Seraphine merupakan anak adopsi dari keluarga besar Vane. Sera mendapatkan perlindungan total dan kemewahan, tetapi ia mungkin kehilangan kebebasannya. Sang kakak, Alaric Vane telah merencanakan segalanya agar Sera tidak pernah lepas darinya, protective yang mengubahnya menjadi obsesi. Perasaanya bukan hanya sebatas kakak pada ‘adik’ namun lebih dari itu. Demi keluar dari sangkar emas keluarga Vane, Sera memilih bersekolah di imperial royal, Veridion Academy. Tidak main-main, ia enggan merepotkan keluarga Vane. Sera membuktikan mampu mengambil jalur beasiswa penuhnya. Tanpa disadari ini menjadi hal pembullyan disekolahnya. Demi dapat sekolah dengan nyaman hingga kelulusan, Seraphine bertemu dengan Yunkai Shenzar. Bangsawan berdarah biru murni, seorang Pangeran yang sedang bertaruh akan tahtanya setelah kelulusan sekolah. Dari musuh menjadi kekasih. Mereka menjalin aliansi, kerja sama saling memanfaatkan. Seraphine enggan bernaung pada keluarga Vane memilih memanfaatkan kekuatan mutlak sang Pangeran. Yunkai sendiri tahu siapa jati diri Sera sebelum diadopsi, dan memanfaat Sera untuk membuat tuan besar Vane menyokong dirinya menaiki tahta kerajaan. Sera tidak tahu siasat itu justru membawanya terjerumus terlalu dalam membentuk hubungan yang lebih serius dan kekacauan besar antara Tuan besar Vane dengan anaknya, Alaric Vane. Kini, Sera terjebak di antara dua kekuatan besar: obsesi Alaric yang menyesakkan atau cinta sang pangeran yang menawarkan kebebasan namun penuh risiko politik. Di antara bayang-bayang masa lalu keluarga Vane dan kemilau mahkota kerajaan, siapakah yang akhirnya akan dipilih oleh Sera?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
“Tembok Besar”
Setelah Alaric pergi, suasana di antara Sera dan Yunkai mendadak berubah. Sera melepaskan tangan Yunkai dari pinggangnya, merasa kekuatannya telah habis.
"Puas?" tanya Sera pahit. "Kau baru saja menghancurkan hubunganku dengan satu-satunya keluarga yang kupunya."
Yunkai terdiam, ia menatap Sera yang kini tampak begitu rapuh di bawah gemerlap lampu kristal. Ia melangkah maju, membelai pipi Sera dengan punggung jarinya. "Aku tidak menghancurkannya, Sera. Aku hanya menunjukkan padamu bahwa kau tidak butuh keluarga yang membiarkanmu diinjak-injak."
"Kau hanya ingin mengontrolku, sama seperti dia," tuduh Sera.
Yunkai mendekatkan wajahnya, matanya kembali menggelap oleh keinginan yang tertahan. "Bedanya, dia ingin kau tetap menjadi gadis kecil yang lemah. Aku? Aku ingin berdiri disisiku dengan berani memutus rantai yang menghambatnya."
Yunkai menarik Sera menuju balkon luar yang sepi, jauh dari hiruk-pikuk aula. Angin malam yang dingin menyapu wajah mereka. Tanpa peringatan, Yunkai menyudutkan Sera ke pagar balkon, mengurungnya dengan kedua tangan.
"Imbalan kedua," bisik Yunkai parau. "Berhenti memikirkan Alaric. Malam ini, di ruangan ini, hanya ada aku dan kau."
Yunkai mencondongkan tubuhnya. Sera bisa merasakan napas pria itu di bibirnya. Ada dorongan kuat untuk menolak, namun ada rasa ketergantungan yang mulai mengakar di hatinya. Saat bibir Yunkai nyaris bersentuhan dengan miliknya, pria itu berhenti. Ia hanya mencium sudut bibir Sera dengan sangat lembut, sebuah godaan yang lebih menyiksa daripada ciuman langsung.
