Perjodohan mempertemukan mereka, menyatukan keduanya yang berbeda satu sama lain dan kebobrokan Naya membuat semuanya lebih cepat dari yang seharusnya. Kenakalannya membuat sang ayah sakit kepala dan menyerah pada putrinya, kemudian menyerahkannya kepada Marcel sosok pria yang cukup sempurna untuk lanjut mendidik Naya.
"Naya belajar dengan baik, besok ada kuis di mata kuliah, Saya!"
"Iya, Mas!"
"Tapi jangan terlalu begadang, nanti Kamu bisa sakit!"
"Iya, Mas ...."
"Jangan terlalu banyak makan makanan manis. Ingat Kamu sudah manis dan yang terlalu manis bisa membuat gigimu sakit!"
"Iya, Mas."
"Besok setelah mata kuliah terakhir, langsung pulang ke rumah dan berhenti keluyuran!"
Iya dan iya mas, selalu menjadi jawaban Naya. Hampir tidak pernah melawan perkataan suaminya, tapi apa? Sayangnya Dia juga hampir tidak pernah mematuhinya. Kata iya yang keluar dari bibirnya seolah tak berarti apa-apa dan Marcel cukup pusing dibuatnya.
Lantas bagaimana kelanjutan ceritanya?
Simak selengkapnya hanya ada di My Perfect Husband oleh Saiyaarasaiyaara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saiyaarasaiyaara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 17
○○○
Nana tidak marah pada Deva atau Maura, hanya kecewa. Dia pergi begitu saja untuk segera memberitahu Marcel tentang kabar tersebut. Setelah ini mungkin stabilitas kerja Marcel akan dipertanyakan.
Bagaimana bisa seorang dosen menikahi mahasiswinya sendiri?
Orang-orang akan mulai mempermasalahkan hal itu pada Marcel.
Sedang kepada Nana, belum sehari dia sudah mendapat masalah. Bahkan dia telah dikatai ******.
Klekk..
Nana membuka pintu ruangan Marcel, tanpa mengetuk terlebih dahulu seperti biasanya yang ia lakukan.
Kekecewaan mulai menyelimuti Nana dan tidak seperti yang diharapkan. Bukan Marcel yang ada di sana melainkan wanita kemarin yang Deva perlihatkan padanya. Wanita yang berjalan bergandengan dengan Marcel sambil tertawa. Hal itulah menyebabkan Nana makin kecewa.
"Siapa kamu? Lancang sekali kamu masuk ruang dosen tanpa mengetuk!" Sinis wanita tersebut sambil menelisik Nana dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Maaf Bu, saya tidak sengaja. Tadi saya tak sengaja tersandung hingga mendorong pintu tanpa sengaja dan terbuka."
"Jangan diulangi, ya sudah keluarlah.."
Nana tidak menurut dan tidak keluar dia bahkan mengajukan pertanyaannya. "Kalau saya boleh tahu Pak Marcelnya kemana ya Bu?" Tanya Nana sopan menjaga nada suaranya meskipun rasa geram dan marah mulai menyelimutinya.
"Kemana Pak Marcel memangnya kamu ada perlu apa? Sudahlah lebih baik kamu nanti saja menemuinya."
"Tapi Bu.."
"Kenapa lagi, kamu gak dengar omongan saya. Saya bilang nanti saja, ya nanti saja!! Mau ngapain sih.. kayak penting saja."
Nana menghela nafas ingin rasanya ia mengumpat. Namun ditahannya, bagaimana pun wanita dihadapannya lebih tua darinya.
"Tolonglah Bu.." mohon Nana dengan wajah memelas. " Ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan Pak Marcel sekarang dan itu tidak bisa ditunda lagi."
"Palingan cuma urusan nilai saja. Pergilah hal itu akan saya sendiri yang mengatakan pada kekasih saya."
"Kekasih!" Ulang Nana dengan suara meningkat dan wajah memerah menahan marah.
"Ya, saya kekasihnya Pak Marcel memangnya kamu nggak tahu.."
Nana menilap tangannya, "ya saya tidak tahu dan saya tidak mau tahu. Mulai sekarang jauhi Pak Marcel atau kamu akan tahu akibatnya!" Peringat Nana, kali ini dia melupakan sopan santunnya. Emosi amarahnya sudah berada dipuncak dan bersiap meledak.
"Apa maksudmu, kenapa saya tidak boleh mendekati kekasih saya sendiri. Memangnya kamu siapa? Ch, ternyata kamu salah satu ****** di kampus ini yang menggoda dosennya demi nilai."
"Yang ****** itu kamu bukan saya. Apa kau tidak lihat Pak Marcel udah ada cincin ditangannya?"
