NovelToon NovelToon
ELDISKA

ELDISKA

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Romansa-Percintaan bebas / Keluarga & Kasih Sayang / Karir / Persahabatan / Tamat
Popularitas:259.9k
Nilai: 4.8
Nama Author: Shann29

"Sekarang topinya dulu, besok hatinya." Ucap El pada Diska.

AWAS SENYUM SENYUM SENDIRI DAN JADI BAPER!!

Cerita cinta ditahun 90'an.
Yg kangen cerita 90an silahkan merapat dan mengenang bersama masa-masa cinta monyet dan cinta pertama.

Diska Adalah Seorang Remaja Yang Ceria, senang membaca buku dan hobi membeli banyak buku dan Pandai membuat puisi Sementara Eldirga atau yang biasa dipanggil El Seorang Pria Cool dan Galak yang mempunyai hobi bermain gitar dan menciptakan lagu.
Diam Diam Mereka Saling Jatuh Cinta Namun Saling Gengsi.

Bagaimana Kelanjutannya? Simak Terus Kelanjutannya Ya.
Mohon Kritik dan Saran Yang Membangun Untuk Penulis Agar Lebih Berkreatif.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shann29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BERTEMU EL KEMBALI

Pulang sekolah, Diska langsung berangkat ke tempat bimbelnya. Ia naik angkot seperti biasa, duduk di dekat jendela sambil memandangi jalanan sore yang ramai. Saat lampu merah menyala, matanya menangkap sosok seseorang di pinggir jalan—seorang laki-laki dengan gitar di tangannya.

Sosok itu mirip El.

Namun Diska tak yakin.

“El… ngamen?” batinnya pelan, matanya tak lepas dari bayangan itu hingga angkot kembali melaju.

Selesai bimbel, rasa penasaran itu tak juga hilang. Diska akhirnya menelpon Ryan.

“Halo, Dis?” suara Ryan terdengar di seberang.

“Lo di mana? Gue mau ketemu.”

“Di rumah. Kapan?”

“Bisa sekarang?”

“Bisa. Lo di mana? Gue samperin.”

“Di kafe Venus.”

“Oke, gue ke sana sekarang.”

Diska menunggu di meja pojok, memesan milkshake cokelat untuk dirinya dan iced coffee latte untuk Ryan. Tak lama, Ryan datang.

“Yan, di sini,” panggil Diska sambil melambaikan tangan.

Ryan menghampiri, duduk di depannya.

“Lo apa kabar?” tanya Ryan ringan sambil menarik kursi.

Diska tak ingin bertele-tele. “El ngamen?” tanyanya langsung, tatapannya tajam.

Ryan menatap Diska, terdiam sejenak.

“Jawab, Yan.”

“Lo tahu dari mana?” tanya Ryan balik.

“Gue lihat dia di lampu merah,” jawab Diska datar.

Ryan menarik napas panjang, lalu menunduk.

“Jadi bener, Yan?” suara Diska mulai bergetar.

“Hidup El berantakan sejak kejadian waktu itu,” jawab Ryan akhirnya.

Diska menatap kosong. “Kenapa lo gak bilang gue?”

“Gue kira lo udah gak peduli sama dia, Dis.”

Diska menunduk, menarik napas pelan.

“Bahkan sampai sekarang… arah hati gue masih ke El, Yan,” katanya lirih.

Ryan menatapnya tak percaya. “Lo masih nunggu dia?”

“Gue selalu sayang El.”

Ryan menghela napas berat. “Dis… gue kira lo udah lupa dia.”

“Gue cuma menghindar. Tapi makin gue menghindar, makin gak bisa lepas dari El,” jawabnya jujur.

“Hati lo masih bertahan sama dia?” tanya Ryan lagi.

“Hati gue selalu ada El. Bukan karena udah terlalu lama, tapi karena rasa sayang gue ke dia… masih sama kayak dulu.”

Ryan bersandar di kursinya, menatap meja kosong di antara mereka.

“El hancur, Dis,” katanya pelan.

Diska mengangkat wajahnya.

“Setelah masalah sama lo, dia gak pernah lagi berhubungan sama cewek. Salah pergaulan, ikut tawuran… sampai akhirnya dikeluarin dari sekolah.”

“Dikeluarin?” suara Diska melemah.

“Iya. Drop out.”

Diska terdiam cukup lama. “Gue berpisah sama El, tapi belum benar-benar berpisah,” katanya pelan.

