Assalamualaikum...
Hanifah atau bisa dikenal dengan Budee ini memiliki watak yang tegas,pemarah serta memiliki Jiwa Keibuan. Hanifah selalu menjadi tempat mengadu oleh teman temannya karena dia juga dianggap Ibu.
Mengapa demikian?
Karena tidak ada yang berani kepada Hanifah,karena salah sedikit saja Hanifah pasti akan marah dan menceramahi.
Di suatu hari ada seorang cowok yang berusaha mengambil hatinya Hanifah, Karena Hanifah menunjukkan sikap keibuannya saat bersama anak kecil.
Disuatu saat Hanifah disukai oleh Gusnya sendiri yang bernama Gus Hafidz dan disisi lain Hanifah dipaksa CEO yang dingin untuk menjadi istrinya.
Siapakah yang akan di pilih oleh Hanifah? Akankah ia bersama ustadz nya sendiri atau CEO yang dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanifah Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lelaki itu {Revisi}
Aku menuju ke depan untuk membukakan pintu orang tersebut. Dan dibalik pintu terdapat 2 orang laki-laki seperti yang Malikha ceritakan kepadaku. Tetapi aku tak tahu laki-laki mana yang dimaksudkan.
° ° ° ° °
Aku menatap kearah laki-laki tersebut dengan tatapan yang tajam. Entahlah apa yang membuatku menatap tajam kearah mereka berdua.
"Apakah orang ini yang dimaksud oleh Malikha?" Batinku bertanya-tanya.
"Waalaikumsalam. Cari siapa mas?" Tanyaku.
"Oh Malikha nya ada?" Tanya salah satu laki-laki tersebut.
"Malikha masih sholat di masjid mas. Mari silahkan masuk" Ucapku
Aku mempersilahkan mereka untuk duduk. Sedangkan aku langsung bergegas menuju ke dapur untuk membuatkan mereka minuman. Aku membuatkan mereka berdua kopi dan berharap agar Malikha segera kembali dari Masjid.
"Ayo dong Mal cepat pulang" Gumamku sedikit khawatir.
Sambil membuat kopi, aku terus berdo'a agar Malikha cepat pulang. Tiba-tiba terdengar suara yang aku kenali terdengar. Siapa lagi kalau bukan Malikha.
"Baru saja dibicarakan tuh anak udah muncul" Ucapku
Di sisi lain...
Malikha POV
Setelah melaksanakan sholat Maghrib secara berjamaah di masjid, aku bergegas pulang bersama adik-adik ku. Mengapa kita tidak menunggu hingga memasuki waktu sholat Isya'? Karena kita bertiga sudah sangat lapar. Padahal tadi sudah makan masakan buatan Hanifah, tetapi sekarang sudah lapar lagi 😬.
Ketika sampai di depan rumahku. Aku terkejut sekaligus heran karena ada 2 mobil yang terparkir di depan rumahku.
"Kak ada tamu di rumah" Ucap Maulana.
"Siapa ya kak?" Tanya Marsha.
"Gatau dek" Jawab Malikha.
"Kak di rumah ada mbak Hanifah loh. Pasti dia bingung karena kedatangan tamu" Ucap Maulana.
"Oh iya dek. Ayo cepat" Ucapku.
Disaat aku memasuki rumah, ternyata yang sedang bertamu adalah Bang Reza bersama temannya. Aku lupa bahwa Bang Reza akan kerumah bersama temannya. Padahal aku sudah berbicara kepada Hanifah bahwa mereka berdua akan datang kerumah.
"Assalamualaikum" Ucapku.
"Waalaikumsalam" Ucap mereka langsung menatap kearah ku.
"Eh ada bang Reza. Adek lupa bang, kalau Abang mau kerumah" Ucapku sambil cengar-cengir.
"Kebiasaan deh kamu dek" Ucap Bang Reza.
"Loh Bang Reza ngapain ke rumah?" Tanya Maulana.
"Abang kan mau lihat keadaan keponakan Abang disini. Kan orangtua kamu berada di Kediri, jadi Abang disini hanya untuk menengok kalian" Jawab Bang Reza.
"Ya sudah tunggu dulu ya Bang" Ucapku.
"Ya dek" Jawabnya.
Aku dan adikku menuju kamar masing-masing untuk meletakkan alat sholat kita. Didalam kamar tidak ada Hanifah sama sekali, kemudian aku bergegas menuju ke dapur. Barangkali Hanifah ada disana.
"Han buat apa kamu?" Tanyaku penasaran.
Hanifah langsung menoleh ke arahku setelah mendengar suaraku.
"Alhamdulillah mal kamu sudah datang" Jawab Hanifah.
"Emangnya kenapa?" Tanyaku.
