Pesan terakhir dari sang kakak membuatnya terpaksa menikahi mantan kakak iparnya yang tak lain adalah istri dari Almarhum sang kakak.
Tidak mudah memang untuk mengikhlaskan seseorang yang sudah lama bertahta di hatinya begitu juga halnya dengan menerima sebuah kenyataan baru dalam hidupnya menjadi istri dari adik iparnya sendiri.
Bagaimana mereka mampu bertahan dengan pernikahan yang dipaksakan ataukah mereka akan mencari jalan masing-masing dan mengabaikan pesan terakhir orang yang mereka sayangi.
Baca yuk cerita mereka 😉🤍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herfika Safitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kliennya Sedikit Aneh
Pagi-pagi sekali sebelum azan subuh berkumandang Ryan sudah rapi dengan baju koko dan sarung di lengkapi peci.
Ia memandangi wajah teduh sang istri yang masih pulas di dalam selimut, ia dekati dengan niat membangunkan sang istri. Ia elus pipi chuby sang istri dengan penuh kasih.
"Bee bangun sholat subuh, Abang mau ke musholla depan kompleks ya" sambil mengelus pipi chuby sang istri.
"Hm... Abang udah rapi" jawab Rania membuka mata.
"Iya abang mau sholat subuh di musholla depan kompleks ya, kamu sholat di rumah ya bee" yang sudah duduk di samping sang istri.
"Iya bang, hati-hati"
"Mau abang belikan sarapan apa bee" Tanya Ryan sebelum bangkit dari duduknya.
"Terserah abang saja" Ryan menghela nafas perlahan jawaban terserah adalah misteri baginya. Karena terserah menyiratkan banyak makna ini adalah pr untuknya.
"Bubur ayam depan kompleks mau bee" Rania mengelengkan kepalanya
"Ketoprak"
"Nggak suka bang"
"Lontong sayur gimana bee"
"Aku nggak bisa makan yang bersantan nanti magh ku kambuh bang"
"Nasi uduk gimana"
"Enggak bang, abang pulang setelah sholat sudah cukup jangan beli sarapan ya"
"Baiklah kalau istri abang yang cantik ini maunya begitu. Abang pergi ke musholla dulu ya"
Cup
Cup
Cup
Ryan mencium pipi kanan dan kiri dan terakhir mencium kening sang istri lama. Setelahnya ia benar-benar pamit untuk pergi ke musholla.
Rania yang sudah menatap punggung sang suami hilang di balik pintu kamar yang sudah tertutup kembali.
Rania bergegas turun dari ranjang ia pergi ke kamar mandi bergegas untuk memulai aktifitas paginya yang pertama ia lakukan tentu saja untuk beribadah kepada tuhan.
Pukul 06.00 pagi Ryan baru kembali dari musholla, mungkin Ryan mendengarkan siraman rohani pagi tadi hingga lambat sekali pulang dari musholla.
Rania tidak tahu saja jika Ryan baru kembali dari rumah orang tuanya, Ryan baru selesai memarahi sang adik yang telah berbohong padanya dan orang tuanya.
"Abang baru pulang"
"Iya bee, tadi habis dari musholla abang mampir ke rumah ibu" Ucap Ryan berkata jujur.
"Loh ada apa bang pagi-pagi ke rumah ibu dan bapak" sahut Rania sembari meletakkan secangkir teh hangat di depan sang suami.
"Makasih Bee" Ryan meminum air teh hangat buatan sang istri. Rania tersenyum dan mulai ikut duduk di sofa di ruang keluarga.
"Ada apa Bang" tanya Rania
"Tidak ada bee hanya memberikan nasehat pada Rina, dia sudah besar walau bagaimana pun dia itu perempuan harus ketat menjaganya biar tidak salah jalan apalagi sekarang ini pergaulan bebas sekali"
"Aku paham maksud abang tapi jangan terlalu keras kepadanya bang"
"Hm"
"Abang ayo kita sarapan aku buatkan sandwich untuk sarapan, aku tahu abang nggak bisa sarapan berat sandwich kan tidak berat bang" ucap Rania dengan wajah memelas dengan puppy eyes.
Nah kalau di suguhkan pemandangan seperti ini Ryan sudah dapat di pastikan akan gemes dengan wajah istrinya ini.
"Kamu paling pintar merayu ku bee" Seraya mencubit gemes hidung bangir sang istri.
Ryan dan Rania sudah di meja makan menikmati sandwich buatan Rania sebagai sarapan hari ini.
