NovelToon NovelToon
Menjadi Pengantin Pengganti

Menjadi Pengantin Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Pengantin Pengganti
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sia Masya

Kehidupan yang kujalani sudah sangat lah buruk. Menerima bantuan tapi ada hidupku yang dipertaruhkan. Mungkin inilah takdir hidupku, sudah seharusnya berterima kasih, karena pernah diangkat dari tumpukan sampah yang kotor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sia Masya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11

Mereka menikmati makanan hingga selesai.

"Wah, makanan yang sangat lezat. Begitu bikin ketagihan."

"Inilah salah satu rahasia karyawan kami. Mendapat pelayanan terbaik juga. Mereka tidak perlu harus ketempat lain, mereka tinggal datang ke tempat ini."

"Ternyata ada juga bos yang sangat perhatian pada karyawan nya."

"Aku memang sangat peduli kepada karyawan ku. Karena mereka juga butuh dukungan penuh, untuk setiap pekerjaan mereka. Perusahaan ini akan terus berjalan, jika mereka tidak mendapatkan keluhan apapun mengenai perusahaan ini. Jadi ini hanyalah satu usaha ku, sebagai seorang pemimpin yang bisa memberi dukungan finansial yang baik pada mereka."

Dian tidak meragukan nya. Joshua merupakan salah satu pimpinan yang lumayan baik. Di kantor atau perusahaan lain, mereka akan menghitung biaya kerugian yang akan dihadapi, dengan mengeluarkan uang makan bagi karyawan nya. Sedangkan di tempat ini, tidak ada yang perlu dipikirkan mengenai biaya makan mereka. Mereka hanya perlu datang, untuk mengisi kembali tenaga mereka, yang terkuras oleh sibuknya pekerjaan.

"Umm, pak. Apa nanti, setelah saya selesai temani Cindy, saya harus ke sini lagi?"

"Iya. Pekerjaanmu sebagai asisten, selesai nya jam 9 malam. Dan juga, seharusnya jam 6 pagi, kamu sudah datang ke rumah saya, untuk membantu persiapan saya ke kantor."

"Apa? Tapi kan, rumah saya lumayan jauh ke rumah anda. Bisa satu jam lebih."

"Kamu harus tanya ke Arya, pekerjaan apa yang seharusnya kamu lakukan."

"Iya, nanti saya tanyakan." Dian memeriksa jam di handphone nya.

"Sudah jam 1 lewat pak, saya harus menjemput adik anda."

"Baiklah, kamu boleh pergi. Untuk hari ini, saya bebaskan kamu. Jadi, setelah kegiatan mu bersama Cindy selesai, kamu bisa langsung pulang."

"Akan saya lakukan." Dian tersenyum senang. Setidaknya hari ini, dia tidak terlalu lama bersama Joshua.

Dian berlari dari restoran menuju lift. Joshua memperhatikan dari jauh.

"Ternyata dia begitu senang, pekerjaan nya ku kurangi. Tapi cukup kali ini saja. Besok, akan berbeda. Aku harus membahas bersama Arya soal ini."

Kini Dian sudah berada di depan rumahnya Joshua. Cindy keluar menghampiri nya. Cindy sebenarnya sudah tahu situasi Dian saat ini.

"Mbak Dian." Cindy berlari memeluknya.

"Ada apa gadis kecil. Apa pekerjaan mu sudah selesai."

"Iya, kali ini aku berusaha mempercepat nya."

"Ya sudah, ayo kita berangkat."

Dian menarik tangan Cindy. Tapi Cindy menahannya. Dari tatapannya seperti ada sebuah isyarat. Dian melihat ke arah samping mereka. Ternyata ada seorang pria bertubuh kekar, dengan penampilan rapi. Dian baru teringat, Joshua pasti menyuruh seseorang mengawal Cindy.

"Baiklah, kamu akan mengikuti dengannya dari belakang."

Dian berusaha menyesuaikan diri dengan kewaspadaan yang ditunjukkan Joshua.

"Hahaha, Cindy. Kamu punya pengawal pribadi. Jadi kamu naik mobil itu dengannya. Aku akan jadi penuntun jalannya. Tidak perlu khawatir." Tawa Dian terdengar sangat dipaksakan menurut Cindy. Ia tahu, bahwa Dian pasti risih dengan hal seperti itu.

"Maaf mbak."

"Kenapa mesti minta maaf, kamu nggak ngelakuin kesalahan apapun."

Dian berjalan ke arah mobilnya. Ia berbalik sebentar melihat ke arah pengawal tadi.

"Mari berangkat. Pak, ikuti saja mobil saya."

