Aku tumbuh dalam kemiskinan. Pertengkaran, kebohongan, dan skandal di dalam rumah adalah pemandangan sehari-hari. Ayahku yang manipulatif mengajariku satu hal: jangan pernah menggantungkan hidup pada seorang pria. Sejak saat itu, aku berjanji tidak akan menjadi perempuan bodoh yang mudah percaya pada cinta atau kata-kata manis. Namun, semua keyakinanku runtuh ketika dia datang. Tampan. Dingin. Menyebalkan. Dan pria yang seharusnya tak pernah membuatku jatuh cinta… Saudara tiriku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis dari kampung
POV JENNIE 🥀:
Aku menatapnya lekat-lekat. Dari luar, Kai tampak begitu tenang postur tubuhnya tegap dan wajahnya tanpa ekspresi. Namun aku bisa melihat rahangnya mengatup rapat hingga membentuk topeng batu, sementara tatapannya menyiratkan ancaman yang dingin. Itu adalah sebuah peringatan tegas dan tanpa kompromi.
Namun justru hal itulah yang semakin memancingku. Aku ingin sedikit meruntuhkan kesombongannya dan menggoyahkan keyakinannya bahwa ia memegang kendali penuh atas situasi ini.
“Ya, jalan-jalan kami sangat menyenangkan,” ucapku akhirnya, memecah keheningan sambil mengalihkan pandangan kepada Ethan dan Mama yang menunggu jawaban dengan penuh rasa ingin tahu. “Tapi ada satu tempat yang sepertinya akan kuingat seumur hidup. Suasananya benar-benar… sangat khas.”
“Benarkah?” Mama tampak antusias sambil meletakkan alat makannya. “Tempat apa itu? Aku penasaran sekali kalian pergi ke mana.”
Aku perlahan menoleh ke arah Kai, sementara senyumku semakin mengembang.
“Kai, apa kamu ingat namanya? Tempat yang itu…”
Kai bahkan tidak bergeming.
“Tidak bisa mengingat,” jawabnya tajam dengan suara sedingin baja. “Kita pergi ke banyak tempat, Jennie. Sepertinya kita punya sudut pandang yang berbeda tentang hal apa yang layak diingat.”
Ia pikir aku akan mundur? Naif sekali. Aku bertekad mendesaknya sampai akhir.
“Aneh, padahal rasanya sulit untuk dilupakan. Nah, kalau kamu tidak ingat, biar aku saja yang bilang…”
Aku belum sempat menyelesaikan kalimatku. Kai tiba-tiba bergerak, memotong ucapanku di tengah jalan. Detik itu juga aku merasakan telapak tangannya mencengkeram lututku di bawah meja dengan erat. Jemarinya meremas begitu kuat hingga napasku tertahan, dan sensasi seperti sengatan listrik menjalar di kakiku.
“Kami pergi ke Austin Aquarium,” ucapnya dengan suara lantang dan jelas sambil sedikit condong ke depan, nyaris mendekatiku. “Benar-benar lupa. Jennie sangat menyukai seekor ular di sana… begitu cerah, elegan, dan sangat beracun. Ular itu begitu mengingatkanku padamu, Jennie, sampai-sampai aku tidak bisa mengalihkan pandangan.”
Suasana mendadak hening sejenak.
“Ya, Nak…” Ethan menggeleng sambil menyembunyikan senyumnya. “Merayu memang bukan keahlianmu, ya? Masa menyamakan seorang gadis dengan ular?”
“Aduh, Ethan, jangan terlalu kritis pada anak laki-laki itu!” Mama tertawa lembut sambil menatap kami dengan penuh kehangatan. “Dia mengatakannya dengan tulus, kok. Kai hanya ingin memuji keanggunanmu, Jennie. Ngomong-ngomong, Ethan, dulu waktu kita berkenalan, gombalanmu…”
Aku duduk tak bergerak, merasakan tangannya masih mencengkeram lututku di bawah meja. “Pujian” darinya hanyalah tamparan yang dibungkus dengan kata-kata indah, dan sekarang kedudukan kami imbang, satu sama. Aku bisa merasakan jemarinya benar-benar menancap di lututku, tetapi itu justru semakin memancingku.
