NovelToon NovelToon
Cowok Cupu Favoritku

Cowok Cupu Favoritku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: arina_ar

Kedatangan murid baru di SMA Adiwijaya langsung jadi perbincangan hangat. Kabar bahwa anak pemilik sekolah ikut pindah di hari yang sama, membuat suasana sekolah makin ramai dan penuh teka-teki.

Sekelompok murid berpengaruh berambisi mencari siapa sosok pewaris asli yang disembunyikan. Siapa pun yang dianggap mengganggu atau tidak pantas, akan mereka singkirkan tanpa ampun.

Naysilla, gadis pindahan yang polos dan tak paham aturan keras di sana, tiba-tiba jadi sasaran utama kecemburuan dan perundungan. Di saat ia dikucilkan, disudutkan, dan tak ada satu pun yang berani mendekat, selalu ada satu sosok yang diam-diam hadir.

Raynor Mohan, cowok berkacamata yang penampilannya sederhana, pemalu, dan selalu dipandang sebelah mata oleh semua orang. Namun bagi Naysilla, sosok itulah satu-satunya tempat aman untuk pulang. Di balik sikapnya yang cupu, Naysilla perlahan menemukan sisi lain yang hanya ia bisa lihat sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18.

Kelopak indah bunga tabebuya terlukis nyata, di atas kertas putih dengan garis-garis penuh makna. Setiap goresan punya cerita, setiap warna punya arti tersendiri.

Semua perasaan, isi hati, serta emosi, ia tumpahkan dalam lembaran putih. Dan hanya dirinya sendiri yang bisa memahami.

"Gambar apa?"

Mohan datang dengan dua porsi mie ayam bakso di nampan. Kedatangannya mengusik konsentrasi, aroma kenikmatan memaksa dirinya meninggalkan sebentar hobinya.

"Bunga. Eh, kok jadi lo yang bawa, mana Dewi?" ucapnya heran, walau sebenarnya ia tak terlalu peduli.

"Tadi ketemu di jalan, katanya dia buru-buru, ada perlu"

"Oh, gitu" jawabnya acuh. Ia meracik saos dan kecap sesuai selera, mencicipi sedikit, setelah di rasa pas ia habiskan hingga tandas.

"Habis ini pulang, Na!" ucap Mohan di sela-sela makannya.

"Ngapain buru-buru pulang? Masih jam tujuh, masih sore kok" jawabnya enteng. Ia menyeruput lemon thea miliknya, sensasi segar menjalar lewat tenggorokan.

"Gue ada perlu, nggak bisa nemenin lo terus"

"Gue bisa sendiri kok"

"Istirahat, Na. Lo harus siapin mental yang besar buat sidang terakhir besok"

"Iyah, Iyah deh" jawabnya nurut. Padahal dalam hati ia tengah sibuk mencari judul film yang hendak ia tonton sendiri.

Di bawah langit malam, bulan bersinar indah. Cahayanya yang lembut menyoroti sepasang remaja, di bawah pohon bunga tabebuya.

Mohan menghabiskan es teh miliknya sekali tenggak. Tanpa curiga, ada sesuatu yang diam-diam mengancamnya.

Di balik pohon besar, seorang gadis berkepang dua mengintip lewat sela-sela rumput liar. Wajahnya tegang penuh arti. Matanya terus mengikuti tanpa henti, sampai mereka benar-benar menghilang dari pandangan.

Disisi lain...

"Langsung istirahat, besok gue jemput ke sekolah" ucap Mohan dingin, ia kembali melangkah ke bawah, menuntaskan hal penting untuk melindungi miliknya.

Langkahnya semakin berat, seiring suasana sekitar yang semakin gelap mencekam. Ia meraba jejak dengan sedikit tenaga yang masih tersisa.

Hingga rasa pusing menyerangnya, menyiksa kesadaran. Ia tak kuat bertahan lebih lama, sementara menghentikan langkahnya didepan kelas terbengkalai.

