Pada ulang tahun pernikahannya yang pertama, Hazel Frost menemukan suaminya, Mason Roux mencium wanita lain dengan kedua matanya. Dan yang lebih menghancurkan lagi, bahwa wanita itu adalah adik tiri suaminya, Jennifer.
Pernikahan yang seharusnya menjadi kebahagiaan pun perlahan berubah menjadi rahasia yang menyakitkan. Meski tahu hatinya tidak pernah benar-benar dimiliki, Hazel tetap bertahan. Ia mencoba membuat Mason melihatnya sebagai seorang istri, bukan sekadar wanita yang terpaksa harus dinikahi.
Namun semakin lama, Hazel mulai menyadari satu hal, bahwa tidak semua cinta bisa diperjuangkan sendirian. Lalu ketika ia akhirnya memilih berhenti dan pergi, Mason justru mulai menyadari perasaannya yang sebenarnya.
Tapi apakah semuanya sudah terlambat? Apakah Hazel masih bersedia kembali pada pria yang pernah menghancurkan hatinya? Atau justru Mason Roux yang akan menyesal seumur hidup karena kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18
Malam terasa jauh lebih sunyi setelah pintu kamar Mason tertutup di hadapanku.
Aku masih berdiri di lorong lantai dua rumah itu, dengan gaun pengantin yang belum sempat kulepas dan sepasang sepatu hak tinggi yang mulai membuat kakiku nyeri. Cahaya lampu gantung di atas kepalaku memantulkan bayangan panjang di lantai marmer yang mengkilap, sementara suara langkah kaki Mason sudah benar-benar menghilang di balik pintu kamarnya.
Untuk beberapa detik, aku tidak bergerak sama sekali. Seolah tubuhku masih berusaha memahami kenyataan yang baru saja terjadi. Aku resmi menjadi istrinya hari ini. Aku mengenakan cincin dengan nama belakangnya. Aku mengucapkan janji pernikahan di hadapan semua orang. Namun malam pertama kami justru dimulai dengan dua kamar yang terpisah.
Aku menarik napas pelan, lalu menunduk menatap cincin di jari manisku. Batu kecil di atasnya berkilau terkena cahaya lampu. Indah, mahal, dan tampak sempurna. Namun di saat yang bersamaan, entah bagaimana terasa begitu dingin.
Perlahan aku membuka pintu kamar yang sudah diperuntukkan Mason untukku. Ruangan itu luas dan elegan, dengan jendela besar yang menghadap taman belakang rumah. Tirai putih menjuntai panjang hingga menyentuh lantai, sementara lampu-lampu kecil di luar terlihat samar dari balik kaca.
Tempat tidur berukuran besar berada di tengah ruangan, sudah tertata rapi seolah menunggu seseorang untuk beristirahat di sana. Seseorang, bukan kami.
Aku melangkah masuk perlahan, lalu menutup pintu di belakangku. Dan saat suara pintu itu terdengar pelan, entah mengapa rasanya seperti sesuatu benar-benar terkunci di dalam dadaku.
Aku berjalan menuju meja rias dan berhenti di depan cermin. Pantulan seorang pengantin wanita menatap balik ke arahku. Rambut yang ditata sempurna. Makeup yang masih tampak rapi. Gaun putih yang tadi berjalan menuju altar. Semuanya terlihat seperti mimpi yang indah. Tapi mataku tidak terlihat seperti mata seorang wanita yang baru saja menikah dengan pria yang mencintainya.
Aku perlahan melepaskan anting yang menggantung di telingaku, meletakkannya di atas meja satu per satu. Setelah itu aku membuka kalung kecil di leherku, lalu membiarkan tubuhku terduduk pelan di kursi depan cermin.
Hari ini aku menikah dengan pria yang kucintai. Namun bahkan setelah semuanya selesai, aku tetap merasa seperti seseorang yang sedang mencoba masuk ke tempat yang bukan miliknya.
Aku menutup mata sebentar. “Mungkin… ini memang butuh waktu.”
Kalimat itu keluar begitu saja dari bibirku sendiri, lirih dan pelan. Seolah aku sedang mencoba menenangkan seseorang di dalam diriku yang mulai kelelahan. Beberapa menit kemudian aku akhirnya berdiri dan mulai melepaskan gaun pengantinku sendiri.
