang. Mungkin orang lain menganggapnya gadis yang sombong dan jutek.
"Kau gadis yang kuat, bertahanlah!" ucap Jaane.
"Kalian hanya melihat luarku saja yang kuat. Tapi di dalamnya hatiku sangat rapuh, aku ini lemah." ucap Lea.
"Kami semua ada untukmu. Kami akan selalu menguatkan satu sama lain. Jangan pernah lagi menyakiti dirimu sendiri dengan cara yang bodoh seperti tadi." ucap Jasmine. Keempat sahabat itu saling berpelukan.
****
Setelah bicara dengan Lea di telepon, Layla mengembalikan ponselnya pada Ji-Hoon. "Kau tidak bilang padaku jika sebenarnya kau mengenal gadis itu. Kau bahkan tahu dimana dia tinggal." ucap Layla.
"Aku tidak bermaksud untuk menyembunyikan kebenaran ini darimu. Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk membicarakannya denganmu." jawab Ji-Hoon.
"Bagaimana bisa kau mengenalnya?" tanya Layla penasaran.
"Kenapa kau menanyakan hal yang tidak penting seperti itu?"
"Menurutmu tidak penting, tapi bagiku itu sangat penting. Aku ingin tahu dimana kau mengenalnya."
"Dia seorang mahasiswi di kampus tempat Seojun mengajar. Aku bertemu dengannya di sana ketika sedang menangani sebuah kasus." ucap Ji-Hoon.
"Lalu?"
"Sudahlah, itu tidak penting. Aku akan pulang sekarang. Besok banyak sekali pekerjaan yang harus aku lakukan." ucap Ji-Hoon.
"Tapi aku masih ingin berbincang denganmu," ucap Layla.
"Perbincangan apa? Sejak tadi kau terus saja menanyakan gadis itu padaku. Aku merasa kau ini sedang mencurigaiku."
"Tidak seperti itu, tunggu aku!"
Saat akan pulang Ji-Hoon menemui orang tua Layla untuk berpamitan. Terlihat Layla yang mengejar Ji-Hoon. Dia tidak sempat bicara dengannya. Ji-Hoon sudah pergi dengan mobilnya.
"Kau kenapa? Apa kalian bertengkar?" tanya ibunya.
"Tidak ibu, hanya kesalahpahaman kecil saja. Besok kita akan bicara lagi."
"Ya sudah kalau begitu, masuk dan istirahatlah! Besok kau sudah mulai bekerja." ucap Merry.
"Baik."
****
Hari sudah pagi. Sebelum pergi ke rumah sakit, dia menemui Ji-Hoon di kantor.
"Untuk apa kau datang kemari pagi-pagi sekali?"
"Aku ingin minta maaf padamu soal semalam."
"Sudah, tidak perlu dibahas lagi."
"Ponselku masih ada pada gadis itu. Kau bisa membawaku ke rumahnya?"
Ji-Hoon sangat sibuk pagi itu. Dia menyuruh Jun Myeon untuk mengantar Layla. "Gadis itu bilang hanya kau yang tahu tempatnya, kenapa kau minta bawahanmu untuk mengantarku?" tanya Layla sedikit bete.
"Aku sedang sibuk. Jun Myeon juga tahu dimana rumah gadis itu. Aku pernah meminta dia untuk menyelidikinya."
Tidak lama Jun Myeon datang. Mau tidak mau Layla pergi dengannya. Saat dalam perjalanan, Jun Myeon memberitahu Layla jika dia akan menunggu di mobil. "Kenapa kau tidak ikut masuk bersamaku?" tanya Layla heran.
"Tidak apa-apa, aku hanya waspada saja."
"Waspada? Apa rumah itu sangat berbahaya untuk dimasuki?"
"Ah, tidak. Aku hanya tidak berani saja. Masuk ke rumah itu seperti masuk ke kandang singa. Kau harus siap untuk jadi santapannya." gumam Jun Myeon.
"Apa yang kau katakan tadi?"
"Aku tidak mengatakan apapun," jawab Jun Myeon.
Setibanya di depan gerbang, mereka tidak bisa masuk begitu saja. Seorang penjaga melapor dulu pada Lea.
Pagi itu, keempat gadis sedang sarapan bersama. Mereka terlihat bersemangat untuk kembali lagi ke kampus. Tidak lama pelayan datang memberitahu sesuatu. "Nona, di luar ada seorang gadis yang ingin menemuimu."
