Sejak kecil, Mili selalu menjadi anak yang dianaktirikan, sementara Gea, adik kesayangannya, selalu mendapatkan segalanya. Saat perjodohan keluarga mempertemukan mereka dengan Andrew dan David, Mili terpaksa menikah dengan David yang dingin, sedangkan Gea memilih Andrew yang dianggap sempurna.
Namun, kenyataan berbalik. Andrew jauh dari harapan, sementara David justru menjadi suami yang tulus mencintai Mili. Diliputi penyesalan, Gea tanpa malu meminta Mili menceraikan David agar bisa merebutnya. Kali ini, Mili menolak mengalah. Dengan satu kalimat yang menohok, ia menatap adiknya dan berkata, "Kamu kira suamiku barang?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Sesi pembelajaran baru saja akan dimulai ketika keheningan ruangan mendadak dipecahkan oleh suara langkah sepatu hak tinggi yang menggelegar angkuh.
Gea melangkah masuk tanpa diundang, membawa sebuah keranjang buah-buahan kecil di tangannya.
Melihat Mili berdiri di hadapan tiga orang yang berpenampilan rapi, Gea langsung menghentikan langkahnya dan tertawa terbahak-bahak.
Suara tawanya yang nyaring memenuhi seluruh penjuru ruang tamu.
"Astaga, Mili! Kakakku yang selalu berada di bawahku... aku kira setelah menikah kamu bakal jadi nyonya rumah, tapi ternyata kamu malah ditugaskan menyambut tamu seperti pelayan!" ejek Gea dengan tatapan penuh keangkuhan dan rasa puas.
Mendengar penghinaan terang-terangan itu, pelayan rumah serta ketiga guru privat yang berdiri di sana seketika membelalak tegang.
Mereka hendak memotong dan menjelaskan siapa ketiga orang itu sebenarnya, namun Mili dengan cepat menatap mereka dan
menggelengkan kepalanya pelan—memberi sinyal agar mereka tetap diam.
Mili menarik napas panjang. Bayangan wajah David dan bisikan tegas suaminya tadi pagi mendadak berputar kembali di benaknya: "Aku mau kamu membalas perbuatan Gea dan kamu harus berani, Istriku. Tunjukkan siapa Nyonya David.
Sengatan keberanian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya membakar dada Mili. Ditatapnya Gea lurus-lurus tanpa ada lagi rasa takut atau gemetar di matanya.
"Apa malam pertamamu tidak bahagia, Gea... sampai-sampai pagi begini kamu sudah melarikan diri ke rumah kakakmu?" sindir Mili tenang, namun telak menusuk tepat di ulu hati Gea.
"K-kamu?!" Gea terperanjat hebat. Wajah cantiknya seketika memerah padam.
Ia tidak pernah menyangka Mili yang selama ini penakut dan selalu menunduk, kini berani membalas ucapannya dengan begitu tajam.
Mili melangkah maju satu tapak, memancarkan aura ketegasan yang dingin.
"Kalau tidak ada keperluan apa-apa, lekas pergi dari rumahku."
Gea mengepalkan tangannya kuat-kuat, napasnya memburu karena menahan malu dan amarah di hadapan orang-orang di ruangan itu.
"Lihat saja kamu, Mili! Dua minggu lagi aku akan membuatmu bertekuk lutut dan menjadikanmu pelayanku di resepsi pernikahanku!" seru Gea penuh dendam.
Mili tersenyum tipis—sebuah senyuman mantap yang elegan.
"Aku tunggu undanganmu, Adikku."
Dengan wajah merah padam dan kepalan tangan yang bergetar hebat karena jengkel setengah mati, Gea membalikkan badan dan melangkah pergi secara kasar.
Namun, sebelum melewati pintu keluar, dengan sengaja ia menyenggol vas porselen antik yang bertengger di atas meja konsol.
PRANGGG!
Vas mahal kesayangan David itu jatuh dan hancur berkeping-keping di atas lantai marmer.
Gea tidak peduli dan terus berjalan keluar dengan hentakan kaki yang penuh amarah.
Para pelayan yang menyaksikan kejadian itu langsung pucat pasi, gemetar membayangkan kemurkaan Tuan David jika mengetahui vas kesayangannya pecah.
