[Cerita lain dari Me vs Boss]
[Judul Diperbaharui!]
Bagaimana rasanya memiliki boss yang cerewet dan kepo?
Pasti rasanya mengesalkan, bukan?
Dan itulah hal yang dialami Giselle-sahabat Chelsea- yang menjabat sebagai sekretaris baru di sebuah perusahaan gadget dengan cabang terbesar di Indonesia.
Ia harus rela menghadapi pertanyaan aneh tak masuk akal, ketika sang boss menanyai tentang kehidupan privasinya.
Usia kamu berapa?
Gimana kabar mama?
Sehat-sehat aja, kan?
Kamu ada niatan untuk menikah?
Ada seseorang yang kamu suka?
Tipe cowok idaman kamu, seperti apa?
Apa yang kamu sukai dari cowok?
Dan mau tidak mau, Giselle harus menjawab pertanyaan-pertanyaan aneh dari bosnya itu. Kadang dia berpikir,
"Apa yang diinginkan si boss?" gumam Giselle, sembari menatap langit-langit di kamarnya.
Start: 29 Maret 2020
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#18. Jadi Pengasuh (The Second Days)
Awas typo!
****
"Saya mau ngejar kamu, boleh 'kan?"
Giselle tiba-tiba saja terbangun dari alam mimpinya. Ucapan dari bosnya kemarin sore sungguh membuat dirinya terus kepikiran. Sampai-sampai ucapan itu bisa memasuki alam mimpinya.
Giselle mengembuskan napasnya perlahan. Mimpinya barusan tidak bisa disebut mimpi buruk. Hanya saja, dimimpi itu Giselle dibuat kaget oleh Aiden. Bosnya itu menciumnya, tepat setelah kalimat pengakuan itu diucapkan.
Sial!
Apakah karena terlalu lama sendiri, Giselle jadi sering memikirkan hal yang aneh-aneh? Parahnya, sampai terbawa mimpi?
Oek... Oek... Oek...
Giselle yang semula bergelut dengan pikirannya, tiba-tiba saja teralihkan oleh sebuah suara tangisan bayi yang berada didalam boks bayi.
Langsung saja Giselle bangkit dari kasur, lalu berjalan dengan tergesa ke arah boks bayi itu. Dilihatnya, Kanza tengah menangis. Dengan cekatan, Giselle mulai menggendong bayi itu dengan hati-hati.
Fyi, Giselle tidur didalam kamar tamu yang menjadi kamar sementara untuk Kanza dan Kenzo. Sedangkan Aiden, dia tidur di kamar tamu yang satunya lagi.
"Kanza pasti lapar, ya?" Giselle mengelus lembut pipi gembul milik Kanza, mencoba untuk menenangkan bayi itu yang masih setia menangis dalam gendongannya.
"Bayinya nangis, Selle?" Sebuah suara sahutan seorang pria didalam kamarnya benar-benar mengagetkan Giselle saat itu juga.
Seingatnya, Giselle mengunci kamar itu kemarin malam. Tapi, kenapa sekarang sudah Aiden yang berdiri di ambang pintu kamar?
Ya. Orang yang baru saja memasuki kamar yang ditempati Giselle adalah Aiden. Memangnya siapa lagi kalau bukan bosnya yang sekarang beralih profesi menjadi seorang baby sitter? Dan lagi, Giselle pun jadi ikut-ikutan menjadi baby sitter seperti bosnya itu.
"Kok, Bapak bisa masuk?" sahut Giselle. Setelah beberapa saat lalu pemikiran tentang mengapa bosnya bisa masuk, hilang di otaknya.
Aiden terlihat menghela napasnya, sebelum pada akhirnya dia melangkahkan kakinya mendekat pada Giselle.
"Toh, pintunya gak kamu kunci." jawab Aiden. Sesaat setelah dirinya sampai di hadapan Giselle yang masih setia menggendong Kanza.