"Siapa?" tanya Jaane.
Lea pergi ke kamarnya untuk mengambil ponsel gadis itu. Tidak lama ia kembali.
"Bi, tolong berikan ponsel ini pada gadis yang sedang menunggu di depan. Jika dia menanyakanku, bilang saja aku sudah pergi ke kampus. Jangan biarkan dia masuk." ucap Lea.
"Baik, non."
Pelayan itu pergi ke luar. Dia langsung memberikan ponsel itu pada Layla.
"Apa kami tidak diizinkan masuk? Aku ingin bertemu dengan Lea." ucap Layla.
"Maaf, nona Lea sudah pergi ke kampus. Kau bisa langsung pulang." jawab pelayan.
"Sudah aku bilang, tidak sembarang orang bisa masuk ke rumah ini." ucap Jun Myeon.
"Lalu, bagaimana dengan Ji-Hoon? Kenapa dia bisa masuk ke rumah ini?"
"Oh,, itu karena ketua Ji-Hoon datang bersama tuan Brandon. Tentu saja mereka diperbolehkan masuk." jawab Jun Myeon.
****
Saat tiba di kampus, Lea berpapasan dengan Tae. "Kau kenapa?" tanya Tae sambil memegang luka di kepala Lea.
"Singkirkan tanganmu itu dariku!" ucap Lea.
Ketiga temannya memperhatikan mereka dari jauh. "Dosen itu terlihat berbeda saat menatap Lea," ucap Rae. "Apa dia tertarik pada Lea?"
"Coba saja jika dia bisa menaklukkan seorang Lea." timbal Jaane.
Lea berjalan menuju kelasnya. Sementara Tae, dia pergi ke ruangannya. Tidak lama sebuah mobil terparkir di depan kampus. Seorang pria turun dan membukakan pintu mobilnya.
"Xenia!!!" teriak temannya menghampiri. "Aku pikir orang lain. Siapa dia?"
"Dia sopir baruku, sekaligus bodyguard yang ayahku bayar untuk menjagaku." ucap Xenia.
Jasmine tidak percaya setelah Zidane keluar dari pekerjaan itu, Jihan meminta salah satu dari anggota militer itu untuk menjadi sopir pribadi Xenia. Jika seperti itu akan sulit untuknya bergerak.
Saat waktu istirahat tiba, Jasmine menemui yang lainnya. Dia membicarakan tentang Jae Sung yang sekarang ini menjadi sopir pribadi Xenia. Mendengar hal itu, Lea tidak merasa terkejut. Dia sudah bisa menebak pasti Jihan akan memanfaatkan pertemanannya dengan Brandon untuk hal semacam itu. Tentu saja Brandon mengizinkan anggotanya untuk menjadi sopir gadis itu. Saat sedang berbincang, Lea mendapat telepon dari salah satu anak buahnya.
"Halo, nona."
"Ada apa?"
"Jack tewas tadi malam, nona."
"Apa?" Lea sangat terkejut mendengarnya.
"Bukan hanya itu, istri dan anak yang masih ada dalam kandungannya pun ikut tewas."
"Siapa yang melakukan semua ini?"
"Anak buah Jihan, nona. Mereka menembak Jack tepat di kepalanya. Sementara istrinya, mereka gantung di pohon dekat samping rumahnya."
"Bagaimana itu bisa terjadi?"
"Anak buah Jihan berhasil menemukan barang bukti atas kebakaran kapal itu. Dia pergi menemui Jack untuk mencaritahu siapa bos di balik kejadian itu. Hanya saja Jack bungkam. Atas perintah Jihan akhirnya mereka tewas dibunuh."
Lea terlihat sangat marah. "Kubur mayat mereka dengan layak." ucapnya.
"Baik, nona."
"Mayat siapa?" tanya Jasmine.
"Salah satu orang yang aku suruh untuk membakar kapal itu tewas di tangan Jihan. Dia juga membunuh istri dari pria itu." ucap Lea.
"Ya ampun..."
"Bagaimana sekarang?" tanya Jaane.
"Aku harus pergi ke suatu tempat," ucap Lea.
"Kami ikut denganmu." ucap Rae.
"Tidak, kalian harus tetap disini. Jika kita pergi semua itu akan menimbulkan kecurigaan."
"Kalau begitu aku akan pergi denganmu," ucap Jasmine. "Aku sudah tidak ada kelas lagi."
"Baiklah, kalian hati-hati." ucap Rae.
****