Sebuah kisah tentang seorang anak yang sejak lahir sudah merenggut banyak nyawa. Kisah tersebut dijulukki dengan sebutan Malam Berdarah kota Ling.
Bagaimanakah cara anak tersebut mencari teman yang akan selalu menemaninya sehidup srmati?
Penasaran dengan kisah ceritanya?, Mari ikuti dengan membaca bersama!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gerry Napukki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Chen si Misterius
Dua kekuatan beranah Jendral tingkat awal saling bertubrukan. Menimbulkan suara dengungan keras. Palu besar sedan berbenturan dengan belati kecil. Walaupun memiliki ukuran berbeda, namun kedua senjata tersebut memiliki ketahanan yang sama.
Sosok misterius dan Tuan Muda Wang saling melompat mundur. "Tidak kusangka bahwa kekuatanmu sama dengan kekuatanku. Padahal jika dilihat tubuhmu seperti tak pernah dilihat. Jika boleh tahu siapa namamu?", ujar Tuan Muda Wang. Sosok di depannya memang misterius karena dari awal hingga akhir selalu memakai topeng hitam dengan jlaret putih dari dahi kiri sampai mulut bagian kanan.
"Hmm, sebenarnya aku tak ingin memberitahu identitasku. Namun karena menghormati pihak asosiasi akan kuberitahu. Namaku adalah Chen", mendengar nama tersebut membuat tuan muda wang mengangkat salah satu alisnya, menandakan dia tak tahu nama tersebut.
Tak ambil pusing ia kembali berkata,"Baiklah, mohon bimbingannya Chen. Ayo gunakan semua kekuatanku untuk melawanku. Berikan pertarungan yang menarik", ucapnya. Chen hanya mengangguk lalu dengan gerakan cepat ia kembali menerjang maju.
Wang sudah siap dengan palu besarnya. Ketika Chen sudah berada di depannya dengan gerakan cepat Wang mengayunkan palunya. Bentrokan kembali terjadi.
Booomm!!
Tidak seperti tadi, kali ini Wang mundur dua langkah. Chen sendiri sudah menghilang dari hadapannya. Memasang sikap waspada, Wang menatap sekelilingnya dengan serius.
Tiba-tiba ia merasakan punggung nya begitu dingin. Wang langsung menunduk mengikuti instingnya.
Whuss!
Belati Chen mengenai udara kosong, melihat Wang masih dalam posisi tidak menguntungkan. Chen menendang ke arah pinggangnya.
Bukh!
Wang terkena tendangan Chen, membuatnya terpental. Namun Wang tetap bisa mengendalikan dirinya dan mendarat dengan santai.
"Hahaha, kau memang sesuatu Chen. Kalau begitu aku akan serius kali ini", bukannya merasa sakit, Wang justru tertawa girang. Seolah menemukan lawan yang pas untuk dirinya.
Sedangkan di bangku penonton, nona Fu berkata. "Dasar laki-laki", Tuan Muda Liyang mendengarnya hanya menggelengkan kepala.
Mereka bertiga sebenarnya adalah teman, namun karena memiliki bakatnya sendiri membuat ketiganya terpisah dalam memilih sekte.
Teknik Pertama : Hantaman Palu Naga
Wang melaju dengan cepat sembari menggumamkan jurusnya. Chen yang merasakan krisis mencoba menghindar. Namun instingnya memberitahu bahwa akan lebih berbahaya jika ia menghindari serangan tersebut. Karena tak sempat, Chen mengeluarkan jurus pertahanannya.
Teknik Ketiga : Tembok Angin
Di sekeliling Chen, angin mulai menyatu menjadi satu dan memadat menghasilkan pelindung tipis.
Booomm!!!
Benturan terjadi dan keduanya saling mundur karena efek bentrokan. Bisa di lihat bahwa Wang lebih unggul dalam hal kekuatan.
Whoaaa!!
"Hajar dia Tuan Muda Wang!"
"Kalahkan dia jagoanku!"
Teriakan demi teriakan terus terdengar menyemangati Wang. Namun Wang sendiri memasang wajah serius.
Dari arah Chen terdengar suara. "Teknik Kedua : Bayang Angin".
Chen menghilang dari tempatnya, dan.
Bammm!!
Wang tiba-tiba saja terpental tak tahu apa yang membuatnya termundur hingga 2 meter.
"Kau membuatku marah Tuan Muda Wang, coba lihat apakah kau bisa bertahan dengan teknikku ini", suara yang tak tahu asalnya terdengar di telinga Wang. Ia memasang sikap waspada namun wajahnya menyeringai.
Teknik Keempat \= Tubuh Berlian
Tubuh Wang bersinar dan bisa dilihat bahwa otot-ototnya mengencang. Kulitnya pun mengeras dan kencang.
Ting!
Ting!
Ting!