"Tuh ada tamu. Aku nggak tahu mereka siapa. Katanya sih cari kamu" Ucap Hanifah.
"Itu laki-laki yang aku ceritakan kemarin. Yang pakai kemeja di gulung itu Abang ku. Yang pakai jas itu lah yang mencari kamu" Ucapku.
Mendengar hal itu, Hanifah langsung mengintip dari balik gorden. Ia mencari laki-laki yang telah aku berikan ciri-cirinya kepada Hanifah. Setelah puas melihat laki-laki tersebut, Hanifah berbalik kearah ku sambil berkata
"Eh Mal aku kek kenal deh sama laki-laki tersebut. Tapi dimana ya? Wajahnya nggak asing begitu" Ucap Hanifah.
"Loh iya ta Han?" Tanyaku penasaran.
"Iya Mal. Tapi gatau lagi" Ucapku.
"Eh Mal. Nih teh kami kasihkan kepada mereka ya. Aku mau melanjutkan memasak. Entar mereka disuruh ikut gabung juga" Ucapku.
"Cukup Han?" Tanyaku.
"Alhamdulillah cukup kok. Tuh lihat, aku tadi memasak nasi kebanyakan deh. Soalnya takarannya berbeda dengan di rumah" Ucap Hanifah.
"Oke siap deh" Ucapku.
Aku mengambil teh yang sudah Hanifah buat. Segera aku menuju ke ruang tamu untuk meletakkan teh kepada mereka berdua. Setelah itu aku mengambil kue yang aku sediakan diruang keluarga untuk Hanifah. Berhubung tidak ada kue lagi, mau tak mau aku memberikan camilan ini untuk mereka. Entar kita masih bisa beli lagi.
Aku berjalan menuju ruang tamu untuk menghidangkan cemilan tersebut kepada mereka berdua.
"Silahkan di makan bang, mas" Ucapku sambil membukakan tutup toples.
"Iya dek. Terimakasih" Jawab mereka serentak.
"Aku tinggal kebelakang dulu ya bang" Ucapku.
"Iya dek" Jawab Bang Reza.
Aku hendak menolong Hanifah untuk menyediakan makanan. Ternyata eh ternyata Hanifah sudah menata makanannya diatas meja makan.
"Loh sudah selesai Han? Niatnya aku mau membantu loh" Ucapku sungkan.
Bagaimana tidak sungkan? Padahal ini rumah ku. Tetapi sedari tadi Hanifah memasak dan membersihkan rumah tanpa mengeluh.
"Alhamdulillah sudah selesai kok. Sekarang panggil adikmu dan mereka berdua" Ucap Hanifah.
Setelah mendapatkan perintah dari Hanifah, aku langsung pergi menuju ke kamar adik-adik ku.
"Maulana, Marsha ayo makan. Mbak Hanifah sudah memasak buat kita" Ucapku.
"Wah makan lagi" Ucap Marsha.
"Iya kak. Habis ini kita menuju ruang makan" Ucap Maulana.
Aku menganggukkan kepalaku kemudian bergegas menuju ke ruang tamu untuk mengajak mereka berdua makan.
"Bang, mas ayo makan dulu" Ucapku.
"Ndak usah mbak. Kita sudah makan" Jawab laki-laki tersebut.
"Yakin udah makan?" Suara bas milik Hanifah mengangetkan aku.
"Padahal aku sudah capek-capek masak loh. Gapapa deh. Kalau ada sisa entar kasih ke tetangga aja mal" Ucap Hanifah sambil berlalu meninggalkan kita.
"Wah Hanifah udah ngambek nih. Yasudah kita makan dulu saja" Ucapku meninggalkan mereka
"Eh Hanifah loh bro yang masak. Yakin loh nggak mau makan?" Bisik bang Reza hingga terdengar ke telingaku.
"Ya sudah gue makan saja. Kapan lagi kan makan masakannya Hanifah?" Bisik mas Agam.
Di sisi lain...
Author POV
Hanifah, Malikha dan adik-adiknya sudah berada di meja makan. Malikha membantu Hanifah mengambil nasi goreng dan memberikan kepada adik-adik Malikha.
Disaat Hanifah dan Malikha hendak duduk, tiba-tiba kedua laki-laki tersebut menghampiri mereka di ruang makan.
"Loh katanya nggak makan mas?" Ucap Hanifah acuh.
"Memang awalnya nggak. Setelah mendengar kamu yang masak, perutku jadi lapar lagi deh" Ucap Agam.
"Kan loh sedari tadi belum makan bro. Loh lebih mementingkan kerja Mulu sih" Ucap Reza ceplas-ceplos.
