NovelToon NovelToon
Sentuhan Penyembuh Tuan Muda

Sentuhan Penyembuh Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Nikah Kontrak
Popularitas:975
Nilai: 5
Nama Author: Ghost_Writer

"Kau itu cuma babu pembersih luka yang dibeli oleh Kakekku. Jangan pernah bermimpi bisa menjadi nyonya di rumah ini!"

Bagi Jiro, Senjani tak lebih hanya seorang wanita oportunis yang memanfaatkan kelumpuhannya demi uang. Menikahi Tuan Muda lumpuh dengan keterpaksaan karena utang, Senjani harus menelan mentah-mentah semua hinaan dan perlakuan kasar dari Tuan Muda berhati es itu.

Sebagai seorang fisioterapis, tugas Senjani hanya satu, yaitu menyembuhkan kaki Jiro yang lumpuh akibat kecelakaan tragis di masa lalu. Namun, saat jemari tangannya mulai menuntun Jiro untuk kembali berdiri, sebuah rahasia berdarah justru terkuak. Masa lalu kelam di antara keluarga mereka merobek sisa-sisa profesionalisme Senjani.

Saat Senjani memilih pergi dengan luka yang bersimbah air mata, Jiro baru menyadari bahwa sentuhan wanita itu adalah satu-satunya penyembuh bagi jiwanya yang telah lama mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghost_Writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 Kehancuran Sang Manipulator

Tubuh milik Heru terlempar kasar ke samping akibat hantaman bogem mentah dari Jiro. Dia menabrak meja kayu kafe hingga cangkir-cangkir kopi di atasnya pecah berantakan di atas lantai. Darah segar langsung mengalir dari sudut bibir dokter muda itu. Beberapa pengunjung kafe harian menjerit kaget, sementara para perawat dan staf medis yang berada di sekitar area langsung berkerumun dalam ketakutan.

"M-Mas Jiro!" Senjani terkesiap, buru-buru bangkit berdiri dan menahan lengan suaminya. Dia bisa melihat napas Jiro memburu hebat, dengan netra elang yang menyala-nyala oleh amarah posesif yang mematikan.

Jiro tidak memedulikan rasa nyeri yang sempat menyengat lututnya akibat gerakan sentakan tadi. Dia melangkah maju dengan tegap, mencengkeram kerah jas putih Heru dengan tangan kirinya yang kekar, lalu mengangkat tubuh pria itu hingga ujung sepatunya nyaris tidak menyentuh lantai.

"Sudah kuperingatkan kepadamu minggu lalu, Dokter sialan," desis Jiro. Suaranya terdengar sangat rendah, parau, namun memiliki resonansi intimidasi yang sanggup membekukan sirkulasi darah siapa saja yang mendengarnya. "Jangan pernah berani menyentuh sehelai rambut pun dari milikku. Kamu dan ayahmu mengira bisa merampas asetku menggunakan tangan kotor kalian?"

Heru terbatuk, memegangi pergelangan tangan Jiro dengan kedua tangannya yang gemetar. Seringai sinisnya kini telah menguap total, digantikan oleh rasa panik yang teramat sangat begitu melihat kekuatan fisik Jiro yang telah kembali utuh. "J-Jiro... lepas... Ini area rumah sakit! Aku bisa menuntutmu atas tindakan kekerasan fisik—"

"Menuntutku?" Jiro tertawa sinis, sebuah tawa dingin yang terdengar sangat kejam. Dia mengempaskan tubuh Heru kembali ke lantai marmer yang kotor dengan kasar. "Silakan menuntutku setelah kamu kehilangan seluruh martabat dan pekerjaanmu di negara ini."

Detik itu juga, Adriano masuk ke dalam area kafe diikuti oleh dua orang pria berpakaian setelan jas hitam resmi. Salah satu dari mereka adalah Direktur Utama Rumah Sakit Delima Medika, dan yang lainnya adalah kepala perwakilan dewan komite etik kedokteran pusat.

"Dokter Heru Meganco," ucap sang Direktur Utama dengan wajah yang sangat kaku dan dingin, menatap Heru yang masih terkapar di lantai. "Mulai detik ini, surat izin praktik medis Anda di rumah sakit ini resmi dicabut secara tidak hormat. Dewan Komite Etik juga telah menandatangani pembekuan sertifikat kompetensi kedokteran Anda atas pelanggaran berat berupa penyalahgunaan data rekam medis pasien rahasia untuk kepentingan eksternal."

Deg!

