Bagaimana rasanya jika di hari pertunangan mu, pasanganmu justru datang bersama seorang perempuan yang ia kenalkan sebagai kekasihnya???
Risha dan Arga menjalin hubungan karena sebuah perjodohan. Mereka saling mengagumi satu sama lain dan mulai mencoba membuka hati untuk saling mencintai.
Disaat benih cinta mulai tumbuh, datanglah sosok laki-laki yang merupakan cinta pertama di masa kecil Risha. Di lain sisi, Arga terjebak dengan kondisi yang mengharuskannya bertanggungjawab atas perbuatannya dengan seorang perempuan.
Akankah Risha dan Arga tetap bersama? Bagaimana kisah cinta mereka?
Terus ikuti jalan ceritanya ya Readers❤️
Terimakasih🤗🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titislia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ungkapan perasaan
"Em, perasaan dari tadi Mas Arga udah ngomong deh." kata Risha.
"Ini tentang... tentang..." ucapan Arga terputus.
Saat ini Arga merasa seperti demam panggung, bahkan ia belum pernah merasakan sebelumnya dengan para pebisnis besar dan sukses yang ia hadapi saat perebutan tender proyek.
"Maaf Sha, aku ke kamar mandi dulu." kata Arga berlalu menuju kamar mandi.
"Mas Arga aneh, dari kemarin mau ngomong sesuatu, padahal udah ngomong. Lalu ujung-ujungnya nggak jadi ngomong." kata Risha dalam hati.
Cukup lama Arga berada di kamar mandi. Ia meyakinkan dan menguatkan mentalnya untuk mengungkapkan perasaannya ke Risha. Setelah cukup mengumpulkan keberaniannya, Arga keluar dari kamar mandi menghampiri Risha. Ia melihat Risha yang sudah tertidur, yang sebenarnya Risha hanya pura-pura tidur.
"Cepat sekali kamu tidur Sha, ya sudah kamu istirahat ya. Aku akan menjagamu disini." kata Arga sambil membelai rambut Risha. Arga duduk di samping Risha sambil terus menggenggam tangan Risha dan memandanginya.
"Sha, entah kenapa semua kata-kata yang sudah aku susun untuk ku ungkapkan seakan sulit keluar dari mulutku saat aku melihat senyum dan netra mu. Aku mau bilang aku sayang kamu Sha, aku mencintaimu. Mungkin ini terlalu cepat buat kamu, aku tidak masalah jika kamu belum bisa menerima ku. Aku akan tetap menunggu kamu Sha, sampai kamu siap. Aku nggak tau harus bagaimana lagi, harus dengan cara apa aku mengungkapkannya. Aku harap kamu juga punya rasa yang sama seperi aku Sha." kata Arga lirih.
Risha mendengar semua yang diucapkan Arga, namun ia enggan untuk menjawabnya.
"Mas Arga, aku nggak tau rasa apa yang ku rasakan ini. Entah kenapa hatiku bergetar tersentuh dengan ucapanmu. Aku nggak tau rasa apa ini, yang aku tau aku merasa sangat nyaman berada di dekatmu mas." batin Risha.
Air mata Risha menetes, jujur ia juga merasa nyaman saat bersama Arga. Namun ia belum yakin apakah itu rasa sayang atau cinta.
"Sha, kamu nangis?" tanya Arga saat melihat air mata Risha keluar.
"Sha, Sha..." kata Arga membangunkan Risha.
"Awh... " kata Risha sambil memegang kepalanya. Ia tidak mungkin bilang menangis karena ucapan Arga.
"Mana yang sakit Sha, aku panggil dokter ya." kata Arga sambil meraih tombol untuk memanggil dokter.
"Em, jangan mas. Aku nggak papa, hanya saja tadi terasa sakit sebentar. Udah nggak papa kok." kata Risha berusaha meyakinkan Arga.
"Bener nggak papa?" tanya Arga memastikan.
Risha hanya mengangguk, air mata Risha kembali menetes.