"Aku akan menunggumu benar-benar menyerah padaku, Seraphine," gumam Yunkai. "Bukan karena kontrak, tapi karena kau menyadari bahwa hanya aku yang bisa memahamimu."
Sera memejamkan mata, merasakan mawar hitam di dadanya terasa semakin berat. Ia telah memenangkan perang melawan Clarissa, tapi ia sadar, ia baru saja memulai perang yang jauh lebih panjang melawan hatinya sendiri—dan melawan ambisi Sang Pangeran yang tak terbatas.
Besok pagi, seluruh sekolah akan berubah. Gilly akan kembali, Luna akan merasa aman, dan Ethan akan pulih. Namun bagi Sera, tidak ada jalan kembali ke Sanguine Ruby yang damai. Ia kini adalah pusat dari badai istana yang baru saja dimulai.
...****************...
Keesokan harinya, keputusasaan itu seolah mewujud bersama alam. Gerimis tipis mulai membasahi halaman luas Veridion Academy, menyelimuti kastel batu itu dengan kabut dingin. Akhir pekan telah tiba. Bagi murid-murid di lima asrama Veridion, ini adalah waktu untuk pulang ke rumah kemewahan mereka atau menikmati kebebasan bersama teman-teman.
Namun, tidak bagi Sera. Ultimatum keras dari Alaric agar ia tidak meninggalkan asrama membuatnya terkurung. Untuk mengalihkan pikirannya yang kacau, Sera memilih menghabiskan waktu di area panahan yang sepi, membiarkan jemarinya terluka demi meluaskan rasa penat.
Pikiran Sera melayang mundur, pada kejadian beberapa hari lalu tepat setelah pesta dansa usai.
......................
(Flash back)
Alaric telah menunggunya di ruang Domus—sebuah ruang penerimaan tamu yang megah dan luas, yang disediakan akademi khusus untuk kunjungan keluarga kelas atas. namun, saat Sera tiba, ruangan itu kosong. Hanya ada asisten pribadi kakaknya.
“Di mana Alaric?” tanya Sera pada Duan.
Duan membalikkan badan, lalu menghela napas panjang. Beban kerja yang dipikul pria itu tampak jelas dari gurat wajahnya; menjadi tangan kanan Alaric berarti membiarkan jantungmu berpacu di ambang kematian setiap detik. Namun, loyalitas Duan sebanding dengan nilai nominal yang diterimanya.
“Dia harus terbang ke Eredine malam ini. Besok pagi ada rapat mendesak dengan para pemegang saham,” ujar Duan berusaha tenang, sebelum kilat kekesalan mendadak muncul di matanya. “Kenapa kau tidak meminta bantuan Al untuk menyelesaikan masalah keluarga Fountain, Sera?” Duan mulai menaikkan nada bicaranya. “Kau sedang memainkan aset senilai triliunan, Sera. Ya Tuhan... apa kau menganggap remeh seorang Alaric Kane?”
“Karena dia akan selalu menuntut balasan yang mengerikan setiap kali aku meminta bantuannya!” balas Sera, tidak kalah sengit.
“Lalu, apa kau pikir Pangeran Yunkai membantumu tanpa menuntut balasan apa pun?” tembak Duan telak.
Sera tertegun. Ia tertunduk, membiarkan rasa bersalah yang pekat mulai menaunginya.
“Aku tahu apa yang kulakukan, Duan,” bisik Sera, suaranya bergetar namun penuh penekanan. “Aku tidak asal mempertaruhkan investasi sahamku di perusahaan yang hampir bangkrut. Keluarga Fountain memiliki potensi untuk membalikkan keadaan.”
“Tapi apa harus dengan menyeret nama keluargamu? Mourn.” Duan mengucapkan nama itu dengan penekanan yang begitu berat, seolah mengingatkan Sera pada kutukan yang melekat di sana.
“Aku tidak punya pilihan...” lirih Sera.
“ALARIC LAH PILIHANMU!” potong Duan tegas. “Tuan Besar Kane berusaha mati-matian menyembunyikanmu dari dunia luar. Ibumu bahkan rela menghilang dan menjauh dari kerajaannya sendiri hanya agar kau tidak terseret ke dalam tembok besar itu. Beliau tahu sistem kerajaan bukan tempat untukmu, Sera. Dia ingin kau bebas!”
