Lonceng di menara yang sudah lama 'tidur' tiba-tiba berdentang di tengah malam. Tepat di hari pertama kedatangan Monica Steward; gadis kota yang baru pindah ke desa tersebut. Ada sebuah legenda yang di percaya penduduk desa mengenai dentang lonceng itu. Legenda yang mengatakan jika lonceng di menara berdentang dua belas kali tepat pukul dua belas tengah malam, menandakan akan adanya hal buruk yang terjadi. Hal buruk seperti apakah itu?
Di waktu lain muncul seorang pemuda asing membantu Monica. Anehnya pemuda yang sama sekali tidak di kenal itu bisa langsung mengetahui nama Monica. Sebuah peristiwa mengerikan perlahan membuka ingatan Monica melalui mimpi-mimpinya. Siapakah pemuda itu? Apa hubungannya dengan Monica?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eriza Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 19
Jam pulang sekolah. Isabelle dan Melisa dapat giliran membersihkan kelas. Sera ada pelajaran tambahan. Jadi Monica pulang sendiri. Ia baru meninggalkan gerbang sekolah, saat Nathan berhasil menyusulnya.
"Monica, jalanmu cepat sekali!" kata Nathan.
"Aku tidak merasa begitu," jawab Monica cuek.
"Boleh pulang bersama?" tanya Nathan basa-basi.
"Silahkan saja kalau kau bisa mengikuti langkahku yang cepat," ejek Monica.
"Hahaha ... Kau bisa bercanda juga, ya!" puji Nathan.
"Hm?" gumam Monica.
"Monica!" Sebuah suara menghentikan langkah Monica. Ia menoleh.
Arthur berdiri tak jauh di belakangnya. Arthur mengenakan hoodie berwarna navy dengan penutup menutupi kepalanya.
"Arthur! Kau di sini?" tanya Monica.
Arthur melangkah mendekat.
"Aku menunggumu! Ayo pulang!" Lalu merangkul Monica dan berjalan pergi.
"Nathan, aku duluan ya!" pamit Monica.
"Ya. Bye!" balas Nathan dengan perasaan kecewa.
"Hari ini tidak seperti biasanya?" tanya Monica.
"Apa kau merasa begitu?" Arthur balik bertanya.
Monica mengangkat bahunya.
"Jujur saja aku ingin membawamu terbang." kata Arthur.
"Ha?"
Arthur langsung mengangkat tubuh Monica. Monica spontan memeluk erat Arthur. Arthur melompat tinggi, setengah berlari lalu melompat dari satu atap rumah ke rumah lain dengan cepat. Hingga akhirnya mendarat di atas menara lonceng. Arthur menurunkan Monica.
"Hufh ...." Monica menghembuskan nafas lega. Arthur tertawa kecil melihatnya.
"Kau bisa tertawa juga?!" goda Monica.
"Apa kau pikir aku tidak memiliki perasaan?" tanya Arthur serius.
"Tidak. Tidak. Bukan begitu ...." Monica cepat-cepat meluruskan.
"Aku justru lebih suka melihatmu tertawa seperti ini," lanjutnya.
Arthur menyunggingkan bibirnya.
"Aku membawamu ke sini karena kau suka pemandangan dari atas sini. Jadi nikmatilah!" ujar Arthur.
"Apa kau yang membunyikan lonceng ini tadi pagi?" tanya Monica pelan.
"Iya," jawab Arthur singkat.
"Semua orang berharap bunyi lonceng pagi ini akan memberikan awal yang baik. Mungkinkah itu?" tanya Monica sambil menatap Arthur.
"Ya. Semua hal baik di mulai dari hari ini," jawab Arthur.
"Kenapa hari ini?" tanya Monica penasaran.
"Karena seseorang lahir pada hari ini!" jawab Arthur. Ia menatap Monica penuh arti. Monica masih tak mengerti.
Arthur meraih tangan Monica.
"Selamat ulang tahun, Monica!" ucapnya lalu mengecup tangan Monica.
Mulut Monica terbuka.
"Aku tidak pernah tahu pasti kapan tepatnya aku lahir. Nenek hanya merayakan hari ulang tahunku di hari dia menemukanku. Bagaimana kau yakin hari ini aku berulang tahun?" Monica merasa heran.
"Itu tidak penting. Yang penting kau terus hidup sampai sekarang. Bertemu lagi denganmu itu suatu hal yang sangat membahagiakan untukku," tutur Arthur. Kemudian ia mengucapkan sebuah kalimat dengan sungguh-sungguh,
"Monica, menikahlah denganku!"
Seketika itu juga Monica teringat dengan kalimat yang sama yang diucapkan oleh pemuda dalam mimpinya. Setiap ingatan yang bagaikan kepingan puzzle itu pun muncul kembali satu per satu merangkai sebuah film yang diputar dalam pikiran Monica dengan sangat jelas.
"Monica, menikahlah denganku!" kata pemuda yang selalu berada di dalam mimpi Monica. Wajahnya yang samar perlahan mulai terlihat jelas. Pemuda itu adalah Arthur.
Kemudian ingatan itu berpindah ke saat Arthur melindungi Monica dari kejaran musuh. Lalu berpindah lagi ke saat anak panah mendarat di punggung Monica. Monica seketika jatuh pingsan. Arthur berhasil meraih tubuhnya sebelum jatuh ke lantai.
