18+
Namanya Somalia Wardana, orang sering memanggilnya Somi. Tak sedikit orang mencibir namanya karena dinilai sama dengan salah satu negara miskin di dunia. Namun, ia tak kecewa, karena nama itu adalah nama pemberian Alm papanya saat bertugas di negara tersebut. Papanya hanya pulang membawa nama dan nama tersebut ialah satu-satunya pemberian untuk Somalia, Oleh karena, itu ia sangat menghargai nama pemberian mendiang papanya.
Pekerjaannya? Somi sibuk mengurusi pernikahan kliennya. Sebagai WO, Somi dituntut untuk profesional dalam menangani pernikahan para kliennya. Somi sibuk mengurusi pernikahan orang dari pada pernikahannya kelak.
Area terlarang!!! teruntuk penikmat halu belaka 😋 Siapkan hati kalian karena itu poin utamanya.
Mau tahu kisahnya bukan?
Nggak ada salahnya mampir dan menjadikan novel ini bacaan favorit kalian 🙏
Maaf novel ini slow up ya manteman. Juru ketik sedang banyak kreditan panci 😁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dheselsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18
"Sebentar lagi kekasihmu akan menjemputmu! bersiap-siap lah sayang!" ujar sang mama pada Somalia. Ingin sekali wanita cantik itu menolak permintaan mamanya, namun ia takut akan menyakiti hati wanita yang telah melahirkannya tersebut. Somi tak ingin dicap sebagai anak durhaka yang tak mau mengikut kata-kata orang tuanya.
Belum sempat Somalia menjawab kata-kata mamanya dalam sambungan telepon, Mama Amy sudah memutuskan sambungan telepon tersebut. Ia sangat tahu bagaimana watak sang putri, pasti Somi akan bersusah payah menolak permintaannya. Hingga detik ini, Amy dan Linda masih belum yakin atas pernyataan dari kedua anaknya.
Tepat pukul lima sore, seorang pria berwibawa terlihat menunggu seseorang di sebelah mobilnya. Pria tersebut mendapat mandat dari mama sang kekasih agar menjemput wanita yang ia puja. Sesekali ia melirik ke arah jam tangan yang melingkar erat di pergelangan tangannya. Kalau bukan karena perintah mamanya Somi, pasti Gandhi tak akan sudi melakukan hal yang paling ia benci seumur hidupnya. Yakni menunggumu.
Dari jauh Gandhi melihat wanita yang menjadi tujuannya sore ini. Wajah wanita itu terlihat berseri-seri, cukup menawan untuk ukuran wanita yang hampir memasuki umur 30 tahun.
Meski hanya dengan riasan tipis, namun itu mampu membangkitkan aura cantik dari diri Somalia. Sikap baik dan bersahaja lah yang membuat inerbeauty nya makin bersinar.
"Pasti mamaku telah menyusahkan mu!"
"Aku tak merasa direpotkan kok Sayang," sahut Gandhi tanpa pikir panjang. Entah mengapa ia tak keberatan ketika Amy memintanya untuk menjemput sang putri kesayangannya. Gandhi melakukan itu dengan tulus tanpa paksaan.
"Oya, aku lupa! mamamu menitipkan sesuatu untukmu," Gandhi mengajak Somi untuk memeriksa bagasi mobilnya. Sesuai permintaan sang calon mertua, Gandhi harus memberikan benda tersebut pada Somi.
Kedua manik indah wanita tersebut membuat sempurna, betapa tidak Somi terperangah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dalam bagasi mobil kekasihnya tergeletak sebuah tas koper berwarna merah yang sangat ia kenal. Apa lagi kalau bukan tas miliknya.
"Jadi mamaku mengusir aku dari rumah?" Somi menahan emosinya agar tak meluap-luap di depan Gandhi. Bagaimana bisa sang mama yang selama ini mengurusi dan mengasuhnya tega menyuruh ia keluar dari rumah mereka.
Segera saja Somi menghubungi sang mama, namun bukanya mendapatkan jawaban yang ia inginkan. Mamanya malah menambahi masalah baru baginya. Yakni menyuruh Somi untuk tinggal di rumah calon menantu kesayangannya.
"Aku tak percaya kalau mama itu mama kandung Somi!" gerutunya sebelum wanita cantik itu mematikan teleponnya dengan kesal.
Somi terpaksa mengikuti kemauan sang mama agar pulang bersama Gandhi. Keduanya kini berada dalam satu mobil. Gandhi akan membawa sang calon istri ke rumahnya untuk pertama kalinya.
"Kamu bisa menurunkan aku di hotel terdekat!" pinta Somi, ia tak ingin merepotkan Gandhi dan juga tak mau tinggal satu atap bersama lelaki menyebalkan itu. Bagaimana jadinya bila kedua orang keras kepala seperti dirinya akan tinggal bersama Gandhi?
"Husssh ... diam lah!" Gandhi menarik tangan Somi agar wanita cantik itu berada dalam dekapannya. Lalu Gandhi membisikan sesuatu tepat di telinga Somi.
