"Sejak awal aku memang tidak pernah mencintaimu, Alin! Hatiku sepenuhnya masih milik Cindy!"
Kalimat kejam dari Elang menjadi penutup malam pertama yang dingin bagi Alin. Hanya karena rasa hormat pada Nenek Aisyah, sang CEO angkuh itu sudi mengikat Alin dalam pernikahan sepihak. Bagi Elang, menyelamatkan Cindy dan bocah kecil bernama Ega dari jalanan adalah segalanya, meskipun ia harus menginjak-injak martabat Alin sebagai istri sah.
Namun, Elang melupakan satu hal: Alin bukanlah wanita lemah yang akan mengemis cinta. Saat Alin benar-benar melepaskan cincin pernikahan mereka dan menghilang untuk menata hidupnya sendiri, dunia Elang justru runtuh seketika. Terlebih saat sebuah rahasia medis terbongkar dan membuktikan bahwa anak yang ia agungkan selama ini adalah sebuah kebohongan besar yang dirancang oleh mantannya.
Penyesalan itu datang terlambat. Elang yang dulu arogan kini harus melepaskan seluruh harga dirinya, merangkak di tengah badai, hanya untuk mendapatkan secuil maaf Alin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Wanita Bermuka Dua?
Alin menjeda kalimatnya, mencengkeram kerah kemeja biru tua Elang hingga pria itu terpaksa menundukkan kepalanya sedikit. "... mulai detik ini, jangan pernah harap Mas bisa menyentuh seujung kuku pun dari tubuh saya. Dan jika di rumah itu Mas tetap bertingkah egois dengan membiarkan wanita itu bertingkah seolah ia nyonya rumah, bersiaplah untuk melihat bagaimana saya mengacak-ngacak hidupmu dan mantan kekasih kesayanganmu itu. Saya bisa jadi sangat barbar jika tempat saya diganggu."
Elang membeku seutuhnya. Cengkeraman tangan Alin pada kerahnya terasa begitu kuat, menegaskan bahwa gadis di depannya ini tidak sedang menggertak sambal. Sisi barbar Alin yang selama ini tertutup rapat oleh etiket keluarga kini menyembul keluar, meruntuhkan seluruh keangkuhan Elang sebagai seorang CEO yang terbiasa dituruti.
"Non Alin ... Den Elang ...."
Suara parau Mbok Darmi yang mendadak muncul dari balik pintu kamar memutus ketegangan yang nyaris meledakkan koridor tersebut. Wanita sepuh itu membuka pintu sedikit, menatap kedua majikan mudanya dengan mata sembap. "Nyonya Besar ... Nyonya Besar sudah sadar dan meminta kalian berdua masuk sekarang juga."
Alin seketika melepaskan cengkeramannya pada kerah kemeja Elang. Ia merapikan tunik abu-abu gelapnya dengan gerakan santai, lalu menyugar rambut panjangnya yang terikat ekor kuda ke belakang pundak. Wajah barbarnya lenyap dalam satu detik, berganti menjadi ekspresi tenang dan teduh yang sangat rapi.
"Baik, Mbok. Kami masuk sekarang," jawab Alin lembut, memberikan senyuman hangat pada Mbok Darmi yang sama sekali tidak tahu badai apa yang baru saja terjadi di luar pintu. Kemudian Mbok Darmi bergegas keluar kamar.
Alin menoleh sekilas pada Elang yang masih berdiri mematung dengan napas yang belum teratur, mencoba mencerna perubahan karakter istrinya yang begitu drastis.
"Ayo masuk, Mas Elang," bisik Alin, nadanya kembali datar dan dingin saat berbicara pada suaminya. "Pasang topeng suamimu yang hebat itu dengan rapi. Jangan sampai Nenek melihat betapa menyedihkannya dirimu di depan istri yang tidak pernah kamu cintai ini."
Elang yang hanya bisa mengepalkan tangannya kuat-kuat di dalam saku celana, meratapi egonya yang baru saja dihancurkan secara total oleh istri sahnya sendiri.
