Mentari Handoyo, seorang putri angkat dari Mirna Arzeta Wijaya. Ia harus menyembunyikan identitas aslinya dari Laura, putri kandung Mirna. Mentari bekerja sebagai seorang pengasuh untuk mengelabui kakak angkatnya itu.
Ia hanya menandatangani surat kontrak kerja selama setahun. Siapa sangka, ia terjebak dalam jeratan ayah dari anak yang diasuhnya. Waktu setahun itu bertambah panjang, karena ia melakukan pernikahan kontrak dengan sang majikan.
Siapa sebenarnya Mentari? Mungkinkah mereka bisa saling jatuh cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sekar Laveina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surprise
Setelah mengantar Tari ke kamarnya, ia pergi ke kantor. Dedikasinya terhadap pekerjaan sangat tinggi. Rencananya pergi berbulan madu esok lusa, harus dipersiapkan dengan baik. Karena itu, ia ingin menyelesaikan pekerjaan sebelum pergi berlibur bersama istri tercintanya.
"Tiket serta penginapan sudah dipesan, Presdir. Kapal pesiar kecil yang Anda minta, juga sudah disewa untuk satu hari." Pramuda melaporkan tugasnya kepada William.
"Hem. Terima kasih, Pram. Kamu bisa berlibur selama saya pergi, tapi usahakan untuk menjenguk kakak iparku. Yah, setidaknya dua hari sekali.''
''Baik, Presdir."
William menyelesaikan pekerjaannya menandatangani proposal untuk rapat minggu depan. Setelah meninjau lokasi pembangunan taman wisata air, ia pergi ke rumah Dirga. Laki-laki itu menjelaskan semuanya tanpa ada yang ditutupi.
Dirga terkejut saat mendengar mereka hanya menikah kontrak, tapi mendengar mereka saling mencintai, ia pun tersenyum. Mungkin pernikahan kontrak itu hanya jalan dari Tuhan untuk menjodohkan mereka berdua. Sang ayah pun segera menyusun rencana untuk mempublikasikan pernikahan mereka.
"Setelah kalian berlibur, segera melangsungkan resepsi pernikahan dan hancurkan surat kontrak pernikahan kalian. Sebagai seorang pebisnis, kesalahan sekecil apa pun harus dihilangkan buktinya. Surat itu bisa menjadi bencana jika diketahui orang lain," ucap Dirga memperingatkan.
"Iya, Pa. Will akan mengingat nasehat, Papa. Biar Will sendiri yang membakar surat perjanjian itu," kata Will menanggapi.
***
Hari yang ditunggu-tunggu Will akhirnya tiba. Hari ini, mereka sudah siap pergi berbulan madu. Namun, laki-laki itu menyiapkan kejutan untuk sang istri.
William mengajak istrinya naik ke kapal pesiar kecil yang sudah dibawanya secara pribadi. Ia tidak ingin ada yang mengganggu liburan mereka. Ini adalah kejutan yang sudah ia persiapkan selama dua hari dan ia tidak ingin ada kegagalan.
Ia menunjukkan kamar mereka. Tari sangat penasaran, mengapa di kapal itu sangat sepi? Padahal banyak kamar yang kosong.
"Kenapa sepi sekali, Mas?"
"Itu karena aku menyewanya hanya untuk kita berdua," jawab William sambil melangkah menuju jendela.
"Sebesar ini? Hanya kita berdua?"
"Ini kapal pesiar yang paling kecil dan paling murah biaya sewanya. Dan juga, ada beberapa awak kapal yang bertugas di bawah."
"Mana ada sewa kapal yang murah," gumam Tari.
"Tidak percaya?"
"Tidak."
Laki-laki itu duduk bersandar di kepala ranjang. Matanya bersinar menatap istrinya yang masih berdiri di dekat jendela. Tari begitu takjub melihat hamparan laut biru yang luas.
"Sayang! Kita berenang yuk!"
"Aku tidak membawa baju renang," ucapnya sambil membuka pintu. Ia ingin berjalan-jalan sebentar di luar sambil menghirup udara bercampur aroma air laut. Namun, William segera menarik tangannya lalu menutup pintu.
"Kita kesini karena ingin berbulan madu. Kenapa kamu malah ingin meninggalkanmu sendiri di kamar?"
"Maaf. Maaf …." Hanya kata-kata itu yang meluncur keluar dari bibirnya.
