NovelToon NovelToon
Penulis Terakhir Langit Yang Retak

Penulis Terakhir Langit Yang Retak

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Timur
Popularitas:196
Nilai: 5
Nama Author: Tubagus Abidin

Di Kekaisaran Xuan-Mo, realitas adalah tinta, dan kekuasaan adalah keindahan goresan. Mereka yang bisa menulis hukum alam dengan kuas emas diperlakukan sebagai dewa, sementara mereka yang gagal hanyalah noda yang harus dihapus.
Ren Zexian lahir dengan kutukan "Mata Void"—ia tidak bisa melihat keindahan ilusi dunia, hanya kerangka rapuh di baliknya. Dianggap sampah oleh klan kaligrafer elit, ia bekerja sebagai penghapus buku terlarang, hidup dalam diam hingga suatu hari ia menemukan sebuah halaman kosong yang berdarah.
Saat "The Fade" mulai menelan desa asalnya, mengubah manusia menjadi hampa tanpa ingatan, Ren menyadari bahwa kekacauan ini bukanlah bencana alam, melainkan suntingan yang disengaja oleh Dewan Langit. Dengan kuas patah dan teknik terlarang yang memungkinkan ia "menghapus" keberadaan musuh, Ren memulai perjalanan berbahaya mendaki 9 Provinsi Mengambang.
Ia bukan pahlawan yang akan melukis dunia baru. Ia adalah editor yang akan memotong bagian-bagian busuk dari cerita ini,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tubagus Abidin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kota yang Dibangun di Atas Tulang

Kabut pagi di Lembah Tetangga tidak sepekat di Hutan Provinsi Hutan, namun ia membawa bau yang jauh lebih menyengat: asap batubara, besi berkarat, dan keringat ribuan jiwa yang terperangkap dalam roda industri. Ren Zexian berdiri di atas bukit kecil, menatap ke bawah menuju cakrawala kota yang membentang luas seperti kanker logam yang menyebar di atas tanah subur.

Ini adalah Kota Besi Heiyan, jantung industri Kekaisaran Tengah. Di sini, langit jarang terlihat biru karena tertutup oleh asap tebal dari ratusan cerobong pabrik pengolahan Tinta Mentah. Suara dentuman palu raksasa, deru mesin uap, dan teriakan mandor menciptakan simfoni kekacauan yang tidak pernah berhenti, siang maupun malam. Bagi orang luar, ini adalah simbol kemajuan Klan Naga—kemampuan mereka mengubah sumber daya alam menjadi kekuatan militer. Bagi Ren, ini adalah kuburan massal yang disamarkan sebagai peradaban.

"Kita harus masuk," kata Ren, menyesuaikan tudung jubahnya yang sudah compang-camping. "Di tengah keramaian itu, jejak energi kita akan tenggelam dalam polusi Qi."

Lin mengangguk, menarik kerah bajunya hingga menutupi hidung. Cincin perak di matanya kini tersembunyi di balik topi anyaman jerami murah yang mereka beli dari seorang pedagang keliling di kaki bukit. Gadis kecil itu tampak berbeda sejak keluar dari Kuil Sunyi. Posturnya lebih tegak, langkahnya lebih mantap. Rasa sakit fisik telah hilang, digantikan oleh kewaspadaan tajam terhadap lingkungan sekitarnya. Ia bisa merasakan "denyut" kota ini—sebuah ritme mekanis yang dingin dan tanpa empati.

Mereka menyusuri jalan tanah yang berlumpur menuju gerbang utama kota. Penjaga di gerbang bukan lagi praktisi Qi elit seperti di Sektor Bawah Tanah, melainkan tentara bayaran bersenjata tombak besi tumpul. Mereka lebih peduli pada suap daripada keamanan. Ren melemparkan beberapa koin tembaga terakhir miliknya—sisa dari hasil menjual jam saku ayahnya dulu—kepada penjaga yang paling serakah. Tanpa banyak bicara, gerbang besi berat itu terbuka sedikit, cukup untuk menyelipkan dua tubuh kurus ke dalamnya.

