JUDUL: NAYARA'S STORY: TAWANAN DUA MORETTI
Hanya karena salah melihat eksekusi berdarah, hidup Nayara berubah menjadi neraka.
Dia diseret ke Mansion Moretti untuk dilenyapkan. Namun, saat pistol sang penguasa mafia, Lorenzo Moretti, menempel di dahinya, eksekusi itu batal. Wajah Nayara sangat mirip dengan wanita dari masa lalu Lorenzo.
Alih-alih bebas, Nayara justru terjebak menjadi tawanan sekaligus pemuas obsesi gila sang ayah, dan pelampiasan dendam sang anak—Dante Moretti—yang posesif. Diapit dua iblis mafia, Nayara dihancurkan hingga tak tersisa.
Namun mereka lupa, singa yang terluka akan menggigit lebih mematikan.
"Bagi mereka, tubuhku adalah candu yang memabukkan. Namun mereka lupa, candu ini pulalah yang akan menjadi racun paling mematikan bagi akhir hidup mereka."
Genre: Dark Romance, Mafia, Revenge, Toxic Triangle
⚠️ Peringatan: Mengandung konten dewasa dan konflik emosional yang intens.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aini Nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sakit
𝘑𝘦𝘵 𝘱𝘳𝘪𝘣𝘢𝘥𝘪 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘔𝘰𝘳𝘦𝘵𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘳𝘢𝘵 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘯𝘥𝘢𝘳𝘢 𝘑𝘶𝘢𝘯𝘥𝘢, 𝘚𝘶𝘳𝘢𝘣𝘢𝘺𝘢, 𝘵𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘧𝘢𝘫𝘢𝘳 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘪𝘯𝘨𝘴𝘪𝘯𝘨. 𝘚𝘦𝘱𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘯𝘦𝘳𝘣𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯, 𝘴𝘶𝘢𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘢𝘣𝘪𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘬𝘶. 𝘋𝘢𝘯𝘵𝘦 𝘵𝘶𝘳𝘶𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘫𝘦𝘵 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘳𝘢𝘱𝘪, 𝘯𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘳𝘢𝘩𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘶𝘱 𝘳𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘶𝘳𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘪𝘵𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘱𝘦𝘬𝘢𝘵 𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘸𝘢𝘭 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘵𝘢𝘱 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢. 𝘞𝘢𝘫𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘣𝘶𝘳𝘶𝘬, 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘨𝘪𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯.
𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬? 𝘕𝘪𝘢𝘵 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘣𝘶𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘬𝘴𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘬𝘢 𝘩𝘢𝘵𝘪, 𝘋𝘢𝘯𝘵𝘦 𝘫𝘶𝘴𝘵𝘳𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘭𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘵𝘢𝘸𝘢𝘯𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘱𝘰𝘵𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘵𝘪.
𝘉𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘵𝘩𝘰𝘶𝘴𝘦 𝘴𝘶𝘪𝘵𝘦 𝘩𝘰𝘵𝘦𝘭 𝘣𝘪𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘴𝘢𝘯, 𝘓𝘶𝘤𝘢𝘴 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘱𝘢𝘩 𝘕𝘢𝘺𝘢𝘳𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘶𝘺𝘶𝘯𝘨-𝘩𝘶𝘺𝘶𝘯𝘨. 𝘒𝘶𝘭𝘪𝘵 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘪𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘭𝘢 𝘱𝘶𝘵𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘩 𝘬𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘢𝘮𝘱𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮, 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘯𝘢𝘱𝘢𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘦𝘬-𝘱𝘦𝘯𝘥𝘦𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘱𝘢𝘯𝘢𝘴.
