Penuh dengan Misteri. 👺👺
Vivana Gadis desa berusia 21 tahun di paksa menikah dengan seorang pria kota yang baru saja bertemu dengan Ayahnya.
Hanya karena pria tersebut memberikan sebuah perkebunan yang cukup luas, Ayahnya rela menjadikan Vivana syarat pembayaran buat menikah.
Bukannya kebahagiaan di dapatkan Vivana setelah menikah. Pria yang menikahi Vivana adalah seorang Psikopat dan MAHAR MEWAH bernilai fantastis pemberian pria tersebut malah menjadi TEROR yang merenggut beberapa orang tercinta dan terdekat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Tawakkal
1 jam sudah berlalu kami mengaji, sedikit demi sedikit aku memahami huruf gundul yang ada di dalam Iqro’. Kini saatnya masuk tausiyah. Pak Ustad yang sedang duduk di depan kami terkenal dengan ceramah dan tausiyah yang cukup enak, suara merdu yang membuat tenang dan tentram setiap kita mendengarkannya.
Aku, dan Fanny duduk di belakang dengan syaf wanita, sedangkan Baskara dan Mas Valdi duduk di syaf pria. Sesekali aku melihat dan melirik wajah Mas Valdi yang terlihat dari samping dan belakang, meski dirinya tak pernah menoleh kepadaku.
“Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Salam Pak Ustad.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.”
Sahut salam dari kami semua para jama’ah baik laki-laki, dan wanita dengan serentak buat Pak Ustad.
“Pertama-tama, saya ucapkan terimakasih kepada Allah subahaanahuu wa ta’aala karena masih mengizinkan kita semua untuk hadir dan duduk bersama di Masjid tercinta kita. Kedua, saya ucapkan terimakasih kepada Bapak dan Ibu yang selalu menyempatkan diri untuk hadir mendengarkan tausiyah singkat dari saya.”
Salam Pak Ustad di kalimat kedua sebelum masuk ke tema tausiyah yang akan dibawakan nya, suara lembut dan terasa hangat seketika membuat hatiku dan hati Ibu dan Bapak serta anak remaja yang hadir merasa tentram. Kami terlihat serius menatap Pak ustad yang terlihat serius menatap kami para jama’ah yang hadir.
“Pernah tidak kita bertawakkal kepada Allah?” Tanya Pak Ustad mengarahkan kedua bola mata nya satu-persatu ke jama’ah pria dan wanita yang duduk di hadapannya.
“Pernah Pak Ustad.” Sahut para Jama’ah serentak.
Aku menyikut tangan Fanny, wajah, dan pandangan tetap lurus ke depan, menatap Pak Ustad. “Fan. Apa itu Tawakkal?” Bisik 'ku.
“Kamu dengarkan saja, nanti bakalan Pak Ustad kasih tahu maksudnya. Jangan berani bilang paham jika kamu sebenarnya tidak paham arti dan makna dari pertanyaan yang akan di tanyakan Pak Ustad padamu.” Fanny memutar wajah ke sisi kiri, kedua mata menatap sinis Ibu-ibu yang selalu memantau kami. “Kecuali kamu tong kosong.”
“Oh.” Sahutku mengangguk.
.
.
.
“Alhamdulillah karena semua Ibu dan Bapak serta anak muda yang hadir malam ini sudah mengerti maksud dari Tawakkal.” Ucap Pak Ustad mengangguk. Pak Ustad kembali menatap para jama’ahnya satu-persatu.
“Saya akan memberikan satu contoh tentang Tawakkal. Contohnya ‘Manusia yang paling kuat’.
Ibnul Qoyyim-rohimahullah pernah berkata : “Kekuatan itu seluruhnya terletak pada tawakkal kepada Allah, sebagaimana di katakan oleh ulama salaf : “Siapa yang ingin menjadi manusia kuat, maka hendaklah ia bertawakkal kepada Allah”. [Zadul Ma’ad 2/331]
Alasannya : Karena tawakkal pada hakekatnya adalah menyandarkan diri kepada Allah setelah melakukan usaha. Dan kita tahu bahwa Allah adalah Dzat yang maha kuat, maha berkuasa, maha kaya, dan tidak mungkin mengingkari janji-Nya. Bahkan dirinya memiliki sifat-sifat kesempurnaan yang sangat banyak dan tidak mungkin di ketahui oleh makhluknya.
Oleh karena itu, selemah apa pun makhluk-nya, dia akan menjadi sangat kuat, teguh, dan kokoh jika bersandar kepada Allah. Jika kita benar-benar bertawakkal kepada Allah setelah melakukan usaha. Tentunya Allah akan menolong, menguatkan dan memudahkan segala urusan kita. Tidak mungkin Allah menyia-nyiakan usaha yang kita lakukan. Sekian dari salah satu contoh bertawakkal kepada Allah subahaannahuu wa’taala. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Ucap Pak Ustad mengakhiri tausiyah.
“Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.”
Sahut Para jama’ah serentak.
Masing-masing para jama’ah meninggalkan tempat duduknya, tinggallah Pak Ustad, aku, Fanny, Baskara dan Mas Valdi.
“Fan. Kenapa kita tidak ikutan pulang, ini sudah jam 11 malam.” Bisik 'ku pelan menatap Fanny duduk di sisi kananku.