Aiden melangkah semakin dekat ke arah Giselle, lalu dia mulai mencondongkan sedikit tubuhnya. Sehingga wajah Aiden dan bayi itu bisa lebih berdekatan. Kemudian, sebelah tangan Aiden terangkat untuk mengelus pipi gembul Kanza. Perlahan, tangisan bayi itu sedikit mereda setelah elusan lembut di pipinya dari jemari tangan Aiden.
Aiden tersenyum hangat pada Kanza yang sudah mulai berhenti menangis dalam gendongan sekretarisnya. Dan Kanza, bayi itu malah tertawa melihat senyuman manis dari Aiden yang hanya diperlihatkan untuknya.
Kemudian, Aiden mendongakkan wajahnya. Menatap wajah sang sekretaris yang terlihat gugup ketika dia tatap dengan posisi keduanya yang begitu berdekatan.
Sesekali kedua mata Giselle berkedip beberapa kali. Kedua pipinya juga mulai terlihat sedikit mengeluarkan rona merah.
Aiden yang mulai terbawa suasana pun mulai menegakkan posisi berdirinya. Namun, wajahnya masih setia berdekatan dengan wajah Giselle. Perlahan tapi pasti, Aiden kembali mendekatkan wajahnya pada wajah Giselle, menepis jarak keduanya sehingga wajah mereka lebih berdekatan lagi. Hembusan napas keduanya bahkan begitu terasa menerpa wajah masing-masing.
Giselle mulai ikut terbawa suasana. Kedua matanya bahkan terpejam secara otomatis ketika Aiden mulai mendekatkan bibir mereka. Belum sampai saling bersentuhan.
"Eh? Ma-maaf mengganggu!"
Deg
Giselle seketika itu pula tersadar akan apa yang tengah dia dan bosnya lakukan. Dengan penuh kesadaran, Giselle menjauhkan diri dari Aiden. Wajahnya kini memerah padam. Apa yang harus Giselle lakukan selanjutnya? Bagaimana dirinya menghadapi para maid di mansion Kenan? Dan, apa yang harus dia lakukan nanti ketika berpapasan dengan bosnya?
"A-ada a-a-apa, ya?" Giselle bertanya para seorang maid yang berdiri di depan pintu kamar dengan tergagap.
Seorang maid yang usianya terbilang cukup muda itu terlihat salah tingkah. Dia menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal sama sekali. Bahkan, maid itu memaksakan senyumnya.
"I-itu... Sarapan sudah siap." ucapnya, masih terlihat salah tingkah.
"Oh, iya. Sebentar lagi kami akan ke bawah. " Ucap Giselle. Maid itu pun menundukkan sedikit tubuhnya, lalu setelah itu, dia mulai pergi dari depan kamar yang ditempati oleh Giselle.
Setelah kepergian maid itu dari depan pintu kamarnya, Giselle lantas menghela napas. Namun, ketika dirinya berbalik badan, dia kembali dikejutkan oleh tatapan datar Aiden yang seolah tengah menciduknya melakukan sebuah kesalahan.
Giselle berusaha menelan ludahnya susah payah. Jantungnya bahkan berpacu dua kali lebih cepat dari biasanya. Tatapan datar Aiden sungguh mengingatkannya tentang kejadian yang hampir saja terjadi beberapa menit yang lalu, yang untungnya tidak terjadi sama sekali.
"A-ada apa, Pak?" Tanya Giselle gugup. Kedua lengannya masih setia menggendong Kanza.
Aiden terlihat mengembuskan napasnya berat. Namun, tatapan matanya masih sama dinginnya. Giselle 'kan jadi semakin gugup.
"Enggak. Ehm, kalo gitu saya ke kamar saya lagi." Setelah mengatakan kalimat balasan itu, Aiden segera melenggang keluar dari ruang kamar yang ditempati oleh Giselle.
Sejenak, Giselle ternganga dengan apa yang baru saja diucapkan Aiden padanya. Terdengar begitu santai tanpa beban. Apakah bosnya itu melupakan suatu hal yang hampir saja terjadi beberapa saat lalu itu?
"Ehm, semoga aja." Gumam Giselle, lalu menurunkan Kanza dari gendongannya dan meletakkan bayi itu kembali ke dalam boks bayi.
