Ibrahim Adlan baru menyadari telah jatuh cinta pada Najwa aulia,di saat gadis itu sudah di persunting oleh kakak sepupunya sendiri yang bernama Irfan Zidni.
Mempercepat keberangkatannya untuk melanjutkan study ke Ummul-Quro adalah langkah yang di tempuh oleh Ibrahim Adlan untuk menghindari pernikahan gadis yang di cintainya begitu dalam itu.
Disaat,Ibrahim Adlan sudah memiliki kemantapan hati untuk melupakan perasaannya setelah dua tahun berlalu,ia mendapat kabar kalau Irfan Zidni meninggal karna sebuah kecelakaan.Bukannya pulang untuk meraih kembali cintanya,Ibrahim Adlan justru menyerahkan perjalanan cintanya pada kehendak Taqdir.
Saat ia pulang dua tahun kemudian,keluarganya menjodohkannya dengan Aisha,gadis cantik yang sepadan dengannya.yakni sama-sama anak Kyai pemilik pesantren.Di saat yang sama ia juga kembali bertemu dengan Najwa Aulia yang masih di cintainya tanpa jeda.
Siapakah kemudian yang akan di pilih oleh Ibrahim Adlan.Apakah Aisha yang telah di anggapnya sebagai adik,ataukah Najwa yang berasal dari latar belakang yang berbeda dengannya,yang mungkin tidak akan di setujui orang tuanya..
Untuk tau jawabannya,simak ceritanya yukk..
ENGKAULAH TAQDIRKU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
engkaulah Taqdirku 18
" Mas Adlan !!" ning Alisya melongokkan kepalanya melalui pintu kamar yang sedikit terbuka.Nampak kakak tampannya itu tengah duduk lesehan di atas karpet tebal di tengah kamar sambil bersandar pada sebuah kursi ukir berlapis beludru.
"Mas Adlan!!" sekali lagi Alisya memanggil.Namun Ibrahim Adlan bergeming.Pandangannya hanya fokus pada layar laptop yang tengah di pangkunya saja.
Ning Alisya pun masuk,melangkah ke arah Ibrahim Adlan menepuk pelan lengannya.
"Mas Adlan!"
"Ehh!" pemuda tampan itu cukup kaget
"Lagi ngapain sihh,di panggil-panggil gak jawab" ning Alisya menelengkan kepalanya ikut melihat pada layar laptop yang di pangku kakaknya itu.
Namun dengan cepat Ibrahim Adlan menutupnya.
"Ihh mas Adlan punya rahasia apa sih??"
gadis cantik itu menatap kakaknya cemberut.
"Anak kecil tak perlu tau",
"Aku bukan anak kecil mas" Alisya sedikit merengek.
Ibrahim Adlan
tergelak seraya bangkit meletakkan laptopnya di tempat biasa,lalu menatap adiknya yang nampak sudah rapi.
"Sudah siap??"
"Ia"
"Aku sholat dhuha dulu ya".
"Ia mas aku tunggu di luar".
Sekitar setengah jam kemudian,ketika Ibrahim Adlan menghampiri adiknya di ruang keluarga,tampak Alisya tak sendiri. Ada seorang gadis bergamis putih,dengan hijab warna dusty pink duduk di sampingnya.
Ibrahim Adlan menghentikan langkahnya begitu tau siapa yang tengah bersama adiknya itu.Namun
"Mas Adlan..!"Alisya yang sudah melihatnya itupun memanggil.Ibrahim Adlan mendekat.nampak Najwa Aulia mendongak menatapnya sekejab,tersenyum dan lalu menunduk.
"Suruh tunggu sebentar mas,ummi mau ikut sama mbak Najwa". Alisya memberitaukan.
"Mau ikut??" Adlan mengernyit heran.
"Ia..cuma mau ikut sampai rumahnya paman halim di An-nur..ada hajatan di sana."kata Alisya.
"Terus pulangnya sama siapa"?
"Di jemput sopir".
"Oo " Ibrahim Adlan menganggukkan kepalanya.
"Duduk mas!!" kata Alisya saat melihat kakaknya itu masih berdiri saja.Adlan pun duduk jarak tiga kursi dari adiknya dan Najwa.
"Mas Adlan..mbak Najwa itu sekarang sudah jadi kakak ipar kita" Alisya menatap kakaknya itu sumringah.Ibrahim Adlan mengangguk
"Mbak Najwa boleh tanya?"
"Boleh..tanya apa ning??"
"Di mana mbak ketemu mas Irfan pertama kali??"
"Di toko buku".
"Toko buku di mana mbak??"
"Di pamekasan kota".
"Mbak sama siapa ke toko buku itu?"
",,Sama,,Ra Adlan" Najwa menjawab jujur.
"Jadi..mas Adlan yang mengenalkan mbak Najwa
sama mas Irfan??"gadis cantik itu terlonjak.
Najwa sedikit menoleh ke arah Ibrahim Adlan berharap pemuda itu membantu menjelaskan.Tapi Ibrahim Adlan malah tetap diam saja.
"Bukan seperti itu ning" Najwa pun menjawab demikian
"Tapi..kok,mbak Najwa bisa pergi ke toko buku sama mas Adlan,?" ning Alisya merubah pertanyaannya.
Kali ini,Najwa tak segera menjawab,ia masih memilih kalimat yang tepat untuk menjelaskannya.