Tidak ada tangan yang membantu membuka resletingnya. Tidak ada seseorang yang berdiri di belakangku sambil menatapku dengan kagum. Tidak ada kecupan lembut. Tidak ada malam pertama seperti yang sering diceritakan orang-orang. Yang ada hanya aku, seorang diri, berdiri di tengah kamar besar yang terasa asing.
Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian, aku mencoba berbaring di atas tempat tidur. Namun mataku sama sekali tidak bisa terpejam. Rumah itu terlalu sunyi. Dan pikiranku terlalu penuh.
Aku membalik tubuh beberapa kali sebelum akhirnya menyerah dan duduk kembali. Jam di meja samping tempat tidur menunjukkan lewat tengah malam, tapi aku masih terjaga sepenuhnya. Aku menghela napas kecil lalu bangkit dari tempat tidur. Mungkin berjalan sebentar akan membuatku lebih tenang.
Aku membuka pintu kamar perlahan dan melangkah keluar ke lorong. Lampu-lampu rumah sudah diredupkan. Hanya beberapa lampu dinding yang masih menyala hangat di sepanjang koridor panjang itu.
Suasana rumah di malam hari terasa berbeda. Jauh lebih dingin, dan jauh lebih sepi. Langkah kakiku terdengar kecil di tengah rumah sebesar ini. Sesekali aku melewati lukisan-lukisan besar yang tergantung di dinding, rak buku tinggi, dan meja-meja marmer yang tertata sempurna.Semuanya tampak indah, namun tidak terasa hidup.
Aku berhenti saat melihat beberapa foto keluarga yang dipajang di salah satu sisi lorong. Tanganku terangkat perlahan mengambil sebuah bingkai kecil. Di sana ada Mason kecil bersama Sarah.
Usianya mungkin sekitar sepuluh tahun. Rambutnya sedikit lebih panjang daripada sekarang, dan wajahnya terlihat jauh lebih lembut. Sarah memeluk bahunya sambil tersenyum hangat ke arah kamera. Dan Mason tengah tersenyum. Senyum kecil, tapi tampak begitu nyata.
Aku terdiam cukup lama menatap foto itu. “Jadi, kau juga bisa tersenyum seperti ini.”
Entah mengapa, melihat foto sederhana itu membuat dadaku terasa aneh. Selama ini Mason selalu tampak dingin, sulit ditebak, dan menjaga jarak dari semua orang. Sampai terkadang aku lupa bahwa ia juga manusia biasa. Bahwa mungkin sebelum semua dinding itu terbentuk, ia pernah menjadi seseorang yang hangat.
Aku melanjutkan langkah perlahan, hingga menemukan lebih banyak foto. Foto Mason saat remaja bersama Rowan. Foto keluarga mereka saat menghadiri acara perusahaan. Dan beberapa foto bersama Jennifer.
Di hampir semua foto itu, Jennifer berdiri sangat dekat dengannya. Kadang menggandeng lengannya. Kadang tersenyum sambil menatapnya. Dan anehnya, ekspresi Mason selalu sedikit lebih ringan saat bersama Jennifer.
Aku menunduk pelan. Bukan karena cemburu, atau mungkin sedikit. Namun lebih dari itu, aku hanya sadar bahwa ada bagian hidup Mason yang tidak pernah bisa kusentuh.
Aku berjalan lagi hingga tiba di sebuah ruang kerja yang pintunya sedikit terbuka. Lampunya mati, tapi cahaya dari lorong cukup membuatku bisa melihat isi ruangan itu. Sebuah meja kerja besar laptop, tumpukan dokumen, dan rak buku yang tersusun rapi.
Aku pun masuk perlahan. Ruangan itu terasa sangat Mason. Tertata, tenang, dan melelahkan. Di atas meja terdapat beberapa file yang belum dirapikan dan secangkir kopi yang sudah dingin. Ada juga botol obat sakit kepala di dekat laptopnya.
Aku mengernyit kecil. Lalu mataku jatuh pada kalender kerja yang penuh dengan jadwal dan catatan kecil, seperti rapat, perjalanan bisnis, pertemuan dengan investor, juga presentasi. Nyaris tidak ada ruang kosong. Dan aku menatap semua itu dalam diam.