"Mas Arga, em... Risha boleh nanya nggak? tapi maaf kalau Risha lancang." tanya Risha.
"Boleh, kamu mau tanya apa?" jawab Arga.
"Mas Arga pernah nggak merasa nyaman sama seseorang, maksudku rasa nyaman mas Arga ke perempuan?" tanya Risha.
"Pernah. Sama ibu." Jawab Arga.
"Selain sama ibu mas, pernah nggak?" tanya Risha kembali.
"Em, pernah." jawab Arga singkat.
"Aku nyaman saat kamu di dekatku Sha." batin Arga.
"Aku juga pernah merasa nyaman sama seseorang mas. Tapi aku nggak tau, orang itu merasa hal yang sama apa tidak dengan aku. Rasanya aku nggak mau jauh-jauh sama orang itu mas." kata Risha.
Arga yang mendengar ucapan Risha sangat terkejut. Ia tidak menyangka Risha telah menyukai seseorang selain dirinya. Saat ini ia saat ini mulai ragu untuk mengungkapkan perasaannya ke Risha setelah mendengar itu semua.
"Mas Arga tau nggak siapa orangnya?" tanya Risha di saat Arga melamun.
"Em, nggak tau." jawab Arga cuek.
"Sha," kata Arga dengan ekspresi meminta penjelasan ke Risha.
"Iya mas. Maaf aku mendengar semua yang mas Arga katakan. Dari yang aku masih belum sadar, sampai tadi juga aku mendengar semua yang mas katakan." kata Risha.
Arga masih belum percaya, ia bahkan masih memandang Risha meminta penjelasan yang lebih.
"Iya mas Arga, aku mendengar semuanya. Aku bingung harus bilang apa mas. Aku nggak tau rasa ku sama dengan mas apa tidak." kata Risha.
"Aku ngerti Sha. Kamu jangan terlalu memikirkan perkataanku tadi ya." ucap Arga sambil memegang telapak tangan Risha.
Orang tua Arga telah sampai di rumah sakit, setelah menyelesaikan pertemuan dengan kliennya. Saat mereka hendak memasuki ruang rawat Risha, mereka menyaksikan pemandangan langka.
"Yah, lihatlah mereka. Nggak lama lagi kita bakal dipanggil kakek nenek. Hehehe." kata Bu Mida.
"Iya Bu, abadikan Bu. Arwan sama Shani harus melihat ini." kata pak Ody meminta istrinya mengabadikan momen itu.
Setelah dirasa cukup merekam momen tersebut, Pak Ody dan Bu Mida masuk ke dalam ruang rawat Risha.
"Ehm, maaf mengganggu. Kalian lanjut saja." kata pak Ody pura-pura kaget melihat Arga dan Risha.
Arga segera melepaskan tangan Risha, Arga yang sudah terbiasa merubah ekspresi, seketika mukanya berekspresi datar. Sementara itu, Risha merasakan malu bahkan sangat malu.
"Ayah, ibu. Kok datang nggak bilang-bilang, katanya rapat tadi?" tanya Arga mencoba mencairkan suasana.
"Em, udah selesai kok. Ibu khawatir sama calon mantu ibu." kata Bu Mida sambil mendekati Risha.
"Risha sayang, gimana kondisi kamu nak?" tanya Bu Mida.
"Risha udah mendingan tante, tinggal pusing sedikit." kata Risha sambil menahan malu mengingat momen sebelumnya dengan Arga.
"Syukurlah, kalau sudah baikan." kata Bu Mida sambil tersenyum.
"Kalau begitu, om sama tante pamit dulu ya. Arga jagain Risha, jangan sampe lecet sedikit pun." kata pak Ody.
Arga mengantar orang tuanya sampai depan pintu.
"Ga, jangan kebablasan sama Risha. Dia masih sekolah. Inget. Kendalikan dirimu." kata pak Ody berpesan ke Arga.
"Maksud ayah?" tanya Arga yang memang belum mengerti arah pembicaraan ayahnya.
