NovelToon NovelToon
Menyesal Telah Selingkuh

Menyesal Telah Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: yani 11

Enam tahun pernikahan yang terlihat sempurna ternyata menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun.

Selama enam tahun, Alena dan suaminya, Rendra, terus berjuang untuk mendapatkan buah hati. Berbagai cara telah mereka lakukan, mulai dari pengobatan hingga program kehamilan yang menguras tenaga dan air mata.

Namun, hasilnya tetap sama tidak ada tangisan bayi yang hadir di tengah rumah tangga mereka.

Di saat Alena masih berusaha bertahan dan berharap, Rendra justru memilih jalan yang paling menyakitkan.
Ia berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri.

Pengkhianatan itu semakin menghancurkan ketika Alena mengetahui bahwa wanita tersebut sedang mengandung anak suaminya.

Dunia Alena seakan runtuh dalam sekejap. Pria yang selama ini dicintainya ternyata telah memberikan semua yang ia impikan kepada wanita lain.

Saat Alena memilih pergi dan membangun hidup baru, Rendra mengira dirinya akan bahagia bersama selingkuhannya. Namun, semakin jauh Alena melangkah, semakin ia menya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18_Kembali ke indonesia

"Aku kembali ke Indonesia lagi... tempat di mana semua luka itu bermula." batin Elvara. Ia memejamkan mata sejenak, lalu mengembuskan napas perlahan, berusaha mengusir kenangan yang tiba-tiba menyerbu pikirannya.

Di pintu kedatangan, Berry sudah berdiri rapi dengan setelan jas hitamnya. Begitu melihat Elvara berjalan membawa koper, Berry langsung menghampiri dan mengambil koper itu tanpa diminta.

"Selamat datang kembali, Nyonya." ucap Berry sambil sedikit menundukkan kepala. Wajahnya dihiasi senyum hormat, meski sorot matanya menyiratkan rasa khawatir yang sulit disembunyikan.

"Terima kasih, Berry." jawab Elvara pelan. Bibirnya tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak sampai ke matanya. Ia tampak begitu lelah, seolah bukan perjalanan jauh yang menguras tenaganya, melainkan beban di dalam hatinya.

"Perjalanan cukup melelahkan, Nyonya?" tanya Berry lagi sambil mendorong koper menuju area parkir. Nada suaranya terdengar hati-hati, takut pertanyaannya justru membuat sang nyonya semakin tidak nyaman.

"Ya... lumayan." jawab Elvara singkat. Tatapannya lurus ke depan, seakan pikirannya sedang berada di tempat lain.

Berry tidak lagi bertanya. Ia memilih diam sampai mereka masuk ke dalam mobil.

Sesaat setelah mobil melaju meninggalkan bandara, suasana kembali hening.

Berry beberapa kali melirik Elvara melalui kaca spion. Sejak tadi wanita itu hanya menatap keluar jendela tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Akhirnya Berry memberanikan diri membuka percakapan.

"Apa perjalanannya menyenangkan, Nyonya? Apa ada hal yang mengganjal di hati Nyonya?" tanyanya lembut. Raut wajahnya dipenuhi rasa cemas, sementara kedua tangannya tetap fokus menggenggam kemudi.

Elvara tidak langsung menjawab. Ia masih memandang deretan kendaraan yang berlalu lalang di jalan tol.

Beberapa detik berlalu.

"Aku baik-baik saja, Berry." ucapnya lirih. Senyumnya dipaksakan, padahal matanya justru tampak semakin sendu.

Berry menghela napas pelan.

"Maaf kalau saya lancang, Nyonya." katanya pelan. Wajahnya terlihat sungkan, tetapi ia tetap ingin memastikan keadaan atasannya.

"Tidak apa-apa." jawab Elvara lembut. Ia mengalihkan pandangannya kepada Berry melalui kaca spion.

"Saya sudah cukup lama bekerja dengan Nyonya." lanjut Berry. Bibirnya mengatup sejenak sebelum kembali berbicara. "Saya bisa membedakan kapan Nyonya benar-benar baik-baik saja dan kapan Nyonya hanya berusaha terlihat kuat."

Elvara tersenyum tipis.

"Kamu terlalu mengenalku rupanya." ucapnya pelan. Ada nada pasrah dalam suaranya yang membuat hati Berry semakin tidak tenang.

Berry ikut tersenyum kecil.

"Itu karena saya setiap hari mendampingi Nyonya." katanya tulus. Sorot matanya dipenuhi rasa hormat sekaligus kepedulian.

"Kamu tidak salah." balas Elvara. Ia menyandarkan kepalanya ke kursi mobil. "Indonesia selalu mengingatkanku pada masa lalu yang ingin kulupakan."

Berry terdiam.

Ia tahu persis luka yang dimaksud Elvara. Namun ia juga tahu bahwa luka itu bukan sesuatu yang pantas untuk dibahas kembali.

"Kalau boleh jujur..." ucap Berry perlahan. Ia menarik napas sebelum melanjutkan. "Sebenarnya saya merasa bersalah sudah menghubungi Nyonya."

