Danu gemar berorganisasi, dari SMA hingga masa kuliah, Danu selalu asyik jika menyangkut Organisasi, saat SMA Danu memiliki hubungan khusus dengan Juli, karena kedekatan dan kisah indah masa lalu kedua orang tua mereka, Danu dan Juli tunangan saat mereka selesai SMA. Walau demikian, Danu dan Juli kuliah di PT berbeda, bahkan kost yang jauh jaraknya, Danu yang aktifis meneruskan kegemarannya berorganisasi di Kampus, Juli tak bisa melarang, keingintahuannya dengan kegiatan Danu membawa Juli menerima tawaran menjadi Wartawati Kampus.
Fokus Danu dalam kegiatan Organisasi sering membuatnya lupa, termasuk janji dengan Juli, fokus inilah yang kemudian membawa Danu menjadi begitu terpuruk, waktunya yang banyak tersita untuk organisasi membuat Danu harus menerima kenyataan pahit, kehilangan Juli. Bahkan untuk prosesi terakhir pun Danu melewatkannya.
Fahmi teman Danu sejak SMA memaksa Danu meninggalkan Medan menuju kampung halaman ibunya, Apakah Danu bisa menemukan kembali kembali kata Bahagia ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syamsuddahri Pulungan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Fahmi
Tanpa terasa sore hampir menjelang baru Danu dan Juli sampai kembali ke kampung mereka, yang dibawa pulang hanya satu lembar pakaian dan segala macam peralatan perempuan. Danu lebih dulu turun, karena gang kerumah Danu lebih dulu nyampe. Danu langsung berjalan lumayan cepat menuju rumahnya.
“ Kok lama pulangnya ? Kakakmu udah bingung tuh, dia belum pulang “.
Danu menatap wajah ibunya yang sedikit mendung. Danu langsung tepuk jidat, Danu sadar pergi tanpa permisi.
“ Maaf Ma, Danu tadi ngga’ permisi, pergi aja “.
“ Kamu kemana ?”.
“ Aek Nabara sebentar “.
“ Sebentar kok pulang maghrib “.
Danu hanya nyinyir aja. “ Banyak yang dilihat “.
Ayah Danu muncul dan gabung dengan Danu dan Ibunya. Ayah Danu tampak tenang aja. Serasa tak ada masalah yang sedang terjadi.
“ Ngapain ke Aek Nabara ?”.
“ Nemanin Juli Ma.. “. Danu tampak ragu.
Ayah Danu langsung tertawa cukup lebar. Ibunya Danu yang makin tambah merengut. Ayah Danu geleng geleng kepala aja dan terus menatap anaknya dengan terus senyum yang lebar.
“ Anak muda.. anak muda.. dasar “.
Danu terus nyinyir. Ada sesuatu yang terasa diperutnya. Danu baru sadar dan langsung berdiri menuju dapur, ternyata sejak siang tadi Danu belum makan. Itu hebatnya cinta, kadang kadang cinta itu punya kekuatan yang maha hebat, bahkan mampu menahan lapar jika sedang bersama. Danu makan dengan lahap. Setelah merasa cukup kenyang, Danu tutup dengan minum dan beranjak keruang depan, maksud hati ingin tukar pakaian, apa daya disana kakaknya udah nunggu dengan tegak pinggang, Danu kecut.
“ Dari mana ?”.
“ Jalan jalan aja kok Kak “.
“ Enak kali kau jawabnya, orang udah bingung setengah mati disini “.
“ Orang sebentar aja Kok “.
“ Apa ? sebentar katamu ?”.
Danu ngga’ sempat mengelak, tangan kakaknya udah mampir duluan diperut dan telinganya. Danu minta ampun hampir lima kali baru Kakaknya mau lepaskan cubitannya. Ayah Danu hanya ketawa kecil aja melihat kejadian itu. Ayah Danu dapat memastikan kalau anaknya sedang kasmaran berat dengan anak teman lamanya Haris, Ayah Danu malah bahagia dengan itu.
