Hana dijodohkan dengan Rendra, kakaknya. Hana pikir dia akan baik - baik saja namun ternyata dia salah. Satu per satu kejadian datang dan menggoreskan luka di hatinya. Dia juga merasa menyesal karena sudah memutuskan Andra, pacarnya. Apakah Hana bisa mempertahankan pernikahannya? Atau dia akan kembali pada Andra yang dia anggap sebagai jodohnya?
Ingin tahu kelanjutannya? Baca cerita ini ya. Semoga menghibur!!!
Cover by Pinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febri Siregar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 19
Rendra sudah sampai di kantor. Sedari tadi senyuman yang terukir di bibirnya terus mengembang. Semua karyawan yang melihatnya pun heran. Banyak dari mereka yang berbisik - bisik mengapa atasan mereka yang biasanya cuek kini berubah menjadi sangat ramah.
"Anda terlihat sangat senang Pak." Liam menyapa Rendra.
"Tentu saja. Hari ini kita rapat jam 9 kan?" tanya Rendra.
"Iya Pak."
Rendra mengangguk lalu masuk ke dalam ruangannya.
"Tumben Pak Rendra senyum - senyum begitu." Seorang karyawan perempuan memulai pembicaraan.
"Habis dapat jackpot kali."
"Mungkin dia sudah bahagia dengan pernikahannya."
"Pak Rendra sudah menikah?" tanya David, anak magang di divisi itu.
"Iya. Katanya sih istri Pak Rendra itu putrinya direktur perusahaan ini."
"Yang aku dengar, Pak Rendra gak bahagia sama pernikahannya. Mungkin sekarang sudah bahagia sih."
"Kalian datang kesini mau bekerja atau membicarakan orang?" tanya Liam dengan tegas. Matanya menatap tajam pada mereka yang berani membicarakan atasannya. Walau pun dia sangat kesal karena Rendra pernah mengkhianati Hana namun saat ini dia ikut bahagia karena dia tahu bahwa putri dan menantu direktur sudah menerima pernikahan mereka.
"Bubar!" katanya lagi dengan tegas. Para karyawan pun bergegas kembali ke meja masing - masing dan menyelesaikan pekerjaan mereka. Suasana divisi itu pun kembali normal seperti biasa.
"David, antarkan ini ke ruangan Pak Rendra dan minta tanda tangannya." Seorang karyawan lelaki menyerahkan sebuah map pada David.
"Baik Pak." David mengambil map itu lalu pergi ke ruangan Rendra.
Tok tok tok
"Masuk!"
"Permisi Pak. Saya ingin memberikan map ini." David menyerahkan map itu.
Rendra membaca kertas - kertas yang ada di dalam map itu lalu menandatangi nya.
"Itu istri Bapak ya?" tanya David ketika melihat sebuah foto terpajang di atas meja.
"Bukan urusan mu." Rendra menyerahkan kembali map itu dan menatapnya tajam.
David pun pamit dan keluar dari ruangan. Tiba - tiba bibirnya membentuk sebuah senyuman....licik.
\=\=\=\=\=\=\=
Hana sudah berada di parkiran kampus. Dia menghidupkan mesin motornya dan bersiap untuk pulang ke rumah.
"Hana!" panggil seseorang dan menghampirinya.
Hana menoleh. "Andra!"
"Kamu sudah mau pulang?"
Hana mengangguk.
"Aku boleh numpang sama kamu gak?"
"Numpang? Mobil mu kemana?"
"Aku bawa motor tapi bannya kempes."
"Kenapa gak numpang sama teman kamu saja?"
"Aku belum terlalu dekat dengan mereka."
"Andra, maaf ya. Tapi aku gak mau suami ku cemburu karena aku bersama laki - laki lain. Lagipula kamu bisa minta tolong dijemput sama sopir mu. Jangan lagi mencari alasan untuk bisa dekat denganku."
"Aku...."
"Sudah ya, aku mau pulang dulu. Aku mau mengantar bekal makan siang suamiku." Hana melajukan motornya meninggalkan area kampus.
Andra termenung menatap kepergian Hana. "Sepertinya sekarang kamu benar - benar bahagia dengan pernikahanmu. Padahal baru kemarin kamu datang ke cafe favorit kita saat anniversary.....gagal. Sepertinya aku juga sudah tidak punya kesempatan lagi."
"Argh, kenapa aku jadi lemah begini sih? Masa mau jadi perebut istri orang."
\=\=\=\=\=\=\=
Hana sudah sampai di perusahaan. Setelah berkutat dengan masakan tadi, akhirnya dia bisa membuat bekal makan siang yang enak untuk Rendra dan juga Ayahnya. Setelah memarkirkan motornya, Hana segera menuju lobi dan bertemu resepsionis.
"Ruangan direktur ada di lantai berapa ya?" tanya Hana.
"Lantai 7 mbak."
"Baiklah. Terimakasih." Baru saja Hana melangkahkan kakinya namun resepsionis tadi sudah menahannya.
