Menjadi istri pengganti istri pertama, begitulah yang Deandra alami. Ketika dirinya terpaksa harus menikah dengan Majikan di rumahnya ini, hanya karena dia membutuhkan sosok seorang istri pengganti di saat istri pertamanya masih dalam keadaan koma.
"Jadi istri pengganti untukku, selama istri pertamaku belum sadar"
Sebuah kalimat yang membuat Deandra sangat terkejut. Namun sebuah pilihan yang akhirnya dia ambil. Entah bagaimana pernikahan ini berlanjut, mungkin akan tetap bersama dengan saling mencintai? Atau bahkan saling melepaskan dengan rasa sakit?
Saksikan kisahnya di PENGGANTI ISTRI PERTAMA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Tinggalkan Aku?!
Entah pukul berapa sekarang, namun Afkha terbangun ketika dia merasa bagian dadanya berat. Kepalanya masih terasa sakit, dia menundukan pandangannya dan tersenum ketika melihat kepala istrinya yang berada di atas dadanya dan memeluknya. Tangan Afkha terangkat dan mengelus kepala Deandra, memberikan kecupan lembut di puncak kepala istrinya ini.
"Jangan pernah tinggalkan aku"
Selama beberapa hari ini, Afkha hanya sedang berpikir dan memikirkan apa yang sebenarnya sedang dia rasakan saat ini pada istrinya. Afkha yang benar-benar meyakinkan dirinya dengan perasaan yang sedang dia rasakan saat ini.
Ternyata hatiku memang sudah beralih padanya. Apa mungkin secepat ini? Kita menikah baru mau satu bulan saja. Mungkinkah secepat ini aku bisa berpaling?
Hatinya yang merasakan perasaan berbeda pada Deandra. Dia yang selalu senang jika Deandra berada di dekatnya. Namun, Afkha masih ragu karena dirinya dan Sandra sudah bersama selama dua tahun lamanya sejak mereka berpacaran. Apa mungkin perasaan cinta akan semudah itu berpaling?
Afkha terus mengecup puncak kepala istrinya. Tangannya memeluk tubuh istrinya itu dengan lembut. Malam ini dirinya bisa tertidur dengan lelap setelah beberapa hari ini dirinya tidak bisa tidur.
Entah apa yang mereka berdua rasakan. Namun rasa nyaman itu tidak bisa terkalahkan. Deandra yang merasa nyaman dengan Afkha, begitupun sebaliknya.
Deandra terbangun pagi ini dengan posisi yang sudah terbiasa seperti sebelumnya. Dimana Afkha yang memeluknya seperti guling hidup. Entah kenapa aku malah merasa senang jika dia kembali memelukku seperti ini saat sedang tidur. Gumamnya, Deandra sedikit mendongak dan mengecek suhu tubuh suaminya dengan tangannya. Merasa jika Afkha memang sudah lebih baik sekarang.
"Panasnya sudah turun"
Deandra menatap wajah Afkha yang masih tertidur dengan lelap. Membuat dia mendekatkan wajahnya dan ingin mengecupnya. Dan dia melakukan itu, mengecup pipi Afkha dengan lembut. Muah..muah.. dua kecupan yang dia berikan di pipi suaminya itu. Aku memang sudah gila, tapi aku senang dengan apa yang aku lakukan sekarang.
Terserah saja apa yang akan terjadi kedepannya. Deandra yang sedang mencoba untuk biasa saja dan dia tidak mau jika sampai semua yang membuatnya senang, malah harus hilang dalam sekejap. Saat ini Deandra hanya sedang menikmati masa ini, ketika dia masih bisa bersama dengan Afkha. Karena pernikahannya ini tidak tahu akan sampai kapan bertahan.
Saat Deandra baru saja mau bangun, Afkha malah semakin mengeratkan pelukannya. Dia menatap Deandra dengan tersenyum. Cup.. Afkha memberikan kecupan selamat pagi di bibir istrinya ini.
"Sa-sayang, kamu sudah bangun ya" ucap Deandra yang benar-benar terkejut dengan apa yang dilakukan oleh suaminya. Aduh, apa dia sadar ya kalau tadi aku mencium pipinya? Kalau dia sampai tahu, sudah pasti dia akan semakin besar kepala saja.
"Kau menciumku? Kenapa tidak di bibir saja sekalian?" tanya Afkha dengan senyuman menggoda.
Deandra memejamkan matanya, dia sangat malu karena apa yang dia lakukan ternyata ketahuan juga oleh suaminya. Aduh, aku sudah seperti maling yang ketahuan. Tapi aku 'kan juga mencium suamiku sendiri, bukan orang lain. Tapi tetap saja aku malu.
