Dua saudara berstatus kakak beradik tinggal bersama sejak usia remaja tanpa kedua orang tua. Karena kedua orang tuanya sudah bercerai dan memilih tinggal bersama keluarga baru masing-masing.
Hal itu membuat mereka harus berjuang untuk bertahan hidup, dan takdir mereka berubah ketika dewasa.
Namun, suatu ketika kedua orang tuanya memperebutkan anak kedua , di situlah kakak membela adiknya tidak membiarkan mereka mengambil adiknya.
Lalu, bagaimana mereka melalui masa-masa sulit?
Ikuti terus kisahnya dan dukung karya author,
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18.
Pagi hari di akhir pekan Salindra menghabiskan waktu di rumah, ia membersihkan kamarnya dan merubah posisi mulai dengan tempat tidur sampai lemari pakaian.
Jayanti sedang pergi ke bengkel melihat motornya yang sedang diperbaiki. “Bagaimana, Bang? sudah selesai dibenerin motorku?"
"Sudah, Mbak. Di coba stater dulu," pinta Abang pekerja bengkel.
Jayanti memeriksa motornya dan mencoba menyalakan motornya perlahan dan berhasil. Ia sangat senang akhirnya bisa menaiki motornya kembali.
"Nih Bang, ongkos perbaikan. Terimakasih banyak ya," Jayanti memberikan uang kepada Abang pekerja bengkel.
"Terimakasih, Mbak. Hati-hati di jalan," sahut Abang mengingatkan.
Jayanti pulang mengendarai motornya yang baru selesai perbaikan dan merasa puas dengan hasilnya. Tanpa ia sadari dari jarak jauh seseorang mengikutinya. Jayanti sampai di depan rumah memarkirkan motornya di garasi berjalan masuk ke dalam rumah senyum-senyum sendiri.
Salindra yang baru selesai membersihkan kamarnya keluar melihat suara motor milik kakaknya sudah diperbaiki. Ketika melihat kakaknya senyum-senyum sendiri merasa aneh, geleng-geleng kepala.
"Kakak mau kemana lagi?" tanya Salindra melihat kakaknya berdandan dengan rapih melewatinya.
"Kakak mau pergi sama Hezel, kamu jaga rumah baik-baik ya," Jayanti berpamitan melangkah keluar bersamaan dengan Hezel yang baru saja sampai.
Keduanya pergi bersama menggunakan mobil Hezel. Salindra melihat kepergian mereka dengan perasaan entah. Tiba-tiba dalam pikiran terlintas sosok pria tapi tidak jelas wajahnya.
“Ada apa denganku, kenapa tiba-tiba memikirkan pria. Jangan sekarang deh, aku belum siap," gumamnya sambil bergidik membayangkan jika punya pacar.
Salindra tidak kemana-mana, saat sedang beristirahat Hafsah datang dengan wajah penuh penyesalan. Salindra melihat mata Hafsah sembab merasa bersalah. Sebenarnya Salindra tidak tegaan melihat orang lain sedih, tapi kalau menyangkut dirinya enggan memulai topik. Hal itu membuat Hafsah diam tidak berani memulai pembicaraan.
"Sudahlah, tidak usah dipikirkan sudah lewat. Santai saja, oke," kata Salindra mengikhlaskan semua yang sudah terjadi.
"Maafkan aku, aku terlalu egois. Aku tidak bermaksud jahat sama kamu. karena tujuanku selain dapat traktir dari kamu. Aku ingin mendekatkan kamu sama Patih, karena dia suka sama kamu sejak dulu," jelas hafsah
Salindra sudah berkutat disibukkan dengan pekerjaan, begitu sibuknya sampai tidak mendengar suara ketukan pintu. “Salindra," panggil seseorang.
Salindra langsung menoleh ke arah pintu, dengan rasa bersalah ia berdiri memberi hormat kepada Asisten Rayan yang berdiri di ambang pintu dengan tatapan tajam. "Maaf, saya tidak mendengar anda masuk,"
Asisten Rayan masuk membawa berkas untuk di salin meletakkan di meja sambil berkata. "Selesaikan secepatnya setelah itu berikan kepada Pak Haikal untuk ditandatangani,"
"Baik, saya segera saya kerjakan," ucap Salindra kembali duduk dan membaca laporan yang diterima dari Asisten Rayan.
Asisten Rayan memperhatikan Salindra wajahnya terlihat pucat. Salindra melihat Asisten itu heran. "Apa ada lagi yang harus saya kerjakan?" tanyanya menatap Asisten tersebut yang masih bergeming di tempat.
"Tidak ada, aku hanya melihat wajahmu sangat pucat pasti kamu habis begadang ya," tebaknya asal.
Salindra mendongakkan kepala sambil mengernyitkan dahinya kemudian bercermin menggunakan layar hp melihat wajahnya sendiri dan ternyata benar padahal sudah di beri makeup agar tidak terlihat pucat, tetap saja kelihatan pandanya, membuatnya tidak percaya diri.
"Makanya jangan begadang terus, nanti kalau kamu sakit tidak ada yang menggantikanmu, bagaimana?" sahut Asisten Rayan.