"Ah, sudahlah Bu, ayo pulang. Ayah hari ini lagi seneng banget." kata pak Ody ke istrinya. Dengan menggandeng tangan istrinya, pak Ody meninggalkan rumah sakit.
Arga masuk kembali, ia lalu duduk di samping Risha.
"Kamu belum makan kan? Aku suapin ya, habis itu minum obat." kata Arga.
"Risha bisa makan sendiri mas." kata Risha. Ia masih belum terbiasa dengan sikap manis Arga.
Tanpa persetujuan Risha, Arga mulai menegakkan duduk Risha dengan lembut. Ia lalu menyuapi Risha, Risha tidak menolak perlakuan Arga. Ia menerima suapan demi suapan dari Arga.
Sementara itu, Bu Shani dan Pak Arwan mendapat kiriman video Arga dan Risha tak kalah senangnya.
"Yah, bentar lagi kita punya besan sama mantu." kata Bu Shani.
"Iya Bu, nggak lama lagi dipanggil kakek nenek kita Bu." sambung pak Arwan.
*Di kediaman Nugroho*
Ardi bangun tidur langsung menuju meja makan karena lapar. Semenjak pulang dari mengantar Andri ke rumah sakit, ia belum makan sedikitpun.
Saat tengah lahap makan, terdengar suara orang tuanya memasuki rumah dengan tertawa dan ekspresi bahagia sepeti memenangkan tender proyek besar.
"Ayah sama ibu, kalo lagi seneng bagi-bagi dong." kata Ardi.
"Di. Lihat nih, ah sebentar lagi ibu punya mantu, kamu bakal punya kakak ipar." kata Bu Mida sambil menunjukkan video Arga dan Risha yang berpelukan.
"Uhuk... Uhuk... Uhuk" Ardi yang sedang mengunyah makanan terkejut saat ia melihat video tersebut sampai ia tersedak.
Ia lalu meraih air minumnya, dan menenggaknya sampai habis.
"Kamu kenapa nak, makan hati-hati, pelan-pelan lah." kata Bu Mida sampul menepuk punggung Ardi.
"Nggak papa Bu, Ardi kaget aja. Mas Arga ternyata cepet juga geraknya." kata Ardi.
Ia tidak mungkin bilang ke orang tuanya kalau ia menyukai Risha.
"Ya udah, ayah sama ibu mau ke kamar dulu." kata Bu Mida.
Ardi hanya mengangguk.
"Risha, apa bener kamu juga menyukai kak Arga? Apa nggak ada sedikit celah buat aku?" batin Ardi.
Ardi tidak lagi bernafsu untuk makan, ia lalu menuju kamarnya. Ia masih memikirkan Risha dan perasaannya. Hatinya sakit saat melihat Risha terus berdekatan dengan Arga.
👍
💪 trus ya thorr...
up nya yg lma dn pnjang....
ada bwang nya dkit...
lnjut thorr...
💪💪💪💪
aku mau nya...?
arga sma risha...
dan
Ardi sma andri...
lnjut dech thorr...
💪💪💪
lnjut thorr...
💪💪💪
ya thorr....
ggal kn smua niat jhat deon tu...
ksihan aku sma Arga...
💪 trus thorr....
deon dn clara
ya thorr...???
lempar sja mereka berdua tu ke penjara lgi thorr...
💪💪💪 ya thorr...
Arga.... Arga....
kok d'ksih sich no na risha sma clara...
hbis lh risha sma clara...
hncur lh hbungan... yg bru trjali...
💪💪💪 thorr...
dan
risha milik Arga
ya thorr...
💪💪💪
💪💪💪
cman usul dn saran sja...
jngan ada kjahatan yg menyakitkan ya thorr...
💪💪💪
trus ya thorr...
lma k'lmaan...
eeeh dtang pengkhianat...
kn jdi ksihan sma Resha yg nggak tau apa2 ikut2an trlibat sma s'deon...
jngan smpai resha knpa2 ya thorr...
💪💪💪💪
salam dari novel Topan Cahaya 🤗