"Monica! Monica!" panggil Arthur.
Monica tak kunjung sadar. Akhirnya Arthur menggendong tubuh Monica ke rumah Amariz. Amariz terkejut.
"Apa yang terjadi?" tanya Arthur.
"Monica tiba-tiba pingsan," kata Arthur. Ia menurunkan tubuh Monica di sofa.
Amariz memeriksa dahi Monica. Suhu tubuhnya normal.
"Tidak panas. Biarkan dia istirahat dulu saja. Apa yang membuatnya sampai pingsan?" tanya Amariz sambil menatap Arthur curiga.
"Aku tidak melakukan apa-apa padanya. Aku hanya memintanya menikah denganku. Kemudian dia tiba-tiba pingsan," jelas Arthur.
"Phft. Dia pingsan karena kau melamarnya?!" Amariz menahan tawa. Arthur memalingkan wajahnya malu diejek Amariz.
"Ini zaman modern, Arthur! Tidak ada gadis yang ingin menikah di usia muda. Kau terlalu terburu-buru. Monica masih belum mengenal dirimu dengan baik. Lakukanlah dengan pelan, semua butuh proses," jelas Amariz.
Arthur hanya menatap wajah Monica. Dalam tidur Monica, semua kejadian di masa lalu satu per satu muncul di dalam mimpi. Bagaikan kepingan puzzle, wajah pemuda yang sebelumnya samar-samar di mimpinya itu, perlahan mulai terlihat jelas. Semua yang terjadi di dalam mimpinya, selalu ada Arthur di sampingnya. Mimpi yang sangat indah. Hingga akhirnya mimpi indah itu berubah menjadi sebuah kejadian yang mengenaskan. Sebuah anak panah melayang dan langsung mendarat di punggung Monica. Monica kaget dan terbangun tiba-tiba.
"Monica, kau sudah sadar?" tanya Amariz yang sedang berada di kamarnya. Arthur sudah pergi. Sebelum pergi Amariz menyuruhnya memindahkan Monica ke kamar yang dulu dia tempati.
"Bibi ...." Monica tiba-tiba meneteskan air mata.
"Ada apa? Kenapa kau menangis, Monica?" tanya Amariz yang langsung memeluknya.
Monica tidak menjawab. Ia hanya terus menangis. Amariz menemaninya hingga ia merasa tenang.
Hari telah sore. Amariz meminta Monica bersiap untuk makan malam bersama. Dia juga menyiapkan pakaian ganti untuk Monica.
Setelah merapikan diri, Monica ke luar dari kamar. Suasana rumah terdengar sunyi sekali. Ia bahkan belum melihat Sera dari tadi. Monica hendak memasuki ruang makan, tiba-tiba ...
"HAPPY BIRTHDAY, MONICA!" seru Sera, Isabelle, dan Melisa bersamaan dengan kemunculan mereka dari balik tembok.
"Kalian ...." Monica tak bisa berkata-kata.
"Selamat ulang tahun, Monica! Ayo, buat permohonan!" suruh Amariz yang membawa kue ulang tahun dengan lilin yang menyala ke hadapan Monica.
Monica yang masih kebingungan menurut saja. Ia memejamkan matanya dan mulai mengucapkan permohonannya dalam hati. Lalu meniup lilinnya. Semua bertepuk tangan.
"Terima kasih, Bibi dan juga kalian bertiga. Ini ulang tahun terbaik dalam hidupku," ucap Monica dengan tulus.
Sera, Isabelle dan Melisa langsung memeluk Monica. Mereka kemudian menikmati makan malam bersama. Sebenarnya masih ada banyak hal yang ingin Monica tanyakan pada bibinya. Tapi ia tak ingin merusak momen ini jadi menunggu waktu yang tepat.
Isabelle dan Melisa berada di rumah Amariz hingga larut malam. Kebetulan besok juga hari minggu jadi Amariz tidak mempermasalahkannya. Arthur tidak datang membuat Monica sedikit kepikiran.
Setelah Isabelle dan Melisa pamit pulang, Amariz menyuruh Monica menginap saja karena sudah larut. Monica menurut. Sera langsung mengajak Monica ke kamarnya. Kedua gadis itu sibuk bercerita sampai Sera terus menguap menahan kantuk.
"Kau sudah ngantuk, sebaiknya segera tidur!" suruh Monica.
"Ya, benar. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku bukan seperti dirimu yang tidak tidur juga tidak masalah," kata Sera yang sudah berbaring sambil memejamkan mata.
"Andai aku juga setengah vampir. Zzzz ...."
Monica tersenyum melihatnya.
'Ada baiknya juga memiliki saudara sepupu,' batinnya.
Monica ke luar dari kamar Sera. Ia sama sekali tidak ngantuk. Ia berjalan ke ruang tengah. Berdiri di balkon sambil menatap langit malam. Udara mulai terasa dingin. Monica memilih masuk kembali ke dalam ruangan dan menutup pintu balkonnya.
"Monica, masih belum tidur?" tanya Amariz yang kebetulan muncul.
"Aku belum ngantuk, Bibi," jawab Monica.
"Bibi, bolehkah aku bertanya?"
bersambung......
bisa lihat apa aja yg udah terjadi, bahkan yg akan terjadi
i'm really really
Like