Benturan terus terdengar, Wang sendiri yang memiliki kecepatan rata-rata hanya dapat bertahan. Ia tak bisa melihat arah serangan musuh.
Lima belas menit kemudian terlihat bahwa Wang telah kewalahan dan tekniknya melemah. Chen sendiri pun sudah terlihat. Ia menyeringai melihat Wang yang sudah bersimbah darah.
"Mari kita akhiri Tuan Muda Wang", ucap Chen.
"Hmm!", Wang kemudian menyiapkan teknik terbaiknya. Begitu juga dengan Chen.
Teknik Kedua : Amarah Palu Naga
Teknik Pertama : Sapuan Badai Angin
Dari arah Chen, sebuah tornado muncul mengarah kepada Wang yang saat ini sedang melaju ke arah tornado. Setelah jarak dengan tornado tinggal 2 meter, Wang melepaskan tekniknya. Dimana sebuah palu besar muncul dan melaju ke arah tornado.
Boommm!!
Debu berterbangan membuat pandangan menjadi buram. Dari arah arena terlihat sebuah bayangan keluar dari debu dan.
Boommm!!
Suara benturan terdengar. Itu adalah Wang yang sudah tak sadarkan diri ketika menabrak dinding. Di atas arena, Chen juga tak dalam kondisi baik karena tubuhnya lumayan parah. Topeng yang ia kenakan juga sedikit retak hingga akhirnya.
Pyar!
Topengnya pecah memperlihatkan wajah tampan dari si pemilik. Para peserta kaget bukan main. Namun setelah itu terdengar suara dari Jhoyu sang Wasit.
"Pemenangnya adalah Chen!"
Whoaaa!
"Hidup Chen!"
"Aku Mencintaimu Chen!"
Teriakan para wanita terus terdengar hingga membuat para lelaki menjadi iri. Tetua dari Sekte Palu Besi sendiri sudah berada disamping Wang. Ia tidak marah dengan kekalahan muridnya. Wang sudah dibantu oleh medis yang bekerja.
Arena kembali menjadi tenang dan saat yang ditunggu-tunggu pun datang. Dimana Jenius dari Sekte Pedang Langit akan bertarung dengan Jenius dari Sekte Bunga Lotus.
Chen dan Wang sudah berada dalam banker kesehatan untuk menerima perawatan lebih lanjut. Sedangkan di atas arena telah terjadi perbincangan kecil.
"Aku tak akan menahan diri Fu, jadi jangan marah jika kau nanti kalah".
"Hmmp!, apa kau yakin bisa mengalahkanku Li sialan? mari kita tunjukkan saat ini juga", ucap Nona Fu. Li dari Sekte Pedang Langit tersenyum penuh kehangatan. Membuat para penonton wanita histeris.
"Hentikan senyumanmu Li sialan, jangan menebar pesona!", jengkel Nona Fu.
"Hahaha, apakah kau cemburu?".
Tak ingin menunggu lagi Jhoyu pun memulai pertandingan. "Apa kalian siap?". Keduanya menghentikan pembicaraan dan memasang ekspresi serius. Lalu keduanya menganggukkan kepala.
"Mulai!"
Keduanya memainkan teknik berpedang yang sangat indah dan menawan. Membuat para penonton sangat kagum. Bahkan para kaisar pun juga sangat antusias dalam melihatnya.
"Sungguh permainan pedang yang sangat hebat dan anggun. Satu sisi dengan permainan yang mendominasi dan satunya lagi dengan permainan yang sangat anggun. Sungguh beruntung bagi sekte yang mendapatkannya", ucap Raja Hong.
Pertarungan keduanya terus terjadi, bentrokan demi bentrokan terdengar memekakkan telinga. Pertarungan selama 20 menit tersebut akhirnya mencapai puncak.
Terlihat keduanya sangat berimbang dalam segala hal. Tuan Muda Li memasang senyum bahagia karena berhasil melawan musuhnya dengan imbang. Memang agak aneh, namun bagi mereka yang tahu bahwa Tuan Muda Li selalu kalah jika dalam urusan pedang dengan Nona Fu.
Walaupun perempuan jangan sekali-kali meremehkannya. Bagi siapapun yang memandang remeh dirinya bisa dipastikan tak akan keluar dengan selamat. Keduanya saling menatap tajam seolah sudah sepakat akan serangan terakhir mereka.
Teknik Kedua : Kelopak Bunga Lotus.
Teknik Kedua : Tusukan Pedang Langit.
Boommm!
Boommm!
Boommm!
Ledakan demi ledakan terdengar seolah bukan bentrokan dari dua pedang. Efek tersebut memang bukan dari pedang saja melainkan juga dari Qi yang dikerahkan oleh keduanya. Qi yang membentuk sebuah kelopak bunga lotus dan tusukan pedang yang begitu banyak. Hingga menimbulkan retakan di arena pertarungan.
keren... bener keren