NovelToon NovelToon
Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:454
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Raka—sosok cowok yang santai—bersiap memulai lembaran baru di jenjang SMA Negeri Garuda. Awalnya, ia hanya ingin menjalani kehidupan sekolah yang wajar; bergaul, bermain, dan menikmati masa mudanya.

​Namun, ekspektasi santai itu mendadak buyar. Tak disangka, Raka justru bertemu dengan teman-teman yang super jahil, serta Alya—gadis dingin yang ternyata menyimpan masalah yang sangat rumit di balik senyumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: SEKELOMPOK SAMA CEWEK DINGIN?!

‎Raka melangkah masuk ke dalam kelas bersama Dimas. Suasana kelas saat itu masih terbilang cukup sepi, hanya diisi oleh kerumunan siswi-siswi yang sibuk bergosip ria di barisan depan sambil menikmati camilan pagi.

‎Raka langsung berjalan menuju tempat duduk favoritnya di pojok belakang kelas, lalu menyandarkan tubuhnya dengan lemas ke kursi. Sementara itu, Dimas menarik kursi di bangku barisan tengah kelas—posisi duduk resminya—lalu

‎membalikkan badan menghadap ke arah Raka.

‎"Rak, setelah ini pelajaran apa sih?" tanya Dimas sambil menopang dagu.

‎"Setelah ini?" Raka menaikkan alisnya. "Pelajaran IPA. Emang napa?"

‎"Waduh, males banget gue..." ringis Dimas mendadak lesu.

‎"Emang kenapa? Gak suka ya lu sama gurunya?"

‎"Bukannya gak suka, pasti nanti disuruh kerja kelompok lagi," keluh Dimas.

‎Raka menatap temannya itu santai. "Ya kerjain aja lah.

‎Bodoh banget memangnya lu sampai males kelompokan?"

‎"Banget! Bahkan di SMP nilai IPA gue pernah dapet 30," jawab Dimas tanpa beban.

‎Mata Raka seketika melotot lebar. Dalam hatinya, Raka membatin, Gila, ngaku bangga banget nih anak!

‎"Kenapa mata lu melotot gitu, Rak?" tanya Dimas polos.

‎"Hah? Oh... Nggak, cuma kaget aja lu ngaku dengan ringannya. Jadi aneh," sahut Raka sambil menggelengkan kepala.

‎"Wajar sih menurut gue," balas Dimas santai.

‎Melihat ekspresi polos nan polos tanpa dosa milik Dimas, Raka mati-matian menahan tawanya. "Pfft..."

‎"Lu ketawa ya, Rak?" selidik Dimas curiga.

‎"Gak, siapa yang ketawa," pangkas Raka cepat.

‎Di sepanjang sisa jam istirahat, obrolan mereka terus mengalir ke mana-mana. Membahas hal-hal *random*, pengalaman masa kecil yang konyol, hingga saling membongkar

‎aib masing-masing. Absurd parah.

‎Namun di tengah keseruan itu, bel masuk sekolah mendadak berbunyi nyaring. Dimas langsung meringis membayangkan

‎pelajaran IPA yang dibencinya akan segera dimulai.

‎"Lah, kenapa lu?" tanya Raka heran.

‎"Males banget, Rak. Pindah kursi lah, lu yang di tengah, gue di pojokan!" bujuk Dimas.

‎"Gamau lah! Ini tempat duduk legend di pojok belakang, masa disuruh pindah ke tengah," tolak Raka tegas.

‎Dimas menyipitkan mata. "Anjir, lu wibu ya? Suka duduk di pojok belakang dekat jendela?"

‎"Ada yang salah?" tantang Raka.

‎"Haha, gak sih..." Dimas akhirnya menyerah. "Yaudah, gue mau balik ke kursi gue di tengah."

‎Dimas berbalik menuju bangkunya sendiri di barisan tengah, lalu seketika merebahkan kepalanya di atas meja. Energinya seolah menguap habis membayangkan pelajaran di depannya. Raka yang melihat tingkah temannya itu hanya bisa mendecak sambil menggeleng. "Ada-ada aja..."

‎Tepat saat bel berhenti bergema, pintu kelas terbuka. Seorang gadis cantik dengan aura dingin melangkah masuk tanpa suara. Matanya menatap lurus ke depan dengan tatapan datar dan tidak tersenyum sedikit pun. Gadis itu berjalan menuju kursinya.

‎Raka sama sekali tidak menyadari kehadiran gadis itu karena jemarinya sudah sibuk mencoret-coret kertas, melanjutkan hobinya menggambar. Karena gambar sudah jadi hobinya, Raka sulit diganggu kalau sudah memegang pensil.

‎Tak lama kemudian, Bu Guru IPA memasuki kelas dengan membawa tumpukan kertas di tangannya.

‎"Baiklah anak-anak, hari ini kalian akan membentuk kelompok untuk mengidentifikasi komponen biotik dan abiotik," ujar Bu Guru membuka pelajaran. "Jika kalian lupa materinya, kalian bisa baca buku paket yang sudah disediakan saat pendaftaran sekolah kemarin."