Sayup-sayup ia menangkap siluet gadis berambut panjang, berjalan anggun mendekatinya. Gadis dengan gaun indah yang kemudian duduk disampingnya.

Gadis itu menawarkan pangkuan sebagai tempat bersandar, dan tanpa ragu Mohan menerima itu. Karena rasanya sungguh tak karuan, ia membutuhkan kenyamanan.

Ia terbuai, menikmati belaian lembut yang gadis itu berikan. Tanpa sadar lengannya merengkuh pinggang ramping gadis berwajah samar, sementara kepalanya terasa nyaman beristirahat dipangkuan lembutnya.

Ia tak tau pasti siapa gadis itu sebenarnya, tapi ia mengenali rambutnya, pakainya, dan wangi tubuhnya.

Sampai kesadaran perlahan lenyap, terbuai dalam posisi yang begitu intim. Gadis itu masih terus membelainya sayang, menikmati momen yang selama ini ia dambakan.

Dari sudut tersembunyi, sosok misterius merekamnya diam-diam. Mengambil gambar sebanyak mungkin.

...****************...

Kabut tipis menyelimuti halaman sekolah, ketika Mohan melangkah melewati deretan pohon bunga tabebuya. Kepalanya terasa berat, seolah ada ribuan jarum yang menusuk di balik pelipis.

Kenangannya semalam terpotong-potong, hanya ada bayangan wajah yang samar, rasa dingin yang menjalar, dan perasaan bersalah yang entah kenapa sudah mencengkeram dadanya sejak ia bangun tadi pagi.

Ia mencari sosok yang selalu menjadi tujuannya. Di sana, di bawah pohon bunga tabebuya tempat mereka biasa bersama, Naysilla berdiri tegak dengan seragam yang rapi. Namun saat mata mereka bertemu, jantung Mohan seakan berhenti berdetak.

Tidak ada senyum manis. Tidak ada sapaan lembut yang biasa ia dengar. Tatapan gadis itu dingin, datar, seolah-olah orang yang berdiri di hadapannya hanyalah orang asing yang tak pernah saling mengenal.

“Na…” panggilnya pelan, langkahnya melambat.

Naysilla tidak bergeming. Ia hanya memandang sekilas, dengan sedikit senyum yang dipaksakan.

"Kenapa Momon" suaranya datar, tak ada getaran rindu yang dulu selalu terdengar.

"Lo kenapa, Na? Lo sakit?” tanya Mohan makin bingung. Ia merasa ada jarak yang tiba-tiba terbentang lebar di antara mereka, sesuatu yang tak bisa ia jangkau meski ia melangkah sejauh apa pun.

Belum sempat Naysilla menjawab, bisikan-bisikan pelan mulai terdengar dari arah siswa yang mulai berdatangan.

Tatapan kebencian terasa semakin tebal. Tak hanya itu, tersirat tatapan penuh selidik dan kata-kata yang menyakitkan.

"Gue... Gue nggak apa-apa kok. Ayo Momon, nanti telat" ucapnya sedikit melunak. Perasaan tak tega pelan-pelan merayap dihatinya. Ia menyamakan langkah bersama Mohan, tapi ketika tangan itu hendak di genggam, ia menariknya paksa, sebelum cowok itu sempat menyentuhnya.

"Sorry, Na. Tadi... Gue telat dikit" ia yang biasanya bersikap dingin, ia yang biasanya berwajah datar, kini berputar arah sebaliknya. Ia bersusah payah menghadapi sikap Naysilla yang persis seperti dirinya.

"Nggak apa-apa kok Momon, gue tau semalam lo SIBUK banget kan!" ucap Naysilla datar, dengan menekankan kata terakhir itu sejelas-jelasnya. Matanya tak lepas menghadap ke depan, seolah tak peduli meski hatinya sendiri merasa perih.

