Ditinggalkan tepat dihari pernikahan membuat Elisabeth hidup tak tentu arah. Ia akhirnya bertemu dengan sosok pria tampan yang baik hati. Si pria muslim pengidap anhedonia. Menikah? Kenapa tidak? Toh kami sama sama tak bisa memiliki cinta. Apa bedanya menjadi teman seumur hidup, dalam bingkai sebuah rumah tangga?
Tapi saat benih cinta mulai tumbuh. Bagaimana seorang Elis akan mencintai si anhedonia sedangkan si anhedonia terus tersiksa karena cinta nya terhadap Elis. Berhasil kah mereka? Yuk baca kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NCY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IAAM-018
Khafi sadar ada yang lain dari tatapan Elis. Tapi toples, apa toples kue dari bibi bisa membuatnya menangis sedih? Khafi bingung sekaligus heran.
“Apa? Ada apa? Kamu nggak suka kue dari bibi?” tanya Khafi dan sama sekali tak ada respon dari Elis.
“Kalau nggak suka ya nggak usah dimakan,” lanjut Khafi.
“Itu mufin coklat kesukaan Darian, aku nggak ingin kue itu ada dalam kamarku.” Wajah Elis menjadi sangat murung, rasa sedihnya semakin menjadi.
“Benarkah?” Khafi menarik toples itu dari atas meja dan meletakannya disamping kursi. “Maaf aku tidak tau.”
“Tapi bibi? Bibi pasti capek membuatkannya untukku,” ujar Elis sedikit kecewa.
“Aku yang akan memakan kue ini,” ucap Khafi.
“Terimakasih.”
Khafi manggut manggut mengiyakan. Ia takut salah. Jika wanita dihadapannya menangis maka ia pasti yang akan menjadi tersangka utamanya.
“Ini es teh kalian.” Bu Dewi meletakkan dua gelas es teh manis ke hadapan Elis dan Khafi. “Oh ya Elis, ini pacar atau temen?” tanya bu Dewi.
“Temen.” Jawab Elis.
“Saya Calon suaminya,” timpal Khafi.
“Loh, yang waktu itu juga ngaku ngaku calon suami?” ucap bu Dewi yang memang selalu berbicara tanpa di filter.
Elis memejamkan mata, dahinya mengernyit. Pembahasan mulai berat baginya, padahal ia sama sekali tak ingin membahas Darian.
“Bu, ini kue buat ibu saja Elis nggak suka,” potong Khafi yang sadar akan situasi pada wajah Elis.
“Waah makasih, sudah ganteng baik hati pula. Ibu doakan semoga kamu dan Elis berjodoh,” ucap bu Dewi tulus.
“Aamiin,” sahut Khafi.
“Elis sudah mengaktifkan ponsel Elis, bisa Elis masuk sekarang?” ucap Elis.
“Ah ya, baiklah kamu harus istirahat.”
Elis menggantung tas ke pinggangnya kemudian berdiri dari situ.
Khafi pun bergegas menuju meja bu Dewi dan meletakkan selembar uang dua puluh ribuan ke atas meja.
“Sampaikan salam Elis buat bibi dan syekh permisi.”
Tanpa sepatah kata lagi, Elis langsung menyebrang jalan menuju pintu tempat kos berpagar biru. Khafi menatapnya hingga masuk kedalam kemudian pergi dari situ.
....
Malam minggu Elis sudah dijemput Khafi. Malam itu ia kembali menginap di pesantren karena saat subuh, mereka sudah harus bertolak ke Medan.
Elis bangun pukul tiga dini hari, mengingat pukul lima mereka sudah harus berada dibandara. Mandi kemudian mengenakan celana kulot warna biru dan kemeja putih lengan panjang. Rambutnya di cepol asal hingga membuatnya terlihat lebih rapih.
Mobil metalik biru milik Khafi telah menunggu dibawah. Elis langsung menarik tasnya dari atas nakas kemudian mengenakan Sneakers putih bersol tebal kemudian bergegas turun menghampiri Khafi, Syekh Umar dan bibi Saodah yang sudah menunggunya.
Pintu mobil dibukakan Khafi untuk Elis.
“Assalamualaikum,” ucap Elis.
“Waalaikumsalam,” jawab mereka.
“Maaf Elis telat bangun,” ucap Elis.
“Tepat waktu kok nak, ayo berangkat sekarang sebelum telat,” ucap Saodah.
Mobil meluncur menuju bandara Sukarno Hatta yang letaknya lumayan jauh dari posisi mereka saat itu.
Elis yang saat itu duduk bersama Saodah di kursi kedua terus diam menatap keluar jendela. Dalam benaknya dipenuhi kekhawatiran akan pertemuan mereka dengan papanya.
Saodah kemudian mengeluarkan kue yang baru dipanggangnya semalam.
“Elis makan ini dulu,” ucap Saodah memecah keheningan dalam mobil.
“Nggak bi, Elis nggak bisa makan jika akan terbang. Nanti aja sarapan jika sudah tiba.” ucap Elis yang saat itu enggan makan yang manis manis.