"Najwa,!"akhirnya,Ibrahim Adlan membuka suara.
"Dhalem" Najwa menjawab santun.Menoleh ke arahnya dan ternyata Ibrahim Adlan pun tengah menatapnya juga.
"Kamu yaqin??" pertanyaanya.
"Yaqin tentang apa Ra..?"
"Tentang dirimu dan mas Irfan?"
Tatapan keduanya sempat bertemu.karna Ibrahim Adlan tak sedikitpun melepaskan pandangannya dari wajah ayu itu.
Najwa menunduk,mendapatkan pertanyaan seperti itu membuat jantungnya berdebar.Sejenak ia masih belum tau harus menjawab apa,ia merasa harus jujur,tapi iapun masih belum cukup tau dengan perasaannnya saat ini kendati ia telah memutuskan untuk menjalani.Dan saat ia mendongak ke arah Ibrahim Adlan ternyata pemuda tampan itu masih terus menatapnya,sedangkan Ning Alisya yang dari tadi banyak bertanya kini nampak hanya diam saja.
"Ia..insyaallah.."akhirnya,jawaban itu yang di pilih Najwa
"Alhamdulillaah.."terdengar suara Ibrahim Adlan di sertai helaan nafas lega." hanya ini yang ingin ku dengar.."ujarnya lagi.
degg
Mendengar ucapannya itu,Najwa Aulia kembali merasakan jantungnya berdetak lebih kencang, terasa aneh,membuat gadis itu berkali-kali menahan nafas.
"Alisya ,aku tunggu di luar."Ibrahim Adlan beranjak dari duduknya meninggalkan ruang keluarga itu.
***
"Astaghfirlohh !!"" Ust Fadil berseru kaget.
bersamaan dengan goncangan kuat yang terjadi, bahkan kepalanya hampir menyentuh kaca depan mobil.
"Ra,apa yang terjadi?" ia menatap panik ke arah Ibrahim Adlan yang memegang kemudi.
pemuda tampan itu menggeleng,lalu segera menepikan mobil dan berhenti.
"Ada lobang kak,saya kurang teliti"ujarnya seraya menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi yang tinggi sambil menghela nafas kuat.
"Ajunan (anda) sepertinya sangat capek Ra,biar saya yang ganti nyetir".
"Gak apa-apa kak,saya baru mengganti kak Fadil gak sampek setengah jam,kak Fadil kan juga butuh istirahat." dan Ibrahim Adlan bersiap hendak melajukan mobilnya kembali.
"Tunggu dulu Ra Adlan,kita bisa istirahat sejenak".
"Ini sudah lewat jam sebelas malam kak,saya ingin cepat sampai ke Al-falah".
"Tapi sepertinya ajunan tidak dalam kondisi baik-baik
saja Ra." Ust Fadil berkata pelan seraya menatap pemuda tampan di sampingnya itu.
Fadil tak hanya asal bicara dengan penilaiannya,melainkan setelah ia melihat adanya
beberapa perubahan pada diri Ibrahim Adlan.dari sejak berangkat tadi,pemuda tampan itu jarang bicara,kecuali bila sangat di perlukan.Ia lebih sering mengangguk dan menggeleng saja bila di tanyakan.
Memang ia bukan pemuda yang banyak bicara tapi juga tidak terlalu irit bicara. Ia selalu paham situasi, kapan bahasanya terbatas,dan kapan bahasanya mengalir dengan akrab. dan diamnya kali ini,terasa lain dalam penilaian Ust Fadil.
Dan soal ketidak telitian dalam menyetir,peristiwa tadi bukanlah yang pertama terjadi.Bahkan ketika tadi baru keluar dari wilayah kabupaten pasuruan,
mobil mereka hampir menabrak pengendara becak yang sedang menyebrang.Padahal bapak tukang becak itu sudah mengangkat tangannya tinggi-tinggi
memberi tanda.
Sedangkan setau Fadil,Ibrahim Adlan sangat fokus dan teliti dalam menyetir,namun sungguh berbeda dengan yang terjadi kali ini.
mungkin dia sakit,tapi pemuda tampan itu bilang dirinya sedang sehat-sehat saja.
Mungkin juga dia sedang banyak pikiran,demikian akhirnya Fadil menyimpulkan.
" Saya hanya kurang fokus kak"ujar Ibrahim Adlan sesaat kemudian.
"Apa anda lagi banyak pikiran?"Fadil bertanya hati-hati.Adlan hanya tersenyum,tak mengelak juga tidak mengiyakan.
"Biar saya yang nyetir Ra.."
" Tapi kak,,"
"Gak apa-apa Ra,,saya masih kuat.anda istirahat saja.nanti kalau saya lelah,anda akan saya bangunkan"
" Baiklah..terima kasih kak Fadil ".
" Mampir dulu di masjid ya kak,saya mau wudhu'".pinta Ibrahim Adlan ketika mobil telah melaju kembali.
" Siap Ra "
Tak menampik,apa yang di katakan Fadil,bahwa pikirannya memang sedang tidak baik-baik saja.Ia ingin menenangkan dirinya kembali dengan cara awal,mengambil wudhu'.Karnanya ia meminta mampir ke masjid,padahal keduanya sudah selesai menunaikan sholat isya' dua jam yang lalu.
***
nangiss bombay malam2 😭😭