Popoy atau Tiara adalah gadis kampung yang sangat baik, cantik dan juga pintar. Dia lulus dengan meraih predikat terbaik di sekolahnya.
Tapi, modal itu saja tidaklah cukup untuk menjamin dirinya bisa mendapatkan pekerjaan yang mapan. Apalagi, Tiara hanya lulusan SMA.
Ekonomi keluarga yang pas-pasan dan incaran rentenir yang ingin memperistri Popoy, membuatnya nekad pergi ke kota. Popoy tidak mau terikat pernikahan dengan bandot tua yang selalu menjerat petani dengan hutang, hingga para orangtua terpaksa harus merelakan anak gadisnya untuk dipersunting demi melunasi hutang mereka.
Namun, Popoy tidak pernah menyangka jika di kota, dirinya malah terlibat banyak masalah. Bekalnya dirampok dan dia hampir saja diperkosa oleh para preman.
Popoy berhasil keluar dari mulut harimau tapi akhirnya masuk ke mulut buaya. Dia bersembunyi di bagasi mobil seorang Miliarder yang terkenal suka bergonti-ganti wanita.
Bagaimanakah nasib Popoy selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19. SAH MENJADI ISTRI ALEX
Alex tidak berkedip, dia tidak menyangka jika Popoy begitu cantik, tapi dia akan menggunakan Popoy untuk membalas dan mendapatkan apa yang telah dijanjikan oleh keluarganya.
Melihat kedua mempelai telah siap, penghulu pernikahan pun bertanya, "Bagaimana Tuan, apa sudah bisa kita mulai?"
"Mulai saja Pak. Semua sudah siap 'kan? Psra saksi dan para fotografer, apakah kalian juga sudah siap?"
"Siap Tuan," jawab mereka serempak.
Hati Popoy saat ini sedih, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan untuk membatalkannya.
Menikah dengan orang yang saling mencintai, dihadiri oleh para orangtua, hanya tinggal impian yang tidak akan mungkin pernah terwujud. Dan menjadi seorang janda muda juga tidak pernah terbayang akan Popoy alami.
Alex duduk berdampingan dengan Popoy, lalu dia menjabat tangan wali hakim yang merupakan wali nikah dan dengan satu kali tarikan nafas, ijab kabul pun berhasil di ucapkan.
Setelah para saksi mengatakan sah, Popoy pun mencium tangan Alex dan Alex mencium kening Popoy. Momen pernikahan sederhana itupun sudah diabadikan oleh para fotografer.
Popoy menangis, dalam hati dia meminta maaf kepada ibu dan bapak karena tidak bisa memenuhi impian mereka, menikah dihadapan keduanya.
Setelah acara selesai, para fotografer menyerahkan hasil rekaman kepada Alex dan Alex pun mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu terlaksananya pernikahan dadakan tersebut.
Kini Alex dan Popoy telah sah menjadi pasangan suami istri dan nanti malam di pesta keluarga, Alex akan memperkenalkan Popoy.
Setelah itu dia akan membawa pulang Popoy ke apartemen miliknya untuk melanjutkan rencana sampai 3 bulan kedepan.
Popoy pasrah dengan takdir hidup yang menantinya, saat ini dia bisa lebih tenang karena Alex telah memberikan bukti jika Bapak dan ibunya sudah kembali ke rumah dan surat pembelian kilang padi juga sudah di serahkan ke mereka.
Walaupun bapak dan ibu Popoy masih bingung dengan kejadian tersebut, setidaknya mereka saat ini bisa aman, sudah terlepas dari jeratan rentenir.
Anak buah Alex hanya menyampaikan jika itu semua karena kebaikan Bos Popoy yang membayar gaji Popoy di muka.
Ibu dan bapak ingin berterimakasih dan ingin bertemu Popoy serta Bosnya, tapi anak buah Alex mengatakan, jika saat ini waktunya belum tepat.
Mereka berjanji suatu saat, pasti akan datang menjemput dan mempertemukan bapak ibu kepada Popoy dan juga Alex.
Popoy dan Alex sudah berganti pakaian, lalu Alex meminta Popoy untuk membawanya ke tempat dimana Popoy tinggal.
Alex ingin pamit dan mengucapkan terimakasih karena telah memberi tumpangan kepada istrinya.
Dalam perjalanan, keduanya hanya diam, sibuk dengan alam pikirannya masing-masing.
Popoy tidak pernah menyangka dalam sekejap statusnya berubah. Kini dia seorang istri, meski istri terpaksa dan sementara.
Setibanya di rumah Kania, ibu Kania merasa heran, saat melihat sebuah mobil mewah parkir di halaman rumahnya. Apalagi saat melihat Popoy turun dari dalam mobil tersebut.
Kemudian ibu berlari ke kamar Kania, beliau ingin memberitahu apa yang baru saja dilihatnya.
Kania yang baru saja pulang dan beristirahat, sebenarnya malas untuk keluar kamar.
