Angan Kaina hancur ketika sosok Zidan muncul dan masuk ke kehidupannya. Imajinasi indah yang selama ini ia dambakan, hancur seketika.
Takdir mempermainkan perasaannya dengan kejam. Ia harus hidup dalam pernikahan yang tak diinginkan. Tidur satu ranjang dan berbaring bersama dengan laki-laki asing.
Setelah ia mulai bisa menerima situasinya, sekali lagi—takdir mempermainkannya. Hati nya dipatahkan, rasa percayanya dikhianati oleh orang yang selama ini ia sukai.
Sosok suami yang tak dicintai selalu ada, memberi dukungan, menyalurkan rasa aman dan nyaman. Perlahan Kaina sadar, Zidan adalah takdir dari Tuhan yang seharusnya ia cintai sepenuh hati.
Jalan hidup tak selalu mulus, seringkali lubang yang sangat dalam menyapamu di depan.
Lubang apa yang akan menyapa Kaina di masa depan?
Siapa yang akan bersama Kaina pada akhirnya?
Joshua?
Zidan?
Ataukah Hanif?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Możhe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Speechless
Suara adzan menggema dengan merdu diseantero kamar yang bersumber dari speaker yang telah di setting oleh Zidan.
Laki-laki itu terlah terbangun 10 menit sebelum adzan menggema.
Ia kemudian membangunkan Kaina dengan sentuhan lembutnya.
"Istriku yang cantik, bangun yuk.. Kita sholat berjamaah." bisik Zidan dengan suara lembut pula.
Kaina langsung membuka matanya, ia terkejut bukan main ketika mendengar bisikan suara laki-laki.
Lantas ia menoleh dan mendapati wajah tampan Zidan sangat dekat dengan wajahnya, bahwa Kania dapat merasakan hembusan hangat nafas laki-laki itu menerpa permukaan kulit wajahnya.
"Astaga!" pekik Kaina, lalu mendorong kasar Zidan agar menjauh.
"Apa yang Bapak lakukan?!"
"Membangunkan kamu." jawab Zidan.
"Bangunkan ya bangunkan saja, tidak perlu sedekat itu kan?!" protes Kaina.
"Bapak bisa berteriak—Kaina bangun!!!" kata Kaina memberitahu.
"Tapi saya tidak mau meneriaki istri saya." jawab Zidan yang berhasil membuat Kaina speechless.
"Hah?" hanya itu kata yang bisa Kaina suarakan.
"Saya tidak mau meneriaki is—"
Kaina memotong ucapan Zidan dengan segera sebelum membuat dirinya kembali speechless lagi. "Sudah jangan lanjutkan!"
Gadis itu kemudian beranjak dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Dia mulai mengomel.
"Masih pagi udah bikin ulah."
Bukannya langsung berwudhu, Kaina malah mengambil pasta gigi dan sikat gigi. Gadis itu menggosok giginya terlebih dahulu, kemudian setelah selesai berganti mengambil sabun cuci muka random yang telah tersedia dan menggunakannya untuk mencuci wajah. Tidak peduli itu milik Zidan, dan tidak peduli apakah cocok dengan kulitnya atau tidak.
Barulah setelah selesai melakukan dua ritual wajibnya, ia menyalakan kran yang ada di bawah dan berwudhu.
Kaina keluar kamar mandi dan melihat Zidan tengah menyiapkan mukena serta alas sholat untuknya.
Zidan tersenyum, lalu berjalan melewati Kaina dan masuk ke dalam kamar mandi untuk bergantian berwudhu.
"Apa-apaan dia? Senyumnya membuat ku merindung." gumam gadis itu sembari memakai mukenanya.
Tak lama kemudian Zidan keluar dengan rambut, wajah, tangan dan kaki yang basah. Entah kenapa Kaina merasa laki-laki itu semakin tampan dan pesonanya semakin kuat.
Mereka memulai sholat, Zidan berdiri di depan sebagai imam dan Kaina berdiri dibelakangnya sebagai makmum.
Selesai sholat, Zidan memutar duduknya hingga berhadapan dengan Kaina. Kemudian laki-laki itu menyodorkan tangannya pada Kaina.
"Why?" tanya Kaina.
Zidan hanya memberi isyarat.
Setelah menangkap isyarat yang diberikan Zidan, barulah Kaina meraih tangan Zidan dan mencium punggung tangan laki-laki itu.
"Ribet banget jadi orang." gerutu Kaina dengan suara pelannya.
Tak betah memakai mukena karena merasa gerah, gadis itu dengan cepat melepasnya dan bersiap untuk kembali tidur. Kaina membanting tubuhnya di atas ranjang dan mulai memejamkan mata.
"Nga baik, tidur sehabis subuh." tegur Zidan.
Kaina memutar bola mata jengah. "Aturan di rumah Bapak ribet banget ya ternyata."
"Jadi pengen pulang ke rumah." lanjut Kaina.
Meski Zidan telah memberi tahu, Kaina tetap kembali tidur karena ia masih mengantuk dan bangun subuh bukanlah kebiasaannya.
Jadi ia akan tetap melakukan kebiasaan lamanya meski bertentangan dengan kebiasaan Zidan, itu bukan masalah untuk Kaina.
Berbeda dengan Zidan yang melanjutkan dengan membaca ayat suci selepas sholat subuh. Kemudian pergi ke balkon setelahnya untuk menyaksikan matahari terbit dari arah timur rumahnya.
mampir juga yuk ke karyaku Human's Adventure & Preman Cantik 🤗
mampir juga yuk di Kisah Cinta Syakila
aku tunggu