tiga tahun sudah pernikahan kita...Dipaksa menikah di usia muda ketika kita masih duduk di bangku SMA..
Tak ada kontak fisik. Di rumah seperti orang asing. Aku tahu Aksa memiliki ke kasih tapi apa salah ku. Hingga batas kesabaran ku hilang juga.
"Kak Aksa aku ingin gomong".
"Kalau ngomong ya ngomong aja Bintang".
"Kak mari kita berpisah".
Apa Aksa mengabulkan permintaan Bintang. Atau mempertahankan pernikahannya ???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vita no, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertandingan Basket
Dua hari pun telah berlalu. Selama dua hari Tiara di rumah kak aksa, dia selalu saja menempel dengan kak Aksa. Bahkan dia seperti istri kak Aksa dari pada aku. Tapi aku hanya bisa diam dan nggak ada komen sama sekali. Hanya mommy yang sering tegur kelakuan Tiara.
"Tia nggak usah kamu ambilkan sarapan Aksa. Dia bisa ambil sendiri. Kamu ambil aja sarapan kamu."
"Tia besok jangan duduk disana lagi, kamu tu perempuan nggak baik dekat dekat dengan yang bukan muhrim kamu."
"Tia, maaf jika tante menurut kamu, kalau tante banyak larangannya. Ini juga demi kebaikan kamu. Tante harap kamu nggak tersinggung dengan sikap dan ucapan tante."
Disaat mommy menegur sikap Tiara, aku hanya diam dan menunduk saja seolah olah aku nggak mendengar ucapan mommy. Sedangkan kak Aksa juga hanya cuek aja. Dan nggak ada membela Tiara.
Sesampai di sekolah, anak anak pada ribut membicarakan pertandingan basket yang akan diadakan antar sekolah. Mereka semangat kali untuk menonton pertandingan persahabatan antar sekolah ini.
Sedangkan aku yang tak tahu apa apa ya diam aja. Sampai Mila datang dan heboh kali menceritakan tentang pertandingan basket ini.
"Bin Bin, kamu sudah tahu belum, ada pertandingan basket antar sekolah. Kamu mungkin nggak tahu, kalau sekolah SMA Nusa, cowoknya ganteng ganteng Bin. Bahkan, akan banyak cogan nanti yang datang di sekolah kita. Ah akhirnya aku dapat cuci mata.ha...ha...ha..."
"Apaan sih kamu Mil. Jangan kotori fikiran Bintang yang masih polos dan suci ini dengan sifat mu itu." Ucap Silvi sambil menepuk bahu Mila.
"Ih Silvi suka gitu. Suka kali KDPS.uh.."
"Apaan tu KDPS."
"Ya kekerasan dalam persahabatan."
"Apa sih kamu Mil, gaje bangat tahu nggak."
"Ya sudah nggak usah ribut. Mending kita ke kelas aja Sil, Mil. Jam pelajaran hampir mulai lagi. Nanti telat pula masuk kelasnya. Dan soal pertandingan itu, itu nggak penting juga kali Mil."
"Ah... kamu yakin Bin. Nggak minat mau nonton pertandingannya." Dan ku gelengkan kepala ku sebagai jawabannya.
Dan aku berlalu pergi ke kelas ku. Mungkin aku cuek dengan keadaan. Tapi bagi ku sekarang ini, aku ingin cepat cepat selesaikan sekolah ku. Dan memulai hidup ku sendiri tanpa status lagi.
"Wah Bintang makin cantik aja ya. Nggak kayak cewek cewek yang lain, yang menantikan cogan datang ke sekolah ini. Ah makin jatuh hati deh aku sama Bintang."
Plak." Jangan hayal ketinggian Lex. Tu anak aja nggak ada tertarik sama sekali pada kita yang ganteng ini, apa lagi kalau tertarik dengan cowok dari sekolah lain."
"Kamu benar juga Ted. Aku heran, emang seperti apa sih tipe tu Bin Bin."
Juan melirik ke arah Bintang. Pandangan matanya ke Bintang tanpa sengaja di lihat oleh Aksa. Tapi Aksa diam aja. Walau dalam hati Aksa bergumam." Jangan jangan Juan tertarik sama Bintang?"
"Kak Juan kok lihat Bintang seperti itu kali. Apa kak Juan suka ya sama Bintang?"
Dan pertanyaan Tiara itu hanya diacuhkan aja oleh Juan. Karena pertanyaannya itu nggak penting untuk dijawab menurut Juan.
Jam belajar sudah usai. Aku dan teman teman ku berencana mau pergi ke mall untuk membeli alat menggambar. Soalnya besok ada pelajaran seni menggambar.
"Assalammu'alaikum mom. Mom, Bintang mau minta izin pergi ke mall sama teman Bintang untuk beli alat menggambar. Bintang minta izin ya mom agak telat pulangnya."
"Ya sudah, mommy izinkan. Hati hati di jalan jangan kemalaman pulang nya. Dan nanti jika mau pulang minta jemput sama mang Ujang aja ya."