"Tentu saja itu cincin pertunangan kami."
"Oh, yaa! Kalau begitu di mana cincinmu, apa ini.." Nana menunjukkan jarinya yang tersemat cincin yang sama dengan milik Marcel.
"Dasar ****** itu pasti cuma akalanmu saja!!" Geram wanita tersebut, tapi dia tak menyangkal ucapan Nana ada benarnya. Dari kemarin dia sudah memperhatikan cincin yang tersemat dijemari Marcel dan kali ini ada juga dijemari mahasiswi didepannya.
Plak, tamparan keras mendarat di pipi Nana dan itu tamparan kedua kalinya yang ia dapatkan hari ini dan itu dibagian pipi yang sama yakni pipi kiri. Pipi yang tadinya merah pudar kini makin merah akibat tamparan kedua kalinya dan tentunya makin terasa sakit.
Nana meringis dan mengelus pipinya yang sakit dan kemudian amarahnya pun meledak.
Brakk..
"Auchhh, lepasin ******!!" Ringis wanita itu kala rambutnya Nana jambak dan setelah Nana mendorong keras dirinya hingga tersungkur kelantai.
Kini Nana sudah diambang batas kesabarannya seraya meluapkan amarahnya yang sudah tidak bisa di kendalikannya. Tangannya mencekram kedua tangan wanita itu agar berdiri kemudian mendorongnya lagi hingga jatuh jatuh kembali.
"Apa-apaan kamu Naya?" tiba-tiba suara mengagetkan dan menghentikan Nana. Entah dari kapan laki-laki itu berada di sana dan kini menatap Nana geram karena kelakuannya. Tanpa bicara Marcel pun membantu wanita itu berdiri.
Nana buru-buru memutar otak menghampiri wanita yang sudah dia dorong dua kali itu, "Saya minta maaf Bu, saya tidak sengaja dan terbawa perasaan saja.." Nana mengiba.
"Ini pasti sakit ya.. hiks, hiks bagaimana ini Mas saya sudah melukai orang dan membuatnya kesakitan.." Isak Nana sambil menangis menumpahkan air matanya begitu saja.
"Jangan percaya gadis ini Mas, dia itu cuma pura-pura. Tadi saja dia begitu bar-bar melukaiku." Ucap wanita itu mencoba mempengaruhi Marcel.
"Nana!!" Gertak Marcel.
"Saya benar-benar tidak sengaja Bu. Saya cuma terbawa emosi sesaat, hiks.. bahkan Ibu juga sudah menampar saya hikss, hikss.. Pipiku juga terasa panas dan perih sekarang. Hiks..hiks maafkan saya Bu, saaayyaaa memang masiiih labil mudah marah Buk hikss.."
Marcel beralih memeriksa pipi Nana. Ah, ternyata pipi isterinya benaran memerah dan sedikit memar.
Sontak saja Marcel mengeram marah dan membuat wanita tersebut ketakutan.
"Apa-apaan kamu Rena! Berani sekali menyetuh pipi isteriku bahkan melukainya. Keluar!!" Marah Marcel mengusir wanita yang ternyata bernama Rena tersebut. Tanpa menunggu lagi Rena keluar disertai senyuman licik Nana tanpa sepengetahuan Marcel.
"Dan kamu!!" Marcel meremas rambutnya kasar lalu menyugarnya kebelakang dan menarik Nana paksa untuk duduk di sofa.
"Kenapa membiarkan orang lain melukaimu, hahh.. dan sekarang malah menangis." Omel Marcel membuat Nana kali ini sungguhan menangis. Meratapi betapa tega suaminya, bukannya langsung mengobati pipinya malah mangomelinya.
"Sssttt.. auchhh, sakit!!" Ringis Nana kala Marcel dengan anehnya mengecup pipinya yang memerah dan membengkak. Hal itu menyebabkan Nana sebal dalam tangisannya dan menyumpahi Marcel.
"Sakit?"
Nana mengangguk dan Marcel pun mengambil kotak obat lalu mengobati pipi Nana dengan telaten.
○○○
TO BE CONTINUED
22-05-2020
Aku akan senang jika kalian menyapaku😊😊😍
Info lengkapnya
Facebook : Saiyaara Saiyaara
Instagram : Saiyaarasaiyaara
Noveltoon : Saiyaarasaiyaara
bingung .bknnya Marcel LG keluar kota? ko tiba2 udah nongol aja kapan baliknya
Kurangnya komunikasi antara pasangan dan gak jujur dgn perasaan sendiri ke pasangan,Bisa bikin hubungan tambah panas dan akhirnya pertengkaran..