Begitu masuk, hiruk-pikuk Kota Besi Heiyan menyambut mereka seperti tamparan keras. Jalanan sempit dipenuhi oleh gerobak dorong, kuda-kuda kerja yang kelelahan, dan warga sipil yang berjalan dengan kepala tertunduk. Bangunan-bangunan bertingkat tiga atau empat terbuat dari batu bata hitam dan kayu lapuk, saling berhimpitan sehingga cahaya matahari sulit menembus ke tingkat jalan. Di setiap sudut, terdapat poster propaganda Klan Naga yang menampilkan gambar Elder Agung dengan slogan: "Keteraturan Melalui Ketaatan. Kemajuan Melalui Pengorbanan."

Ren mengarahkan langkah mereka menuju Distrik Pengecoran, bagian kota yang paling kotor dan berbahaya, tempat para pekerja paksa mengolah bijih besi dan sisa-sisa Tinta Inti menjadi senjata. Di sinilah, menurut informasi yang ia dapat dari bisikan angin di hutan (dan intuisinya sendiri), gerakan perlawanan bawah tanah berakar. Mereka menyebut diri mereka "Tinta Tak Terlihat"—kelompok mantan pekerja, seniman yang dibungkam, dan praktisi Qi buangan yang menolak dogma Klan Naga.

"Mereka ada di mana-mana, tapi tidak terlihat," gumam Ren, mengingat pesan kode yang ditinggalkan Master Wei di buku catatannya: "Cari tanda mata buta di dinding bengkel tua."

Mereka berkeliling melewati lorong-lorong gelap, menghindari patroli penjaga kota yang bersenjata lengkap. Lin berjalan diam, matanya mengamati setiap wajah yang mereka lewati. Banyak dari wajah-wajah itu kosong, hampa, mirip dengan korban The Fade namun dalam bentuk sosial. Mereka adalah orang-orang yang jiwanya telah dikikis habis oleh kerja paksa dan penindasan.

"Aku merasa sedih, Kak," bisik Lin tiba-tiba, tangannya mencengkeram lengan Ren. "Banyak sekali... keheningan di dalam kepala mereka."

Ren menepuk tangan adiknya dengan lembut. "Itulah mengapa kita di sini, Lin. Untuk membangunkan mereka."

Akhirnya, mereka menemukan sebuah bengkel besi tua di ujung gang buntu. Pintunya tertutup karat, dan tidak ada tanda kehidupan di dalamnya. Tapi di samping pintu, terdapat coretan kapur putih yang hampir tak terlihat: sebuah lingkaran dengan titik di tengahnya, tetapi titiknya dicoret hingga membentuk lubang kosong. Mata buta.

Ren mengetuk pintu dengan pola tertentu: tiga kali cepat, dua kali lambat.

Hening.

Lalu, terdengar suara geseran besi dari dalam. Pintu terbuka sedikit, memperlihatkan celah gelap. Sepasang mata curiga mengintip dari kegelapan.

"Siapa?" tanya suara parau seorang pria.

"Pemulung yang mencari tinta bekas," jawab Ren, menggunakan frasa sandi yang diajarkan Wei.

Pria itu terdiam sejenak, lalu membuka pintu lebih lebar. "Masuk. Cepat. Sebelum patroli lewat."

Ruangan di dalam bengkel ternyata jauh lebih luas daripada kelihatannya dari luar. Ini adalah ruang bawah tanah yang diterangi oleh lentera minyak bercahaya redup. Dinding-dindingnya dipenuhi dengan peta rahasia, skema senjata improvisasi, dan tumpukan pamflet terlarang. Sekitar dua puluh orang berkumpul di sana—pria dan wanita dengan wajah lelah namun mata yang menyala-nyala dengan semangat pemberontakan.

Di tengah ruangan, berdiri seorang wanita berambut pendek berwarna abu-abu, mengenakan apron kulit penuh noda oli. Wajahnya kasar, dengan bekas luka bakar di pipi kirinya. Ini adalah Komandan Rina, pemimpin sel perlawanan di Heiyan.

Rina menatap Ren dan Lin dengan tatapan menilai. "Wei mengirim kalian? Dia bilang dia punya 'aset' baru, tapi aku tidak mengharapkan anak-anak."

