Penjara cinta yang suaminya ciptakan membuat Firda tak tahan lagi . Ia hidup namun tak bisa hidup dengan bebas seperti manusia pada umumnya . Suaminya itu menyuruhnya melakukan hal hal yang tak ia sukai mulai dari Memakai softlens berwarna biru setiap hari , menghadiri les memasak juga menghadiri les piano .
Bukan hanya itu saja , setiap ia pergi keluar dari rumah .Para bodyguard selalu mengikuti dirinya , ia merasa tak nyaman namun ia berusaha berpikir positif bahwa itu semua suaminya lakukan demi keselamatan nya .
Namun semakin hari ia semakin tak nyaman , ia seperti seorang boneka yang hanya bisa pasrah di mainkan dan di atur oleh orang lain . Kebebasan nya seakan terenggut saat ia menikah dengan suaminya itu . Karena merasa lelah dan muak dengan itu semua akhirnya Firda mulai tak menuruti apa mau suaminya . Ia mulai lupa mengenakan softlens biru yang suaminya suruh pakai setiap hari .
Awal nya ia kira suaminya tak akan marah namun justru ia salah . Suaminya murka dan mengamuk hingga berakibat kekerasan dalam rumah tangga yang ia alami .Hal itu semakin membuat Firda tak kuat lagi menjalankan rumah tangga nya , keinginan nya untuk mengakhiri rumah tangga nya semakin kuat setelah mengetahui fakta bahwa suaminya menikahi dirinya hanya karena ia mirip dengan istri laki aki itu yang sudah meninggal . Hatinya semakin hancur kala mengtahui jika perintah perintah yang suaminya berikan hanya lah agar dia terlihat semakin mirip dengan mendiang istrinya .
Hingga akhirnya wanita itu memilih pergi mulai dari meminta cerai yang suaminya tolak mentah mentah. Hingga memalsukan kematian nya sendiri agar terbebas dengan dari cengkraman sang suami .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yulia puspitaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18 . Makanan tanda terima kasih .
Pagi hari pun tiba Firda telah terbangun dari tidurnya . Wanita itu tengah sibuk berada di dapur milik farel , ia ingin memasakkan sesuatu untuk pria yang sudah mau menumpang dan menilang nya itu .
Karena bahan bahan di kulkas sangat terbatas Firda pun hanya bisa memasak seadanya saja . Tetapi ia berjanji jika lain kali ia akan memasarkan sesuatu yang spesial untuk farel .
Dengan telaten Firda mulai memotong beberapa sayur di hadapannya . Suara grasak grusuk yang di timbulkan oleh nya membuat farel terbangun . Laki laki itu segera bangkit dan berjalan keluar dari kamar , ia ingin tau suara apa yang barusan ia dengar .
" Ternyata itu kamu , aku kira itu adalah kucing yang menyelinap masuk kedalam rumah . " Ucap farel tersenyum kemudian laki laki itu duduk di meja makan yang tak jauh dari dapur nya .
" Mana ada kucing secantik aku dok hahaha . "
Candaan yang keluar dari mulut wanita di hadapannya membuat farel spontan terkekeh pelan .
" Iya1 ...kamu benar , tak ada kucing yang secantik dirimu . Oh iya ngomong ngomong kamu sedang apa di dapur ku ?" Tanya Farel penasaran dengan apa yang Firda kerjakan .
" Maaf ya dokter aku menggunakan dapur mu tanpa izin . Aku hanya ingin membuat sarapan untuk mu , anggap saja sebagai tanda terimakasih ku karena dokter sudah mau menumpang dan membantu wanita malang ini ." Ucap Firda yang terdengar getir meratapi nasibnya .
" Tak apa .. anggap saja rumah sendiri , tapi kamu tak perlu repot repot seperti ini loh . Aku jadi tak enak merepotkan mu ."
Firda langsung memberikan tatapan tak sukanya saat mendengar itu dari mulut farel . Karena bagaimanapun ia sama sekali tak merasa direpotkan oleh laki laki tersebut .Ia hanya ingin membalas budi dengan hal kecil seperti yang ia lakukan saat ini .
" Tidak repot samasekali kok dokter . Malah saya senang bisa memasakkan sesuatu untuk dokter . "
Senyum tipis tersungging di bibir Farel , laki laki itu masih menatap Firda yang saat ini masih sibuk dengan acara memasak nya . Melihat siluet Firda , Farel jadi teringat seseorang yang ia cintai . Dulu wanita yang ia cintai juga sering memasakkan makanan untuk dirinya . Meski masakan wanita itu tak pernah enak tapi Farel selalu menghabiskan makanan nya untuk menghargai usaha orang yang ia cintai .
Namun kini , orang yang ia cintai itu entah pergi kemana dan bersama dengan siapa ia pun tak tau .
" Dokter sebentar lagi makanan selesai . Bisakah minta tolong ambilkan piring untuk wadah ?" Tanya Firda yang tak di jawab sama sekali oleh Farel karena laki laki itu sibuk melamun .
Merasa tak ada jawaban dari laki laki di hadapannya itu , Firda pun langsung mengalihkan pandangannya .
" Dokter ...". Panggil Firda lagi kali ini sedikit lebih keras hingga Farel tersadar dari lamunan nya .
" Eh ...iya ada apa ?"ucap Farel menatap wanita di hadapannya penuh tanya .
" Bisa tolong ambilkan piring ?" Tanya wanita itu lagi kali ini dengan nada lembut nya .