‎Bu Guru mulai membagikan sobekan kertas berisi daftar kelompok. "Kelompok tujuh... Raka, Dimas, sama Alya. Sudah ya!"

‎Raka yang mendengar namanya dipanggil seketika terkejut. Ia tidak menyangka akan satu kelompok dengan cewek es batu itu.

‎Raka, Dimas, dan Alya mulai menyusun meja mereka agar bersatu.

‎"Wah, gak nyangka ya, Rak, kita bertiga satu kelompok," bisik Dimas bersemangat.

‎"Iya," sahut Raka tipis.

‎Dimas kemudian mendekatkan kepalanya ke Raka, berbisik canggung, "Btw, gimana cara ngomong sama cewek dingin di sebelah kita ini?

‎Alya yang mendengar bisikan itu langsung menyela dengan nada datar, "Tidak usah dihiraukan."

‎"Loh, dia bicara!" kaget Dimas refleks.

‎"Emang gue sedingin itu ya?" potong Alya lagi, kali ini dengan ekspresi wajah yang sedikit cemberut kesal.

‎"Marah tuh, Mas," kompor Raka pelan.

‎Dimas langsung membelakangi Alya dan berbisik histeris pada Raka, "Ajak ngobrol gih! Gue takut!"

‎"Jir, jijik cok! Gini doang takut," cibir Raka. Ia lalu berdehem menatap Alya. "Alya, kita tugasnya apa? Lu yang nentuin deh."

‎Alya menatap mereka berdua rasional. "Kalian berdua yang ngerjain bagian cari komponen biotik sama abiotik. Gue yang nyusun format untuk presentasinya."

‎"Oke!" jawab Raka dan Dimas serempak.

‎Melihat semua kelompok sudah siap, Bu Guru memberikan arahan terakhir. "Baik, karena tugas sudah dibagi, silakan kalian keliling area sekolah untuk observasi ya. Saya mau keluar sebentar menemui seseorang."

‎"Seseorang siapa tuh, Bu? Pacar Ibu ya?" celetuk salah satu siswi di depan.

‎"Hish, enggak lah! Kepo banget kamu," balas Bu Guru tersipu.

‎Raka, Dimas, dan Alya mulai berjalan menyusuri koridor sekolah. Suasana di antara mereka sangat sunyi karena tidak ada yang membuka topik pembicaraan. Dimas yang paling tidak suka keheningan mulai salah tingkah.

‎Percobaan pertama untuk membuka obrolan... gagal.

‎Di percobaan kedua, ia mencoba memecah keheningan dengan berbisik pada Raka. "Hei, ngomong dong! Hening bet dah!"

‎"Ngapa emang, Mas?"

‎"Biar seru dong! Manusia itu makhluk sosial, harus berkomunikasi!" cecar Dimas.

‎"Masalahnya gue gak tahu mau ngomong apaan," balas Raka jujur.

‎"Gue nyatakan nih, ini kelompok paling sunyi yang pernah ada di sejarah sekolah!" seru Dimas dramatis.

‎"Gila lu,  Mas, lebay banget," sahut Raka.

‎"Lah, katanya biar seru!"

‎Di sepanjang perjalanan menuju taman sekolah, Dimas terus dibuat bingung karena Raka dan Alya sama-sama irit bicara. Hingga akhirnya, mereka tiba di sebuah taman sekolah yang cukup asri dan dipenuhi beberapa murid yang sedang nongkrong.

‎"Wah, keren juga tamannya," puji Dimas.

‎"Hmm iya, enaknya sih rebahan," celetuk Raka malas.

‎Alya langsung menatap mereka berdua tegas. "Kalian berdua jangan santai-santai. Kita kerjakan tugas sekarang."

‎"Baik..." ucap Raka dan Dimas serempak dengan raut wajah kecewa yang kompak.

‎Dimas akhirnya berjalan mengekor di belakang Alya, berusaha keras agar tidak menjadi beban kelompok. Ia menunjuk ke salah satu tanaman di dekat pot.

‎"Hei, yang itu abiotik, kan?" tunjuk Dimas sok tahu.

‎Alya menoleh datar. "Itu biotik."

‎Raka menepuk jidatnya. "Lu baca buku paketnya gak sih, Mas?"

‎"Gak," jawab Dimas polos.

‎"Aduh, makanya baca dulu, Mas!" Raka geleng-geleng kepala.

‎"Sialan lu, Rak!" ringis Dimas malu.

‎"Hahaha!"

‎Proses pengerjaan tugas pun berlanjut. Dimas yang berkali-kali menunjuk benda dengan jawaban yang salah justru membuat suasana kelompok mereka menjadi cair dan seru. Tanpa disadari, sudut bibir Alya sedikit terangkat, membentuk sunggingan senyum tipis.

‎Raka yang berada di sampingnya hampir memergoki momen langka itu, namun Alya dengan cepat menyadarinya dan kembali memasang wajah datar.

‎"Hmm?" gumam Alya datar.

‎"Hah?" Raka mengedipkan mata. "Tadi kamu senyum, ya?"