Salindra menjadi salah tingkah mendapat perhatian dari Asisten Rayan menunduk menyembunyikan wajahnya yang terasa hangat. Asisten Rayan berjalan meninggalkan ruangan Salindra tidak lupa menutup pintu kembali.
Salindra menegakkan kepalanya, menghembuskan napas kasar, melanjutkan pekerjaannya. “Pak Rayan bikin aku grogi saja,“ gumamnya.
Tok tok tok
Pintu ruang Direktur diketuk dari luar begitu mendengar sahutan dari dalam pintu dibuka, Salindra berjalan membawa map untuk diserahkan kepada Haikal. Ia berdiri di depan meja Direktur sambil menunduk hormat. Lalu, memberikan map tersebut tanpa melihat orangnya.
Asisten Rayan geleng-geleng kepala melihat tingkah Salindra meraih map tersebut dan membaca dengan teliti.
“Pak, anda perlu lihat ini," kata Asisten memberikan kepada Haikal sambil melirik Salindra.
Salindra merasakan jantungnya berdegup sangat cepat, wajahnya masih menunduk takut kalau pekerjaannya salah. Haikal membaca hasil kerja Salindra sambil melirik perempuan di depannya yang terus menundukkan kepalanya.
“Memangnya tidak pegal nunduk terus?" Haikal kembali membaca laporan tersebut.
Haikal memuji hasil kerja Salindra tersenyum tipis. Ia tidak menyangka jika Salindra mempunyai skill yang patut diacungi jempol. "Nanti kita akan meeting, siapkan presentasinya segera jangan sampai terlambat dan harus selesai tepat waktu," perintah Haikal.
"Baik, Pak Haikal. Kalau begitu saya permisi," pamit Salindra bergegas meninggalkan ruangan tersebut.
“Bagus sekali idenya, aku butuh pencairan dana berikutnya untuk produk baru dan semua pembangunan proyek segera diselesaikan dengan segera," perintah Haikal.
"Baik, Pak. Segera saya laksanakan, permisi," Asisten Rayan keluar dengan langkah lebar.
...----------------...
Di ruang divisi Citra sedang merencanakan sesuatu, ia bergegas keluar dari ruangan dengan terburu-buru. Ia menghubungi seseorang menuruti semua perintahnya.
"Aku tidak mau gagal, pastikan semua aman tanpa ada penguntit yang melihatmu. Awasi sekitar jangan sampai lengah," perintah Citra sambil mengepalkan genggaman tangannya.
“Citra, kamu ngapain di sini?" tanya Vita melihat Citra berdiri di samping pintu toilet.
"Aku habis dari toilet," jawab Citra asal.
Vita melihat gelagat Citra merasa curiga. "Aku dari toilet tidak melihat kamu di dalam,"
Citra membeku seketika ketahuan berbohong, langsung melangkah pergi meninggalkan Vita yang bengong melihat kegugupan Citra tadi.
Vita kembali ke tempat kerja sambil memikirkan gelagat Citra yang mencurigakan. "Kamu kenapa, Vit?" tanya Elis.
"Oh tidak apa-apa, kok," jawab Vita menetralkan rasa penasarannya terhadap Citra dan fokus dengan pekerjaannya.
“Citra, apa tugasmu sudah selesai?" tanya Asisten Rayan berdiri di sampingnya.
“Sudah, Pak Rayan," jawabnya dengan senyum ceria ketika melihat Asisten bosnya yang ganteng, dan manis.
"Kalau begitu berikan kepada Salindra karena Pak Haikal ingin secepatnya selesai. Buat yang lain jangan sampai salah karena kali ini ada meeting besar jangan membuat bos kecewa dengan pekerjaan kalian semua," kata Asisten Rayan kemudian melangkah pergi.
"Baik, Pak!' jawab semua karyawan secara bersamaan.
Citra selesai mengerjakan laporan pekerjaannya segera pergi ke ruangan Salindra dengan senyum penuh arti. Ia berjalan ke ruangan divisi lain untuk mengambil laporan milik salah satu dari mereka. Kemudian keluar menuju ruang sekertaris.
Tok tok tok
Pintu di buka Citra masuk dengan senyum yang di buat ramah. Salindra melirik sekilas kemudian menegakkan kepalanya melihat wajah Citra.
“Ini laporan yang dibutuhkan saat meeting nanti," kata Citra meletakkan laporan dengan kasar.
Salindra tidak merasa terkejut dan sekarang ia tahu kalau Citra tidak suka padanya dan tidak menerima pertemanan dengan dirinya. Salindra berusaha tenang meskipun hatinya merasa sakit atas ucapan Citra.
“Terimakasih, Citra. Semoga kita bisa bekerjasama dengan profesional,“ sahut Salindra berusaha tersenyum.
"Tidak usah belagu jadi sekretaris, karena tangungjawabnya besar dan tidak main-main, kalau salah sedikit semuanya bisa kacau," ucap Citra dengan angkuh sambil melangkah meninggalkan ruangan.
Salindra melihat hasil laporan yang diberikan oleh citra dan menganalisisnya kembali.
"Salindra, segera persiapkan presentasi lima belas menit lagi kita akan meeting," perintah Asisten Rayan di ambang pintu.
Salindra terkejut menatap ke arah pintu di sana Asisten berdiri dengan wajah serius.
"Baik, Pak Rayan!" jawabnya cepat.