Saodah menutup kembali kotak makanan itu agar kuenya tetap renyah.
“Bibi nggak tawarin syekh?” tanya Elis pelan.
“Syekh sudah makan berat tadi, hari ini dia puasa,” jawab Saodah berbisik.
“Oohhh,” Elis kembali duduk tegap pada sandaran kursinya.
Sesaat mobil melesat masuki tol bandara, berarti beberapa saat lagi mereka akan tiba di terminal 2E bandara Soekarno Hatta.
Khafi mencari parkiran yang agak terlindung dari sinar matahari, mengingat mobilnya itu akan terparkir seharian disitu.
Begitu mendapatkan tempat parkir yang pas, Khafi keluar mengambil sebuah koper kecil dan satu kotak yang terbungkus rapih dari dalam bagasi mobil.
“Elis bawa abi dan bibi masuk, Khafi masuk duluan ngantri check in. Ok?”
“Iya.”
Khafi berjalan cepat meninggalkan Elis, abi dan bibi Saodah.
Elis menuju pintu keberangkatan terminal E 2 kemudian menuju counter 5 lima dimana Khafi sedang mengantri.
“Syekh dan bibi duduk dulu, Elis akan temani Khafi check ini,” ujar Elis.
Abi mengangguk dan bibi Saodah mengambil kursi yang memang hanya tersisa untuk dua orang sambil menunggu Khafi selesai Check In.
“Tas bibi nggak masukin bagasi?” tanya Elis.
“Ini hanya beberapa cemilan nak, biar bibi yang bawa,” ujar Saodah.
“Ya sudah sini biar Elis yang bawakan,” Elis mengambil alih sebuah tas tenteng milik Saodah
Elis menuju ke arah Khafi yang saat itu sudah berada diantrian paling depan.
“Elis KTP kamu?”
Elis menyerahkan KTP miliknya ke tangan Khafi.
Usai check in mereka menuju ruang tunggu keberangkatan. Setelah boarding selama sepuluh menit mereka naik ke atas pesawat.
Berdesak desakan dan antri di dalam pesawat membuat badan Elis menempel tepat dibadan Khafi.
“Maaf,” ucap Elis pelan.
Khafi menatap wanita pendek dibelakangnya kemudian menggesernya kedepan Khafi, posisi yang membuat Elis sedikit leluasa. Desakan dari arah belakang terhalang oleh Khafi.
“Makasih,” ucap Elis yang dibalas dengan sebuah senyuman oleh pria tinggi di belakangnya.
“Bi, kursi no 15 AB.” ucap Elis pada Saodah yang berada didepannya.
Abi dan Saodah langsung duduk begitu tiba di deretan dikursi Nomor 15, artinya Elis dan Khafi harus menempati kursi 16 dibelakang mereka.
“Elis gak Enak ngerepotin Syekh, ia pasti capek,”ucap Elis pelan.
“Abi udah biasa Nur, jika jadwal ceramahnya padat, setiap hari abi akan terbang ke seluruh Indonesia.” ucap Khafi.
“Benarkah?” Ucapan Khafi sedikit membuatnya lega.
“Kamu nggak gugup?” tanya Elis.
“Apa naik pesawat bisa membuat orang gugup?” tanya Khafi.
“Maksud aku, sekarang kamu akan menemui papaku, kamu nggak gugup?” tanya Elis.
“Ya, tentu saja ada agak sedikit tegang. Apa papamu akan setuju atau tidak kita masih belum tau,”
“Ooo jadi karena itu?” ujar Elis.
“Jadi menurut kamu karena apa lagi?” balas Khafi.
Elis tersenyum kemudian melempar pandangannya ke arah luar jendela. Pesawat mulai bergerak pelan menuju landasan pacu. Artinya Elis dengan rumahnya semakin dekat saat ini.
Semoga papa bisa menerima Syekh dan bibi Saodah dengan baik. Semoga hari ini mood papa sangat baik. Tentu saja Elis akan sangat malu jika papa memperlakukan mereka tidak sopan. Sedangkan mereka memperlakukan Elis dengan sangat baik saat dipesantren.
Dalam benak Elis terus khawatir akan papanya yang tidak begitu suka dengan dirinya. Ia pun akhirnya tertidur lelap bersandar pada pundak Khafi. Perasaan hangat dan nyaman membuatnya tertidur pulas hingga pesawat hendak landing di bandar udara Kualanamu Medan.
*Next **🔜*
g ky khafi...
bkn nya g boleh y mengucapkan salam kpd non muslim 🙏
klo hanya dr pakaian kan,blm bs mnntukan seseorang itu muslim atau tidak🙏
pi bngung cz da yg menyangkut agama, dri awal dgreja trus da rang azan n dia nyebut allah, agama si cewek sbnernya apa?
saran j.. jka begronny brat y brat n pergaulan bbasny j jngn bwa2 agama🙏🙏🙏
saya baca sambil belajar logat batak lho kak😁😁