Dengan masih mengaduh aduh Danu masuk kamar ingin ganti pakaian, didalam kamar Danu tambah pusing, niat hati mau rebahan hancur sudah, diatas tempat tidur Wahyu terlentang, kue dan kerupuk berserakan. Danu hanya tepuk jidat sendiri, ganti baju dan keluar lagi.
OO oo OO
Perubahan bukan hanya pada Danu, Fahmi juga mengalami banyak perubahan sekarang. Fahmi kini jadi begitu sepi, Fahmi merasa cukup kehilangan teman. Danu sekarang amat jarang bareng dengan Fahmi. Danu selalu dengan Juli, hingga Fahmi harus sendiri kemana aja, Fahmi sendiri terus, ke Pustaka sendirian, ke Kantin juga sendirian, dan lainnya terus sendirian.
Imbasnya juga tidak hanya pada kesendirian Fahmi. Kegiatan kegatan yang selama ini dalam gagasan Danu satu persatu mulai lenyap, tak ada lagi kerja bakti rutin yang disuarakan Danu, tak ada lagi waktu untuk sekedar rapat bersama, tak ada lagi Perkemahan pemuda, tak ada mancing bersama, dan semua yang biasa mereka lakukan bareng-bareng, perlahan hilang tanpa ada upaya untuk kembalikan kepada posisi semula.
Masalahnya Fahmi tidak bisa seperti Danu atau banyak teman temannnya yang lain. Fahmi memang punya pacar Wita, persolannya Wita tidak berada disekolah yang sama dengan Fahmi dan Danu. Wita sekolah di Madrasah Swasta yang masih berada di kampungnya memang, tepatnya diseberang rumah Danu. Dan kalaupun ketemuan, Fahmi tidak begitu sering, paling hanya malam minggu dan hari minggunya, tak ada pertemuan khusus yang mereka janjikan, untuk mengisi hari hari lain biasanya Fahmi bareng dengan Danu.
Fahmi sebenarnya cukup merasa kesunyian, kebiasaannya yang terus bareng Danu yang kini rasa tak pernah lagi tentu membuat sesuatu yang mengganggu. Fahmi hanya bisa menatap Danu dari jauh, dan kadang harus geleng kepala, Danu temannya bagi Fahmi terlalu larut dalam untaian cinta pertama yang ia rajut dengan juwitanya Juli.
“ Mi.. Kok melamun ?”.
Fahmi hampir terlonjak karena terkejut. “ Buat orang jantungan aja “.
Danu tertawa lebar melihat Fahmi yang begitu terkejut. Fahmi balas senyum Juli yang juga ikut bersama dengan Danu. Fahmi sebenarnya cukup merasa lucu dengan Danu. Danu bagai orang yang puber, Juli memang cinta pertama Danu, begitupun tetap ada pertanyaan, apakah harus separah itu.
“ Apa khabar Dan ? Sehat ?”.
Danu lumayan terkejut. “ Kok nanya khabar ? “.
“ Ya.. iyalah. Sudah hampir dua minggu aku ngga’ lihat batang hidungmu, kan wajar aku tanya khabar “.
Danu ketawa aja. “ Kamu gimana ?”.
“ Pertanyaanku belum dijawab “.
“ Baik.. baik aja. Kamu ?”.
“ Seperti yang kau lihat “.
Danu langsung tolak kening Fahmi dengan telunjuknya, Fahmi hanya senyum aja. Setidaknya saat ini Fahmi tahu ada kebiasaan Danu yang tidak berubah sama sekali, sikap Danu.
“ Jarang kelihatan Mi ?”.
Fahmi masih tertawa kecil. “ Yang jarang kelihatan siapa ?”.
“ Kamu “.
“ Itu ngga’ salah “.
Danu mendelik. “ Salah apanya ?”.
“ Setahu aku. Kau yang mulai lenyap diperedaran, bukan aku “.