William menangkup dagu Tari, menengadahkan wajahnya, lalu mendaratkan kecupan ringan. Ia menjauhkan wajahnya, menatap kedua mata oval bermanik hitam mengkilap itu. Ia menutup mata lalu mengecup lembut pipi Tari.
Perasaan hangat itu hadir dihati Tari. Ia ikut memejamkan mata, mengingat kebersamaan bersama sang suami. Perlahan, gadis itu mendekap Will semakin erat.
Kecupan lembut Will merambah turun ke leher jenjang milik istrinya. Mereka berdua semakin terhanyut dalam permainan lidah dan bibir yang saling bertaut. Namun, kemesraan itu terganggu oleh sebuah ketukan di pintu.
"Ada apa?"
"Pesanan Anda sudah siap, Tuan."
Tari mengernyit ke arah suaminya. ABK itu tidak mengatakan pesanan yang dimaksud. Sehingga, wanita itu sangat penasaran.
"Pesanan apa sih, Mas?"
"Nanti juga tahu. Ayo ikut aku," jawab William ambigu.
Laki-laki itu membawa Tari ke atas kapal. Rupanya pesanan itu adalah kejutan makan malam romantis di tepi kolam renang. Di atas kolam terdapat kelopak bunga mawar berwarna merah dan putih yang menutupi air kolam.
"Surprise!"
Tari terperangah menatap kolam bunga itu. Selain bunga, ada lilin yang ditaruh di atas piring plastik dan mengambang di tengah kolam. Tidak hanya satu, tapi hampir seratus lilin.
"Indahnya," gumamnya dengan takjub.
"Apa kau menyukainya?"
"Hem." Tari menjawab dengan gumaman pendek. Ia hampir tidak bisa berkata-kata. Hanya sebuah senyuman lebar yang menggambarkan perasaan bahagianya.
William terpana menatap wajah istrinya yang sedang tersenyum. Ia tidak melihat senyuman itu. Ia rela menukar apa saja, meski dengan nyawa sekalipun. Semua demi melihat kebahagiaan wanita itu.
"Terima kasih, Mas."
"Aku tidak menerima tanda terima kasih dengan ucapan, tapi tindakan," goda Will sambil mengusap bibirnya menggunakan ibu jari.
Gerakan tangan Will yang mengusap bibir berulang-ulang , menciptakan imajinasi liar di benak Tari. Ia membayangkan suaminya itu menggigit setangkai bunga mawar, dengan tubuh bagian atas terekspos bebas tanpa kain, dan mengedipkan sebelah matanya dengan nakal. Di sekitar tubuhnya seperti ada cahaya bersinar menyilaukan.
William mengibaskan tangannya di depan wajah Tari. Wanita itu seketika tersentak dari lamunannya. Wajahnya bersemu merah seperti kepiting rebus.
"Melamunkan apa?" William bertanya dengan wajah bingung.
Tari menggelengkan kepalanya. Gara-gara ucapannya, wanita itu jadi menghayal hal mesum. Sementara suaminya tidak mengerti dengan apa yang sedang dipikirkan wanita itu.
Mereka menikmati makan malam romantis di bawah taburan bintang-bintang. Melihat bintang di tengah lautan, seakan dunia hanya milik mereka berdua. Langit terlihat lebih luas dibanding saat mereka memandangnya dari atap rumah di tengah kota yang padat.
*BERSAMBUNG*****
1 bab Lagi, cerita ini end ya kakak2 reader
terima kasih buat yg setia kasih like n komen, serta vote dan semua dukungannya buat author dan cerita ini.
see you di next chapter.
next chap.. jgn terlalu panas thor.., diluar cuaca nya udh panas.. 😁😁
dear Laura.., knp Will milih Tari.., krn hati nya Tari putih bersih jd terpancar di aura nya.. sementara lau.. hati lau hitam kotor penuh dengki.. jd nya aura lau tuh gelap.. 😡😡
#readersebel (😂😂)
semangat othor.. ☕
bakalan malu tuh si model karbitan.. 😁😁
ayo thor.. lanjut.. 😍😍
tengah hari dibikin makin panas.. hahay.. 😂
mmng yg paling enak itu belah duren yg jatuh dr pohon nya.. (bkn terpaksa) 😁😁
kuy.. ditunggu bunyi gedebuk nya duren yg jatoh.. 😅😅
btw, gimana reaksi ayah nya william.. klo tau anaknya nikah dgn wanita lain yg bkn pilihan nya.. 🤔🤔
next>> 😁
GPL yak.. 😁😁 pinisirin nih.. 🙈