‎"Nggak. Perasaan kamu aja kali," elak Alya cepat.

‎"Apa iya?" Raka menyipitkan mata, penasaran.

‎Alya menatap Raka tajam. "Lu mau gue pukul?"

‎Raka mengangkat kedua tangannya. "Anjir, jangan galak-galak gitu dong, Putri Alya!"

‎"Untung tau diri," sahut Alya pelan.

‎Tak lama kemudian, Dimas yang baru saja kembali dari kantin menghampiri mereka sambil membawa minuman pesanan. Ia mengernyit bingung melihat raut wajah kedua temannya.

‎"Ada apa nih?" tanya Dimas menyerahkan minuman.

‎"Gapapa," pangkas Alya santai.

‎"Wah, ada kejadian langka kah pas gue pergi?" Dimas makin penasaran. Ia menyenderkan bahunya ke Raka sambil tersenyum curiga.

‎"Sebenarnya gue lihat Alya senyum tadi," bisik Raka pelan di telinga Dimas.

‎Mata Dimas membelalak. "Wah, iyakah? Terus cantik gak?"

‎"Cantik," jawab Raka jujur.

‎Dimas menyenggol lengan Raka. "Lu suka sama Alya, Rak?"

‎"Weee, belum tentu dong!" elak Raka cepat.

‎"Lah, denial si kocak!" ledek Dimas.

‎"Apaan dah, orang beneran belum tentu!"

‎Alya yang melihat kedua cowok itu terus berbisik-bisik akhirnya angkat suara. "Ada apa sih? Ngomong kok bisik-bisik begitu?"

‎Raka dan Dimas terkejut dan langsung berdiri tegap.

‎"Gapapa! Oh iya, ini tugasnya udah selesai, kan?" alih Raka cepat.

‎"Udah. Balik ke kelas aja buat persiapin presentasi," jawab Alya seraya merapikan kertasnya.

‎Setibanya di kelas, mereka bertiga menggabungkan meja untuk persiapan presentasi. Satu per satu kelompok dipanggil ke depan kelas oleh guru. Kelompok dua maju, disusul kelompok tiga. Hingga akhirnya, giliran kelompok tujuh yang dipanggil.

‎Dimas maju sebagai moderator, Alya sebagai sekretaris yang memegang materi, sedangkan Raka... hanya berdiri tampan menjadi anggota pelengkap.

‎Di kata pembuka, Dimas yang gugup mendadak *typo* dalam mengucapkan kalimat salam, membuat Raka di sebelahnya mati-matian menahan tawa. Dimas yang melihat lirikan ejekan Raka ingin membalas, tetapi urung karena Alya sudah memberikan tatapan maut yang sangat tajam darinya.

‎Presentasi pun berlanjut. Dimas yang kesulitan membaca istilah sains berkali-kali dibantu oleh Alya. Namun karena Dimas terus-menerus salah mengucapkan istilah, pada akhirnya presentasi itu hampir seluruhnya dibacakan oleh Alya dan Raka.

‎Saat presentasi selesai dan mereka kembali ke tempat duduk, Raka langsung meledek Dimas.

‎"Aduh, bikin malu aja lu, Mas! Awal pembukaan aja udah belibet gitu," tawa Raka.

‎"Ya maaf, namanya juga demam panggung!" bela Dimas merengut.

‎"Hahaha, gapapa. Memang dasarnya lu aja yang aneh, Mas," kekeh Raka.

‎Sambil mereka berdua asyik mengobrol, Alya sudah lebih dulu

‎duduk anggun di kursinya. Raka dan Dimas yang menyadari hal itu refleks melotot pelan, lalu tertawa bersama melihat kepribadian Alya yang sangat hemat energi. Mereka bertiga pun kembali ke tempat duduk masing-masing.

‎Beberapa menit kemudian, bel tanda pulang sekolah berbunyi nyaring.

‎Sinar matahari sore memancarkan warna keemasan melintasi jendela koridor. Beberapa siswa berlarian gembira menuju gerbang, sementara yang lain masih berada di dalam kelas untuk kegiatan ekstra.

‎Di area parkiran, Raka mulai menyalakan mesin motornya. Senyuman tipis terukir di wajahnya. Siapa sangka, di hari yang awalnya ia duga bakal membosankan ini, ia justru mendapatkan teman-teman yang seru dan berharga.

‎Raka memacu motornya meninggalkan sekolah, tidak sabar untuk menantikan hari esok.

1
☕︎⃝❥kinataa💤
tmpt incaran semua kaum. jarang bngt tmpt pojok itu kosong. meski cuma telat 5 menit masuk kelas, pasti udh di tandai org duluan🗿🗿
☕︎⃝❥kinataa💤
jgn ya gess ya, itu bukan buat adick² kelas 10, oke?! tidak baiq/Smile/
☕︎⃝❥kinataa💤
halah, takdir matamu. othornya sja itu nyari sensasi/Scream/
Zyren Vale: wkwkw, makasih udah mampir 🥰
total 1 replies
☕︎⃝❥kinataa💤
capslok aja, biar puas maknya jerit/Curse//Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!