NovelToon NovelToon
Tersandung Cinta, Sang CEO Posesif Terlalu Mencintainya

Tersandung Cinta, Sang CEO Posesif Terlalu Mencintainya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Kembang

Seraphina Lim kembali ke Jakarta dengan label yang memalukan — anak haram keluarga konglomerat Lim.

Dibuang sejak kecil, dibesarkan oleh keluarga lain, dan kini dipanggil pulang hanya untuk dijadikan bidak politik. Saudari tirinya yang menggantikan posisinya selama 20 tahun menganggapnya sampah. Ayah kandungnya ingin menjodohkannya dengan putra keluarga paling korup di Jakarta.

Tapi Seraphina bukan gadis lemah yang bisa diinjak.

Di malam pertamanya di Jakarta, takdir mempertemukannya kembali dengan Reynard Hartono — pewaris tunggal Hartono Group, pria paling berkuasa dan paling berbahaya di kota ini. Dingin, posesif, dan tak pernah tersentuh oleh wanita manapun...

...kecuali dia.

"Kau adalah hartaku yang paling berharga."

Reynard sudah menunggunya selama empat tahun. Dan kali ini, dia tidak akan melepaskannya — tidak peduli berapa banyak musuh yang harus dihancurkan.

Identitas palsu. Cinta obsesif. Balas dendam yang manis.

Ketika rahasia terbesar keluarga Lim terbongkar, seluruh Jakarta akan tahu — gadis yang mereka injak-injak selama ini, justru adalah pewaris sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 018

Bukan Kerja Sama

Tidak. Aku sudah selesai bersembunyi di balik kata kerja sama.

Seraphina membaca pesan itu tiga kali.

Malam di halaman rumah Lim terasa lebih dingin dari sebelumnya. Di belakangnya, rumah besar itu masih menyala, tetapi tidak ada satu pun jendela yang membuatnya ingin kembali. Di depannya, layar ponsel kecil memantulkan satu kalimat yang justru terasa seperti pintu terbuka.

Ia mengetik:

Kalau bukan kerja sama, apa?

Balasan Reynard tidak datang secepat biasanya.

Seraphina hampir memasukkan ponsel ke tas ketika layar menyala.

Besok aku jawab langsung.

Keesokan malamnya, Reynard tidak membawanya ke restoran mahal yang penuh orang. Ia mengirim alamat sebuah galeri seni kecil di Menteng, tempat yang hanya buka untuk undangan terbatas. Ketika Seraphina tiba, lantai bawah galeri sudah kosong. Lampu diarahkan ke beberapa lukisan abstrak, musik piano mengalun pelan, dan di tengah ruangan ada meja makan untuk dua orang.

"Kau menyewa seluruh galeri?" tanya Seraphina.

Reynard berdiri di dekat lukisan berwarna biru gelap. "Aku meminjamnya."

"Itu lebih terdengar seperti orang kaya."

"Aku mencoba tidak membuatmu merasa sedang ditonton."

Kalimat itu menghentikan komentar Seraphina.

Ia mengenakan gaun hitam sederhana, rambut diikat rendah. Reynard menatapnya cukup lama untuk membuat udara berubah, tetapi tidak cukup lama untuk membuatnya merasa dipajang.

"Kau belum menjawab pertanyaanku," kata Seraphina.

"Aku tahu."

Mereka duduk. Makan malamnya sederhana untuk ukuran Reynard: sup jagung hangat, ikan panggang, sayuran, dan teh oolong. Tidak ada wine. Tidak ada pelayan yang mondar-mandir. Hanya satu staf galeri jauh di pintu belakang, cukup jauh untuk tidak mendengar.

Seraphina mencicipi sup, lalu menatapnya. "Kau juga memasak ini?"

"Tidak. Kalau aku memasak, kau akan menuduhku memakai makanan untuk menang."

"Bukankah memang begitu?"

"Malam ini aku ingin kalah dengan jujur."

Seraphina menurunkan sendok. "Itu kalimat yang berbahaya."

Reynard meletakkan cangkir teh. "Aku ingin mengejarmu, Sera."

Tidak ada musik yang berhenti. Tidak ada lampu yang berubah. Namun bagi Seraphina, ruangan itu mendadak sunyi.

Ia sudah tahu kalimat itu mungkin akan datang. Tetap saja, mendengarnya langsung membuat dadanya seperti ditarik pelan dari tempat yang aman.

"Kau sudah mengejarku," katanya.

"Belum dengan benar."

"Apa bedanya?"

"Selama ini aku memakai alasan kerja sama, makanan, keamanan, proyek, Jason, Natasha, apa pun yang bisa membuatku berdiri di dekatmu tanpa membuatmu merasa terpojok." Reynard menatapnya. "Mulai sekarang, aku ingin berdiri di dekatmu dengan nama yang benar."

"Nama apa?"

"Pria yang menyukaimu."

Seraphina memegang cangkirnya lebih erat.

Kata menyukai terdengar terlalu sederhana untuk pria seperti Reynard. Terlalu muda, terlalu ringan. Namun justru karena itu, ia terasa jujur. Tidak memakai kata takdir. Tidak memakai janji besar. Tidak menuntut balasan.

"Kalau aku menolak?"

"Aku tetap menghormati keputusanmu."

