Seorang ibu yang mengandung, melahirkan, menyusui, mendidik dan membesarkan anak-anaknya adalah wanita yang hebat.
tapi tahukah kalian bahwa ada wanita yang jauh lebih hebat, yaitu wanita yang terus berjuang untuk menjadi seorang ibu, dia yng melakukan segala hal demi memperjuangkan garis dua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rahma khusnul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Kembali...
HAPPY READING...⚘⚘⚘
Fauzi yang baru saja datang dengan membawa segelas air minum ditangannya, hanya berdiri mematung menyaksikan adegan romantis istrinya bersama pria lain dihadapannya...
"Bunda...!" teriak Talita.
"Afifa...!, Panggil Wulan, hampir bersamaan, keduanya hampir meloncat menghampiri tubuh Afifa, "Kamu tidak apa-apa kan?", tanya Wulan kemudian, membantunya berdiri dan memapahnya untuk duduk kembali dikursi.
Afifa mengerjapkan matanya, sesaat kembali pada kesadarannya, dia segera bangkit dan melepaskan diri dari pelukan pria itu, pandangannya seketika beralih pada sosok suaminya yang hanya berdiri bengong dihadapannya, ada tatapan aneh yang terpancar dari sorot mata suaminya, "Kak Aji...aku...aku...", suaranya terbata-bata karena gugup, dia tertunduk, ada rasa takut dalam dirinya yang akan menimbulkan kesalah fahaman diantara mereka.
"Maaf...Zi, aku...tadi tidak bermaksud...", Ucap pria itu terpotong dengan ucapan Fauzi.
"Oh...gapapa, saya ngerti", Ucap Fauzi, sempat tersungging senyuman dari bibirnya, namun entah mengapa, Afifa merasakan ada suatu ganjalan dalam senyumannya yang tidak natural itu. Fauzi meletakan gelas berisi air di atas meja lalu duduk disamping Afifa, "Minumlah!" ucapnya datar.
Afifa mengangguk dan meminum air dihadapannya.
"Silahkan duduk Rid!, Wulan!, dan...Eh...Talita juga ikut rupanya?", wajahnya langsung tersenyum tulus saat melihat anak itu.
"Iya paman, Talita mau liat Bunda", ucap bibir mungil Talita, lalu menyalami Fauzi dan mencium tangannya, lalu tubuhnya berbalik ke arah Afifa dan "Bruk...!", dia langsung menghambur kepelukan Afifa. "Bunda baik-baik saja kan?" tanyanya sambil menatap lekat mata Afifa.
"Iya sayang..., Bunda gak papa, apalagi setelah ditengok Talita", ucapnya sambil tersenyum manis kembali memeluk anak itu.
"Bunda..., Dedek bayinya kenapa? Bunda Wulan bilang, Dedek bayinya diambil lagi sama Alloh, apa iya bunda?"
Afifa menatap nanar kearah anak itu, pertanyaan polosnya mampu membuat airmatanya kembali keluar, "Iya sayang, Alloh masih sayang sama Dedek bayinya, jadi belum izinin bunda untuk merawatnya".
Talita mengusap air mata yang terlanjur mengalir dipipi Afifa dengan kedua tangan kecilnya, "Bunda jangan nangis, Talita mau kok nemenin Bunda sampai Dedek bayinya sudah diizinin dirawat Bunda sama Alloh".
"Makasih sayang...", Afifa mencium kening Talita, pandangannya menatap sekilas mata suaminya yang berkilauan karena cairan sudah terbendung disana, namun Fauzi tampak menepisnya.
Afifa memperhatikan gerak-gerik suaminya, ekspresi wajahnya langsung berubah saat kembali diingatkan dengan buah hati kami yang harus kami relakan diambil kembali oleh Pemiliknya, tiba-tiba saja Afifa teringat saat kejadian dirumah Wulan, sesaat sebelum kesadarannya hilang.
"Deg...deg...deg...!" seketika jantung Afifa berdegup kencang mengingat kejadian itu, rentetan kejadian yang penuh dengan kebetulan kembali terbayang bak layar film di fikirannya, sebuah Foto dikamar Wulan, Ucapan pria paruh baya, dan tentu saja moment saat dia harus benar-benar kehilangan buah hatinya, dan satu lagi pertanyaan dalam benaknya, darimana Wulan mendapatkan semua peralatan bayi secepat itu?, bukankah dia bilang bertemu Talita setelah usianya 2 tahun?, Ah...begitu banyak spekulasi yang berkecamuk dalam fikirannya.
Afifa menghela nafas panjang, ingin sekali dia tanyakan semuanya kepada Wulan saat ini?, tapi...apa ini waktu yang tepat? dia baru saja kehilangan buah hatinya, dia tidak akan sanggup lagi menerima kenyataan pahit yang mungkin akan terjadi.