****
Singapura,
Tepat didepan putra sulung dan calon menantunya, Mama Amara sedari tadi tidak berhenti untuk terus saja menatap tajam ke arah Al. Dan pria itu yang ditatap seperti itu pun hanya menunduk. Sok patuh.
"Mama gak habis pikir sama kamu, ya, Al! Kenapa pake bohong segala, hah? Kalo Elsa lagi hamil?! Buktinya, dia gak lagi hamil! Untung mama enggak jantungan! Kalo jantungan terus mati, mau?" omel Mama Amara, dibarengi dengan tatapan tajam yang terus ditujukan pada Al.
Al yang mendengar ucapan dari sang mama mendadak tubuhnya menegang. Wajahnya yang semula tertunduk pasrah, kini terangkat dengan raut wajah cemas.
"Kok, mama ngomongnya gitu, si?" protes Al, yang dibalas dengusan sebal oleh Mama Amara.
"Siapa suruh kamu bohongin mama? Pokoknya, mama masih marah sama kamu! Gara-gara kamu, guci mahal kesayangan mama hancur!" ujar Mama Amara menggebu.
Al dan Elsa mengernyitkan dahi mereka bingung. Guci? Batin keduanya bertanya.
"Guci yang mana, ma?" Tanya Al. Mama Amara yang semula menatap asal ke samping kini wajahnya kembali tertuju pada Al. Raut wajahnya masih ditekuk—masih marah rupanya.
"Guci yang itu, tuh, yang dari Cina itu. Yang ada gambar burung phoenix nya," Mama Amara menjawab dengan cebikkan bibir diakhir ucapan yang ia lontarkan.
Al awalnya terkejut dengan sedikit penjelasan dari sang mama. Namun, pada akhirnya dia hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Guci mama pecah. Tapi kenapa Al yang disalahin? 'Kan, Al gak ada di sana?" tanya Al dengan polosnya.
"Ya, pokoknya itu salah kamu! Mama gak mau tahu! Gara-gara denger Elsa hamil, mama hampir aja mau bakar rumah tahu, gak? Masih untung cuman guci yang rusak."
Al memilih diam sembari menghela napasnya. Pasrah. Sepertinya, satu kata itu akan berlaku saat ini pada diri seorang Al.
Jika mamanya sudah bilang begini, ya begini! Kalo begitu, ya begitu! Sama seperti saat ini. Jika Al salah, ya berarti memang salah!
"Iya deh, Al yang salah. Al minta maaf, ya?" raut wajah Al berganti menjadi lebih cerah dari sebelumnya. Dengan senyuman mautnya, Al yakin, dia pasti bisa meluluhkan hati sang mama yang keras ini.
Mama Amara mendengus sebal, "Enak banget kamu cuman minta maaf doang?! Gantiin guci mahal punya mama! Pokoknya, mama gak mau tahu! Harus diganti!" tegas Mama Amara. Al terlihat kembali menghela napasnya.
"Iya, nanti Al ganti. Tapi mama jangan marah lagi dong sama Al. Yah? Yah, yah, yah!?"
Mama Amara awalnya enggan untuk menatap putranya itu. Namun, karena merasa tidak tega, akhirnya wanita paru baya itu melirik ke arah Al. Dan parahnya, Mama Amara jadi luluh hanya karena menatap wajah tampan putranya itu.
Sial.
Wajah tampan Al sungguh mengingatkannya pada mendiang suaminya yang telah tiada. Sangat mirip.
"Ya udah, iya. Mama maafin," ucap Mama Amara pada akhirnya. Sebenarnya, dia belum bisa memaafkan Al saat ini. Tapi ya sudahlah. Dendam sama anak sendiri juga gak baik.
"Hem, gitu dong. Ini baru mamanya Al yang cantik jelita nan awet muda." kata Al. Memulai aksi memujinya pada sang mama.
Mama Amara yang mendengar pujian plus bualan dari putranya itu hanya bisa mendengus sembari memutar bola matanya.
Putranya ini memang sangat handal jika memuji seorang wanita. Tidak heran jika Elsa yang dulunya galak plus cuek bisa luluh juga sama seorang Aldo Ikhsan Ferdinan.
