NovelToon NovelToon
Geranium

Geranium

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Murni
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: you see me

Aku Abhinav Ruchir mencintaimu dengan cara yang mungkin membuatmu sesak aku menginginkan seluruh perhatianmu, seluruh waktumu, dan seluruh duniamu hanya untukku. Cintaku padamu seperti geranium yang tumbuh liar ia menuntut ruang untuk terus berada di dekatmu, terkadang melupakan batasan, hanya karena ia takut kehilangan tempatnya di sisimu.

Aku tahu caraku mencintaimu mungkin terasa dominan. Aku tidak ingin berbagi satu detik pun darimu dengan dunia lain, karena bagiku, kamu adalah satu-satunya nutrisi yang membuat hatiku tetap bertahan hidup. Ada kalanya aku merasa egois karena ingin memilikimu seutuhnya.

Namun, inilah caraku menjaga hubungan ini tetap bersemi dengan memegangmu seerat mungkin, meski aku tahu keegoisan ini mungkin akan melukai kita berdua.

Biarkan aku menjadi orang yang paling 'membutuhkanmu' di dunia ini. Bukan karena aku lemah, tapi karena di antara segala kesibukanmu, aku selalu ingin menjadi alasan utama mengapa kamu harus pulang dan tetap tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Aku tidak tahu sudah berapa lama aku terlelap dalam kehampaan setelah badai amarah Abhi menghantam dan menyisakan kehancuran. Kini, yang tertinggal hanyalah puing-puing kesadaran tubuhku terasa remuk, setiap inci otot seolah menjerit dalam rasa sakit yang mati rasa. Aku hanya bisa duduk mematung di atas ranjang, menatap titik kosong di dinding dengan pandangan yang tak lagi mampu fokus, seolah jiwaku telah pergi meninggalkan raga yang terkulai ini.

​Keheningan yang mencekam itu tiba-tiba pecah oleh sebuah suara yang terpatri dalam ingatanku suara yang seketika membuat jantungku bergetar hebat.

​" Hei, lihat aku di sini sekarang," bisik suara itu, disusul dengan sentuhan lembut yang terasa asing namun nyata. " Ayo, bersihkan badanmu. Kita harus pergi dari sini sekarang juga."

​Ada nada getir yang tertahan di sana, sebuah pengakuan yang menyayat hati, " Maafkan aku baru bisa datang... aku pun harus berjuang mati-matian untuk bisa lolos dari pengawasannya."

​Mendengar itu, pertahanan diriku yang sempat beku akhirnya runtuh sepenuhnya. Isak tangis yang tertahan di tenggorokan meledak hebat, membanjiri ruang yang tadinya sesak oleh rasa takut. Sesak itu kembali mendera, kali ini bukan karena amarah, melainkan karena kelegaan yang menyesakkan dada sebuah harapan yang sempat kupikir telah mati, kini berdiri tepat di hadapanku.

Kami keluar dari rumah itu dengan jantung yang berdegup liar di balik seragam pelayan yang terasa longgar di tubuhku. Setiap derap langkah di lantai marmer terasa seperti dentuman genderang perang, namun kami berhasil melaluinya dengan menunduk, menyatu dengan bayang-bayang para pekerja lainnya. Udara dingin di luar rumah terasa begitu manis napas kebebasan yang sempat kupikir tak akan pernah kuhirup lagi.

​Perjalanan ke bandara terasa seperti mimpi buruk yang berjalan lambat. Setiap kali mobil berhenti atau ada mobil lain yang menyalip, aku hampir berhenti bernapas. Namun, keajaiban seolah berpihak pada kami. Kami terbang, berpindah kota, dan akhirnya menetap di sebuah rumah kecil di pinggiran pantai yang tersembunyi.

​Tiga tahun berlalu. Deru ombak yang dulunya terdengar seperti melodi kedamaian, kini mulai terdengar seperti bisikan yang meragukan.

​Aku berdiri di beranda, menatap cakrawala yang memerah, sementara sisa-sisa trauma mulai berubah menjadi rasa curiga yang tajam. Semakin lama aku merenung, semakin aku merasa ada sesuatu yang tidak pas. Apakah memang semudah itu kami meloloskan diri? Abhi bukan orang yang ceroboh ia memiliki mata di mana-mana, uang yang tidak berseri, dan ambisi yang tidak akan membiarkan mangsanya pergi begitu saja.

​Kenapa pelarian yang kupikir adalah perjuangan hidup dan mati, justru terasa seperti pintu yang sengaja dibukakan untuk kami? Apakah kami memang berhasil kabur, atau kami sebenarnya hanya dipindahkan ke sangkar yang lebih luas, menunggu waktu yang tepat untuk "ditarik" kembali?

​Setiap kali aku menoleh ke arah orang yang menyelamatkanku saat itu, yang kini duduk tenang di dalam rumah, aku tidak lagi merasakan kelegaan yang sama. Aku justru merasakan dingin yang menjalar di punggungku. Apakah dia benar-benar penyelamat, atau dia hanyalah bidak catur yang lain?