"Eeeh...ada tamu rupanya", Mama tiba-tiba datang membuyarkan lamunan Afifa.
"Eh...iya Tante, Assalamualaikum", Ucap Wulan diikuti anggukan dari Farid, lalu menyalami keduanya.
"Waalaikum salam, Talita? kok gak salim sama Mak Eyang?" tanya Mama mengalihkan pandangannya pada Talita yang masih bergelayut manja dipelukan Afifa.
"Iya Mak Eyang, Assalamualaikum", Ucap Talita lalu segera menghampiri Mama, dan mencium tangannya.
"Kok belum dibuatin minum?", tanya Mama.
"Gak papa Tante, jangan repot-repot", ucap Wulan tersenyum.
"Ah...cuma minum doang kok", kepalanya menoleh kebelakang, "Nadia...!" panggilnya.
"Iya Mak Eyang...?" sahut Nadia dari arah dapur, segera menghampiri keruang tamu, "Ada apa?", tanyanya saat sosok neneknya sudah terlihat.
"Ambilkan minum!, ada tamu", perintahnya.
"Oh iya Mak Eyang", hendak berbalik badan, namun dia urungkan saat matanya menangkap sosok pria yang dikenalnya, "Mas Ari???", ucapnya heran dengan kehadirannya.
Farid yang sedang tertunduk mengangkat kepalanya saat namanya disebut seseorang, "Eh...iya, Muthiya disini juga?" tanyanya.
"Oh...eh...iya...aku...ponakannya Paman Aji", ucapnya gugup, sambil menurunkan pandangannya.
"Rupanya kalian sudah saling kenal?", tanya Fauzi.
"Iya, kami pernah satu kampus waktu di Semarang", jelas Farid.
"Ooooh...", jawab semua orang yang memang sama-sama penasaran dengan perkenalan Farid dan Nadia.
Nadia mengangguk, lalu berjalan menuju dapur untuk membuat minuman, sepanjang langkahnya, entah mengapa jantungnya terus berdebar bertemu dengan pria yang dulu pernah hadir didalam hatinya, bahkan sampai membuatnya berprilaku konyol hanya untuk mendapatkan perhatiannya.
Ingatannya kembali kemasa lalu, dimana dirinya yang identik dengan kesan tomboy, arogan dan cuek terhadap lawan jenis justru terpikat dengan seorang ketua Rohis dikampusnya, sosoknya yang tampan, cerdas dan lembut pada setiap orang, mampu membuat namanya selalu hadir dalam setiap detik fikirannya. Perasaannya yang semakin hari semakin kuat membawa dirinya untuk ikut berkecimpung dalam dunia pria idamannya, dia masuk anggota rohis dan berangsur merubah penampilannya, namun sayang cintanya bertepuk sebelah tangan, karena tak sedikitpun pria pujaannya meliriknya, sampai dia melakukan satu hal konyol yang membuatnya harus pergi selamanya dari kampus itu.
"Nad...!", panggil Hanita menyadarkan lamunannya.
"Eh...iya tante...", ucapnya, hampir saja menjatuhkan gelas kaca yang dipegangnya.
"Kok ngelamun?, siapa didepan?"
"Itu...yang waktu itu membawa Anti ke Rumah sakit", ucapnya.
"Oh...", Hanita berjalan menuju ruang tamu, "Eh... ada tamu rupanya", ucap Hanita sambil memperhatikan ketiganya, saat matanya tertuju pada Talita diapun berkata, "Apa ini ibunya Talita?" tanyanya sambil menatap wanita cantik berhijab pasmina dihadapannya.
"Iya Kak, perkenalkan saya Wulan", mengulurkan tangan ke arah Hanita.
"Oh...pantesan Talita cantik sekali, ibunya pun sangat cantik ternyata", memandang kagum wanita dihadapannya.
"Ah...Kakak bisa aja", Wulan tersipu.
Nadia datang membawa minuman dan camilan, lalu meletakannya dimeja tamu, "Silahkan...!" ucapnya sopan dan masih tertunduk.
"Terimakasih", jawab Wulan dan Farid.
Farid memperhatikan gerak-gerik Nadia, masih belum hilang rasa penasaran dibenaknya dengan perubahan sikap dan penampilannya sejak pertama kali dia dipertemukan kembali di rumah sakit kemarin, mengapa anak ini kini berubah? lebih manis dan anggun, sikapnya persis seperti Afifa, gumamnya.
**********
Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Readers...terimakasih dukungannya...
Sungguh komentar kalian bikin Author semangat...
LOVE YOU ALL...❤❤❤😘😘😘⚘⚘⚘
By : @Rahma Husnul#
Secara dia sudah berbuat salah ...ngasih obat perangsang
Sampai di sini kok dramanya datar2 aja ?
sukses
semangat
mksh
Laki macam apa sich, bejek² aja kak Owner 🤧🤧🤧
🤔🤔🤔
#ngarep