"Ada apa?" tanya Hana bingung.
"Tidak sembarang orang bisa bertemu direktur. Anda harus membuat janji untuk bertemu dengannya."
"Kalau aku tidak mau bagaimana?" Hana kesal melihat kelakukan resepsionis itu padanya. "Ku pecat baru tahu rasa."
"Kalau begitu saya terpaksa memaksa anda keluar dari perusahaan ini." Resepsionis itu tiba - tiba memanggil security.
Hana segera melepaskan tangan resepsionis itu yang memegang lengannya. Dengan cepat dia menuju lift dan menekan angka 7. Lift sudah tertutup tepat sebelum security itu mencapai pintu lift. Hana bernapas lega sekaligus menahan tawa.
Hana sudah sampai di lantai 7. Dia segera keluar dari lift dan melihat hanya ada 3 ruangan disana. "Ruangan Ayah yang mana ya? Gini nih kalau gak pernah datang ke perusahaan."
"Itu dia orangnya Pak."
Hana menoleh ke belakang lalu melihat resepsionis yang tadi masih mengejarnya. Dia bergegas lari dan untungnya dia bisa bersembunyi di balik meja yang ada di depan satu ruangan.
"Dia kemana sih? Cepat banget larinya. Pak Heru bisa marah nih kalau ada sembarangan orang yang masuk ke perusahaan ini."
"Ada apa ini?" tanya seorang lelaki. Sepertinya dia baru keluar dari ruangannya.
"Pak Heru." Resepsionis dan security itu sedikit membungkukkan tubuh mereka.
"Maaf Pak, tadi ada seorang perempuan memaksa masuk ke perusahaan. Saya sudah mengejarnya tapi belum ketemu Pak."
"Perempuan?" tanya lelaki yang satunya.
"Ayah dan Kak Ren. Apa aku keluar sekarang ya?"
Hana mengangkat kepalanya sedikit dan melihat Ayah dan suaminya ada disana.
"Ayah, Kak Ren," katanya sambil memunculkan kepalanya dari bawah meja.
"Hana!" teriak Ayah dan Rendra bersamaan.
"Itu dia orangnya. Tangkap dia!"
Security itu bergegas menangkap Hana dan memegang kedua tangannya. Untung saja bekal yang dia bawa sudah diletakkan dengan aman kalau tidak dia akan marah besar pada orang itu.
"Jadi dia yang kamu katakan memaksa masuk ke perusahaan ini?" tanya Ayah sambil menatap Hana.
Resepsionis itu mengangguk bangga.
"Lepaskan dia," kata Ayah dengan tegas.
"Tapi Pak...."
"Kamu tahu siapa dia?"
Resepsionis itu menggeleng.
"Dia itu putri saya."
"Dia itu istri saya."
Resepsionis dan security itu terkejut. Dengan buru - buru mereka melepaskan Hana yang menahan tawanya. Setelah pamit mereka kembali ke pekerjaan mereka masing - masing.
"Hana datang mau memberikan ini buat Ayah dan Kak Ren." Hana menyerahkan sebuah tas pada Rendra.
"Apa ini?" tanya Rendra.
"Bekal makan siang."
"Wah, tumben putri Ayah ngantar makan siang buat Ayah."
"Sekali - sekali kan tidak apa - apa Yah."
"Kalau begitu kita makan di ruangan Ayah saja. Tepat sekali kamu datang padahal tadi Ayah dan Rendra sudah ingin makan di luar."
Mereka bertiga masuk ke ruangan Ayah.
"Nanti Ayah akan memperkenalkan mu pada seluruh karyawan di perusahaan ini. Supaya kejadian tadi tidak terulang lagi." Ayah menikmati makan siang buatan putrinya.
"Ayah kan tahu kalau Hana tidak suka terlalu dikenal orang."
"Tadi untung saja kamu selamat. Kalau lain kali bagaimana? Ayah gak mau kamu kenapa - kenapa."
"Benar kata Ayah. Apalagi kalau sampai kami berdua sedang tidak berada di perusahaan."
"Ya, baiklah. Hana mau." Hana memang tidak suka dirinya terlalu di kenal orang. Dia merasa tidak bebas melakukan apapun bila banyak orang yang mengenal dirinya.
\=\=\=\=\=\=\=
"Bagaimana?"
"Kita bisa melancarkan rencana itu besok. Situasi sekarang sangat tepat untuk melakukannya."
"Pastikan semuanya lancar."
"Tentu saja."
#bersambung
ada ekstra part nya kah?
Semangat thor, ceritanya bagus.
Sekalian mau izin promosi thor. Yuk mampir ke cerita aku..
-Kebahagiaan Dari Negeri Gingseng
-Hidup Kembali Menjadi Gadis SMA.
Ditunggu ya....
happy ever after yaa💖
Krna suka Bgt sa ceritax, tetap mnjadi pembaca setia dong... 😍😍