Elvara mengangkat alisnya.

"Bersalah?" tanyanya heran. Tatapannya kini mulai fokus kepada Berry.

"Iya, Nyonya." jawab Berry pelan. "Seharusnya saya membiarkan Nyonya menikmati cuti lebih lama."

Elvara menggeleng pelan.

"Jangan menyalahkan dirimu sendiri." katanya tenang. Nada suaranya terdengar lembut dan penuh pengertian.

"Tapi gara-gara saya, Nyonya harus pulang lebih cepat." ujar Berry. Wajahnya dipenuhi rasa tidak enak.

"Bukan salahmu." sahut Elvara. Ia tersenyum tipis untuk menenangkan bawahannya. "Itu memang sudah menjadi tanggung jawabku."

Berry menganggukkan kepala pelan.

"Kapan jadwal pertemuannya?" tanya Elvara.

"Besok pagi pukul sembilan." jawab Berry sigap. "Semua berkas juga sudah saya siapkan."

"Bagus." ucap Elvara singkat. Wajahnya kini mulai kembali dingin dan profesional.

"Apakah setelah ini langsung ke kantor, Nyonya?" tanya Berry.

Elvara menggeleng pelan.

"Tidak." jawabnya tegas. "Aku ingin pulang ke rumah dulu."

Berry mengangguk.

"Baik, Nyonya." katanya hormat. Tangannya memutar setir menuju jalan yang mengarah ke kediaman Elvara.

Beberapa menit kemudian suasana kembali hening. Namun kali ini keheningan itu tidak lagi terasa canggung.

Berry sesekali melirik kaca spion.

"Nyonya..." panggilnya pelan.

"Hm?" sahut Elvara tanpa mengalihkan pandangan dari luar jendela.

"Saya senang Nyonya kembali." ucap Berry tulus. Senyum hangat menghiasi wajahnya.

Elvara menoleh.

"Terima kasih, Berry." katanya lembut. Tatapan matanya sedikit menghangat.

"Perusahaan rasanya berbeda kalau Nyonya tidak ada." lanjut Berry sambil terkekeh pelan. Wajahnya tampak lebih santai dibanding sebelumnya.

"Berlebihan." balas Elvara sambil tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya sejak tiba di Indonesia, senyum itu terlihat lebih tulus.

"Saya serius." ujar Berry. "Semua karyawan menanyakan kapan Nyonya kembali."

"Mereka merindukanku atau pekerjaannya?" tanya Elvara bercanda. Sudut bibirnya terangkat tipis, membuat wajahnya terlihat jauh lebih hidup.

Berry tertawa kecil.

"Mungkin... dua-duanya, Nyonya." jawabnya jujur. Tawa ringan itu akhirnya memecahkan suasana muram di dalam mobil.

Elvara ikut terkekeh pelan.

"Kalau begitu, besok kita mulai bekerja lagi." ucapnya mantap. Tatapan matanya perlahan berubah tajam, menandakan bahwa Direktur Elvara telah kembali.

"Siap, Nyonya." jawab Berry penuh semangat. Senyum lebarnya memperlihatkan rasa lega karena akhirnya melihat Elvara kembali mendapatkan semangatnya, meski ia tahu luka di hati wanita itu belum benar-benar sembuh.

Mobil terus melaju membelah jalanan ibu kota, membawa mereka menuju rumah yang telah lama ditinggalkan.

Di balik ketenangan wajah Elvara, hanya dirinya yang tahu bahwa kepulangannya kali ini bukan sekadar memenuhi panggilan pekerjaan. Indonesia kembali mempertemukannya dengan kenangan yang selama ini berusaha ia kubur dalam-dalam. Dan entah mengapa, firasatnya mengatakan bahwa kepulangan kali ini akan mengubah banyak hal dalam hidupnya.

1
Anne Soraya
lanjut
Ifana
sok²an selingkuh eh ternyata punya jabatan krn istri nya
Sulati Cus
hrsnya g kaget dr awal kan udah tau, istrinya akan mencabut semuanya aneh bgt
Sulati Cus
lah kata nya semua aset di cabut trus di usir kok msh takut 🤔cerita rada nggak nyambung
Sulati Cus
kok gak nyambung udah di usir pdhl🤔msh mencintaimu tp sanggup berkhianat omong kosong👿
sunaryati jarum
Arsenio hanya akan meratapi nasibnya
sunaryati jarum
Hidup dari kekayaan istri saja belagu, selingkuh .Edgar adikmu sudah dewasa dan berumah tangga,sudah bukan tanggung jawab sepenuhnya,namun jika kamu masih merasa itu kewajiban kamu melindunginya baguslah,biar Arsenio tahu siapa yang dikhianatinya.
sunaryati jarum
Sokoor
sunaryati jarum
Kok masih di rumah Elvara
sunaryati jarum
Bukankah Arsenio sudah di usir
sunaryati jarum
Baru mampir semoga suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!