Cindy masuk ke mobil yang akan membawanya. Mereka berangkat bersama-sama. Mobil Dian di depan, dan mobil Cindy di belakang. Sang pengawal memperhatikan dengan seksama, setiap jalur yang mereka lalui. Sampai tiba di jalur yang menjadi kendala. Tidak ada CCTV yang dipasang. Tapi ke arah berikutnya, baru ada CCTV.

Jalur itu sangat jarang mereka lalui, atau mungkin memang mereka sama sekali tidak punya tujuan ke sana. Mereka tiba di sebuah gedung putih tua.

Seperti sudah lama tidak ditempati.

"Apakah benar ini tempatnya, nona muda?" Sang Pengawal begitu penasaran. Bagaimana bisa mereka datang ke tempat seperti itu. Tempat dengan latar seperti itu, kebanyakan adalah tempat penyamun, atau mungkin penculik. Perman-preman atau mungkin komplotan penjahat lainnya, bisa saja tinggal di tempat itu.

Sang pengawal diam-diam memotret. Saat Cindy akan masuk mengikuti Dian, Sang pengawal cepat-cepat melindungi nya.

"Hati-hati nona muda, biar saya periksa dulu. Saya tidak akan membiarkan apapun terjadi pada anda."

Dian yang berada di depan dan kebetulan melihat, memutar bola matanya dengan malas.

"Pak. Anda seperti nya kebanyakan nonton film deh. Jadi selalu parnoan. Tidak ada apa-apa kok. Cindy juga sudah dua kali ini datang kemari. Jadi khawatir nya jangan terlalu lebay seperti itu."

Dian menarik Cindy, berjalan masuk tanpa mempedulikan pengawal Cindy tadi.

Heh, dasar! Tidak yang bosnya, sama anak buahnya, Sama-sama banyak drama. Lebay minta ampun.

Sang pengawal terdiam, dan hanya mengikuti. Tapi ia masih sempat merekam, karena perlu bukti untuk dikasihkan ke pak Joshua.

Saat masuk, ia bisa melihat jutaan maha karya yang sangat cantik, berada di tempat itu. Karya yang selama ini menjadi incaran segelintir pengusaha sukses.

Ada tanda tangan aslinya.

"Emil SiLaXei"

"Bukankah, ini pelukis terkenal itu. Bahkan lukisannya yang berada di pelelangan, berhasil meraup keuntungan besar."

"Berarti, anda tahu siapa Emil?"

"Siapa yang tidak tahu. Pelukis nomor satu di dunia. Meskipun identitas aslinya tidak pernah diketahui khalayak ramai. Tapi karya-karya nya, sangat terkenal dan dipajang dimana-mana."

"Wah, ternyata mas Emil seterkenal itu." Puji Cindy. Ia tidak menyangka, pria yang begitu tampan wajahnya, ternyata juga menyimpan rahasia besar.

"Jika begitu, tolong rahasia kan hal ini pak. Emil sangat tidak ingin sampai ada orang luar yang tahu."

"Tapi, tuan saya akan bertanya. Lalu apa yang akan saya jawab?"

"Bohong saja indentitas nya. Karena teman saya sangat menjaga kerahasiaan nya. Tidak apa tuanmu tahu tempat ini, tapi jangan sampai ia menyebarkan informasi mengenai tempat ini."

"Baiklah. Akan saya usahakan."

Emil sudah menunggu, menyambut kedatangan mereka di dalam. Emil bingung saat melihat ada pria dengan tubuh kekar, berdiri di belakang Dian dan Cindy.

"Ah, ini pengawal pribadi Cindy. Kakaknya sangat khawatir, jadi mengirim orang untuk menjaganya."

Dian seperti menjawab pertanyaan yang terkandas di benak Emil.

"Baiklah, Cindy. Mari kita mulai. Apa kalian juga mau ikut?"

"Aku, aku... Ah, tanganku pegal, kram juga. Jadi aku tidak bisa. Mereka saja, jika pengawal sangat ingin bergabung."

"Boleh, boleh." Sang pengawal sepertinya penggemar berat Emil, Dian bisa tahu dari wajahnya.

"Bapak benaran mau ikut?"

"Uhmmm, iya." Sang pengawal mengubah cara bicaranya, sebelumnya ia terlihat terlalu bersemangat.

"Saya akan mencoba. Daripada hanya duduk, dan melihat."

"Baik, dengan bapak siapa?"

"Saya, Pak Andi."

"Baik Pak. Karena anda ingin bergabung, saya bisa melatih kalian berdua teknik dasar dulu. bagaimana pelukis bisa menyalurkan semua ide atau imajinasi nya ke dalam gambar. Dengan cerita yang terasa hidup. Jika bagi anda berdua, tidak punya pengalaman, atau kemampuan sedikit saja, untuk menggambar, jangan pernah takut. Karena siapapun bisa menggambar, jika benar-benar tekun."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!