" Oke . "
Dengan langkah lebar farel langsung menuju sebuah rak yang Kebetulan tepat di atas kepala Firda . Firda terdiam sesaat saat ini jarak antara dirinya dan Farel begitu dekat . Laki laki itu sudah berdiri di belakang nya dengan satu tangan bertumpu di meja dapur sementara tangan yang lain meraih piring yang akan di gunakan untuk wadah masakan nya nanti .
Gugup dan tak nyaman Firda rasakan dari dalam dirinya , baru kali pertama ini Firda begitu dekat dengan laki laki asing selain suaminya .
" Ini..."
Sebuah piring yang di letakkan di samping nya membuat Firda tersadar jika laki laki itu tak bermaksud hal lain. Selain mengambilkan piring untuk nya . Bahkan saat ini Farel sudah kembali ketempat nya semula .
" Terimakasih dok . "
Panggilan dokter yang Firda berikan sungguh menggangu Farel , karena saat ini ia sedang berada di rumah bukan di klinik nya Laki laki itu merasa tak nyaman mendapatkan panggilan seperti itu .
" Em ...bisakah kamu memanggilku Farel bukan dokter atau apa lah asal jangan dokter . Karena saat ini saya sedang tak bekerja jadi saya tak mau dipanggil seperti itu saat saya sedang berada di rumah . "
" Baiklah dokter mau saya panggil apa ?" Tanya Firda setelah meletakan masakan yang ia masak keatas meja .
" Terserah asal jangan dokter ."
" Bagiamana kalau mas saja . Kurasa itu panggilan yang cocok karena sepertinya umur mu berada di atas ku . "
Mas ... Farel pikir panggilan itu tak buruk , ia tak keberatan sama sekali justru ia senang mendapatkan panggilan seperti itu . Jujur saja baru kali ini ada orang yang memanggil nya dengan panggilan mas .
" Boleh .. aku suka panggilan itu , oh iya kamu masak apa ini kelihatannya enak sekali ?" Tanya Farel memperhatikan makanan di hadapannya yang begitu menggoda lidah nya .
Bau harum dari masakan itu seakan melambai lambai padanya untuk ia cicipi . Ah... Farel sungguh tak sabar karena sepertinya masakan Firda begitu menggoda .
" Hanya capcay . Karena bahan bahan nya terbatas aku hanya menggunakan sayuran saja tanpa ada bahan pelengkap nya . Cobalah dokter aku harap kamu suka . "
" Dokter lagi ...haduh seperti nya kamu lebih suka memanggil ku seperti itu ya ?" tanya Farel sedikit tak suka dengan panggilan itu .
" Maaf , saya lupa mas hehehe "
Senyum Firda memperlihatkan gigi putih nya yang nampak rapi dan bersih . Farel ikutQ tersenyum kemudian ia mulai menyendok nasi dan capcay buatan wanita di hadapannya itu .
" Aku coba ya " Izin Farel sebelum menyuapkan nasi dan capcay itu kedalam mulutnya .
" Cobalah . "
Tak menunggu waktu lagi laki laki itu langsung menyuapkan makanan di piring nya kedalam mulut dan mengunyahnya perlahan . Firda mengamati ekspresi Farel yang nampak aneh baginya . Laki laki itu mengerutkan dahi sementara mulutnya tak berhenti mengunyah .
" Bagaimana ..apa tak enak ?" Tanya Firda harap harap cemas .
" Masakan apa ini , rasanya sungguh aneh sekali . " Ucap Farel nampak tak suka dengan masakan di hadapannya , Firda sedikit terkejut . Ia merasa masakan nya sudah sempurna tak ada yang kurang saat ia mencicipi nya tadi .
Ia pun berpikir mungkin lidah Farel tak cocok dengan makanan yang ia buat .
" Kalau tak enak . Gpp tak usah di makan mas . " Ucap Firda dengan wajah murung nya .
" Gak usah sedih begitu , ini enak kok . Tadi aku hanya bercanda saja . " Ucap Farel terkekeh pelan karena ia berhasil membuat Firda tertipu .
Wajah Firda yang tadinya mendung kini cerah seketika . Wanita itu senang karena Farel menyukai masakan nya .
" Ini sangat enak . Ayo makanlah bersama ku , aku tak enak makan sendiri . " Ucap Farel menarik pergelangan tangan Firda dan mendudukkan wanita itu di kursi kosong yang masih tersedia di hadapannya .
" Makanlah yang banyak , agar kamu terlihat sedikit berisi . Kamu sangat kurus , lihat tangan mu itu lebih kecil dari pada tangan gadis pada umumnya . " Ucap Farel perhatian . Laki laki itu meletakan nasi dan capcay di hadapannya ke piring Firda .
" Terimakasih mas . " Ucap Firda tersenyum senang .
" Oh iya untuk sementara kamu jangan keluar rumah dulu ya . Aku takut ada yang melihat mu , bukan apa apa . Aku dengar suami mu tengah mencari mu ke segala penjuru kota . Ia seperti tak percaya jika kamu telah tewas dalam kecelakaan yang kamu buat itu . " Ucap Farel seketika membuat tubuh Farel memegang ia sungguh ketakutan . Ia takut suaminya akan menemukan nya kembali .
Melihat raut muka Firda yang pucat dan tubuh wanita itu mulai gemetaran pun , membuat Farel paham jika wanita di hadapannya ini masih takut dengan suaminya .
" Tak usah takut ...aku akan membantu mu . Aku akan menjadwalkan Operasi untuk mu dalam waktu dekat . Selama itu kamu jangan keluar dari rumah .Aku yakin jika mereka tak akan menemukan mu di sini . " Ucap Farel meraih tangan Firda dan mengusap punggung tangan wanita itu perlahan . Berharap wanita itu bisa sedikit tenang dengan apa yang ia lakukan .
tapi seru juga ....
semangat otor.