Wajah Heru seketika berubah menjadi pucat pasi. Kehancuran kariernya terjadi dalam hitungan menit tanpa sempat dia antisipasi. "N-Nggak... Pak Direktur, tolong dengarkan penjelasan saya dulu! Ini semua fitnah dari pihak Nandotomo Group—"

"Simpan penjelasanmu untuk di depan penyidik kepolisian nanti, Heru," potong Jiro dengan dingin, melangkah mundur dan merangkul pinggang kecil Senjani dengan lengan kokohnya, menunjukkan dominasi yang mutlak di depan khalayak umum. "Adriano baru saja mengirimkan salinan rekaman penyadapan suara percakapan kita tadi ke markas besar polda. Kasus pemerasan, spionase industri, dan percobaan pencurian kode akses server keuangan perusahaan... hukuman minimal lima belas tahun penjara sudah menunggumu di Jakarta."

"T-Tuan Adrian! Tolong kasihani anak saya!"

Sebuah suara panik bergetar dari arah belakang kerumunan. Harianto Meganco, yakni ayah kandung Heru sekaligus pemilik Meganco Corp berlari terengah-engah memasuki area kafe dengan wajah yang sudah bersimbah keringat dingin. Beberapa menit lalu, dia baru saja menerima laporan dari bursa efek Singapura bahwa seluruh saham perusahaannya diboikot dan dihancurkan secara brutal oleh konsorsium Nandotomo Group hingga nilainya anjlok ke titik nadir dalam hitungan jam.

"Jiro... mohon kebijaksanaan Anda," tangis Harianto pecah, dia nekat menundukkan kepalanya di depan CEO muda itu. "Kami mengaku salah! Kami akan mengembalikan seluruh saham kelapa sawit yang sempat kami akuisisi secara senyap pagi ini! Tolong jangan penjarakan Heru, dan tolong hentikan boikot finansial di pelabuhan Jakarta! Perusahaan kami akan bangkrut total besok pagi jika Anda tidak menghentikannya!"

Jiri menatap sepasang ayah dan anak yang kini hancur berantakan di depan kakinya dengan pandangan mata yang penuh penghinaan yang mutlak. Sisi kejam sang penguasa Nandotomo Group tidak memiliki ruang untuk belas kasihan bagi para pengkhianat.

"Waktu untuk bernegosiasi sudah habis sejak anakmu berani mencengkeram tangan istriku di atas meja itu, Harianto," jawab Jiro dengan suara baritonnya yang mantap dan dingin. "Bawa pergi orang-orang tidak berguna ini dari hadapanku, Andriano. Aku tidak ingin udara segar di sekitar istriku tercemar oleh bau sampah."

"Baik, Tuan Besar. Perintah dilaksanakan," jawab Adriano tegas. Belasan pengawal pribadi langsung merangsek maju, menyeret tubuh Heru dan Harianto keluar dari area rumah sakit di bawah tatapan cemoohan dari seluruh pengunjung kafe.

Suasana kafe berangsur-angsur kembali kondusif. Jiro membalikkan tubuh Senjani menghadapnya, menatap lekat-lekat wajah cantik istrinya dengan sepasang netra elang yang kini telah kembali melembut sepenuhnya. Dia meraih kedua belah tangan Senjani, mengusap pergelangan tangan istrinya yang sempat memerah akibat cengkeraman Heru tadi dengan gerakan yang sangat hati-hati dan penuh penyesalan.

"Masih sakit ga, Sayang?" tanya Jiro dengan nada suara yang begitu rendah dan dalam, sarat akan kabut asmara yang membakar jiwanya.

Senjani tersenyum sangat manis, sebuah senyuman tulus yang berhasil meruntuhkan seluruh sisa ketegangan di dalam dada Jiro dalam sekejap. Dia menggelengkan kepalanya perlahan, lalu menyandarkan wajahnya di dada bidang suaminya. "Nggak lagi, Mas... Rasa sakitnya langsung hilang begitu lihat Mas Jiro melangkah tegap dan memukulnya demi melindungiku tadi."

Jiro mempererat dekapannya di tubuh Senjani, mencium pelipis istrinya dengan penuh kehangatan yang teramat sangat di bawah hangatnya sengatan matahari siang. Badai konspirasi dari masa lalu kini telah resmi disapu bersih dari takdir pernikahan mereka, menyisakan ruang yang luas bagi mereka untuk melangkah bersama menuju masa depan yang dipenuhi oleh kebahagiaan sejati tanpa ada lagi air mata penderitaan seumur hidup mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!