****
Jakarta,
"Selle!" Panggilan dari Aiden, ketika dirinya dan juga sang sekretaris baru saja menyelesaikan acara sarapan pagi mereka.
"Iya, Pak?" sahut Giselle. Wanita itu baru saja bangkit dari kursi makan dan menyelesaikan sarapannya.
"Siang ini jam 11 saya harus ke kantor. Ada meeting penting! Pulangnya paling jam 2 atau jam 3 sore, gak pa-pa kalo kamu, saya tinggal dulu?"
Giselle tampak berpikir sejenak. Lalu tidak lama kemudian, wanita itu mengangguk sembari tersenyum.
"Enggak pa-pa, kok, Pak."
"Serius? Gak bakal repot gitu? Kamu ngurus merekanya sendiri, lho!?" tanya Aiden. Mencoba untuk meyakinkan kembali atas keputusan dari sekretarisnya itu.
"Gak pa-pa, Pak. 'Kan, masih aja baby sitter." kata Giselle. Mencoba untuk meyakinkan Aiden, bosnya.
"Jangan lama-lama nyuruh baby sitter yang jagain mereka! Nanti kalo istrinya si Kenan tahu, dia bisa ngamuk, lho! Dia orangnya gak percayaan sama orang baru." Pesan Aiden, yang sempat diucapkan oleh Chelsea kemarin siang.
Giselle tampak mengingat-ingat ucapan itu yang pernah diucapkan Chelsea kemarin. Lalu tak lama kemudian, Giselle kembali mengangguk, ketika mengingat kembali kalimat itu.
"Oke, Pak." kata Giselle penuh semangat.
Wanita itu terlihat begitu ceria, seolah tidak ada beban dalam pikirannya. Seolah dalam hidupnya tidak pernah ada kejadian seperti tadi, ketika Aiden hampir saja menciumnya.
Namun, itu tidak jadi masalah buat Aiden. Toh, lebih baik begini daripada diem-dieman kayak orang habis ngapain aja.
'Kan, Aiden jadi bisa lanjutin modusnya...
"Oh iya. Kanza sama Kenzo kamu tinggal gitu aja di kamar?" pertanyaan dari Aiden, sontak menyadarkan Giselle.
Wanita itu dengan panik mulai berlari meninggalkan Aiden di ruang makan mansion. Berlari menaiki tangga mansion untuk sampai di lantai dua. Tempat di mana kedua ponakan mininya ditinggal begitu saja setelah memberikan mereka minum susu.
"Masih ada sehari lagi." Gumam Aiden. Entah apa maksud dari ucapannya barusan. Yang jelas, hanya Aiden dan Tuhan-lah yang tahu.
****
Huft... Ternyata mereka lagi main, batin Giselle mulai tenang. Ketika dirinya baru saja sampai didalam kamar itu, Giselle pikir kedua bayi kembar itu akan menangis rewel. Tapi ternyata salah. Justru, Kanza dan Kenzo terlihat bermain-main dengan mainan bayi yang digantungkan di atas mereka.
Keduanya terlihat berusaha untuk saling berkomunikasi dan berinteraksi, walau ucapan yang mereka lontarkan tidak dapat dimengerti siapapun.
"Gemes banget, si, ponakan tante..." Giselle menopang dagunya dengan kedua tangannya yang terbuka.
Sesekali, Giselle tertawa menyaksikan tingkah lucu kedua bayi itu. Uuh... Kan Giselle jadi pengen punya anak juga...
"Biasanya bayi suka dimandiin pagi-pagi, 'kan?" gumam Giselle. Dia mencoba untuk mengingat-ingat kembali tentang yang pernah diucapkan oleh Chelsea padanya.
"Oke, deh. Tante bakal mandiin kalian hari ini juga," ucap Giselle berapi-api. Tatapan matanya tak lepas menatap ke arah Kanza dan Kenzo yang tengah tersenyum menatapnya.
Giselle ikut tersenyum ke arah mereka. Duh, Giselle gemass... Pengen nyulik deh, rasanya...