Afkha terkekeh lucu melihat wajah istrinya, Deandra masih saja memejamkan matanya tanpa mau bicara. Mungkin memang sedang menghindari malu dengan apa yang dia lakukan barusan pada Afkha.
"Kenapa malu? Aku suamimu"
Afkha seolah sedang mendapatkan kesempatan baru. Dia langsung mencium bibir istrinya itu. Mata Deandra yang awalnya terpejam itu, langsung terbelalak kaget. Dia ingin menolak, tapi reaksi tubuhnya malah berbanding sebaliknya. Sial, kenapa kau selalu saja menikmati dengan apa yang dia berikan. Sadar Deandra, dia itu tidak akan menjadi milikmu seutuhnya. Setidaknya jangan buat hatimu jatuh cinta.
Namun lagi-lagi reaksi tubuhnya malah memberikan respon yang berbeda. Tangannya malah mengalung di leher Afkha dan mulai memejamkan matanya kembali untuk menikmati ciuman yang diberikan oleh suaminya itu.
Aku benar-benar tidak bisa menolaknya, sialnya tubuhku malah menginginkannya.
#########
Deandra keluar dari ruang ganti setelah dia selesai mandi. Menatap suaminya yang sedang duduk bersandar di atas tempat tidur dengan laptop dalam pangkuannya. Deandra berjalan mendekatinya, duduk di pinggir tempat tidur.
"Sayang, kamu itu di suruh istirahat oleh Dokter. Bukan malah tetap bekerja" ucap Deandra dengan lembut.
Afkha mendongak, dia membenarkan kacamata bacanya. Tersenyum saat mendapatkan perhatian dari istrinya ini. "Hanya mengecek beberapa email yang masuk saja. Sebentar lagi selesai, sini naik"
Deandra menurut, dia naik ke atas tempat tidur dan duduk di samping suaminya. Ikut menatap apa yang sedang suaminya kerjakan, meski sebenarnya dia tidak mengerti apapun. Afkha meraih kepala Deandra untuk bersandar di bahunya, sambil dia masih mengecek beberapa pekerjaan.
Sampai beberapa saat kemudian, Afkha selesai dengan semua pekerjaannya. Dia menutup layar laptop dan menyimpannya di atas nakas. Lalu memeluk istrinya dengan lembut, memberikan kecupan di kening istrinya itu.
"Sebaiknya kita jangan lagi membahas lagi tentang apa yang akan terjadi kedepannya pernikahan kita ini. Aku malas berdebat lagi denganmu" ucap Afkha, dengan helaan nafas pelan di akhir ucapannya itu.
Deandra mendongk, merasa heran dengan ucapan suaminya itu. Padahal bukan dirinya yang memulai semuanya, kenapa sekarang malah terkesan jika Deandra yang sudah memulai perdebatan yang terjadi.
"Kan kamu sendiri yang mulai bersikap cuek padaku. Kamu yang mulai duluan mendiamkan aku" ucap Deandra.
Afkha mencubit gemas hidung Deandra itu. "Ya, seharusnya kamu bujuk aku. Bukan malah balik mendiamkan aku, bagaimana si istriku ini"
Deg,, Debaran di hatinya terasa sangat nyata ketika Deandra mendengar Afkha menyebutnya dengan panggilan istriku. Aa,, kenapa aku senang? Ayolah Deandra jangan sampai kamu semakin terpikat dengan segala yang dia berikan padamu.
"Udah ah, aku mau ambilkan dulu makanan untukmu. Biar asam lambung kamu itu gak kumat lagi"
Deandra segera melepaskan diri dari pelukan Afkha dan berlari keluar kamar. Wajahnya sudah sangat memanas dengan semua perlakuan Afkha itu padanya. Sungguh Deandra tidak pernah menyangka jika hubungan pernikahan mereka akan seperti saat ini. Padahal baru saja beberapa hari kemarin keduanya saling diam-diaman.
Aaa, Deandra kamu memang sudah gila. Hanya di panggil istriku saja, kenapa sudah semerah ini wajah kamu. Lagi-lagi Deandra yang sedang merasa telah dikhianati oleh tubuhnya sendiri. Deandra yang sudah sangat jarang sekali mengingat tentang Angga sekarang. Bahkan saat bersama dengan Afkha semuanya seolah hanya tentang Afkha. Deandra juga bingung dengan perasaannya ini.
Apa mungkin perasaan aku pada Kak Angga sudah berubah ya? Bergumam sendiri sambil berjalan menuju ruang makan. Deandra yang masih memikirkan tentang perasaannya ini yang tiba-tiba terasa berubah sejak dirinya bersama dengan Afkha. Melewati hari-harinya dengan Afkha dan segala keisengan yang dia lakukan pada Deandra.
.
Bersambung