Tanpa menunggu jawaban dari Elang, Alin melangkah anggun memutar tubuhnya, membuka pintu kamar utama itu lebar-lebar, dan melangkah masuk menemui Nenek Aisyah
Namun, tak lama kemudian, tangan Alin yang masih mencengkeram tuas pintu kamar utama ketika derap langkah tergesa-gesa dari arah koridor depan kembali memutus pergerakannya. Mbok Darmi muncul bersama seorang pria paruh baya berkacamata yang menenteng tas medis kulit hitam.
"Den Elang, Non Alin, ini Dokter Hermawan baru saja sampai," ucap Mbok Darmi dengan napas yang masih tersengal-sengal akibat panik.
Elang langsung mengabaikan Alin. Ia memotong jalan, berdiri di depan Dokter Hermawan dengan rahang yang mengeras tegang. "Dok, tolong cek Nenek sekarang. Tolong periksa kondisinya sebelum beliau bicara apa pun pada kami."
"Baik, Elang. Biar saya periksa di dalam," sahut Dokter Hermawan tenang, langsung melangkah masuk begitu Elang membukakan pintu kamar lebar-lebar.
Alin dan Elang turut melangkah masuk di belakang dokter, menutup pintu kayu itu rapat-rapat untuk mengunci ketegangan di dalam ruangan. Di atas ranjang jati berukuran besar, Nenek Aisyah berbaring dengan tubuh yang tampak kian ringkih. Wajah sepuhnya pias, seputih kain sprei yang membungkus kasurnya. Napasnya masih terdengar pendek dan berat, dan sudah menggunakan selang oksigen.
Elang langsung melangkah mendekat, berdiri di sisi kanan ranjang dengan mata yang tidak berkedip menatap sang nenek. Kilat kekhawatiran yang teramat pekat terpancar dari sepasang mata elangnya. Baginya, Nenek Aisyah adalah segalanya di dunia ini. Setelah ibunya meninggal dunia lima tahun yang lalu akibat sakit keras, hanya sang neneklah satu-satunya sosok orang tua tempatnya pulang dan berlindung di tengah kejamnya dunia korporasi.
Namun, di balik rasa khawatir yang mendera jantungnya, Elang sesekali melirik ke arah seberang ranjang. Di sisi kiri kasur, Alin berdiri tegak dengan jemari yang bertautan tenang. Rambut panjangnya yang terikat high ponytail tampak bergoyang sedikit saat ia menunduk mengusap kening Nenek Aisyah.
Melihat wajah Alin yang mendadak kembali teduh, santun, dan penuh kelembutan, hati Elang seketika mengutuk dengan sangat kejam. 'Sialan, wanita bermuka dua,' umpat Elang di dalam hatinya yang mendidih. Ia masih belum menyangka, bahkan tidak habis pikir, bagaimana bisa di balik paras selembut sutra dan wajah setenang telaga itu, tersembunyi sisi ganas, tajam, dan barbar yang baru saja mencengkeram kerah bajunya di luar pintu tadi.
Dokter Hermawan menempelkan stetoskopnya pada dada Nenek Aisyah, memeriksa denyut nadi, dan mengukur tekanan darah wanita tua itu dalam keheningan yang menyiksa selama hampir lima belas menit. Setelah selesai, ia merapikan peralatannya lalu menoleh menatap Elang dan Alin secara bergantian.
"Bagaimana kondisi Nenek, Dok?" tanya Elang cepat, suaranya terdengar serak dan berat.
Dokter Hermawan menghela napas panjang, gurat wajahnya tampak serius. "Kondisi jantungnya tidak stabil, Elang. Tekanan darahnya naik drastis akibat lonjakan emosi yang terlalu mendadak. Saya menyarankan agar Nenek Aisyah secepatnya dibawa ke rumah sakit untuk kembali melakukan kontrol EKG (Elektrokardiogram) secara menyeluruh. Kalau bisa, besok pagi."
"Apakah berbahaya kalau ditunda, Dok?" sela Elang, guratan panik di dahinya kian mendalam.
Bersambung ....