Tapi karena ibu mengatakan jika Popoy yang datang, diapun merasa penasaran. Padahal rencananya, sebentar lagi Kania akan pergi menjemput Popoy di tempat kerjanya.
Popoy mengetuk pintu berulang kali, tapi belum ada jawaban. Saat dia hendak mengetuk lagi, ibu pun muncul dari balik pintu.
"Eh, Nak Popoy! Kania baru saja sampai rumah dan rencananya sebentar lagi mau pergi menjemput Nak Popoy, ternyata sudah di antar pulang."
"Mari masuk Nak dan ajak temannya masuk, ibu kebelakang dulu buat minum untuk tamu."
"Nggak usah repot-repot Bu, saya hanya sebentar dan ada yang ingin saya sampaikan dengan ibu dan teman Popoy."
Kania yang mengintip dari balik pintu tengah segera keluar mendengar ucapan Alex.
"Eh Poy...kamu sudah sampai rumah, ini siapa Poy?"
Popoy tidak langsung menjawab, dia menoleh dan memandang Alex, karena yang berhak menjelaskan semuanya adalah Alex.
"Begini Bu, saya permisi akan membawa Popoy pindah ke apartemen kami."
Sejenak Alex terdiam, lalu dia menyodorkan sebuah foto dan rekaman pernikahan mereka tadi.
Ibu dan Kania pun terpaku menatap foto serta video dumana Popoy dengan balutan gaun pengantin, duduk berdampingan dengan pria yang saat ini ada di hadapan mereka dan sedang melakukan prosesi pernikahan.
"Ini!" tanya ibu merasa tidak percaya.
"Iya Bu, kami telah menikah," jawab Alex.
"Poy... bagaimana hal ini bisa terjadi?" tanya Kania yang juga tidak percaya.
"Kamu ingat ceritaku Nia, aku pernah sembunyi di bagasi sebuah mobil saat baru datang ke kota ini. Saat itu aku menghindari kejaran para preman."
"Iya, aku ingat. Jadi apa hubungannya dengan pernikahan kalian?"
"Tuan Alex lah pemilik mobil itu. Ceritanya panjang, jadi kapan-kapan aku ceritain. Saat ini kami terburu-buru karena malam ini aku akan ikut Tuan Alex ke rumah keluarganya dan kami langsung pulang ke apartemen Tuan Alex."
"Oh...baiklah. Selamat ya Poy, semoga kalian bahagia. Sungguh, aku sangat terkejut Poy, dengan pernikahan kalian yang mendadak ini, tapi kamu sudah menentukan pilihan dan aku hanya bisa mendoakan semoga sahabatku selalu bahagia," ucap Kania sambil memeluk Popoy.
Popoy menitikkan air mata, dia ingin bercerita, tapi belum saatnya.
"Kania, aku minta nomor kontak mu dong. Setelah gajian nanti, aku akan membeli ponsel, jadi kita bisa komunikasi lagi."
"Baiklah, sebentar ya," ucap Kania sambil kembali ke kamar untuk mengambil pena dan kertas.
Sambil menunggu Kania kembali dari kamar, Alex pun berkata kepada ibu, "Bu, terimakasih ya karena telah memberi tumpangan kepada istri saya. Ini sekedar hadiah karena kebaikan ibu dan Kania," ucap Alex sambil mengulurkan sebuah cek.
"Maaf Nak, ibu tidak bisa menerimanya. Kami ikhlas kok membantu Nak Popoy. Kedatangan Nak Popoy membuat rumah kami ramai, eh sekarang sepi lagi."
"Nggak apa-apa Bu, terimalah! Jika ibu dan Kania rindu, boleh kok main ke apartemen kami atau menemui Popoy di kantor. Ini alamat kami Bu," ucap Alex sambil mengulurkan sebuah kartu nama.
Popoy menatap haru ke Alex, dia tidak menyangka jika Alex bisa bersikap manis terhadap orang lain, padahal selama ini yang Popoy tahu, Alex selalu jutek terhadapnya.
Melihat ibu masih menolak, Popoy pun berkata, "Ambillah Bu, bisa untuk tambahan membangun kamar, jadi bisa terima anak kost, biar ibu ada teman di rumah."
"Iya Bu, nggak baik menolak rezeki," sahut Kania.
"Ikhlas ini kan Nak?" tanya ibu ke Alex.
Alex mengangguk dan sekali lagi diapun mengucapkan terimakasih kepada Ibu serta Kania.
Setelah melihat Kania memberikan secarik kertas kepada Popoy, Alex pun mengajak Popoy meninggalkan tempat itu.
Popoy tidak perlu membereskan barang karena dia tidak memiliki barang apapun, bahkan baju yang dia pakai untuk bekerja adalah baju milik Kania, yang dia pinjamkan.
smg sukses kedepannya ya author........ 🙏🙏
baru kali ini baca novel ngak di skip2
keren tetap berkarya semogga sukses selalu