Di khianati, adalah satu kata yang paling menyakitkan. Bagaimana pria yang tak lagi punya rasa cinta itu bisa menjerat para wanita dalam pesonanya?
Ketulusannya terhadap Echa putri tirinya membuat Arfian menjadi pria paling di idamkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rniehamizan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Rihanna benar-benar menunjukkan pencitraan yang baik di hadapan Arfian dan Rada. Dia harus bisa mengambil hati keduanya demi mencapai apa yang dia inginkan. Dengan lembut dia menggenggam tangan kecil Echa.
"maafkan kakakku." Isaknya. "keterlaluan sekali Ben, menyakiti gadis kecil sepertimu."
Rada menyentuh pundak Rihanna. Dia menghela napas panjang, wanita ini terlihat sangat sedih atas apa yang telah di lakukan Ben.
"sebenarnya kakakmu ingin memukul Arfian. tapi..." Rada tak sanggup menahan tangisnya. Dia kembali terisak membayangkan saat Echa terkena pukulan itu.
Dengan cepat Rihanna memeluknya, mengelus punggung Rada.
"maafkan kakakku." Lirihnya. "aku juga baru tahu jika kekasih kakakku adalah mantan istrimu pak Arfian."
Arfian hanya diam. Lalu tersenyum, segera mengajak Rada untuk duduk. Rihanna ikut duduk, tangannya terus menggenggam tangan Rada.
"kau gadis yang baik." Ujar Rada. "semoga hidupmu selalu bahagia."
Rihanna tersentak, entah kenapa mendengar Rada mendoakan nya seperti itu membuat dia merasa sangat buruk. Apalagi saat mengingat rencana buruknya terhadap Arfian.
"aah..aku harus segera pulang." Rihanna pun buru-buru bangun, dia merasa tak enak hati saat mendapatkan perlakuan baik Rada.
"um..biar aku antar." Tawar Arfian.
"tidak usah. aku bawa mobil kok." Tolak Rihanna cepat.
Arfian mengangguk, hanya mengantar Rihanna sampai pintu saja. Pria itu menghela nafas panjang, melihat sikap Rihanna yang baik padanya membuat Arfian curiga. Entah kenapa dia merasa jika ada sesuatu di balik kebaikannya itu.
"ada apa Arfian?" Tanya Rada karena melihat Arfian yang malah bengong.
"tidak mah." Arfian duduk kembali di samping Rada. "humm...kapan Echa akan bangun? aku merindukannya." Lirih Arfian.
Rada ikut sedih. Dia pun sama, merindukan kelincahan bocah 5 tahun itu. Echa di nyatakan koma dan tahu sampai kapan gadis itu akan tertidur.
Ceklek...
Pintu terbuka. Sena dan Rega masuk dengan membawa tas besar. Menyerahkan tas itu pada Rada.
"mah, ganti dulu baju dan makanlah. Sena sudah memasak sesuatu. ada didalam tas semuanya." Ujar Rega.
"iya, bibi. biar kami yang menunggu Echa. bibi makanlah dulu."
Rada melirik Arfian.
"Arfian, ayo.. makanlah bersama mamah." Ajaknya. Tapi Arfian menolak dengan menggelengkan kepalanya.
Dia sama sekali tak merasa lapar. Berdiri lalu berjalan ke arah Echa yang terbaring lemah. Mencium keningnya lama dengan airmatanya yang tak henti menetes.
"sayang..bangunlah. Echa laparkan? Daddy akan menyuapi Echa." Ucapnya sambil mengelus pipi Echa.
Rega yang tak tahan melihat itu langsung memalingkan wajahnya.Rada bahkan sudah ikut menangis begitu juga Sena.
Arfian terlihat sangat kacau. Bahkan bajunya pun sudah kusut dengan dua kancing yang terbuka bagian atasnya.
"mamah, makanlah dulu." Arfian duduk di samping ranjang pesakitan Echa. "aku tak lapar sama sekali."
"tapi pak Arfian bisa sakit." Ucap Sena. "jika bapak sakit siapa nanti yang akan menjaga Echa?"
Arfian melihat Sena. Wanita itu tersenyum begitu lembut. Terlihat ketulusan dari sorot matanya.
"iya, Arfian. benar kata Sena." Timpal nyonya Rada.
"uummm...pak Arfian makan ya? jika pak arfian jatuh sakit, Echa pasti akan sedih."
Arfian berpikir sebentar, menatap wajah Echa. Merasa jika perkataan Sena ada benarnya, dia langsung mengangguk. Rada dan Sena pun saling melempar senyum. Rega hendak tersenyum tapi begitu sadar bahwa Sena yang sudah berhasil membujuk Arfian membuat bibirnya mengatup kembali.
"haaaaaaaaaaa......" Menghembuskan nafas kasar dengan sengaja.
Sena mengeryit heran, lalu mengendikkan bahunya tak peduli. Dia mengambil makanan untuk Arfian tanpa peduli dengan wajah masam Rega.
...**********************...
Ben terus membujuk Liliana, dia berjanji akan memutuskan Rena dan memilihnya. Karena Liliana merupakan gudang uang baginya. Meskipun keluarga nya tak peduli padanya karena telah menjalin hubungan kembali dengan Rena, selama ada Liliana dia tak akan mati kelaparan.