"Bukan anak-anak," koreksi Ren tegas, melangkah maju. "Kami adalah bukti kegagalan Klan Naga."

Ia mengeluarkan buku catatan bersampul kulit dari bajunya—buku yang sama yang ia curi dari laboratorium, yang kini telah ia lengkapi dengan catatan tentang pertemuan dengan Penulis Bayangan dan penyembuhan di Kuil Sunyi. Ia melemparkannya ke meja di hadapan Rina.

Rina membuka buku itu, matanya menyapu halaman-halaman berisi nama korban, diagram eksperimen, dan analisis kelemahan struktur Qi Klan Naga. Ekspresinya berubah dari skeptis menjadi serius, lalu menjadi marah.

"Ini... ini daftar Proyek Anomali," gumam Rina, suaranya bergetar. "Kami menduga proyek ini ada, tapi tidak punya bukti konkret. Dengan ini, kita bisa membuka mata rakyat. Kita bisa menunjukkan bahwa Klan Naga tidak melindungi mereka, tapi memanen mereka."

"Tapi bukti saja tidak cukup," kata Ren. "Klan Naga memiliki monopoli pada informasi. Mereka akan menyebut ini pemalsuan. Kita butuh aksi. Kita butuh gangguan besar yang memaksa mereka mengalihkan pasukan dari pencarian kami, sekaligus memberikan harapan kepada rakyat."

Rina menatap Ren lama. "Apa usulanmu, Pemulung?"

Ren menunjuk ke peta kota yang tergantung di dinding. Jari telunjuknya bergerak menuju pusat kota, tepat di atas Menara Jam Besar—simbol kekuasaan Klan Naga di Heiyan. Di puncak menara itu, terdapat Kristal Resonansi, alat raksasa yang digunakan untuk menyiarkan perintah Kaisar dan memperkuat medan pengontrol Qi di seluruh kota.

"Ganggu Kristal Resonansi," kata Ren. "Jika kristal itu retak, bahkan sedikit, medan kontrol akan goyah. Rakyat akan merasakan kebebasan sesaat. Dan dalam kekacauan itu, kita bisa menyebarkan kebenaran."

Rina tertawa pahit. "Menara itu dijaga oleh satu batalion Garda Emas dan sistem pertahanan otomatis. Itu misi bunuh diri."

"Bukan jika kita tidak menyerang dari depan," sela Lin tiba-tiba. Suaranya kecil, tapi semua orang di ruangan itu menoleh padanya.

Lin melangkah ke depan, menunjuk ke bagian bawah peta, ke sistem saluran pembuangan limbah industri yang mengalir di bawah Menara Jam.

"Kristal itu membutuhkan pendinginan terus-menerus dari air limbah," jelas Lin, matanya bersinar saat ia menjelaskan. "Aku bisa merasakannya. Ada aliran energi panas yang besar di sana. Jika kita menyumbat aliran pendingin itu... kristal akan terlalu panas. Ia akan retak karena tekanan termalnya sendiri."

Ruangan menjadi hening. Semua orang menatap gadis kecil itu dengan kekaguman dan ketakutan. Bagaimana dia tahu?

Ren tersenyum bangga. "Adikku memiliki koneksi unik dengan struktur energi. Dia bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa. Rencananya sederhana: tim kecil menyusup melalui saluran limbah, memasang perangkat penghalang buatan di pipa pendingin utama. Saat kristal overheat, alarm akan berbunyi, garda akan panik, dan di saat itulah kita sebarkan pamflet dan teriakan kebenaran ke jalanan."

Rina menatap Lin, lalu ke Ren. Ia melihat tekad di mata mereka. Bukan tekad orang yang putus asa, tapi tekad orang yang memiliki tujuan.

"Berani," kata Rina akhirnya. "Gila. Tapi mungkin... hanya mungkin... ini akan berhasil."

Ia menepuk meja. "Baiklah. Kita lakukan malam ini. Saat pergantian jaga pukul dua belas. Siapkan peralatan. Dan siapkan mental kalian. Karena setelah malam ini, tidak ada jalan kembali."