"Astaghfirullah. Kesehatan itu lebih penting mas. Tubuh kita itu juga butuh istirahat, kita tidak bisa memaksa melakukan sesuatu hal yang melebihi batas kemampuan kita. Kasihan otak kita lah mas" Ucap Hanifah.
"Terimakasih. Perhatian banget deh kamu dek" Ucap laki-laki.
Hanifah hanya tersenyum menanggapi ucapan Agam.
"Silahkan duduk mas" Ucap Hanifah mempersilahkan.
Hanifah dan Malikha mengambilkan nasi goreng kepada mereka. Kedua laki-laki tersebut hendak memakan nasi goreng yang sudah dihidangkan, tiba-tiba Hanifah mengehentikan merka yang akan menyuapkan sendok ke mulutnya.
"Jangan makan dulu. Kita berdo'a terlebih dahulu agar makanan yang kita makan tidak disertai dengan syetan" Ucap Hanifah.
Kedua laki-laki tersebut hanya cengar-cengir tidak jelas.
"Ayo Maulana pimpin do'a" Ucap Hanifah.
Maulana memimpin do'a sebelum makan. Setelah itu mereka langsung menyantap makan dengan sangat lahap. Hanya dentingan sendok yang menyelimuti acara makan mereka.
Setelah selesai makan, tak lupa kita membaca do'a selesai makan yang di pimpin oleh Maulana lagi (Biarlah dia belajar).
"Alhamdulillah... Enak mbak Han" Ucap Maulana dan Marsha.
"Alhamdulillah kalau kalian suka" Jawab Hanifah.
"Terimakasih atas makanannya dek gembul" Ucap Agam.
Hanifah melotot sekaligus terkejut mendengar hal itu, ia menatap tajam kearah Agam dengan tatapan mengintimidasi.
"Sampeyan tahu dari mana kalau aku dipanggil dengan sebutan itu?" Tanya Hanifah.
Agam hanya tersenyum mendengar ucapan Hanifah. Semua orang pasti akan bertanya-tanya mengapa bisa memanggil dengan panggilan akrab. Padahal tidak pernah bertemu.
Itu untuk Hanifah sedangkan Agam sudah mengenal Hanifah disaat wisuda Hendra dan Hani.
"Setelah selesai kita bisa berbicara di ruang tamu" Ucap Agam.
Hanifah hanya diam tak bergeming, kemudian ia segera membersihkan piring kotor dengan dibantu adik-adik Malikha.
• • •
Hanifah POV
Aku menuju keruang keluarga untuk mengambil HP dan mengecek apakah ada pesan penting yang masuk.
Baru saja aku membuka (menghidupkan) HP ku sudah banyak notifikasi yang muncul diberanda ku ini. Betapa terkejutnya lagi diriku bahwasanya itu adalah pesan dari ustadz Lutfi.
Aku segera membuka dan membaca pesan tersebut.
Ustadz Lutfi
"Assalamualaikum Wr. Wb.
Mbak Putri ngapunten mengganggu nggih. Dinten niki wonten rapat mendadak ten TPQ. Mbak Putri diwajibkan untuk datang karanten njenengan bendahara. Rapat jam 20.00 WIB (Mohon Maaf menganggu mbak Putri. Hari ini ada rapat mendadak di TPQ. Mbak Putri diwajibkan untuk datang karena sampeyan bendahara. Rapat dilaksanakan jam 20.00 WIB)"
Aku sangat kesal mendapatkan pesan tersebut. Padahal aku sudah izin kepada beliau karena ku menginap di rumah sahabatku. Sudah di izinkan tetapi sekarang disuruh datang.
"Astaghfirullah. Maksudnya apaan lagi nih ustadz" Gumamku.
Me
"Ngapunten Kula mboten saged tumut rapat. keranten kula mboten enten ten griyo. Kula nginep Ten griyane rencang Kula.(Maaf saya tidak bisa ikut rapat. Karena saya tidak ada di rumah. Saya menginap di rumah teman saya)."
Ustadz Lutfi
"Niki wonten pembahasan haflah akhir Sannah 1 kale tes Ghorib Ten Jabung (ini ada pembahasan haflah akhir Sannah 1 sama tes Ghorib di Jabung)"
Me
"Nggih Ustdaz"
Aku menuju ke kamar Malikha, aku kesal dan uring-uringan tidak jelas dikamar Malikha. Malikha melihat ku yang uring-uringan tidak jelas, ia menghampiri dan bertanya kepadaku.
"Han. Sampeyan kenapa?" Tanya Malikha.
"Ini loh Mal. Ada info mendadak dari Ustadz ku" Ucapku sambil memberikan HP ku kepadanya.
Malikha membaca pesan yang terkirim pada HP ku. Terlihat dari perubahan wajah Malikha sedikit kesal. Tapi ya mau bagaimana lagi? Acara ini untukku dan yang lainnya.