Mili menoleh ke arah pelayan yang panik. Dengannya yang kini tenang dan tegap, Mili mengusap lembut bahu pelayan itu.
"Bi, tidak usah takut. Saya nanti yang akan bicara dengan suami saya," ucap Mili mantap.
Mili lalu berbalik menatap ketiga guru privatnya dengan pandangan yang kian membara.
"Maaf atas kekacauan tadi. Mari kita mulai pembelajarannya sekarang."
Ketiga guru privat itu saling pandang sejenak sebelum kompak menganggukkan kepala mereka dengan rasa kagum.
Keteguhan hati dan ketenangan yang baru saja ditunjukkan oleh Mili saat menghadapi adik kandungnya membuktikan bahwa wanita muda di hadapan mereka ini memiliki potensi luar biasa untuk menjadi sosok Nyonya Kartajaya yang disegani.
Sesi pembelajaran pun resmi dimulai. Ibu Ratna mengambil alih peran pertama dengan pendekatan yang sangat telaten, sabar, dan terstruktur.
Sebagai instruktur etika tingkat tinggi, Ibu Ratna tidak langsung membebankan aturan-aturan rumit, melainkan menjelaskan dasar pemikiran di balik setiap etika.
Ia membimbing Mili memahami esensi dari table manners—mulai dari cara memegang garpu dan pisau dengan benar, posisi duduk yang tegak namun rileks di meja makan, hingga penggunaan jenis gelas yang tepat untuk setiap jenis minuman.
Ibu Ratna mempraktikkan gerakan tangan yang halus saat menyantap hidangan tanpa mengeluarkan suara sedikit pun dari dentingan alat makan.
Tidak hanya itu, Ibu Ratna juga mengajarkan cara berkomunikasi di hadapan publik: bagaimana menyapa tamu penting dengan kontak mata yang tenang, menjaga artikulasi bicara agar terdengar anggun, serta memosisikan black card atau barang berharga dengan sopan saat berbelanja di tempat-tempat eksklusif.
Ketelatenan Ibu Ratna membuat Mili merasa dihargai dan tidak dicemooh meskipun ia memulainya dari nol.
Selanjutnya, Pak Hendra maju untuk memimpin sesi literasi dan bahasa.
Merekonsiliasi hak pendidikan Mili yang dulu dirampas menjadi fokus utama Pak Hendra.
Dengan kesabaran seorang pendidik berpengalaman, Pak Hendra membimbing Mili mulai dari pengenalan struktur huruf, mengeja kata, hingga membaca kalimat secara perlahan-lahan.
Setiap kali Mili tertahan pada kata yang sulit, Pak Hendra memberi jeda dan menuntunnya dengan lembut tanpa membuat Mili merasa tertekan.
Begitu masuk ke sesi menulis, Pak Hendra mengajarkan teknik memegang pena yang mantap serta pola goresan tangan agar Mili bisa menghasilkan tulisan yang rapi, simetris, dan indah dibaca.
Dari jemari Mili yang semula canggung dan bergetar, perlahan-lahan terukir susunan kata demi kata yang bersih di atas lembaran kertas putih, membangkitkan rasa percaya diri yang selama ini terkubur dalam dirinya.
Terakhir, giliran Ibu Sofia yang membimbing sesi tata cara berjalan (gait) dan postur tubuh.
Ibu Sofia meminta Mili memakai sepatu bertumit rendah terlebih dahulu demi melatih keseimbangan.
Saat Mili mulai melangkah di sepanjang lorong ruang tamu, gerakannya terlihat terlampau lambat, sangat berhati-hati, dan membusungkan dadanya dengan kaku karena terlalu takut berbuat salah.
Melihat cara berjalan muridnya itu, Ibu Sofia tidak bisa menahan tawa kecilnya yang renyah namun tetap penuh kehangatan.
"Aduh, Nyonya... langkahnya lembut dan halus sekali, persis seperti langkah anggun Putri Solo," seloroh Ibu Sofia ramah, bermaksud mencairkan suasana yang tegang.
Mili mendadak menghentikan langkahnya dan menggigit bibir bawahnya dengan canggung, pipinya bersemu merah karena malu.