“Masih bisa diperbaiki, Dis,” kata Ryan, berusaha menenangkan.

Ryan menatapnya lama sebelum bertanya, “Lo gak lagi deket sama cowok lain kan, Dis?”

“Enggak, Yan. Mana bisa gue terima cowok lain kalau hati gue masih ada El.”

“El gak salah, Dis,” ucap Ryan tiba-tiba.

“Maksud lo?”

“El deketin Novi karena dia tahu Novi mau manfaatin gue buat bikin cemburu cowoknya. El tahu itu, jadi dia deketin Novi supaya Novi gak ganggu gue.”

Diska menatap Ryan tak percaya. “Kenapa lo gak bilang?”

“Gue juga baru tahu. Dan gue kira lo lagi deket sama cowok lain makanya gue diem.”

“Cowok mana? Gue gak deket sama siapa-siapa. Ada sih yang deket, tapi selalu gue tolak.”

“Yang suka nganter lo pulang?”

“Itu Fahmi atau Soni. Sahabat gue dari kelas satu, kayak lo, Yan.”

Ryan menghela napas panjang. “Kenapa bisa serumit ini, Dis…”

“El gimana sekarang?” tanya Diska.

“Orang suruhan ayahnya sering datang mau jemput dia, tapi El gak pernah mau. Katanya dia mau jagain kakeknya.”

Diska tersenyum kecil. “Pacar gue baik ya, Yan.”

Ryan ikut tersenyum tipis. “El masih pacar lo, Dis.”

“Gue mau ketemu El, bisa?”

“Kapan?”

“Minggu. Ajak El ke stadion, tapi jangan bilang gue mau ketemu.”

Ryan mengangguk. “Oke, nanti gue kabarin.”

Mereka pun beranjak pulang. Ryan mengantar Diska sampai rumah.

“Ih, Ryan, udah lama gak main ke sini,” sapa ibu Diska hangat.

“Iya, Bu. Sekalian nganter Diska pulang,” jawab Ryan sambil mencium tangan ibunya.

“Istirahat dulu, masuk yuk.”

“Enggak usah, Bu. Udah sore.”

“Hati-hati di jalan ya. Makasih udah nganter Diska,” ucap ibu tersenyum.

Diska mengantar Ryan sampai pagar.

“Minggu jangan lupa, ya. Ajak El,” katanya mengingatkan.

“Iya, Dis. Gue cabut dulu.”

Malamnya, di kamar, Diska duduk di meja belajar sambil menatap foto dirinya dan El waktu SMP. Senyum kecil terbit di bibirnya, tapi matanya sendu.

Jumat pagi. Saat sarapan, ponsel Diska berdering—Ryan.

“Ayah, Ibu, bentar ya, Diska angkat telepon dulu,” katanya sopan.

“Iya,” jawab ayahnya.

“Halo, Yan?”

“Dis… kakek El meninggal.”

Diska terdiam. “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.”

“El butuh lo, Dis. Lo bisa ke sini?”

“Nanti gue kabarin, Yan.”

Telepon ditutup perlahan.

“Siapa yang meninggal?” tanya ayahnya lembut.

“Kakeknya El…” jawab Diska pelan.

Ayah dan ibu saling berpandangan.

“Diska mau ke sana?” tanya ibu.

“Diska mau sekolah aja, Bu.”

Ibu mengusap punggung putrinya lembut. “El butuh kamu, Nak.”

Ayah menimpali, “Biar Ayah yang nganter, ya.”

Diska menunduk, hatinya berat. “Setelah ini El gimana, Bu?” bisiknya mengkhawatirkan El.

Ayah mengantar Diska ke rumah El.

“Diska bisa sendiri?” tanya ayah.

“Bisa, Yah.” Diska mencium tangan ayahnya sebelum turun.

Di ujung jalan, Airin, Bima, dan Rizki sudah menunggu.

“Lo siap ketemu El?” tanya Airin.

“Siap,” jawab Diska pelan.

Ryan muncul dari arah berlawanan. “Gue kira lo gak datang, Dis.”

“El di mana?”

“Di rumah gue. Gak ada orang di sana, lo bisa ngobrol tenang.”

Diska berjalan pelan, dadanya berdebar. Setiap langkah terasa berat, tapi hatinya memaksa untuk terus maju.

Sesampainya di rumah Ryan, El sedang duduk di ruang tamu, kepala tertunduk, kedua tangannya menutupi wajah.

“El,” panggil Ryan lembut.