"Siap mom. Makasih ya mom."
Aku, Mila dan Selvi akhirnya menuju ke mall dengan memakai mobil Mila. Di tengah perjalanan kami melihat ada sebuah motor sport terjatuh. Dan aku melihat seorang pengemudi kendaraan motor itu terduduk di tepi jalan. Tanpa kusadari aku berucap kepada Mila agar menepikan mobilnya.
"Mil berhenti dulu. Tu lihat ada orang jatuh dari motor itu, dia kayaknya kesakitan deh."
"Mana Bin?"
"Tu yang terduduk di pinggir jalan itu. Kamu ada kotak p3k nggak."
"Nih, mau ngapain kamu Bin. Jangan bilang kalau kamu mau bantu tu orang."
"Ya harus kita bantu lah Mil. Masak calon dokter masa depan nggak ada empati sama sekali sih."ucap ku sambil geleng geleng kepala. Dan aku turun dari mobil dan menuju ketempat pengemudi motor yang terduduk di pinggir jalan.
"Kakak nggak apa apa? Apa ada yang terluka nggak. Ini aku ada bawa kotak p3k, mana tahu berguna kak."
Aku bertanya kepadanya, eh malah dia bengong aja dan memandang ku tanpa berkedip. Aneh...
"Wah cantik banget nih cewek, baik lagi. Mau aja dia nolong orang yang nggak di kenal." Ucapan Gavin yang hanya dia ucapkan dalam hati.
"Kak...kak...kak..apa kakak dengar?" Ucap ku sambil melambaikan tangan di depan wajahnya.
"Oh maaf dek. Iya, ni kaki ku kayaknya luka deh. Aku lagi tunggu teman teman ku, mereka lagi menuju ke sini."
"Oh kalau gitu, biar Bintang bersihkan dulu lukanya ya kak. Coba kakak angkat celananya ke atas, biar Bintang lihat lukanya." Ucap ku, sambil memperhatikan dia mengangkat celananya hingga lutut. Kulihat luka nya cukup parah sih. Kubersihkan luka nya, setelah itu aku kasih obat luka. Setelah itu aku perban lukanya, biar nggak kenak debu dan nggak terinfeksi dari luar.
"Nah sudah beres kak. Kalau gitu Bintang pergi dulu ya kak."
"Eh tunggu, kita belum kenalan. Siapa nama kamu. Kalau nama ku Gavin."
"Oh kalau aku Bintang kak dan ini teman aku Mila juga Selvi. Salam kenal ya kak. Eh itu yang datang teman teman kakak ya?. Kalau gitu Bintang dan teman Bintang pergi dulu ya."
"Kenapa kamu sampai jatuh sih Vin. Apa lagi dua minggu lagi kita mau tanding persahabatan."
"Ya namanya juga musibah Rel. Tapi musibah membawa berkah sih namanya. Aku ketemu bidadari tadi Rel. Yang ngobatin luka ku ini."
"Ada ada aja kamu Vin. Kamu masih waraskan. Nggak terluka kan kepala mu."
"Kenapa kamu tanya gitu Rel?"
"Gimana aku nggak tanya, selama ini mana pernah tu Gavin memuji cewek. Bahkan untuk tertarik aja sama cewek nggak pernah. Aneh nggak tu."
"Iya juga ya Rel."
Gavin anak nya cool, irit bicara dan juga ganteng. Ya sebelas dua belas lah dengan Aksa.
"Kamu lihat nggak Bin. Cowok yang kamu tolong tadi ganteng banget. Hampir mengalahkan ke gantengannya kak Aksa."
"Kamu tu ya Mil, hanya tampangnya aja yang kamu fikirkan. Aneh kamu tu."
"Ya gimana dong Sil, aku kan pemuja para cogan.he...he...he..."
"Sudah jangan debat. Noh kita hampir sampai. Kita sudah telat ni. Nanti kemalaman juga pulangnya."
Akhirnya apa yang kami cari untuk besok sudah dapat. Aku pulang dengan dijemput sama mang Ujang. Mila dan Silvi juga pulang berdua.
"Assalammu'alaikum." Aku mencium tangan mommy dan deddy dengan takzim tak lupa juga tangan kak Aksa. Mereka lagi ngumpul di ruang keluarga.
"Maaf ya mom, ded. Bintang telat pulangnya. Soalnya tadi Bintang bantu mengobati orang yang jatuh dari sepeda motor." Ucap ku pada mommy dan deddy. Aku merasa nggak enak hati aja pulang terlalu malam.
"Ya udah nggak apa apa. Apa kamu sudah makan malam?"
"Belum sih mom. Soalnya Bintang buru buru pulang setelah mendapatkan apa yang Bintang beli."
"Makan kamu gih, tapi sebelum itu mandi dulu biar seger."
"Siap mom. Kalau gitu Bintang ke atas dulu ya mom, ded."