Novel ini merupakan kelanjutan cerita dari Novel Wanita Lucu Itu Istriku.
Marina merupakan gadis cantik, berambut ikal panjang, dan lemah lembut. Parasnya yang cantik membuat banyak kaum Adam menaruh hati padanya, tak terkecuali sahabatnya sendiri, yakni Daren. Pria blasteran Indo-Jerman itu sudah lama menyukai Marina. Namun, wanita itu tak peka terhadap cinta. Karena minimnya pengalaman dalam dunia percintaan.
Marina terkenal cukup pendiam, dia hanya bereaksi keras bila bertemu pria yang bernama Aljav. Pria itu selalu saja mengejeknya sebagai titisan body losion. Keduanya adalah anak dari dua pasang sahabat, yakni Alea dan Dina.
Sejak kecil hubungan mereka tak pernah akur. Namun, di tengah hubungan yang buruk itu, kedua orang tua Aljav justru menjodohkan Marina dan Aljav, meski tahu Marina sangat membenci pria tersebut. Sejujurnya ada alasan lain di balik perjodohan konyol itu. Apakah alasannya? dan bagaimanakah cara Aljav dan Marina mempertahankan rumah tangga mereka yang sering di warnai kesalahpahaman?
Saksikan kisahnya berikut ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suharni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode. 18. Pulang Ke Rumah.
Di dalam kamar, seorang wanita cantik, berambut panjang, bermata sipit, berhidung mancung, tengah menangis sesenggukan. Namun, anehnya dia tak tahu apa yang membuatnya menangis. Dia tak memiliki kekasih, tak juga calon kekasih. Dia hanya jomlo wati seperti salah satu pembaca disini.
Wanita itu menyeka ingusnya yang turun membentuk angka sebelas dari hidungnya yang mancung. Bahkan matanya semakin sipit akibat dari tangisan selama berjam-jam.
Dia menangis sesenggukan, merasa sakit hati pada pria yang sukses memporak-porandakan hatinya. Meruntuhkan kepercayaan dirinya. Meluluh lantakkan pertahanan jiwanya. Dia tergoda akan sentuhan hangat dari pria itu. Terlebih lagi, mulai ada rasa yang tumbuh di dalam sana tanpa permisi. Lalu dimana letak kesalahan wanita itu? padahal dia hanya jatuh cinta. Lalu apa salahnya dengan jatuh cinta? mengapa harus sesakit ini merasakan penolakan sebelum terjalin hubungan?
"Dasar bodoh, mengapa aku harus menerima ciuman tadi. Padahal aku sudah tahu dia tak pernah bisa menghargai aku. Hiks, hiks, hiks." Marina bermonolog, menyalahkan keputusannya tadi.
Marina, ya Marina. Gadis berusia 23 tahun itu tengah meratapi nasibnya yang tak beruntung dalam percintaan. Dia tak memiliki pengalaman sama sekali di bidang itu. Jika berbicara perihal cinta, maka nilainya nol. Sekarang dia mulai merasa cinta itu hadir dalam dirinya, tapi mengapa harus pada orang yang salah? mengapa rasa itu muncul ketika Marina merasa di permainkan? Aljav, ya Aljav. Pada pria itulah Marina merasakan cinta. Apakah cinta itu salah? jika memang tempatnya tak benar, lalu mengapa rasanya sesakit ini?
"Aku harus bisa membuang perasaanku padanya. Dia sudah pernah memperingatiku, bahwa jangan jatuh cinta padanya, atau aku akan patah hati." Marina tampak menguatkan dirinya untuk membuang jauh-jauh perasaannya pada Aljav. Perasaan yang baru muncul, pasti akan sukses jika tak di anggap. Maka semuanya akan baik-baik saja. Pikir Marina.
Puas menangis sesenggukan di sudut ruangan, Marina pun akhirnya tidur dan tak keluar kamar hingga pagi menjelang.
**
Keesokan paginya, semua tampak baik-baik saja. Tak ada yang spesial. Marina telah berhasil menata hatinya yang patah. Bahkan cintanya pun beku bagai gunung es yang ada di benua Antartika.
Marina menjadi pribadi yang pendiam. Jika ingin berbicara, dia akan mengatakan seperlunya saja. Meski Aljav memancing emosinya dengan sebutan titisan body losion, Marina tak perduli lagi. Sudah cukup baginya untuk melawan. Sekarang saatnya diam. Dengan begitu hatinya tak akan goyah lagi.
Aljav pun merasa heran akan sikap Marina yang tiba-tiba saja cuek dan diam. Bahkan di kantor pun keduanya terlihat seperti dua orang asing yang tak saling mengenal. Kendati kedekatan mereka tak ada yang tahu. Jika ada pekerjaan yang sengaja di bebankan kepada Marina, maka wanita itu mengerjakan sampai selesai tanpa mengeluh. Meski dia harus pulang larut malam.
Ciuman Aljav menggoyahkan iman wanita cantik tersebut. Kini dia membulatkan tekad untuk tak tergoda lagi. Sudah cukup baginya di permainkan selayaknya boneka. Setiap malam Marina selalu berharap, kedua orang tuanya segera pulang dari Belanda, agar dia bisa pulang ke rumahnya sendiri tanpa harus melihat wajah menyebalkan Aljav lagi.