“Mau kelar gak urusan mu?”
“Mau.”
“Makanya diam, nurut saja apa yang aku dan Baskara lakukan.”
“Jangan yang aneh-aneh kamu Fan.”
“Pak Ustad.” Panggil Fanny menaikkan tangan kanannya.
“Iya, ada apa anak muda.” Sahut Pak Ustad menatap Fanny yang tak beranjak dari duduknya.
“Apakah boleh saya bertanya tentang masalah pribadi teman saya ke Pak Ustad agar mendapatkan solusi buat masalah yang kini di hadapinya?” Tanya Fanny serius.
“Isss. Malu lah Fan.” Bisikku, tangan kanan menarik tangan kiri Fanny.
“Boleh.” Pak Ustad mengarahkan tangan kanannya. “Silahkan bertanya apa yang ingin anak muda tanyakan kepada saya.”
“Sebenarnya ada apa Bas?” Tanya Mas Valdi berbisik di daun telinga kiri Baskara.
“Dengar saja, nanti kamu juga akan tahu.” Sahut Baskara yang ikut berbisik.
Fanny pun mulai menceritakan semua kejadian yang aku alami, mulai dari aku mendapat mahar mewah, menikah, pindah rumah, dan terakhir aku yang sering di teror hantu wanita.
Pak Ustad diam mencermati dan mendengarkan keluhan Fanny, wajah Pak Ustad lama-lama semakin di tekuk hingga kerutan halus muncul di beberapa titik wajahnya.
Sesekali Pak Ustad menggeleng dan terdengar ‘Astaghfirullah hal adzim’, kemudian Pak Ustad juga mengelus dada. Begitu juga pandangan Mas Valdi dan juga Baskara kepadaku.
Setelah semua keluhan yang aku alami di ceritakan kepada Pak Ustad. Pak Ustad menarik nafas.
“Maaf, jika saya boleh bertanya. Apakah Nak Vivana sebelumnya pernah berjumpa dengan keluarga pria yang menjadi suami Nak Vivana saat ini?” Tanya Pak Ustad kepadaku dengan lembut.
Aku menundukkan pandanganku. “Belum Pak Ustad. Saya hanya bertemu suami saya setelah Ayah membawanya pulang dan langsung menjodohkan saya, 1 bulan kemudian saya menikah dan itu semua Ayah yang mengurus. Saya tidak tahu apa-apa.” Sahutku berkata jujur, jika semua itu adalah perjodohan yang Ayah paksakan kepadaku karena Ayah sudah mengambil sesuatu dari Barra dan sebagai syarat bayarannya adalah diriku.
“Astaghfirullah hal adzim. Jika belum mengetahui seluk beluk keluarga suami kenapa harus dinikahkan? Dan kejadian yang selalu di alami Nak Vivana ini seperti ‘TEROR MAHAR MEWAH’.”
“Maksud Pak Ustad?” Tanya Fanny memotong ucapan Pak Ustad.
“Bisa jadi semua teror yang di alami Nak Vivana ini berkaitan dengan semua Mahar Mewah yang bernilai fantastis di berikan oleh suaminya. Bukan itu saja, setiap barang pemberian yang akan di pakai pasti Nak Vivana berjumpa dengan mahluk wanita tersebut.”
“Jadi saya harus bagaimana Pak Ustad?” Tanyaku panik.
“Sebaiknya hal ini di pertanyakan kembali ke suami agar semua masalah selesai. Pasti mahluk wanita yang selalu meneror Nak Vivana punya maksud tertentu makanya dirinya selalu mendatangi Nak Vivana.”
“Tapi suami saya tidak percaya dengan semua ucapan saya.” Aku menundukkan pandanganku, tangan kanan menggenggam erat mukenah yang aku lipat dan aku letakkan di atas pangkuanku. “Suami saya lebih memilih meninggalkan saya dan muak dengan semua keluhan yang saya katakan. Jadi saya harus bagaimana Pak Ustad?” Tanyaku sedikit sedih di kalimat terakhir.
“Kalau begitu Nak Vivana berkonsultasi kepada kedua orang tua agar kedua orang tua Nak Vivana yang pelan-pelan bertanya kepada suami, Nak Vivana.”
“Percuma. Saya tidak punya siapa-siapa di dunia ini. Ayah saya saja tidak percaya dengan semua kejadian yang saya alami. Jadi kemana saya harus mengadu kecuali kepada Fanny dan Baskara.”
Rasanya sangat sakit berkata seperti itu, tapi aku harus bagaimana. Memang semua yang aku katakan benar. Kemana aku harus mengadu dan berlindung dari semua yang aku lalui dan alami kecuali pada Fanny dan juga Baskara yang selalu percaya kepadaku.
Aku masih bersyukur Allah masih memberikan aku sahabat sekaligus teman yang selalu percaya padaku.
...Bersambung.......
...Terimakasih atas dukungannya. 😍😘...
...Mohon Maaf jika ada kalimat atau arti yang salah. 😊😊...
...Karena arti itu adalah arti yang aku ketahui. 🤗🤗...
...Sekali lagi terimakasih dan mohon Maaf....
makanya datang terus meneror
sereeeemmm