"𝘛𝘶𝘢𝘯 𝘔𝘶𝘥𝘢," 𝘱𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭 𝘓𝘶𝘤𝘢𝘴 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘳𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘕𝘢𝘺𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘬𝘢𝘴𝘶𝘳 𝘬𝘪𝘯𝘨 𝘴𝘪𝘻𝘦. 𝘋𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘱𝘦𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘩𝘪 𝘕𝘢𝘺𝘢𝘳𝘢, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘬𝘦 𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘋𝘢𝘯𝘵𝘦 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘥𝘪 𝘢𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘪𝘯𝘵𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘥𝘢. "𝘕𝘰𝘯𝘢 𝘕𝘢𝘺𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘦𝘮𝘢𝘮 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪. 𝘉𝘢𝘥𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘱𝘢𝘯𝘢𝘴, 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘦𝘧𝘦𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘭𝘶𝘬𝘢 𝘥𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘬𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘵𝘢𝘮𝘣𝘢𝘩 𝘴𝘺𝘰𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘣𝘶𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘥𝘪."
𝘋𝘢𝘯𝘵𝘦 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵, 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘵𝘢𝘱 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨𝘬𝘶𝘬 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘸𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘭𝘪𝘮𝘶𝘵 𝘵𝘦𝘣𝘢𝘭 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘫𝘦𝘯𝘨𝘬𝘦𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘵𝘶𝘵𝘶𝘱-𝘵𝘶𝘵𝘶𝘱𝘪. "𝘊𝘪𝘩. 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘱𝘰𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪. 𝘉𝘢𝘳𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘬𝘰𝘵𝘢 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘫𝘢𝘮, 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘢𝘨𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘬𝘢𝘳𝘢𝘵𝘶𝘭 𝘮𝘢𝘶𝘵."
𝘔𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘴𝘶𝘢𝘳𝘢 𝘣𝘢𝘳𝘪𝘵𝘰𝘯 𝘋𝘢𝘯𝘵𝘦, 𝘕𝘢𝘺𝘢𝘳𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘥𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵. 𝘋𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘵𝘢𝘱 𝘋𝘢𝘯𝘵𝘦 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘺𝘶, 𝘯𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘴𝘪𝘴𝘢-𝘴𝘪𝘴𝘢 𝘦𝘯𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘥𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘴𝘢𝘬.
"𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢... 𝘶𝘨𝘩... 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘢𝘨𝘢𝘬," 𝘣𝘪𝘴𝘪𝘬 𝘕𝘢𝘺𝘢𝘳𝘢, 𝘴𝘶𝘢𝘳𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘳𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘦𝘵𝘢𝘳 𝘩𝘦𝘣𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘪𝘨𝘪𝘭. "𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶... 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘶𝘭𝘪𝘬𝘬𝘶... 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯... 𝘴𝘦-𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪, 𝘐𝘣𝘭𝘪𝘴 𝘴𝘪𝘢𝘭𝘢𝘯..."
𝘋𝘢𝘯𝘵𝘦 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘩, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘶𝘴 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢. 𝘋𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘫𝘶 𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘵𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘪𝘯𝘨 𝘳𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘨𝘬𝘶𝘬 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘵𝘢𝘱 𝘕𝘢𝘺𝘢𝘳𝘢 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵. "𝘋𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘰𝘯𝘥𝘪𝘴𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪 𝘱𝘶𝘯 𝘮𝘶𝘭𝘶𝘵𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘶𝘱𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶𝘵𝘶𝘬𝘢𝘯, 𝘩𝘶𝘩? 𝘏𝘦𝘣𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪."
"𝘛𝘦𝘯𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢..." 𝘕𝘢𝘺𝘢𝘳𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘫𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦 𝘣𝘢𝘯𝘵𝘢𝘭, 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘰𝘣𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘳𝘪𝘬 𝘴𝘦𝘭𝘪𝘮𝘶𝘵 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪. "𝘈𝘬𝘶... 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱... 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵... 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘪𝘵𝘦𝘮𝘣𝘶𝘴 𝘱𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶... 𝘶𝘨𝘩..." 𝘚𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘤𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶, 𝘕𝘢𝘺𝘢𝘳𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨𝘪𝘴 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘦𝘯𝘺𝘶𝘵 𝘩𝘦𝘣𝘢𝘵.
