Ketika rasa sayang itu berubah menjadi cinta, tak ada lagi batasan-batasan yang akan menghalangi mereka. Tak perduli batasan usia, kasta, tahta ataupun rupa. Yang bermain hanya dua hati yang ingin saling berbagi kebahagian. Raya Aditama adalah seorang putra tunggal dari Pram Aditama, seorang pebisnis sukses di kota. Raya menjabat sebagai direktur utama PT. Raya Entertainment. Sebuah bisnis yang bergerak di bidang dunia hiburan. Raya yang terkenal bertangan dingin dan berhati dingin, jatuh cinta dengan seorang anak perempuan yang usia nya terpaut usia 20 tahun lebih muda darinya. Perjuangan cinta mereka tak berjalan mulus, mereka harus menentang berbagai batasan yang ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Hanayuki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan Sang Kakak
Suasana pemakaman Emak sangat ramai, para penggemar Rara Pratiwi bahkan sampai media pun turut memberitakannya. Rara tak kuasa menahan airmatanya. Kini dia tinggal seorang diri, sebatang kara didunia ini. Joe yang tak dapat hadir karena ada show di luar kota, mengirimkan karangan bunga besar tanda berbelasungkawa.
Saat semua pelayat sudah meninggalkan makam, Rara masig duduk disisi pusara. Membenamkan dirinya dalam kedukaan yang teramat sangat. Dalam rasa bersalah yang begitu besar. Memeluk kayu nisan di makam Emak.
"Rara..."
Sesorang memanggilnya dari belakang. Rara tak mendengarnya. Pikirannya sedang melayang jauh dari raganya.
"Dek ..."
Seseorang itu memegang pundang Rara, gadis cantik itu terkejut. Ia menoleh. Melihat siapa yang menepuk pundaknya. Seorang laki-laki bertubuh tinggi berkacamata hitam. Dia memakai kemeja putih dan celana panjang hitam. Rara mengamati dengan seksama sosok yang ada dihadapannya itu.
Laki-laki itu mendekat dan membuka kacamatanya.
"Kak Rio ..."
Gadis cantik yang sedang berduka itu, menjatuhkan kepalanya dalam pelukan laki-laki yang di panggilnya "Kak Rio" itu.
"Maaf ya, Dek. Kak Rio baru datang sekarang. Kakak harap kamu tabah menghadapi semua ini, sayang. Kamu tidak sendiri. Ada Kak Rio disini"
Semakin pecah tangis Rara di pelukkan Rio, dia berusaha menenangkan Rara yang sedang bersedih. Dibimbingnya Rara menuju kedalam mobil. Rio duduk di bangku kemudi. Dia menghapus airmata Rara dengan tangannya. Mengusap rambut adiknya dengan lembut.
"Minumlah, biar dadamu terasa lapang dan lebih tenang"
Rio memberikan sebotol air mineral pada Rara. Rara meminum nya separuh. Helaan nafas berat berhembus dari dada nya.
Ditatapnya wajah kakak sepupunya itu, dia tersenyum, berusaha tersenyum dan terlihat kuat.
"Terima kasih, Kak"
"Kita pulang?!"
"Iya..."
Rio adalah anak dari Paman Benny yang merupakan sepupu bapak kandung Rara. Bapak kandung Rara memilih ikut ibu nya yang berkewarganegaraan asing dan menetap di luar negeri. Sementara ayahnya adalah seorang pengusaha perkebunan teh ternama. Paman Benny merupakan keponakan kandung dari kakek Rara.
Rio melarikan mobilnya menuju sebuah rumah berlantai dua. Rumah itu sangat besar namun bernuansa klasik, terlihat begitu asri dengan suasana hijau pepohonan dan bunga-bungaan.
Mercedes AMG Gle Coupe berwarna silver itu parkir tepat di halaman rumah. Rio turun dan membukakan pintu. Mereka masuk kedalam rumah.
"Paman dan Bibi kemana, Kak?"
"Mereka sedang ada di luar negeri, Dek. Papa ada kunjungan kerja disana. Mereka baru bisa pulang lusa ke tanah air"
"Sibuk sekali ya"
"Maklumlah, Papa kan staf biro ahli biro keuangan, jadi jadwalnya padat. Mama hanya mendampingi"
"Iya, Kak"
"Oiya, malam ini kamu menginap disini saja. Kita adakan tahlil sampai hari ketiga dirumah ini. Kakak sudah menyiapkan semuanya. Kamu tak usah khawatir"
"Terima kasih, Kak"
"Kamu istirahatlah. Kakak antar kekamarmu, ya?!"
Rara menganguk. Meng-iya-kan tawaran kakak sepupunya itu. Dia merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Itu adalah kamar khusus untuknya, yang memang Paman siapkan jika Rara suatu waktu menginap disana.
Kamar yang lumayan luas dan bernuansa perempuan dilantai dua. Paman sudah menganggap Rara seperti putrinya sendiri, begitu Rio. Gadis mungil itu mencoba untuk memejamkan matanya, tubuhnya begitu lelah. Namun matanya tak bisa terpejam. Hatinya masih berduka. Jiwanya masih terguncang. Cukup lama dia bolak-balik di atas kasur, sampai akhirnya dia terlelap.
******
agak heran sih