"Abang nanti temani ke supermarket ya"
"Mau ngapain bee"
"Belanja bulanan bang isi kulkas udah pada habis bang"
"Oh mau belanja isi kulkas ya sudah nanti kita berangkat pakai motor saja sekalian nanti pulangnya ambil mobil kamu yang sudah di perbaiki bang Bara"
"Oke, aku lanjut desain dulu ya bang ada project baru dari klien"
Ryan hanya mengangguk sembari melihat apa yang istrinya lakukan dengan tablet pintar itu. Ryan tak sengaja melihat desain yang di kerjakan oleh sang istri ada rasa bangga pada sang istri yang mampu mencari uang dengan memanfaatkan teknologi dan ilmu yang sudah ia pelajari.
"Bee kamu lagi desain apa"
"Ini desain untuk butik bang, kliennya minta beberapa sampel sebelum melakukan kerja sama"
"Oh begitu, kamu memang suka mengambar dan melukis ya bee"
"Eh iya abang dari dulu emang suka, tapi kali ini kliennya sedikit aneh bang"
"Aneh gimana bee"
"Aku kalau nerima job tidak pernah ada tanda tangan kontrak bang biasanya aku hanya mendesain sesuai keinginan klien setelah siap ya di bayar, tapi kali ini pemilik butiknya langsung ingin ketemu dengan ku bang, aku sedikit takut bang"
"Bee jangan berprasangka buruk dulu siapa tahu memang ini adalah salah satu jalur rezeki untuk kamu bee, kapan pertemuanya bee apa mau abang temanin"
"Dua hari lagi bang, apa abang nggak keberatan untuk menemani"
"Tentu saja tidak bee, abang akan temani kamu bertemu dengan klien kamu itu"
"Makasih abang" sambil bergelayut manja di lengan sang suami. Hal itu membuat Ryan tersenyum senang dalam hati.
...****************...
...****************...
...****************...
Sementara di sebuah butik terbesar di ibu kota seorang wanita paruh baya sedang menantikan sang asisten yang ia percaya untuk melakukan tugas tambahan darinya.
Tok...Tok...Tok...
"Bu ini saya Alvin" sahut sang asisten
"Masuklah vin"
Cklek...
"Bagaimana Vin penyelidikanmu apakah benar dia anak dari saudara ku" Ucap Bu Bella
"Benar bu memang Rania Az-Zahra adalah putri dari nyonya Belia dan tuan Ridwan" sahut Alvin.
"Aku sudah tidak sabar ingin menemuinya dan meminta maaf atas segala kesalahan ku selama ini" Wanita paruh baya itu merunduk menahan genangan air di matanya.
"Saya sudah atur jadwal pertemuan dua hari lagi di cafe yang sudah di reservasi di VIP. Bu"
"Bagus kamu atur saja Vin, sekarang kamu boleh pergi"
"Baik bu saya permisi"
Setelah pintu ruangan kerjanya tertutup rapat, Bella menatap foto dua remaja yang memiliki paras hampir sama di bawahnya tertulis nama ke dua remaja itu. Bella Vista Wiratama dan Belia Vista Wiratama.
"Dek bagaimana kabar kamu disana apakah kau sudah tenang, aku sudah menemukan jejak putri mu. Apakah dia bisa memaafkan kesalahan kupada mu dek".
"Dia cantik seperti dirimu dek, walaupun aku hanya melihat dari layar ponsel saja tapi kecantikannya sama persis seperti dirimu"
Wanita paruh baya itu kembali meneteskan air matanya, ia merasa bersalah kepada keponakan yang terpaksa di telantarkan oleh kembaranya begitu juga dengan adik ipar yang sampai saat ini ia tidak tahu kabarnya.
Sudah 10tahun lamanya ia mencari keberadan adik ipar dan keponakan itu tapi tak kunjung ada titik terang. Saat ia melihat desain salah satu rekan kerjanya saat berkunjung karena sebuah acar fashion show.
Sang rekan kerja mengatakan jika yang mendesain iklan butiknya adalah seseorang wanita bernama Rania Az-Zahra. Usianya sudah 29 tahun dia hanya menerima job freelance saja.
Sejak saat itu ia mencoba menyelidiki seseorang yang dimaksud dengan nama yang sama dengan sang keponakan. Alvin yang ia percaya juga sudah menyatakan jika Rania yang di maksud adalah orang yang selama ini di cari oleh bossnya.
Untungnya Alvin yang memiliki koneksi yang cukup luas tidak membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan kontak langsung Rania Az-Zahra yang merupakan keponakan sekaligus pewaris dari Wiratama yang selama ini di pegang di bawah kendali dirinya.
"Aku akan menyampaikan pesan mu dek padanya, semoga ia mengerti dan memaafkan ke egoisan ku di waktu dulu" gumamnya dengan air mata yang masih menetes di pipi.