𝘋𝘢𝘯𝘵𝘦 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘱𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘴𝘪 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩. 𝘕𝘪𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘕𝘢𝘺𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘦 𝘚𝘶𝘳𝘢𝘣𝘢𝘺𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘮𝘦𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘺𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘥𝘪 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯 𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯𝘴𝘪, 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘬𝘶𝘬 𝘭𝘶𝘵𝘶𝘵. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨? 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘳𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘰𝘱𝘪, 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘤𝘶𝘴.
"𝘓𝘶𝘤𝘢𝘴," 𝘱𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭 𝘋𝘢𝘯𝘵𝘦, 𝘴𝘶𝘢𝘳𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘥𝘰𝘯𝘨𝘬𝘰𝘭. "𝘗𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭 𝘥𝘰𝘬𝘵𝘦𝘳 𝘱𝘳𝘪𝘣𝘢𝘥𝘪 𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯𝘴𝘪 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘥𝘪 𝘬𝘰𝘵𝘢 𝘪𝘯𝘪. 𝘚𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘥𝘪𝘢 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘵. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘥𝘶𝘢 𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘫𝘢𝘮 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘩, 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘰𝘵𝘰𝘯𝘨 𝘭𝘪𝘥𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘨𝘢𝘳 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘰𝘮𝘦𝘭."
𝘓𝘶𝘤𝘢𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘺𝘶𝘮𝘯𝘺𝘢 𝘳𝘢𝘱𝘢𝘵-𝘳𝘢𝘱𝘢𝘵, 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘩 𝘮𝘶𝘯𝘥𝘶𝘳. "𝘉𝘢𝘪𝘬, 𝘛𝘶𝘢𝘯 𝘔𝘶𝘥𝘢. 𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘳𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘪 𝘥𝘰𝘬𝘵𝘦𝘳."
𝘚𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘓𝘶𝘤𝘢𝘴 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳, 𝘋𝘢𝘯𝘵𝘦 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘶𝘢𝘳𝘢, "𝘋𝘢𝘯 𝘓𝘶𝘤𝘢𝘴... 𝘣𝘦𝘭𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘣𝘶𝘳 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘪𝘵𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘢𝘳 𝘩𝘰𝘵𝘦𝘭 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘰𝘵𝘰𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘱𝘳𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢."
"𝘋𝘪𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘵𝘪, 𝘛𝘶𝘢𝘯," 𝘴𝘢𝘩𝘶𝘵 𝘓𝘶𝘤𝘢𝘴, 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘳𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘵𝘶𝘱 𝘱𝘪𝘯𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘢𝘳 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘱𝘢𝘵, 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘋𝘢𝘯𝘵𝘦 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘵𝘢𝘱 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘦 𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘸𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘳𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘫𝘢𝘮𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘵𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘴𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘪𝘣𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘮𝘢𝘮.
Setelah pintu kamar tertutup dan menyisakan keheningan, Dante masih berdiri di tempatnya. Sepasang matanya menatap tajam gundukan selimut yang membungkus tubuh lemas Nayara. Rasa jengkel di dadanya sudah sampai ke ubun-ubun. Seorang Don Mafia kelas atas, harus mengurus tawanan yang penyakitan di hari pertama kerja. Sungguh merusak reputasi.
Dante melangkah mendekat, lalu dengan kasar menarik ujung selimut yang menutupi setengah wajah Nayara. "Heh, Kucing Liar. Buka matamu."
Nayara melenguh terganggu. Rasa panas yang membakar tubuhnya membuat setiap jengkal kulitnya terasa ngilu, tapi suara menyebalkan Dante berhasil memicu adrenalinnya untuk kembali bangun. Dia membuka matanya yang sayu dan berair, menatap Dante dengan pandangan super ketus.
"Apa lagi sih? Bisa tidak... ugh, jangan menggangguku dulu? Kepalaku mau pecah!" omel Nayara, suaranya parau dan putus-putus, tapi nadanya tetap tidak mau kalah.
"Kau berani memerintahku di kamar hotelku sendiri?" Dante mendengus sinis, sengaja merebut bantal cadangan di atas kasur dan melemparnya pelan ke arah wajah Nayara. "Niatku membawamu ke kota ini adalah untuk menjadi budakku, bukan untuk menjadi beban yang menghabiskan fasilitas kamar mewah!"