Aku perlahan menurunkan tangan ke bawah, meraba telapak tangannya, lalu menancapkan kuku-kukuku kuat-kuat ke kulitnya, tepat di bagian urat yang menonjol. Kai bahkan tidak bergeming. Hanya rahangnya yang mengatup semakin erat sesaat.
“Wah, ular itu memang luar biasa,” ujarku sambil tersenyum menyeringai dan menatap lurus ke dalam matanya yang gelap, penuh ancaman. “Tapi kamu, Kai, sepertinya lupa menceritakan tentang monyet-monyet itu. Masih ingat bagaimana mereka sangat menyukaimu?”
Ethan mengangkat alisnya, sementara aku melanjutkan tanpa memberi kesempatan kepada Kai untuk menyela.
“Salah satu dari mereka ternyata sangat ramah sampai memutuskan untuk… menandainya. Tepat di jaketnya. Jadi, Ethan, malam itu bukan cuma soal ular, tapi juga ditutup dengan aroma yang sangat khas. Kai begitu senang sampai sepertinya dia belum bisa move on sampai sekarang.”
Ethan tak mampu menahan tawanya dan langsung tergelak, hampir menumpahkan jus di gelasnya.
“Serius? Nak, kamu benar-benar ditandai monyet? Wah, ini baru namanya menyatu dengan alam!”
Mama menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan tawa.
“Sudah, jangan membuatnya malu. Kai, jangan khawatir. Itu pertanda rezeki.”
Aku melihat Kai mengembuskan napas perlahan lewat hidungnya. Ia pelan-pelan menarik tangannya dari lututku, sempat memberikan remasan yang sedikit lebih kuat pada detik terakhir, lalu mengusap tangannya dengan serbet, seolah menyembunyikan bekas kuku-kukuku.
“Ya,” sahutnya singkat dengan suara yang begitu dingin hingga membuat bulu kudukku merinding. “Seru sekali. Kita pasti akan mengulanginya, Jennie.”
Sepanjang sisa makan malam, Kai bersikap sangat wajar, bahkan di luar dugaan. Ia bukan hanya tidak marah, tetapi juga ikut bercanda dan menceritakan berbagai kisah konyol kepada Ethan hingga kami semua hampir jatuh dari kursi karena tertawa.
Aku pun akhirnya benar-benar merasa santai. Dalam hati aku berpikir, «Ah, ternyata dia tidak sependendam itu. Dan ternyata dia juga punya selera humor.»
Saat membantu Mama di dapur, aku bahkan bersenandung pelan. Denting piring dan gemericik air menciptakan suasana yang hangat dan nyaman. Setelah berpamitan kepada Mama, aku berjalan menaiki tangga menuju lantai dua sambil menguap lebar.
Satu-satunya hal yang kuinginkan saat itu hanyalah melepas sepatu kets dan langsung merebahkan diri di atas bantal.
Aku mendorong pintu kamarku, melangkah masuk, lalu…terdiam kaku.
“Oh, ini dia pemeran utamanya.” Kai bahkan tidak mendongak. Jemarinya perlahan menyusuri halaman buku. “Tahukah kamu, si kecil semangka, aku tidak menyangka kalau kamu tertarik pada… anatomi terapan.”
Aku tertegun, merasakan pipiku mulai memanas.
“Kai, kembalikan bukunya ke tempat semula. Ini bukan urusanmu.”
“Tunggu dulu, bagian yang paling ‘mendidik’ baru saja dimulai.” Ia mengabaikan permintaanku dan mulai membacanya dengan suara lantang. Suaranya berubah lebih pelan dan dalam. Ia sengaja memberi jeda di bagian-bagian yang deskripsinya terdengar terlalu blak-blakan.