“Mungkin… selama ini ia hanya terlalu lelah.”
Pikiran itu muncul begitu saja. Mason selalu terlihat kuat dan terkendali di depan semua orang. Tapi sekarang, untuk pertama kalinya, aku melihat sedikit sisi lain dari hidupnya. Sisi yang tidak pernah ia tunjukkan.
Aku baru saja hendak keluar dari ruangan itu saat Mason tiba-tiba sudah berdiri di belakangku. Ia sudah melepas jas pengantinnya. Dasi hitamnya tampak longgar, sementara dua kancing teratas kemejanya terbuka. Rambutnya sedikit berantakan, dan wajahnya terlihat jauh lebih lelah daripada beberapa jam yang lalu. Namun kedua matanya masih fokus pada layar laptop di depannya.
Aku menatap Mason dengan perasaan gugup. Sementara tatapannya tampak sedikit terkejut melihatku masih terjaga dan berada di dalam ruang kerjanya.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya.
Aku menggenggam jemariku sendiri pelan. “Aku hanya tidak bisa tidur dan memutuskan mencari angin segar...hingga akhirnya berakhir di sini. Kau sendiri belum tidur?”
Ia menatapku beberapa detik sebelum akhirnya berkata singkat, “Masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan.” ucapnya, lalu duduk di depan layar laptopnya yang menyala, mengetik sesuatu.
Aku mengangguk kecil lalu terdiam karena canggung. Hanya suara pendingin ruangan dan bunyi pelan ketikan keyboardnya yang terdengar samar.
“Aku melihat beberapa foto keluargamu tadi,” kataku pelan, mencoba membuka percakapan.
Mason berhenti mengetik sebentar. “Hm.”
“Ada foto masa kecilmu bersama Sarah.” kataku. Dan aku tersenyum kecil tanpa sadar. “Kau terlihat sangat dekat dengannya.”
Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresi Mason berubah sedikit. Tidak banyak, hanya sedikit lebih lembut.
“Ya. Sarah memang begitu penyayang,” katanya pelan.
Kalimat itu sederhana. Namun cara ia mengucapkannya terasa berbeda dari biasanya. Lebih hangat dan lebih hidup.
Aku menatapnya diam-diam. Dan entah mengapa, saat itu aku merasa sedikit lega. Karena ternyata di balik semua dinginnya, Mason masih punya sesuatu yang begitu ia lindungi di dalam dirinya. Ia bukan pria tanpa perasaan. Ia hanya terlalu pandai menyembunyikannya.
Aku menunduk pelan sebelum kembali berkata, “Sarah sangat menyayangimu.”
Mason tidak langsung menjawab. Beberapa detik kemudian ia kembali mengetik pelan sambil berkata lirih, “Aku tahu.”
Dan anehnya, dua kata itu terdengar begitu berat.
Aku berdiri di sana beberapa saat lagi sebelum akhirnya tersadar bahwa aku mungkin mengganggunya.
“Kurasa, aku sebaiknya pergi. Kau harus melanjutkan pekerjaanmu,” kataku pelan.
Mason mengangkat pandangan lagi. “Ya. Sebaiknya kau istirahat.”
Bukan nada lembut seorang suami. Namun juga bukan penolakan dingin seperti sebelumnya.
Aku mengangguk kecil. “Selamat malam, Mason.”
“Selamat malam.”
Aku pun keluar dari ruang kerja itu perlahan. Dan lagi-lagi berjalan kembali ke kamarku seorang diri. Namun kali ini perasaanku tidak sepenuhnya sama seperti sebelumnya. Masih ada jarak besar di antara kami. Masih ada tembok yang belum bisa kusentuh. Tapi malam ini, aku melihat sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih manusiawi daripada dinginnya.
Aku berdiri di depan jendela kamar sambil memandangi cahaya ruang kerja Mason yang masih menyala dari kejauhan.
“Kau masih terasa sangat jauh,” bisikku pelan.
“Tapi malam ini…”
Aku menggenggam cincin di jari manisku perlahan. “…aku mulai melihat lelahmu.”