Kematian kakaknya membuat Ayu memiliki hubungan percintaan dengan Angga, polisi tampan yang bertugas mengungkap kasus kematian tersebut, Herman sahabat sekaligus teman kuliah yang telah lama mencintai Ayu ternyata adalah anak dari suami almarhum kakak, apa yang terjadi selanjutnya dengan hubungan Ayu dan Herman, mungkinkah hubungan persahabatan mereka tetap terjalin baik setelah mereka tahu latar belakang masing masing, bisakah Angga mengungkap pembunuh kakak Ayu yang sesungguhnya ikuti kisah Ayu, Herman dan Angga dalam kisah mawar kali ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Robbiyana Widiyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mengunjungi makam
Angga dan Danu masih berkutat dengan berkas berkas penyelidikan yang sudah ada di tangan mereka, mereka masih mencari pemecahan atas misteri yang ada di depannya. Terlalu banyak informasi yang tidak cocok antara penjelasan Ayu sebagai adiknya dan kenyataan di lapangan. Anya adalah sosok yang sangat berbeda, dia pandai menyembunyikan jati dirinya di hadapan adik satu satunya, dan alasan itu yang ingin di ketahui Angga saat ini.
Di kota lain, Ayu mulai di sibukkan dengan tugas untuk menyelesaikan skripsinya. Ayu tak ingin terlalu lama berlarut larut dalam suasana duka, saat ini ia tidak bermasalah dengan keuangan karena selain dapat yang dari Anya, Ayu juga punya deposito dari uang asuransi sepeninggal ayah dan ibunya, yang selama ini tidak pernah dia pakai. Ayu bukanlah gadis yang suka berfoya foya sehingga uang pemberian Anyapun selalu bersisa setiap bulannya, jadi untuk saat ini dia tidak akan kekurangan uang. Saat ini skripsi yang disusun sudah sampai pada bab 3, Ayu rasa waktu 3 bulan cukup untuk menyelesaikannya jika dia benar benar fokus, terlebih Pak Tito bersedia untuk membantunya.
Ayu ingin bisa segera menyelesaikan kuliahnya dan bisa segera bekerja. Karena kini dia benar benar hidup seorang diri.
Tidak terasa 2 bulan berlalu begitu cepat. Ayu berhasil menyelesaikan skripsinya dan kini dia hanya tinggal menunggu jadwal wisuda. Selama Itu juga dia hampir melupakan kasus kematian kakaknya. Dalam 2 bulan ini tidak ada kabar apapun dari Angga mengenai perkembangan kasus kakaknya itu, Angga juga tidak pernah sekalipun menghubungi Ayu untuk mengabarinya. Ayu sadar mungkin kasus kematian kakaknya tidaklah semenarik kasus para artis atau politisi di negeri ini, sehingga penting untuk segera diungkap, atau mungkin kasus kakaknya ini hanyalah kasus kriminal biasa sehingga terlupakan begitu saja. Karena memang keluarganya adalah keluarga yang biasa biasa saja.
Sore Itu, dengan ditemani Herman, Ayu pergi ke makam orang tuanya. Ayu berdoa dengan khusyuk di pusara kedua orang tuanya dan kakaknya, dia berjanji akan selalu berusaha sebaik baiknya dalam menjalani hidup, menjaga nama baik orang tuanya dan akan selalu membanggakan mereka. Tak terasa air matanyapun menetes tanpa bisa di kendalikan mengingat ketiga orang tercintanya. Herman yang berada di sebelahnya hanya mampu memeluk pundak Ayu untuk meredakan tangis Itu. Di bimbingnya Ayu berjalan keluar dari area pemakaman. mereka meninggalkan area pemakaman dengan mobil yang di kendarai Herman. Tak Ada pembicaraan apapun, karena Ayu masih nampak bersedih. Herman membelokkan mobil ke sebuah restoran, ia tahu Ayu belum makan sejak siang tadi.
" Kita makan dulu ya Yu.." kata Herman sambil menatap Ayu.
Ayu mengangkat wajahnya begitu menyadari mobil telah berhenti di halaman restoran
" Iya..aku juga sudah lapar, maafkan aku ya Her..aku selalu merepotkanmu." jawab Ayu
"Kata siapa kau merepotkanku? justru aku senang kalau kau mau minta bantuanku. aku merasa berguna untukmu." jawab Herman lembut
" Kamu bisa saja her.., aku hanya tidak mau terlalu bergantung kepadamu. Aku takut.." jawab ayu menggantung ucapan nya
"Takut apa? sudahlah...Ayo kita masuk, katanya sudah lapar? " kata Herman sambil membuka pintu mobil.
Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam restoran yang tidak terlalu ramai Itu, karena kini sudah lewat dari jam makan siang. Hanya beberapa meja yang terisi saat ini, Herman memilih tempat agak ke sudut ruangan agar dia lebih leluasa berbicara. Ayu mencuci tangannya di wastafel sebelum menghampiri tempat duduk yang Herrman pilih. Mereka duduk saling berhadapan, Tak lama kemudian seorang waitress pun menghampiri mereka dengan buku menu di tangannya.Herman dan Ayu memesan makanan yang sama, menu masakan jawa, mereka memang sangat menyukai makanan jawa lengkap dengan bumbu rempah rempah yang sangat khas.
Sambil makan, Herman sesekali mencuri pandang ke arah Ayu yang tampak serius dengan makanannya.
konflik antara Anya - Wira - William yg asli dan bener tuh gimana. Trs Wira bilang "Anya itu perempuan ular" , itu jg ga dijelasin lebih detail ularnya dimana.
trs Wira bilang "kalau ttd berkas, jgn pas terburu-buru. Jgn mudah percaya sama siapapun meski asisten pribadimu sendiri" itu jg ga dijelasin gimananya :(
Trs Wira kok tiba2 meninggal tuh gimana
huhh masih ganjel bgtt :(