“Lalu, apa kau pikir hidup di bawah naungan keluarga besar Kane membuatku bisa bernapas bebas?!” Air mata yang sejak tadi ditahan Sera akhirnya luruh, membasahi pipinya. “Kau pikir kehidupanku jauh lebih baik didalam tembok tebal keluarga Kane?”
Duan terdiam, terpaku melihat ledakan emosi gadis di depannya.
“Nama besar keluarga Kane sama berat dan menyeramkannya dengan menjaga tahta di singgasana, Duan!” sentak Sera dengan dada kembang kempis. “Setiap detik, setiap nafas ku, aku harus menjaga nama itu agar tidak cacat di mata publik. Dan kau tahu apa yang paling menghancurkanku? Kenyataan bahwa aku bukan bagian dari darah daging mereka! Aku hanya anak angkat yang harus merangkak setengah mati demi menjaga martabat Kane. Setiap kali orang-orang luar itu memandangku rendah, mempertanyakan asal-usulku tanpa aku bisa meneriakkan nama asliku... kau tahu rasanya? Mentalku dihancurkan berkali-kali, dan aku dipaksa membalas penghinaan mereka dengan sederet trofi dan penghargaan!”
Suara Sera memelan, pecah menjadi bisikan yang menyedihkan. “Tidak ada satu pun dari mereka yang bertanya... bagaimana perasaanku? Apa aku lelah? Apa aku baik-baik saja? Nyatanya, aku tidak pernah baik-baik saja, Duan.”
“Kerajaan Eredine bahkan tak menganggap ku, terlebih Alaric mengincar tahta itu. Kau tahu bagaimana aku harus menyeimbangkan semuanya dipundakku, diantara tuntutan keluarga Mourn dan Kane. Kau pikir aku tidak lelah.”
Keheningan yang mencekam jatuh di antara mereka. Duan tertunduk pilu. Ia adalah saksi hidup bagaimana Sera kecil tumbuh bersama kedua orang tua kandungnya dulu—penuh tawa, keceriaan, dan kebebasan mutlak. Dulu, belajar dan prestasi bukan hal yang mengekang Sera, karena ia melakukannya tanpa beban.
Tuan dan Nyonya Besar Kane memang tidak pernah menuntut Sera menjadi yang nomor satu, namun Sera tahu diri. Berada di tengah keluarga yang disegani oleh kerajaan mana pun membuat Sera tidak bisa bertindak sembrono. Terlebih dengan keberadaan Alaric—kakak angkatnya yang terobsesi untuk mendominasi dan mengurung seluruh aspek kehidupannya.
“Sera...” Duan bergumam lirih.
Ia tahu beban di pundak gadis ini terlalu besar untuk seseorang yang bahkan belum genap berusia 17 tahun. Hidup bersama keluarga Kane berarti terkunci oleh obsesi Alaric. Kembali menjadi seorang Mourn berarti membiarkan pihak istana menariknya masuk ke dalam sangkar emas yang penuh intrik berdarah.
Duan akhirnya paham sepenuhnya mengapa Sera memilih berdiri di sisi Pangeran Yunkai.
Dan di saat yang sama, Sera juga sadar... bahwa seluruh percakapan emosional ini telah didengar oleh Alaric di seberang sana, melalui panggilan telepon yang sengaja Duan biarkan menyala sejak awal.
Sera mengetahuinya. Gadis itu tahu Alaric mendengarkan, dan ia sengaja membiarkannya.
Sera menghapus air matanya dengan kasar, lalu menatap Duan dengan tatapan dingin yang baru. “Jangan khawatir. Aku tidak akan gegabah. Targetku hanya menyelesaikan sekolah ini hingga pertengahan tahun depan. Aku tidak memiliki niat untuk mengelola perusahaan ayahku, ataupun menjadi boneka pajangan istana pangeran Yunkai. Aku memiliki caraku sendiri untuk menentukan akhir dari hidupku.”