Tiga tahun ini, aku mencoba merajut kembali serpihan hidupku. Aku menyematkan stetoskop di leher dan memakai jas putih di salah satu rumah sakit kota ini sebuah rutinitas yang memberiku rasa kendali atas hidup yang sempat dirampas dariku. Menjadi dokter memberiku kebahagiaan sederhana; rasa berarti saat aku mampu menyembuhkan orang lain, jauh berbeda dengan rasa sakit yang dulu pernah aku derita.

​Namun, di balik ketenangan itu, ada duri yang tak kasat mata di dalam dadaku. Perasaan tidak enak itu insting yang dulu pernah menyelamatkanku kini terus berbisik, menolak untuk diam.

​Aurora, orang yang menyelamatkanku, menjalani kehidupan yang tampak sangat sibuk. Dia terus menerus bolak-balik dari kota satu ke kota lain dengan alasan pekerjaan yang tak pernah benar-benar kupahami detailnya. Awalnya, aku memaklumi itu sebagai bentuk kewaspadaannya agar kami tidak terlacak. Namun, semakin hari, frekuensi perjalanannya terasa... janggal.

​Apakah dia benar-benar sedang menghapus jejak, atau apakah dia justru sedang memastikan bahwa "sangkar" ini tetap terjaga rapi?

​Setiap kali dia pulang dari salah satu perjalanannya, aku mendapati diriku memperhatikan cara dia menatapku. Apakah itu tatapan lega karena kita masih aman, atau tatapan seorang pengawas yang memastikan asetnya masih ada di tempat yang seharusnya? Aku ingin sekali percaya padanya sepenuhnya, namun di dunia yang dulu diciptakan oleh Abhi, aku belajar satu hal jangan pernah menaruh kepercayaan 100% pada siapa pun, bahkan pada orang yang memegang kunci pintu keluar.

Kepergian Aurora kali ini terasa berbeda. Dingin dan tajam. Kata-katanya menggantung di udara seperti ancaman yang tak terucap " Jika dalam waktu 3 hari aku tidak datang, segera pergi dan pindah dari sini."

​Aku menatap punggungnya yang menjauh, dan untuk pertama kalinya, rasa curiga yang selama ini menggerogotiku kalah oleh rasa takut kehilangan. Apakah dia sedang menuju bahaya demi melindungiku? Atau ini adalah akhir dari sandiwara tiga tahun kami? Belum sempat aku mengurai benang kusut di kepalaku, ponsel di atas meja berdering nyaring, memecah hening yang mencekam.

​Rumah Sakit. Panggilan darurat.

​Di tengah guncangan emosi yang belum mereda, aku dipaksa kembali ke dunia nyata. Dengan tangan yang sedikit gemetar, aku meraih ponsel itu. Panggilan dari bagian administrasi rumah sakit mereka membutuhkan tenagaku segera untuk menangani kasus darurat. Aku tidak punya waktu untuk berlarut dalam firasat buruk. Aku harus profesional, aku harus bekerja, seolah-olah tidak ada badai yang sedang mengancam rumah kecil di pinggiran pantai ini.

Di ruang istirahat yang riuh oleh suara denting alat makan dan obrolan ringan, suasana terasa sedikit melambat. Dokter Akhtar datang dengan senyum hangatnya yang khas, menyapaku dengan sapaan akrab sebelum jemarinya mendarat lembut di puncak kepalaku. Sentuhan itu tidak bermaksud apa-apa, sebuah gestur perlindungan yang sudah sering ia tunjukkan, namun di mata rekan-rekan sejawat kami, tindakan itu selalu menjadi bahan bakar rumor yang tak kunjung padam.

​Telingaku menangkap bisik-bisik geli dan tatapan menggoda dari para perawat di meja seberang. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyum tipis yang dipaksakan.

​Di dalam hati, aku menghargai Akhtar. Dia tahu persis batasan yang kubuat. Dia pernah memberanikan diri mengungkapkan perasaan yang ia pendam, namun aku tidak mampu memberikan balasan yang sama. Trauma masa lalu dan bayang-bayang Abhi membuat hatiku seolah terkunci rapat, tidak berani membiarkan siapa pun masuk terlalu dalam. Untungnya, Akhtar adalah pria yang pengertian dia tidak memaksa, tidak menuntut, dan memilih untuk tetap berada di sisi sebagai sahabat yang bisa diandalkan.

​Namun, di tengah gelak tawa dan gurauan mereka, pikiranku melayang jauh.

​Di tengah percakapan, mataku menangkap sosok Akhtar yang sedang tertawa lebar. Dia tampak begitu damai, kontras sekali dengan diriku yang sedang berpacu dengan waktu. Ingatan tentang ultimatum Aurora tiga hari kembali menghunjam benakku. Bagaimana jika sesuatu terjadi pada Aurora? Jika dia benar-benar tidak kembali, apakah aku akan menyeret orang sebaik Akhtar ke dalam kekacauan hidupku? Apakah kedekatanku dengannya justru menjadi titik lemah yang akan dimanfaatkan Abinav untuk menemukanku?

​Aku tersentak saat Akhtar menyenggol lenganku pelan. " Kamu melamun lagi? Ada yang mengganggu pikiranmu? " tanyanya dengan nada perhatian yang selalu membuatku merasa aman, sekaligus merasa bersalah karena rahasia besar yang aku sembunyikan.

1
Umi Fitriani
semangat thorr
you see me: Terima kasih kakak /Whimper/😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!