Gandhi memang mencurigai ada orang yang membuntuti dirinya sejak ia menjemput sang kekasih. Bahkan ketika berhenti di lampu merah seperti saat ini. Pengemudi mobil yang Gandhi curigai mengintai mereka membuka sedikit kaca mobilnya. Lelaki tersebut mengambil gambar ketika sepasang kekasih imitasi tersebut sedang bermesraan.
Somi semakin membenamkan kepalanya dalam dekapan lelaki yang saat ini bersamanya. Ia tak menyangka bila kedua wanita yang ia panggil mama tega melakukan hal seperti ini pada mereka.
"Aku rasa mereka memata-matai kita Tuan!"
"Bisakah kau jangan memanggilku seperti itu? Aku ini kekasihmu. Meski itu hanya status saja," tegur Gandhi padanya. Mungkin Gandhi merasa risih saat Somi berulang kali bersikap layaknya orang lain saja.
"Aku hanya ingin menghormati Anda, aku juga menjaga perasaan kekasih Anda, tak lebih!"Melihat kedekatan antara Gandhi bersama wanita yang menyalaminya ketika keluar dari persidangan, Somi berpikir hubungan keduanya pasti sudah terjalin lama dan saling mengisi satu sama lain.
"Jangan bercanda Sayang! kekasih dari mana? Aku sudah mengatakan sebelumnya padamu bahwa aku tak memiliki pacar ataupun kekasih seperti yang kau pikirkan!" Gandhi menjelaskan pada Somi perihal statusnya. Ia tak ingin wanita itu berpikiran macam-macam padanya.
Tapi, mengapa aku repot-repot menjelaskan ini semua padanya? Apa untungnya bagiku? Gandhi bermonolog dalam hatinya. Pikirannya kini kemana-mana. Mengenai apa yang akan ia dan Somi lakukan saat nanti mereka tinggal bersama. Betapa kikuknya mereka nanti.
"Masih ingin tinggal di hotel?" tegur Gandhi melonggarkan dekapannya karena kini lampu pada rambu lalulintas menyala hijau. Pria itu ingin berkonsentrasi dalam mengemudi.
"Mau bagaimana lagi? Mereka akan selalu mengikuti kita. Mau tak mau aku harus manut pada mereka untuk tinggal bersama di rumahmu," jawab Somi dengan kecewa. Wanita itu nampak sedikit menyesal atas keputusan yang telah ia ambil.
"Jangan khawatir, aku akan menjaga batasan ku!" Ucap Gandhi yang ingin menenangkan hati Somi.
"Aku tahu ini dadakan, di rumahmu pasti tak ada barang yang ku perlukan. Bisakah kita mampir membeli beberapa barang yang aku butuhkan Sayang?" Somi memberanikan diri memanggil Gandhi dengan sebutan mesra untuk pertama kalinya tanpa ada orang lain di samping mereka.
"Kau memanggilku apa? Coba ulangi sekali lagi!" Gandhi terlihat bersemangat untuk menggoda wanita yang kini memberanikan diri padanya.
"Sayang? Apa ada yang salah? Bukankah kamu sendiri yang melarang ku memanggilmu Tuan?" Dengan jawaban polosnya Somi menjawab sanggahan dari Gandhi. Ia masih tak mengerti mengapa Gandhi membuatnya pusing dengan panggilan yang menurutnya tak penting.
"Ada atau tak ada orang lain, tetap panggil aku dengan panggilan itu!" Senyum indah mengambang dari bibir sang pengacara kompeten itu. Panggilan dari Somi barusan mampu membangkitkan perasaan kesalnya sejak Somi meninggalkan pengadilan dengan pria lain.
Tanpa ia tahu ternyata lelaki yang menjemput Somi adalah sopir perusahaannya. Mendengar penjelasan dari Somi ini pulalah yang membuat Gandhi seakan tenggelam dalam jalinan kasih yang entah apa ia menyebutnya. Jalinan yang semakin dalam dan semakin erat membelenggunya.
Saat ini yang Gandhi inginkan adalah membuat kedua orangtuanya tak lagi membuat kencan buta dengan selalu menjodohkan dirinya. Meski cara yang ia tempuh memang beresiko tinggi. Resiko terberatnya adalah ia mungkin tak akan mampu menahan gejolak rasa yang semakin hari kian menggelora. Yakni perasaan ingin selalu bersama wanita yang saat ini berada dalam mobilnya. Perasaan yang ingin memiliki seutuhnya meski ia tahu Somi masih tak mungkin membuka hati untuknya.
pas ketemu sama judul ini baca sinopsisnya dan ada tulisan #tamat serta episodenya yang gak panjang langsung tertarik...
tapi ternyata... judul ini belum tamat, bahkan dari komentarnya ditulis lebih dari setahun yang lalu yaitu bulan 2 tahun 2022, apa judul ini gak dilanjutkan lagi?
kecewa sih, karena udah terlanjur baca dan sebenarnya ceritanya bagus juga, sayang mandek di tengah jalan
penasaran gimana mereka berkhianat di belakang Somi