Nayara menepis bantal itu dengan tangan sehatnya yang gemetar. Dia mencoba bangkit, menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki. Napasnya yang panas memburu, pipinya merah padam karena demam, tapi matanya melotot tajam.
"Siapa juga yang minta dibawa ke sini?! Kamu yang menyeretku seperti binatang, Tuan Muda yang Gila Hormat!" semprot Nayara, meskipun setelah itu dia langsung memegangi pelipisnya sambil meringis. "Aduh... sialan, pusing sekali..."
"Mulutmu itu benar-benar minta diledakkan, ya," desis Dante, langkahnya maju satu tapak hingga pembatas kasur menempel pada lututnya. Dia membungkuk, mengikis jarak hingga wajah mereka hanya terpaut beberapa senti. "Kau sedang demam, Nayara. Fisikmu lemah. Kalau aku mau, aku bisa mencekikmu sekarang dan membuang mayatmu ke selokan Surabaya tanpa ada yang tahu."
Nayara tidak mundur. Alih-alih takut, dia justru memajukan wajahnya yang terasa panas, menantang langsung sepasang mata elang Dante. Chemistry ketegangan di antara mereka kembali memercik, pekat dan berbahaya di bawah temaram lampu kamar hotel.
"Lakukan saja!" tantang Nayara dengan senyuman miring yang tampak getir namun berani. "Cekik aku sekarang! Biar tugasmu beres, dan aku tidak perlu lagi melihat wajah sok tampanmu yang memuakkan ini! Tapi ingat ya... kalau aku mati, bayanganku akan menghantuimu sampai kamu ikut gila!"
"Sok tampan?" Dante terkekeh rendah, suara baritonnya terdengar sangat mengintimidasi sekaligus seksi di saat yang sama. "Kau adalah tawanan pertama yang berani mengomentari wajahku, Kucing Liar. Dan asal kau tahu, aku tidak akan membiarkanmu mati semudah itu. Kematianmu terlalu murah untuk menebus apa yang sudah dilakukan ayahmu."
Nayara mendengus, mencoba melepaskan cengkeraman Dante meski rahangnya terasa sakit. "Jangan bawa-bawa ayahku! Kalian yang bajingan, kalian yang penjahat! Memangnya apa salah ayahku sampai kamu memperlakukanku sekejam ini, hah?!"
"Kau tidak perlu tahu apa kesalahannya," bisik Dante dingin, ibu jarinya sengaja menekan sedikit bibir bawah Nayara yang pecah-pecah hingga gadis itu meringis kesakitan. "Yang perlu kau tahu adalah, saat ini kau milikku. Jadi, 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘳𝘢𝘭𝘢𝘩 sembuh, minum obatmu nanti, dan bersiaplah merangkak di bawah kakiku setelah demam sialanmu ini turun."
Dante menyentak dagu Nayara hingga terlepas, lalu berbalik badan dengan jengkel. Dia melangkah menuju pintu kamar, berniat keluar sebelum dia benar-benar kehilangan kendali dan mencekik gadis pembangkang itu.
"Jangan harap aku sudi merangkak untukmu, Dante Moretti!" teriak Nayara parau dari atas kasur, melemparkan botol air mineral kosong ke arah punggung Dante.
Duk!
Botol plastik itu mengenai punggung tegap Dante sebelum jatuh ke lantai. Dante menghentikan langkahnya di ambang pintu, menarik napas dalam-dalam dengan rahang yang mengeras, menahan diri untuk tidak berbalik dan membalas perbuatan kasar tawanannya itu.
"Satu poin lagi untuk hukumanmu nanti, Nayara," ucap Dante tanpa menoleh, lalu menutup pintu kamar dengan dentuman keras, meninggalkan Nayara yang kembali ambruk ke atas kasur sambil mengumpat habis-habisan di balik selimutnya.