"Ya sudah Han tidak apa-apa. Lain kali kamu bisa menginap disini" Ucap Malikha.
"Sekali lagi mohon maaf ya Mal" Ucapku.
"Ya sudah aku tak beres-beres dulu. Barang penting saja yang aku bawa, sisanya aku taruh disini saja. Jaga-jaga untuk aku mendadak menginap di rumah kamu" Ucapku
"Yasudah Han. Ayo aku bantu" Ucap Malikha.
Malikha membantuku membereskan barang-barang yang akan aku bawa pulang hari ini. Khususnya seragam sekolah, alat makeup dan lain-lain.
Aku menggendong tas punggung ku, kemudian bergegas menghampiri kedua adik Malikha untuk berpamitan. Alhamdulillah Maulana dan Marsha berada di ruang keluarga sedang menonton TV.
"Maulana, Marsha mbak Hanifah pulang dulu ya" Ucapku.
Kedua adik Malikha langsung menoleh kebelakang sumber suara ku.
"Loh mbak Hanifah mau kemana?" Tanya Marsha.
"Mau pulang dek" Jawabku.
"Loh bukannya mbak Hanifah nginap?" Tanya Maulana.
"Awalnya menginap dek. Tetapi mbak ada rapat di TPQ" Jawabku.
"Loh kok gitu mbak" Ucap Marsha kesal sambil mengerucutkan mulutnya.
"Ya mau bagaimana lagi dek. Mbak harus mengikuti rapat ini" Ucapku.
"Ya sudahlah. Kita juga tidak bisa mbak Hanifah untuk pergi" Ucap Maulana.
"Sekali lagi mbak minta maaf ya. Insyaallah kalau ada waktu luang lagi, mbak akan menginap" Ucapku.
"Iya mbak. Kita berdua menunggu Mbak Hanifah untuk menginap" Ucap Marsha.
"Iya sayangku" Ucapku.
"Eh Mal anterin gue ke Garuda deh. Entar biar gue jalan terus naik ojek" Ucapku.
"Ya Allah Han. Tapi ini mau Isya' loh. Takutnya nanti Ndak ada ojek" Jawab Malikha.
"Ya lihat nanti saja lah mal" Ucapku.
Aku berbincang-bincang dengan Malikha itupun tak luput dari pandangan laki-laki tersebut. Tanpa memperdulikan awal tujuan ku datang kesini, aku bergegas keluar rumah menunggu Malikha mengeluarkan motornya.
Disaat Malikha hendak mengeluarkan motornya, tiba-tiba laki-laki tersebut menghampiri ku.
"Kamu mau kemana? Kita belum berbicara sama sekali loh dek" Ucap laki-laki tersebut.
"Maaf ya mas. Sekali lagi mohon maaf. Saya ada keperluan mendesak. Insyaallah kalau ada waktu lagi kita bisa berbicara" Ucapku.
"Mau pulang?" Tanya laki-laki tersebut.
"Iya mas" Ucapku.
"Ayo aku antar" Ucapnya sambil tersenyum mesum kearah ku.
"Kenapa perasaanku tiba-tiba tidak enak ya?" Batinku bertanya-tanya.
"Oh tidak usah mas. Biar diantar Malikha saja" Ucapku sedikit was-was.
"Ayo saya antarkan. Demi kamu kenapa tidak" Ucapnya.
Rasanya aku mau muntah setelah mendengar ucapannya itu. Aku hanya tersenyum langsung membuang muka kearah Malikha.
"Ayo Mal. Udah gak keburu loh ini" Ucapku menghampiri nya.
Disaat Malika mengeluarkan motornya, kemudian laki-laki tersebut menghadang Malikha agar tidak mengeluarkan motor nya.
"Ya Allah. Situasi macam apa ini?" Batinku bertanya-tanya.
Setelah laki-laki tersebut berbicara dengan Malikha, kemudian laki-laki tersebut mengambil tas dari gendongan ku dan memasukkannya kedalam kursi penumpang.
"Loh loh. Mau dibawa kemana tas ku?" Tanyaku sambil mengejar laki-laki itu.
Laki-laki tersebut hanya diam saja tanpa menjawab ucapanku. Kemudian ia membukakan pintu depan di samping kursi kemudi.
"Silahkan masuk" Ucapnya membuat bulu kudukku berdiri.
jangan ada yang terluka ya thor
aamiin
hemm
oiya thor, mau tanya dong,, author nya dari daerah mana yah? kalau ana dari kediri thor,, mungkin dekat?
kalau sempat mampir baliklah ke karyaku "sahabat atau cinta" dan "berani baca" tinggalkan like dan komen ya makasih