"Kalau aku meminta waktu?"

"Aku menunggu."

"Kalau aku bilang aku tidak tahu bagaimana mempercayai seseorang?"

"Aku tidak akan memaksamu percaya. Aku akan memberimu alasan, satu per satu."

Seraphina menunduk. Di atas meja, sendok kecil memantulkan cahaya galeri. Ia melihat bayangan dirinya di permukaan logam, kecil dan sedikit kabur.

"Rey, hidupku sedang berantakan."

"Aku tahu."

"Keluarga Lim, Wijaya, Astoria, semua belum selesai."

"Aku tidak memintamu selesai dulu baru boleh dicintai."

Kalimat itu membuat jari Seraphina berhenti.

Reynard seakan sadar ia baru saja melangkah terlalu jauh. Namun ia tidak menarik kembali kalimat itu.

"Aku tidak meminta jawaban malam ini," lanjutnya. "Aku hanya tidak ingin kau salah mengartikan setiap hal yang kulakukan sebagai strategi bisnis."

"Dan kalau orang lain salah mengartikan?"

"Mereka sudah melakukannya."

"Itu tidak mengganggumu?"

"Yang menggangguku adalah kalau kau percaya mereka."

Seraphina menatapnya.

Ada bagian dirinya yang ingin berkata bahwa ini tidak masuk akal. Terlalu cepat, terlalu intens, terlalu dekat dengan bahaya. Namun bagian lain, bagian yang beberapa malam lalu meringkuk di sofa Natasha dan merasa aman saat Reynard datang, tidak bisa berpura-pura tidak mendengar.

"Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa," katanya.

"Aku tidak datang meminta janji."

"Lalu apa yang kau minta?"

Reynard mengambil sesuatu dari saku dalam jasnya. Bukan kotak perhiasan. Bukan bunga. Hanya sebuah kartu kecil berwarna gading.

Seraphina menerimanya.

Di sana tertulis dengan tangan Reynard:

Makan malam tanpa alasan kerja.

Di bawahnya ada tanggal malam itu.

Seraphina mengangkat alis. "Kau membuat bukti?"

"Pengingat."

"Untukku?"

"Untukku. Agar aku tidak kembali bersembunyi di balik alasan lain."

Untuk pertama kalinya malam itu, Seraphina tersenyum.

"Kau aneh."

"Sering dikatakan."

"Aku belum bilang ya."

"Aku tahu."

"Tapi aku juga belum bilang tidak."

Mata Reynard berubah, tidak banyak, hanya cukup untuk membuat dada Seraphina hangat.

"Itu sudah lebih dari yang pantas kudapat malam ini."

Seraphina menaruh kartu kecil itu di samping cangkir. "Kalau kau ingin mengejarku dengan nama yang benar, ada aturan."

Reynard langsung tegak sedikit. "Katakan."

"Pertama, jangan memutuskan sesuatu tentang hidupku tanpa bertanya."

"Ya."

"Kedua, kalau kau mengatur perlindungan karena ada ancaman, kau beri tahu aku. Aku mungkin marah, tapi aku lebih marah kalau mengetahuinya dari orang lain."

"Ya."

"Ketiga, jangan memakai Astoria untuk mendekatiku."

"Aku tidak akan."

"Keempat..."

"Tadi kau bilang ada aturan, bukan empat pasal kontrak."

Seraphina menatapnya.

Reynard langsung diam. "Silakan lanjut."

"Keempat, kalau suatu hari aku bilang berhenti, kau berhenti."

Kali ini Reynard tidak menjawab secepat sebelumnya. Bukan karena ragu, melainkan karena ia menatap Seraphina dengan keseriusan yang hampir membuatnya tidak nyaman.

"Aku berhenti," katanya akhirnya. "Bukan karena aku mudah menyerah. Karena kau lebih penting daripada keinginanku."

Seraphina menurunkan pandangan lebih dulu.

"Baik."

Makan malam selesai tanpa keputusan besar. Reynard mengantarnya sampai mobil, tidak menyentuh pinggangnya, tidak memegang tangannya sebelum ia yang lebih dulu memberi izin dengan meletakkan jari di lengan jasnya.

Sentuhan kecil itu cukup membuat mereka sama-sama diam.

Sebelum masuk mobil, Seraphina memasukkan kartu kecil bertuliskan makan malam tanpa alasan kerja ke dalam dompetnya. Reynard melihat, tetapi tidak berkomentar. Seraphina juga tidak menjelaskan. Beberapa jawaban memang belum perlu diucapkan agar tetap berarti.

Saat mobil berhenti di depan apartemen SCBD, ponsel Seraphina bergetar. Pesan dari Jason masuk di grup kecil yang baru dibuat Natasha.

Besok malam ada acara lounge amal setelah rapat Halim. Jangan tanya kenapa amal selalu berakhir di lounge. Kevin kabarnya datang. Kalau dia mabuk, aku jual tiket.

Natasha langsung membalas:

Kalau dia mendekati Sera, aku tidak butuh tiket. Aku butuh izin melempar sepatu.

Seraphina menatap layar, lalu menoleh kepada Reynard.

Reynard juga membaca dari sudut matanya.

Wajahnya kembali dingin.

"Aku ikut," katanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!