Liliana menatap Ben tak percaya. Dia masih ragu dengan ucapan Ben yang manis.
"kau serius?"
"tentu saja. aku mencintai mu. wanita yang bersama ku saat itu hanya mantan kekasih ku dulu. dia bermasalah dengan suaminya, selalu bercerita tentang penderitaan nya. aku sebagai seorang pria tentu saja akan merasa kasihan sehingga tak bisa menolak saat dia kembali menyatakan cintanya." Ben memutar balikkan fakta nya.
Karena apapun yang dia katakan, Liliana tak akan tahu kebenarannya. Wanita ini terus diam, mencoba mencari kebenaran dari sorot mata Ben.
Cukup lama dia diam. Hingga Ben berinisiatif melakukan sesuatu. Meraih kedua tangannya, menciumnya lalu menarik wanita itu kedalam pelukannya.
"percayalah padaku." Ben berbisik tepat di depan bibir Liliana.
Perlahan bibirnya menempel. Liliana masih terdiam, tak membalas ciuman Ben. Merasakan sesuatu di dalam hatinya. Detik berikutnya mata keduanya terpejam. Liliana memberikan kesempatan pada Ben untuk melakukan hal yang lebih.
Entah siapa yang memulai, tapi keduanya kini sudah terbaring di ranjang. Liliana memejamkan matanya saat Ben menjamah tubuhnya. Dia merasakan kelembutan pria itu. Melupakan semua kata-katanya saat di mobil bersama Arfian. Dia berkata, tak akan mau lagi berhubungan dengan Ben. Tapi kenyataan nya dia kembali jatuh kedalam pelukannya.
Di rumah, Rena masih berteriak keras meminta untuk di keluarkan. Menggedor pintu dengan keras.
"Ben,... buka pintunya." Rena terus saja meneriakkan nama Ben. "ku mohon..."
Ckiiitt......
Saat mendengar suara decitan ban mobil Rena langsung berlari ke arah jendela, mencoba melihat siapa yang datang.
"Rihanna..." Gumamnya tak senang.
Rena menghapus air matanya dengan cepat. Jika Rihanna melihatnya dalam keadaan buruk seperti ini pasti wanita itu akan mengejeknya habis-habisan.
Ting..Tong...
Rihanna menekan bel berulang kali. Dia mendengus keras saat pintu tak juga dibuka. Rena pun diam tak bersuara, dia berdoa semoga saja wanita itu tak lama. Berharap cepat pergi dari sini.
"ckk...kemana Ben. ponselnya tak aktif bahkan di rumah nya pun tak ada. si*lan, sama sekali tak ada kata terima kasih telah aku bebaskan." Umpat Rihanna kesal sambil kembali masuk kedalam mobilnya.
Rena menghela nafas lega.
Kembali kerumah sakit. Arfian meminta Rega untuk melihat Ben di kantor polisi. Dia ingin memastikan pria itu masih di kurung di sana.
"ummm..Sena ikutlah denganku." Pinta Rega.
"kenapa? bukankah kau tak suka dekat dengan ku."
"ck.. sudahlah, ayo."
Seperti biasanya, Rega tak ingin mendengar kata penolakan. Sena mengikutinya setelah mendapat izin dari nyonya Rada.
Di dalam mobil keduanya hanya diam. Rega sendiri bingung, harus memulai percakapan dari mana. Hingga dia teringat kejadian di rumah sakit.
"kau begitu peduli terhadap kak Arfian."
"ya..memangnya kenapa?" Sena mengeryit.
"ekheem..." Rega berdeham keras. "kau menyukainya kan?"
"tentu saja. aku tak benci pak Arfian."
Bruummmm..
"yaaakk...Rega.." Pekik Sena saat kecepatan mobilnya di tambah oleh Rega.
Pria itu sama sekali tak mendengarkan teriakan Sena. Dia terlanjur kesal mendengar pengakuan wanita itu. Rega mengumpat dalam hati, menyesal karena telah bertanya seperti itu pada Sena. Membuat hatinya panas saja.
Sesampainya di kantor polisi, Rega langsung menemui petugas yang berjaga. Dia langsung menanyakan soal Ben. Tapi, sebuah jawaban yang di lontarkan petugas itu membuat Rega dan Sena terkejut.
"pak Ben sudah di bebaskan 3 jam yang lalu."
"ba.. bagaimana bisa? siapa yang sudah melakukan nya?" Tanya Rega.
Petugas itu membuat sebuah buku besar lalu memberitahu Rega jika seorang wanita yang mengaku sebagai istrinya telah membayar uang jaminan.
"Ibu Rena. Dia yang sudah menjamin pak Ben." Jelasnya.
Rega mengepalkan tangannya. Tak menyangka jika Rena akan melakukan hal sekeji ini. Dia lebih mementingkan dirinya dan Ben ketimbang putrinya sendiri. Tak tahu saja jika sebenarnya bukan Rena yang melakukan nya. Rihanna sengaja mengaku sebagai Rena untuk menghilangkan bukti bahwa dia yang telah menolong Ben.
Sebuah permainan kotor seperti nya akan dimulai dari sekarang. Rega berjanji akan membalas dendam kepada Rena dan Ben. Dia tak terima karena mereka sudah menyakiti Echa.
...*******************...