"Ayo sarapan bersama," ajak Aljav yang sudah duduk di kursi makan sembari mengolesi roti dengan selai kacang. Sementara Marina baru saja keluar dari kamar.
"Terimakasih, aku sedang buru-buru," jawab Marina datar tanpa melihat wajah Aljav.
"Mengapa buru-buru? bukankah aku tak memberimu pekerjaan lebih?" sangsi Aljav.
"Aku memang tidak memiliki tugas darimu, tapi aku masih memiliki dosen yang setiap hari memberiku tugas kuliah. Bukankah aku hanya anak magang di kantormu? lagi pula aku sudah memiliki janji sama teman untuk sarapan bersama. Permisi," balas Marina. Untuk pertama kalinya semenjak ciuman itu terjadi, dia berbicara banyak pada Aljav.
Marina akhirnya pergi meninggalkan Aljav yang sejenak terpaku menatap punggung Marina yang sudah hilang dari balik pintu.
"Mengapa akhir-akhir ini dia berubah? apakah ciuman itu masih belum bisa di lupakan?" gumam Aljav sembari menaikan kedua bahunya.
**
Di kantor, Marina datang lebih cepat seperti biasa. Dia sarapan di gedung yang berlantai 59 itu. Sarapan bersama teman adalah alasan yang tepat di gunakan untuk mengelabui Aljav.
Sandwich dan susu putih, merupakan sarapan yang di pilih Marina untuk menutupi perutnya yang kosong. Dia menghabiskan tiga sandwich sekaligus tanpa sisa. Marina seperti tak makan selama berhari-hari.
"Alhamdulillah kenyang," gumam Marina sembari menyeka sisa susu yang ada di sudut bibirnya. Dia membersihkan meja kerjanya yang tadi terdapat bungkusan sandwich. Sementara gelas susu di cucinya dan di letakan di tempat semula.
Marina kembali mengerjakan tugasnya sebagai asisten editor untuk merevisi naskah buku yang akan di terbitkan. Masih terlalu pagi sebenarnya, hanya saja semangat wanita itu telah membuncah. Mungkin patah hati telah memacu semangat wanita berwajah cantik tersebut.
Pukul 08.00, seluruh karyawan telah datang tak terkecuali Daren. Pria berkacamata itu duduk di samping Marina yang tengah asik merevisi naskah.
"Apakah sepagi ini kamu sudah mengerjakan tugasmu?" tanya Daren datar sembari mengeluarkan beberapa laporan yang kemarin di bawahnya pulang dari balik tasnya.
"Aku lagi sibuk, buku ini harus segera terbit. Targetnya akhir pekan ini," balas Marina tanpa melihat wajah Daren. Dia fokus pada benda mati yang berukuran 14 inci.
"Baiklah, tapi bukankah masih terlalu pagi untuk ke kantor? jam berapa kamu ada disini?" tanya Daren penasaran. Ya, Daren merasa heran pada Marina yang pagi-pagi sekali sudah ada di kantor. Padahal biasanya wanita itu baru akan muncul pukul 0.9.00 pagi.
"Jam setengah tujuh," jawab Marina santai masih tak melihat wajah Daren.
"Apa? sepagi itu kamu sudah ke kantor? apakah kau yang memegang kunci perusahaan ini?" Daren tampak terkejut ketika mendengar jawaban Marina. Bagaimana bisa wanita itu datang ke kantor sepagi itu? bahkan dia masih tidur dan bermandikan air liur.
"Aku sibuk."
"Ayolah Marina, apakah kamu sudah sarapan? mengapa sepagi itu kamu ke kantor? apakah kamu ada masalah? ceritakan padaku," tanya Daren secara beruntun.
Merasa kesal di cerca dengan berbagai macam pertanyaan, Marina pun menghentikan aktivitasnya dan beralih melihat Daren.
"Daren, aku sudah sarapan dan aku baik-baik saja. Aku hanya ingin menyelesaikan tugasku dan cepat pulang. Itu saja, apa kamu paham?"
Tidak, Daren tak paham. Ada yang aneh dari sikap Marina yang tiba-tiba saja dingin. Namun, Daren tak bertanya lebih lanjut. Dia hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Marina.
Sementara karyawan yang lain melihat kedekatan mereka dengan berbagai macam tatapan. Ada yang menganggap keduanya berpacaran. Ada yang merasa tak suka, dan ada pula yang merasa cemburu. Terutama Jamila, si wanita bar-bar berlipstik merah maroon nan tebal. Wanita itu merasa tak suka pada Marina. Entah apa yang menggangu pikiran wanita berambut ikal tersebut. Dia cukup berani membenci Marina. Padahal wanita itu berkali-kali mendapat ancaman dari Daren agar tak menyakiti Marina lagi.
To be continued.
semangat selalu Thor 💪💪
di tunggu feedbacknya 🙏😊😘
salam dari "My Bos CEO" yuk semua kepoin kuy 🤗