Ren mengangguk. Ia menoleh ke Lin. Gadis kecil itu tersenyum tipis, meski tangannya masih gemetar sedikit. Ini bukan lagi tentang lari. Ini tentang melawan.

Mereka menghabiskan sisa siang hari untuk mempersiapkan rencana. Ren membantu memperbaiki alat-alat sabotase, sementara Lin bermeditasi, menyiapkan energinya untuk mendeteksi titik lemah dalam sistem pipa.

Saat malam turun, Kota Besi Heiyan berubah menjadi labirin bayangan dan uap. Ren, Lin, dan tiga anggota terpilih dari kelompok Rina menyusup ke dalam mulut saluran pembuangan yang gelap dan berbau busuk. Air limbah industri berwarna ungu pekat mengalir deras di sekitar kaki mereka, menggerogoti sepatu bot mereka.

"Ingat," bisik Ren pada timnya. "Jangan bersuara. Jangan bersentuhan dengan dinding logam terlalu lama. Getaran bisa memicu sensor."

Mereka merayap dalam kegelapan, dipandu oleh cahaya perak samar dari mata Lin. Setiap belokan, Lin memberi isyarat arah dengan gerakan tangan. Ia bisa "mendengar" aliran energi panas di dalam pipa-pipa tebal di atas kepala mereka.

Setelah satu jam menyusuri kegelapan yang mencekik, mereka mencapai ruang mesin utama di bawah Menara Jam. Di sana, terdapat pipa raksasa berdiameter lima meter, bergetar hebat karena tekanan air panas. Uap menyembur dari sambungan-sambungannya, menciptakan kabut tebal.

"Ini dia," bisik Lin, menunjuk ke katup utama. "Di sini. Jika kita macetkan roda gir ini, aliran akan berhenti."

Salah satu anggota tim, seorang mekanik tua bernama Goran, maju dengan palu besi dan ganjal kayu. Ia mulai bekerja dengan cepat dan presisi, memukul ganjal ke dalam roda gir katup.

Klek. Klek. Krek.

Suara logam beradu terdengar nyaring di ruang gema itu.

Tiba-tiba, lampu sorot merah menyala di sudut ruangan. Sirene meraung.

"Peringatan! Penyusup terdeteksi di Sektor Pendingin!"

Goran belum selesai. "Satu menit lagi!" teriaknya, keringat mengucur di dahinya.

Dari tangga besi di kejauhan, terdengar langkah kaki berat. Garda Emas datang.

Ren menarik kuas patahnya. "Lindungi Goran! Aku akan menahan mereka!"

Ia berlari menuju tangga, menulis karakter "Licin" di lantai besi di depan para penjaga yang sedang turun. Tiga garda pertama terpeleset, jatuh bertumpuk-tumpuk, menciptakan kemacetan sesaat.

Tapi lebih banyak lagi yang datang. Tombak-tombak qi melesat ke arah Ren.

Ren menepisnya dengan kuasnya, tubuhnya berputar seperti daun di angin. Ia tidak bisa menang dalam pertarungan langsung. Ia hanya perlu membeli waktu.

"Lima detik!" teriak Goran.

KRAK!

Roda gir macet total. Aliran air panas berhenti.

Di atas mereka, di puncak menara, terdengar suara ledakan kaca yang memecah keheningan malam. Kristal Resonansi retak.

Gelombang kejut energi terasa hingga ke ruang bawah tanah. Lampu-lampu di seluruh kota berkedip liar, lalu padam sebagian. Medan pengontrol Qi runtuh sejenak.

Di jalanan atas, terdengar teriakan kebingungan, lalu sorak-sorai. Rakyat mulai sadar. Mereka merasa ringan. Bebas.

Ren tersenyum, meski darahnya mengalir dari luka baru di bahunya.

"Misi selesai," katanya, napasnya tersengal. "Sekarang, mari kita kabur sebelum mereka menyadari siapa pelakunya."

Mereka menghilang ke dalam kegelapan saluran lain, meninggalkan kekacauan yang indah di belakang mereka. Api revolusi telah dinyalakan. Dan di Kota Besi Heiyan, untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, rakyat berani bermimpi tentang fajar yang berbeda.

1
Anime aikō-kā
..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!