Danu tertawa aja, tangannya kembali hinggap dikening Fahmi yang hampir terjungkal karena tidak sempat mengolah gaya mengelak. Juli sama sekali ngga’ bicara. Bahkan memandangi keduanya juga jarang, Juli lebih fokus pada air jeruk dinginnya yang batu esnya terlalu besar-besar menurutnya.
“ Aku ingin kau bantu aku Mi “.
“ Bantu ? Masalah apa ?”.
“ OSIS “.
“ OSIS ? Kenapa ?”.
“ Fauzi minta bantuan kita “.
Danu membeberkan semua cerita yang ia punya, diawali dengan pertemuan Danu dengan Fauzi, hingga hasil pertemuan team kesenian OSIS, rencana gelar Event dan lainnya dengan lengkap, lengkap selengkap lengkapnya.
“ Intinya mereka ingin kita yang setting acara itu “.
Fahmi anggukkan kepala. “ Boleh, boleh aja. Berapa honornya ?”.
Mata Danu mendelik. “ Honor ?”.
Fahmi mengangguk mengiyakan. “ Ada honornya dong “.
“ Gila lu, masa bantu OSIS pake honor ? dari mana duitnya ?”.
“ Jadi ngga’ punya honor ?”.
Danu menggeleng. “ Ngga’, lagian kamu…”.
“ Kalo ngga’ pake honor ya ngga’ apa-apa. Sampai hari ini aku masih Praja Muda Karana, siap memberi bantuan apa saja. Bantuan apa ?”.
Air muka Danu sedikit berubah. Ada yang membuat Danu merasa disindir oleh Fahmi. Dan memang Fahmi jelas berusaha untuk itu. Danu memandang Fahmi cukup lama, Fahmi juga sedang melirik kearah Danu, hingga mereka saling pandang cukup lama satu sama lainnya.
“ Maafkan aku soal itu Mi “.
“ Soal apa ?”.
“ Dua Minggu lalu “.
Fahmi kembali memandang wajah Danu cukup lama. Danu udah menjadi temannya sejak masih baru tau jalan, hingga sekarang kini, Danu berubah besar memang setelah jadian dengan Juli, tapi Danu tetap Danu, teman sejak kecil yang sangat dekat dengannya. Bagaimana Fahmi bisa marah dan menjadi benci pada temannya ini. Fahmi geleng kepala dan tersenyum.
“ Lupakan. Aku juga minta maaf “.
Danu merasa begitu lega. Danu merasa bagai baru keluar dari ruang sempit yang pengap. Terus terang, Danu amat khawatir jika Fahmi tak mau memberinya kata maaf, Danu amat takut dengan itu, bagaimana Danu dapat punya teman lagi yang serupa dengan Fahmi, Danu takkan pernah dapat itu selamanya, Fahmi teman yang begitu istimewa, teman yang abadi bagi Danu, mungkin persis seperti jalinan pertemanan Ayahnya dengan Ayah Juli.
“ Ini masalah OSIS Mi “.
“ Emang Fauzi kenapa ? sakit ? atau sama kaya’ kamu, puyeng “.
Danu bisa ketawa lagi. “ Dasar. Tapi ini serius Mi “.
“ Okey.. sekarang kalo kamu mau ambil dari aku ambil aja. Mau kuping, telinga, hidung, mata, rambut, apa aja.. ambil “.
Danu mendelik. “ Telinga ama kuping apa bedanya ? lagian bukan itu yang diperlukan friend, ini bantuan pikiran “. Danu serahkan undangan pertemuan. “ Ini undangan pertemuan besok, aku harap kamu datang “.
“ Apaan ? “.
Fahmi meraih dan membuka. “ Jam berapa nih ?”.
“ Jam 2 siang “.
“ Jam 2 siang aku ada waktu ngga’ ya.. okey, akan kucoba “.
"Salahkah Cinta?" atau tinggal klik profil aku aja ya