Ibu Sofia menyunggingkan senyum menyemangati, lalu mendekati Mili dan membetulkan posisi bahu serta bahu sang Nyonya rumah agar tidak terlalu tegang.
"Ayo Nyonya, tidak usah takut jatuh. Angkat dagu Nyonya sedikit, bayangkan ada mahkota yang sedang bertengger di kepala Nyonya. Tarik napas perlahan, dan biarkan kaki Nyonya melangkah dengan mantap namun tetap lentur," puji Ibu Sofia sambil memberikan contoh langkah kaki yang anggun dan berwibawa.
Mili menatap cermin besar di ujung ruangan, menyerap setiap arahan yang diberikan oleh ketiga guru hebatnya.
Rasa ragu yang sempat tersisa di dalam hatinya kini menguap sepenuhnya.
Mili menganggukkan kepalanya dengan raut wajah bersungguh-sungguh.
"Iya, Bu Sofia. Saya mengerti. Mari kita coba sekali lagi."
Tak terasa, empat jam berlalu begitu cepat. Sesi latihan intensif untuk hari itu akhirnya selesai, dan ketiga guru privat tersebut pamit pulang dengan janji akan kembali lagi esok hari untuk melanjutkan bimbingan.
Setelah mengantar para guru ke pintu depan, Mili melangkah lelah namun riang menuju ruang keluarga.
Di atas meja kaca, Bibi sudah menyiapkan segelas jus alpukat dingin yang segar untuk menyegarkan dahaganya.
Mili mendudukkan tubuhnya di sofa empuk, lalu menyesap jus alpukat itu dengan nikmat.
"Capek sekali, Bi... tapi aku bahagia sekali akhirnya bisa belajar membaca dan menulis," ujar Mili jujur. Matanya berbinar-binar penuh kepuasan memandangi jemarinya yang tadi siang mengukir kata demi kata di atas kertas.
Bibi tersenyum bahagia melihat perubahan raut wajah nyonyanya yang kini tampak jauh lebih hidup dan bersemangat.
"Ikut senang mendengarnya, Nyonya. Usaha Nyonya hari ini sungguh luar biasa."
Bibi membungkuk sopan. "Kalau begitu, Nyonya, saya tinggal ke dapur dulu ya untuk menyiapkan keperluan makan malam."
Mili menganggukkan kepalanya dengan ramah. "Iya, Bi. Terima kasih banyak ya."
Sepeninggal Bibi ke dapur, Mili menyandarkan punggungnya di sofa yang empuk.
Ia mengambil remote dan menyalakan televisi untuk mencairkan suasana rumah yang megah namun hening itu, menikmati momen istirahat pertamanya hari ini dengan perasaan lega dan bangga atas pencapaian dirinya sendiri.
David melirik jam tangan mewahnya yang melingkar di pergelangan tangan.
Angka di jarum jam menunjukkan bahwasanya hari masih terlalu siang untuk mengakhiri aktivitas kantor.
Namun, pria itu mendadak menutup laptopnya dengan rapat dan bangkit dari kursi kebesarannya.
"Jonas, rapikan berkas-berkas ini. Kita pulang sekarang," perintah David tiba-tiba sambil merapikan jasnya.
Jonas yang sedang mencatat agenda membelalak kaget.
"Tapi, Tuan... jam kerja masih tersisa beberapa jam lagi, dan ada beberapa berkas yang harus Anda tanda tangani sore ini."
David menghentikan gerakannya sejenak, lalu menatap sekretaris pribadinya itu dengan raut wajah datar tanpa beban.
"Aku merindukan istriku, Jonas."
Jonas tertegun, lidahnya mendadak kelu mendengarkan pengakuan jujur dan polos dari atasan dinginnya itu.
Melihat binar keseriusan dan ketidaksabaran di mata David, Jonas akhirnya pasrah dan menganggukkan kepalanya pelan.
"Baik, Tuan. Saya akan menyiapkan mobil sekarang."
David melangkah tegap keluar dari ruang kerjanya.
Di balik aura tegap dan dinginnya, sejujurnya ia sangat penasaran dan tidak sabar ingin tahu bagaimana perkembangan serta hasil belajar Mili bersama para guru privat hari ini.
Pikirannya sepenuhnya sudah tertambat pada sosok wanita polos yang kini menunggunya di rumah.