"Tante siapin air anget dulu ya?" kata Giselle pada kedua ponakan mininya. Lagi dan lagi, mereka malah tersenyum sembari memperlihatkan wajah imutnya.
Setelah beberapa menit menyiapkan air hangat untuk memandikan kedua bayi itu, Giselle keluar dari kamar mandi berniat untuk membawa Kanza atau tidak Kenzo untuk dia mandikan terlebih dahulu.
Bertepatan ketika dirinya hendak mengambil salah satu dari mereka, pintu kamarnya terbuka. Menampilkan Aiden yang tengah berdiri di ambang pintu kamar.
"Eh, Pak Aiden?"
"Kamu mau ngapain mereka? Pagi-pagi udah digendong aja. Nangis lagi?" Aiden bertanya sembari melanglah memasuki kamar itu, hingga saat ini dirinya telah berada di hadapan Giselle.
"Enggak, kok. Ini mau dimandiin." kata Giselle, Aiden terlihat ber-oh ria sembari menganggukkan sedikit kepalanya.
"Mau dibantuin?" tawar Aiden.
"Mm... Memang, Bapak bisa?" tanya Giselle dengan ragu.
"Kan ada kamu. Ya, saya tanya aja ke kamu." jawab Aiden dengan santai.
Awalnya, Giselle sedikit ragu dengan tawaran dari Aiden untuk membantunya memandikan Kanza dan Kenzo. Tapi jika dipikir kembali, lelah juga jika memandikan sendiri dua bayi sekaligus.
"Ya sudah. Saya mandiin Kanza, Bapak mandiin Kenzo." Giselle akhirnya setuju dengan tawaran Aiden padanya. Setelah mengucapkan kalimat itu, Giselle lalu melenggang memasuki kamar mandi dengan Kanza yang sudah berada dalam gendongannya.
Disisi lain, Aiden tampak menyeringai senang. Lalu dengan terburu-buru namun masih terbilang cukup hati-hati, Aiden segera menggendong Kenzo yang berada didalam boks bayi.
"Saatnya beraksi," gumam Aiden. Tatapan matanya tak lepas dari menatap wajah lucu Kenzo.
"Kamu ini ponakan kesayang Om. Jangan mengecewakan, Oke?" ujar Aiden. Mengajak Kenzo untuk berbicara. Namun, bayi itu hanya membalasnya dengan tawa kecil yang membuat siapa saja akan gemas dibuatnya.
"Nanti kalo udah gede, Om ajarin kamu karate, deh. Biar entar cewek-cewek pada ngejar. Secara 'kan, kerurunan Keluarga Jiran mana ada yang jelek." ujar Aiden lagi. Kenzo yang kurang mengerti dengan apa yang diucapkan pria itu hanya membalasnya dengan tertawa.
"Pak! Jadi gak, mandiin merekanya?" Pekikkan dari dalam kamar mandi sungguh menyadarkan Aiden dari apa yang baru saja dia lakukan.
"Jadilah!" balas Aiden dengan suara berteriak. Lalu setelahnya, dia berjalan menyusul Giselle yang sudah dari sebelumnya berada di kamar mandi.
"Ponakan Om yang ganteng, bantuin Om, ya? Biar Tante Giselle nya mau sama Om, oke?" gerutu Aiden, sebelum dirinya benar-benar memasuki kamar mandi itu yang berada dipojokan kamar.
To be continue...
Up lagi!!!
maaf, up nya lama ya? soalnya aku bingung ini, otaknya lagi gk encer huhuu... klo lgi encer kan nanti ceritanya gk nyambung lgi. jdi maaf yaaa... tapi tenang aja, dibonusin nih. 2190 kata yeeh.
nih ada bonus pict sma gif buat kalean😎 awas ngilerrr🤤 see you next time😘
*ehm, ini sbrnya udh aku up dari tgl 12 mei. tpi karena apk ny harus diperbarui, jdi lama deh. maap yaa😁
btw met ultah ya thorrrr,,, mga makin sukseeeeeesssss
awal yg menarik, lucu...
punya bos iseng bngt y...
jejak...