“Ada yang mau ketemu lo.”

El menoleh. Saat melihat Diska berdiri di ambang pintu, matanya langsung membesar. Ia berdiri tergesa, napasnya memburu.

“Diska…” suaranya serak.

Diska mendekat, menatap wajah lelah itu, lalu mengusap pipi El dengan lembut. “Lo kurusan, El.”

El menatapnya, nyaris tak percaya. “Lo… di sini?”

“Gue di sini, El. Buat lo.”

El langsung memeluknya erat. Air mata tumpah. Diska membalas pelukannya, menepuk punggungnya pelan.

Ryan dan teman-teman mereka menatap haru. Setelah sekian lama, dua orang itu akhirnya bertemu lagi.

Hari itu, Diska mendampingi El sampai pemakaman selesai. Saat semua orang mulai pergi, El menyodorkan kotak nasi.

“Dis, makan dulu ya.”

“Makan bareng aja, El,” kata Diska tersenyum kecil dan El ikut tersenyum.

Airin menggeleng sambil menatap mereka. “Kalian tuh… rumit.”

“Rumit kenapa?” tanya El.

“Setahun lebih gak ketemu, eh sekalinya ketemu, manis banget,” sahut Airin.

Rizki menimpali, “Sirik ya, Rin?”

Ryan tertawa. “Makanya kalian berantem dulu kayak El dan Diska. Ntar ujungnya romantis.”

“Jangan, Rin sama Bima jangan kayak kita,” potong Diska.

“Kenapa?”

“Karena nahan rindu itu sakit,” jawab Diska pelan.

El menatapnya, lalu menggenggam tangannya. “Dis… maaf.”

“Gue juga minta maaf, El, karena udah salah paham,” jawab Diska.

“Kalian butuh waktu berdua?” tanya Ryan.

“Enggak usah. Kalau gue cerita juga kalian ujungnya bakal tahu semua,” jawab Diska dengan tawa kecil.

Ryan tertawa. “Dulu saling suka tapi gengsi. Sekarang saling rindu, gengsi juga.”

Yang lain ikut tertawa.

Saat matahari mulai turun, El menatap Diska. “Gue anter lo pulang, ya?”

“Iya.”

Mereka berjalan di trotoar panjang, bergandengan tangan.

“Jauh gak capek?” tanya El.

“Belum,” jawab Diska sambil tersenyum. “Tangan gue udah setahun lebih gak lo gandeng.”

El menatapnya lama. “Gue janji gak akan lepas lagi tangan lo, Dis.”

“Lo jangan ngamen lagi, ya,” kata Diska tiba-tiba.

“Gue sedih liat lo di lampu merah. Gue kira lo udah baik-baik aja.”

El terdiam. “Kapan lo liat gue?”

Diska tersenyum, tak menjawab.

“Janji ya, El.”

“Iya, Dis,” jawab El pelan.

Langit sore mengiringi langkah mereka yang kembali berdampingan—dua hati yang pernah hancur, kini mencoba pulih bersama.

1
Yus Warkop
terimakasih author ceritanya bagus lanjut baca cerita erlan , rehat sbulan nunggu ,puasa dulu
Yus Warkop
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Yus Warkop
alhamdulillah 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Yus Warkop
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Yus Warkop
EL junior bakalan cepet nongol dech
Yus Warkop
waaw 4 kali
Yus Warkop
ooh jodoh ryan udah nongol naya kayanya
Yus Warkop
jodohin sama mira thor ryan biar seru
Yus Warkop
🥰🥰🥰🥰
Yus Warkop
udah mau nikah elu gwe nya ganti yah dengan yg lebih romantis
Yus Warkop
🥰🥰🥰🥰🥰😂😂🥰😂
Yus Warkop
betapa menenangkan perkataan ibu 🥰🥰🥰
Yus Warkop
aah si El
Yus Warkop
rasain tuh el
Yus Warkop
masih ginta monyet yah seusia gitu
Yus Warkop
sweet sweet
Yus Warkop
aku bacanya sambil mesem" aja ngingetin diri sendiri
Yus Warkop
ya kasih perhatian Dhisa samaEL yah kasian dan maklummin kslo dikit" galak nanti juga gak deh
Yus Warkop
thn 90 aku belum ngenal hp , yg ada tlpn rumah sama tlpn koin tapi itu fi kampung gak tahu kali di ibukota yah haha
Yus Warkop
seneng juga baca kisah smp haha thn 90 han aku udah tamat sma deh 🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!