Belum sempat Mohan membalas, tiba-tiba seorang siswi yang tak di kenal hadir di samping mereka. "Eh, kalian berdua udah ditungguin di aula sekolah, sekarang" ucapnya singkat sebelum berlalu pergi.

Naysilla menatap Mohan spontan, dengan raut wajah menegang. Ia tak mengerti, kenapa pagi ini rasanya sekacau ini? Ia menyentuh ponselnya yang bergetar tiba-tiba. Ada panggilan masuk dari Mamih nya, tanpa pikir panjang ia cepat-cepat mengangkatnya.

"Hallo sayang... Kamu kemana ajah sih, dari semalam Mamih telfon nggak di angkat juga?"

Spontan, Naysilla membuka riwayat panggilan, ada 5 panggilan menumpuk disana. Perasaan tak enak pelan-pelan merayap di hatinya.

"Nay nggak tau Mih, maaf..." ucapannya mengelak, dengan nada manja seperti biasa. Mohan yang berada di sampingnya merasa gemas sendiri jika Naysilla sudah di mode manja seperti ini.

"Iya deh, gimana kamu sekolahnya? Nyaman nggak? Ada masalah nggak?" ucap Mamih lembut seperti biasa, tapi mampu mengoyak pertahanan Naysilla.

Dalam hati ia sangat ingin berteriak "Tidak Mih, aku nggak baik-baik ajah", tapi rasa itu tercekat di tenggorokan.

"Aman Mih..." jawabannya singkat, menyembunyikan perasaan.

"Bagus kalo aman, Mamih udah khawatir banget dari semalam perkara pihak sekolah hubungi Mamih, ngundang Mamih untuk datang ke sekolah kamu hari ini juga"

Bagai tersambar petir di siang bolong, Naysilla menghentikan langkah, mengatur ritme pernapasan supaya lebih tenang.

Kemarin ia bisa menanggapi semua dengan santai, tapi berita yang ia terima tentang Mohan semalam, benar-benar membuatnya tak tenang. Ditambah pihak sekolah mengundang orang tua nya yang kemungkinan untuk hadir di acara persidangan hari ini.

Di tengah kegelisahan, ia kembali melangkah menuju tempat tujuan. ketika sadar jika Mohan sudah tak ada di sampingnya.

Langkahnya tergesa, halaman mulai ramai penuh orang yang tak di kenal. Ia tak begitu memperhatikan jalan, hingga dari arah samping seorang wanita tua pembawa keranjang penuh telur rebus menabrak nya.

Sorak sorai menghebohkan halaman sekolah pagi ini. Naysilla sibuk mengutip telur-telur yang tercecer di tanah. Beberapa ada yang pecah mengenai sepatutnya, tapi ia tak peduli.

Ia mengumpulkan semuanya, menyerahkan pada seorang ibu tua yang tampak sedih ekspresi nya. Kehebohan semakin tercipta ketika Naysilla menuntunnya, berjalan bersama seperti sepasang ibu dan anak.

Bisik-bisik tercipta, memberikan kata menyakitkan dan penghinaan.

"Ternyata bener, dia anak babu"

"Pantes ajah kelakuannya kayak gitu"

"Emang nggak tau diri dia. Liat ajah ibunya yang gembel itu, ih nggak level banget modelan kayak gitu ada di sekolah elit kita"

Beberapa siswa mengabadikan momen yang dianggap epik ini. Sang ibu tua berjalan lurus sampai matanya tak sengaja menangkap seseorang yang dikenalnya.

"Olivia..." pekiknya bersuara nyaring.

1
Sofyan Sofyan
jangan lama2 ya😭
Aisyah Suyuti
good
kelinci kecil
penasaran, kira-kira siapa anak pemilik sekolah yang asli yah
arina_ar: ikuti terus kelanjutan ceritanya, nanti akan terjawab semuanya. terimakasih sudah mampir.
total 1 replies
🌹Widian,🧕🧕🌹
hai......
cupu tuh apaan ?
arina_ar: culun kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!