"Jangan menodai mata, Anda!"
Gak usah banyak bicara, pijit aja, untung Kakak suruh pijit bagian atas, emangnya mau pijit bagian bawah juga?" tanya Fallen.
"Kalau boleh sih, Aku lebih milih pijit bagian bawah, soalnya di atas tanganku pegel karena bahu Kakak kan lebar dan tinggi," jawab Fio.
"Di bawah juga lebar dan tinggi," balas Fallen nakal.
Cover from pinterest. disimpan dari m.photoviewer.naver.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mhammadtaufiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19
"Fahrul! Kamu selalu saja gagalin rencana Kakak, mau Kamu apa sih?" tanya Rene kesal.
Rencananya hampir saja berhasil untuk melenyapkan pelakor tersebut, tapi, semuanya sia-sia, karena adiknya terus menggagalkan dirinya.
Walau Fahrul hanya adik angkat, untung saja ia belum mengatakan yang sebenarnya karena ia masih ingin memanfaatkan Fahrul untuk melenyapkan Fallen.
Ia tidak peduli lagi yang dinamakan cinta, yang jelas rasa sakit hatinya harus terbalaskan, walau dengan cara mengorbankan orang lain.
"Aku harus menggagalkannya, jika orang yang Aku cintai nyawanya terancam," balas Fahrul.
Rene terkejut, Fahrul mencintai Fio? Kali ini Rene tertawa bahak-bahak, "Hahaha, Kamu mencintai gadis pelakor itu?" tanya Rene.
Fahrul mengangguk, tapi ia tidak suka mendengar kata pelakor tersebut, Fio bukan pelakor.
"Jangan menyebutnya pelakor Kak," ucap Fahrul.
"Kamu membelanya? Kamu lebih memilih gadis sialan itu daripada Kakak-mu sendiri? Lucu sekali Fahrul, Aku merawat-mu dari kecil sampai besar hingga saat ini, dan ini balasan-mu? Setelah apa yang Fallen lakukan terhadap ke dua orang tua kita? Sebenarnya, Aku memaafkan kesalahan Fallen tapi itu dulu, semasa Aku dibutakan oleh cinta, tapi, kini Aku sadar. Bahwa orang yang telah meninggal kini tidak bisa kembali, dan nyawa harus dibalas dengan nyawa!" ucap Rene.
Fahrul diam, ia tidak dapat berkata-kata lagi, apa yang diucapkan oleh kakaknya itu benar, kali ini bukan kakaknya yang dibutakan oleh cinta, tapi, ia pun sama.
"Maaf, kali ini Aku akan membantu Kakak," ucap Fahrul.
Rene berbalik sambil tersenyum miring, "Bagus kalau Kamu sudah sadar, Kakak harap Kamu gak ingkar janji lagi, karena ini terakhir kali Kakak memaafkan-mu," ucap Rene.
Fahrul mengangguk pelan dan meyakinkan dirinya bahwa ini adalah hal yang benar, nyawa harus dibayar dengan nyawa, setelah semuanya selesai, ia akan hidup dengan tenang.
~~
"Dertox, Aku sudah tahu tujuan Fahrul sebenarnya," ucap Fallen.
"Apa itu?" tanya Dertox.
"Sebelum tujuan utamanya, satu hal lagi yang Aku beritahu, bahwa Fahrul adalah adik angkat Rene, dan Fahrul tidak tahu jika ia dimanfaatkan," ucap Fallen.
"Langkah selanjutnya yang kita lakukan apa? Haruskah kita melenyapkan Anak tersebut?" tanya Dertox.
Fallen menggelengkan kepalanya, "Tidak!" tolaknya tegas, "Fahrul tidak tahu apa-apa, ia hanyalah robot yang dijalankan oleh Rene, kita harus menyadarkannya dari perlakuan licik Rene, Aku yakin jika Anak itu tahu yang sebenarnya sudah dari dulu ia membunuh Rene," lanjut Fallen kembali.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Dertox.
"Ikuti permainannya, penjagaan rumah harus diperketat lagi, begitupun dengan pengawasan terhadap Istriku, sekalian Nana," jawab Fallen.
Dertox tersenyum kemudian menelfon anak buahnya, ia harus mengerahkan semua anggotanya untuk keselamatan istri tuannya, dan juga Nana.
"Mungkin sampai di sini dulu, besok kita lanjutkan kembal, ingat Dertox, bermain dengan tenang," ucap Fallen dan Dertox mengangguk.
"Baik, Tuan," ucap Dertox kemudian pergi dari kamar Fallen.
Fallen bangkit dari duduknya kemudian naik ke ranjang dan memeluk Fio dari belakang, lama kemudian ia pun ikut terlelap.
Ke esokan harinya, segala aktifitas Fio berjalan lancar, termasuk dengan UNBK-nya. "Alhamdulilah yah, Na. Ujiannya gampang-gampang," ucap Fio.
"Itu mah buat lo, gue susahnya nauzubillah, apa yang gue pelajari gak ada yang masuk," balas Nana.
Fio memutar bola matanya malas, "Elleh, sok belajar, gak ingat yah semalam, sebelum kejadian itu, Kamu nonton flm barat, makan tuh adegan cium-ciumnya," ucap Fio.
"Ntar gue makan. Ngomong-ngomong, kapan yah gue gitu?" tanya Nana.
Fio menjitak dahi Nana, "Kalau dah halal, tapi sebelum itu Kamu perlu diruqiyah, biar semua setan yang ada di otak Kamu tuh musnah," jawab Fio.
"Anjir dah, setan," balas Nana.
Mata Fio tertuju pada satu orang, yaitu Fahrul. "Fahrul!" panggil Fio.
Fahrul mengabaikan panggilan Fio, sebenarnya ia ingin menghampiri Fio, tapi rasa dendam di hatinya kembali menyeruak.
Hatinya kembali memanas, kala Ayahnya dibunuh oleh Fallen, kepingan masa lalu yang diperlihatkan oleh Rene kembali terngiang.
Ia belum pernah melihat wajah Ayahnya secara langsung, hanya foto sebagai obat rindunya.
Flashback ~~
"Kak, Ayah di mana?" tanya Fahrul.
Rene tersenyum sedih, "Ayah sudah tidak ada Dek, dia dibunuh," jawab Rene.
"Siapa yang membunuhnya?" tanya Fahrul yang ingin menangis.
"Fallen Hiltero, dia membantai seluruh keluarga kita," jawab Rene.
Akhirnya tangis Fahrul memecah, anak laki-laki itu menangis sambil memeluk Kakaknya, "Aku bakalan balas semuanya Kak," ucap Fahrul.
"Yah, Kamu harus membalasnya, karena derita takkan pernah berakhir," balas Rene.
Flashback Off ~~
Fahrul mengabaikan panggilan tersebut dan memilih untuk pergi berlalu, sedangkan Fio dan Nana saling pandang keherananan.
"Kok Fahrul aneh yah?" tanya Fio.
"Dia ingin sendiri, mungkin."
~~
Terimakasih, beri like dan silahkan berkomentar.
kalau pribadi yimak .membawa like