Menceritakan seorang laki-laki berusia 29 tahun namun belum kunjung menikah, namun penasaran dan jatuh cinta dengan pesona tetangganya yang begitu menggoda namun tetangganya telah bersuami. Bagaimana kelanjutannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bel Bel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Malam harinya. Ada yang datang ke rumah Raka.
“Assalamualaikum.”
“Iya walaikumsalam, eh pak RT, silahkan masuk pak.” Kata Raka membukakan pagar rumah untuk pak RT.
“Sedang sibuk nggak? Ini warga sedang menggelar acara nonton bareng mas, ya sambil ngopi juga.” Kata pak RT.
“Sekarang ya pak? Saya longgar sih, sudah pada kumpul semua ya pak? Ada siapa saja memangnya?” Tanya Raka.
“Ya lumayan mas, 10 orang juga ada, ada ibu-ibu juga pada masak buat makan-makan, mari mas.” Kata pak RT.
“Saya ganti baju dulu kalau gitu pak.” Kata Raka.
“Siap mas, saya tunggu di depan rumah saya ya pak.” Kata pak RT.
“Siap pak RT.” Jawab Raka. Raka segera berganti pakaian lalu segera bergabung dengan warga untuk nonton bareng.
“Sini mas Raka, wah sudah lama nggak pernah lihat mas Raka.” Kata pak Yosi.
“Hehe iya pak.” Kata Raka.
“Mas sini ambil makan dulu.” Kata bu RT.
“Iya bu nanti saja baru juga datang.” Kata Raka.
“Ayo mas makan dulu, enak banget loh. Sambelnya special buatannya mbak Nadia.” Kata bu RT.
“Hah Nadia ikut juga?” Tanya Raka dalam hati.
“Malam mas Raka.” Kata Nadia sambil memberikan senyuman mautnya kepada Raka.
“Sambelnya enak banget mbak Nadia. Pak Dimas nggak dirumah ya mbak?” Tanya pak Yosi.
“Kebetulan suami dinas luar kota pak.” Jawab Nadia.
“Mbak saya ketagihan sama sambalnya mbak Nadia, enak pol.” Kata pak Harif.
“Iya pak, ambil lagi saja, nanti kalau habis saya buatkan lagi.” Kata Nadia.
“Sudah cantik pintar masak lagi, emang terbaik mbak Nadia ini.” Kata bu RT.
Raka pun merasa tidak nyaman melihat Nadia ikut bergabung dengan warga kompleks.
Tak lama kemudian, ibu-ibu pada pulang karena sudah malam sedangkan bapak-bapak masih lanjut nonton bareng. Bapak-bapak pun banyak yang membicarakan Nadia.
“Mbak Nadia kok betah ya dirumah sendirian, suaminya juga jarang pulang. Kalau lagi pengen gimana?” Kata pak Yosi.
“Mbak Nadia sama suaminya beda berapa tahun ya?” Tanya pak RT.
“Kalau lagi pengen mungkin cari cowok lain hahahaha.” Kata pak Harif.
“Secara mbak Nadia kan cantik, seksi, putih, penasaran goyangannya seperti apa hehehe.” Kata pak Dika. Bapak-bapak pun pada tertawa, sedangkan Raka menahan emosi dan hampir saja meluap.
“Pak nggak baik ngomongin orang sampai segitunya, gimana kalau misalnya mbak Nadia mendengar.” Kata Raka.
“Aman mas Raka. Kalau dirumah malam-malam gini ngapain ya?” Tanya pak Harif.
“Saya pernah lewat depan rumah mbak Nadia malam-malam, ngeri banget desahannya.” Kata pak Dika.
“Waw sama siapa ya kan pak Dimas jarang dirumah.” Kata pak RT.
“Ya sama cowok panggilan mungkin.” Kata pak Harif.
“Gimana desahannya pak?” Tanya pak Yosi.
“Luar biasa sampai punyaku hampir berdiri hahahaha.” Kata pak Dika.
“Sudah pak, nggak enak kalau nanti kedengaran sama mbak Nadia. Saya permisi pulang dulu ya bapak-bapak.” Kata Raka.
“Kenapa mas nggak kuat ya hehehehe, semoga mas Raka cepat bertemu dengan jodohnya ya biar bisa begituan hehe.” Kata pak RT.
“Amin terima kasih banyak, permisi pak.” Kata Raka.
Raka langsung pulang dan marah-marah nggak karuan, Raka langsung menelfon Nadia.
“Hallo mulai sekarang jangan pernah ikut kumpul-kumpul sama warga, aku nggak rela ya pokoknya.” Kata Raka dengan penuh emosi.
“Memangnya kenapa sih mas?” Tanya Nadia kebingungan.
“Bapak-bapak semua pada ngomongin kamu yang nggak baik, wajar lah aku marah dan nggak rela.” Kata Raka.
“Oh gitu, maaf ya lain kali aku nggak ikut acara kumpul-kumpul lagi sama warga.” Kata Nadia.