«Jari-jarinya perlahan meluncur di bawah tepi pakaian dalam, membuatnya melengkung menyambut sentuhan yang tak tahu malu itu… Ia menggigit bibir agar tidak mendesah, tetapi bibir pria itu sudah menemukan lehernya…»
“Diam!” Aku menerjang ke arah tempat tidur, tetapi ia dengan sigap menghindar, tetap melanjutkan bacaannya dengan ekspresi tanpa beban.
«…ia tidak mampu melawan dorongan yang berkuasa itu.»
Kai menutup buku tersebut, lalu akhirnya menatapku. Ada kilatan kemenangan di matanya.
“Aduh-aduh, Jennie. Tidak baik membaca hal seperti itu untuk anak kecil. Apa kata Mama?”
Itu adalah tetesan terakhir. Kepercayaan dirinya dan nada bicaranya yang merendahkan benar-benar membuatku kehilangan kesabaran.
“Kembalikan sekarang juga!”
Aku benar-benar melompat ke atas tempat tidur, berusaha merebut buku itu dari tangannya.
Kai tertawa. Ia memindahkan buku ke tangan yang lain, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepala. Kami mulai bergulat. Aku berusaha meraih tangannya, menubrukkan seluruh tubuhku ke arahnya, sementara ia hanya menghindar sambil terus memancing emosiku.
“Ayolah, Jennie. Kamu, kan, ingin tahu kelanjutannya?” godanya.
Aku melakukan gerakan tiba-tiba untuk mengecohnya, tetapi jemariku hanya sempat menyambar tepi sampul buku. Detik berikutnya, tanganku tergelincir. Kai dengan sigap menangkap pinggangku, menarikku agar tidak terjatuh dari tepi tempat tidur. Namun, karena dorongan itu, kami justru sama-sama terjungkal ke belakang.
Dunia serasa berputar. Buku itu terlepas dari tangannya dan jatuh ke atas karpet dengan bunyi gedebuk, sementara aku mendapati diriku sudah terbaring di atas kasur. Kai berada tepat di atasku, mengunci kedua tanganku di dekat kepala.
Tawa di wajahnya seketika lenyap, berganti dengan napas yang berat dan tersengal.
Keheningan di dalam kamar mendadak menjadi begitu pekat hingga seolah bisa disentuh.
Tatapannya perlahan bergeser ke bibirku, lalu kembali menatap mataku.
Pandangan Kai berubah gelap dan dalam. Ia tidak lagi mengolok-olokku. Ia memandangku seolah baru pertama kali melihatku. Tangannya yang masih mencengkeram pergelangan tanganku perlahan mengendur, tetapi aku tidak bergeming. Aku terpaku oleh ritme napasnya yang kini terasa berbeda, asing, dan berbahaya.
Ia perlahan mengangkat tangan yang bebas. Jemarinya, yang masih terasa dingin sehabis makan malam, menyentuh pipiku, lalu meluncur perlahan menelusuri garis leherku. Tanpa sadar aku menelan ludah, merasakan jutaan percikan hangat menyebar di kulitku.
“Betapa menyebalkannya kamu dengan semua kejutekan dan sinismemu itu,” bisiknya sambil mencondongkan wajah tepat di dekat telingaku. Suaranya dipenuhi kekaguman yang pahit sekaligus ejekan. “Kamu begitu putus asa mencoba membuktikan kepada semua orang dan terutama kepada dirimu sendiri betapa kamu sangat membenciku.”
Jemarinya yang perlahan membelai leherku membuatku terpaku. Namun kemudian ia menekan sedikit lebih kuat, memaksaku menatap langsung ke dalam matanya.
“Tapi aku bisa melihatnya, Jennie. Aku melihat bagaimana kamu mengamuk setiap kali aku bersama wanita lain. Bagaimana tatapanmu menyala, yang mati-matian kamu sembunyikan. Dan bagaimana sekarang kamu gemetar hanya karena sentuhan seringan ini dariku.”
Telapak tangannya bergerak semakin rendah, menyisakan sensasi hangat yang terasa menembus kain tipis pakaianku, lalu berhenti tepat di tepi rok hitamku.