NovelToon NovelToon
Dewa Pedang Malas

Dewa Pedang Malas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SAYAP AYAM

​Matahari siang menyengat tepat di atas ubun-ubun, menerangi paviliun mewah yang kini telah kehilangan atapnya. Debu-debu giok menari di udara, kontras dengan atmosfer yang mendadak mampat dan dingin. Di atas reruntuhan dinding, Master Sekte Gu Xiong berdiri dengan keangkuhan mutlak seorang penguasa ranah Core Formation.

​"Camilan sore? Mulutmu benar-benar lancang, bocah!" Gu Xiong meraung, merasa seluruh harga dirinya diinjak-injak oleh ekspresi muka bantal Ji Huang. "Mati kamu!"

​Gu Xiong menyatukan kedua tangannya di depan dada. Energi spiritual hitam di sekelilingnya meledak dengan intensitas dua kali lipat lebih dahsyat, memanifestasikan jurus pamungkas warisan leluhurnya: Formasi Sayap Harimau Ghaib.

​ROAARRR!!!

​Suara raungan harimau purba menggema dari balik punggungnya. Dua gumpalan energi raksasa berwarna hitam keunguan melesat keluar, memadat membentuk sepasang sayap energi raksasa yang membentang sepanjang dua puluh meter. Setiap helai bulu pada sayap energi tersebut terbuat dari kepadatan Qi yang setajam pedang pusaka. Dengan satu kepakan, sayap itu sanggup memotong barisan gunung menjadi bukit-bukit kecil.

​Udara di seluruh Ibu Kota bergetar. Ji Zhen yang berada di bawah penginapan sudah jatuh terduduk, menutup matanya dengan pasrah. Ini adalah kekuatan yang melampaui batas manusia fana!

​Namun, di tengah badai energi yang sanggup merobek kulit tersebut, Ji Huang hanya berdiri dengan satu tangan memegang piring perak kosong bekas bebek panggang semalam. Matanya yang sayu berkedip lambat, menatap sepasang sayap energi raksasa di punggung Gu Xiong dengan pandangan... menilai.

​"Hmm, ukurannya cukup besar. Tapi energinya terlalu kotor karena amarah," gumam Ji Huang dengan nada malas yang mutlak. "Mari kita bersihkan sedikit."

​Ji Huang melangkah maju satu langkah. Langkah kaki yang terlihat sangat lambat dan diseret itu mendadak menghentikan seluruh sirkulasi angin badai di dalam ruangan secara paksa. Dao Pedang Primordial di dalam esensi jiwanya berkedip, melepaskan secercah konsep hukum alam yang paling murni: Memotong dan Memanggang.

​Bagi seorang Dewa Pedang Tertinggi, Maksud Pedang bukan lagi sekadar energi tajam untuk melukai fisik, melainkan sebuah kuas takdir yang bisa mengubah realitas konseptual dari apa pun yang dia kehendaki. Jika dia bilang itu adalah bahan makanan, maka Hukum Alam akan mematuhinya sebagai bahan makanan.

​Ji Huang mengangkat piring perak di tangan kirinya, sementara tangan kanannya melakukan sebuah gerakan horizontal miring yang sangat santai ke arah udara kosong di depannya—seperti seorang pelayan yang sedang membersihkan remah-remah roti di atas meja.

​SREKK.

​Tidak ada ledakan cahaya yang menyilaukan mata. Tidak ada benturan energi yang mengguncang bumi. Yang terjadi justru adalah sebuah keheningan konseptual yang membuat nalar seluruh kultivator di tempat itu runtuh berkeping-keping.

​Saat tangan kanan Ji Huang mengibas, sepasang sayap energi harimau raksasa milik Gu Xiong mendadak terputus dari punggungnya secara rapi. Namun, alih-alih meledak menjadi pusaran Qi hitam, sayap energi ranah Core Formation yang mengerikan itu mendadak menyusut drastis dalam hitungan milidetik. Warna ungu hitamnya memudar, digantikan oleh warna cokelat keemasan yang mengkilap.

​CESS... SIZZLE...

​Suara minyak mendidih dan aroma gurih madu hutan mendadak menguar hebat di udara, menyapu bersih seluruh hawa membunuh di dalam paviliun.

​Di bawah tatapan mata Gu Xiong yang melotot hampir keluar dari rongganya, sepasang sayap energi legendaris miliknya telah berubah wujud sepenuhnya menjadi sepasang sayap ayam panggang fana berukuran jumbo yang masih mengepulkan uap panas, lengkap dengan lumuran saus madu yang meleleh dengan sangat indah.

​TUK.

​Dengan akurasi yang luar biasa, sepasang sayap ayam panggang gaib itu jatuh dengan manis tepat di atas piring perak yang dipegang oleh Ji Huang.

​PUKK!

​"Ugh... AHGGKKK!!!"

​Detik berikutnya, Master Sekte Gu Xiong mencengkeram dadanya sendiri dengan wajah yang mendadak pucat pasi. Hubungan batin antara jiwa dan jurus pamungkasnya telah dipotong dan diubah paksa menjadi makanan fana. Dampak guncangan batin dan pembalasan Hukum Alam itu menghantam dantiannya tanpa ampun.

​PRETT... KRAK...

​Inti emas (Core) di dalam tubuh Gu Xiong—lambang keagungan ranah Core Formation-nya—mendadak retak dan hancur berkeping-keping menjadi serpihan abu. Seluruh basis kultivasi yang dia bangun dengan bertaruh nyawa selama tiga ratus tahun runtuh total dalam satu detik, merosot drastis melewati ranah Foundation Establishment, melewati Qi Condensation, hingga dia kembali menjadi seorang manusia fana biasa yang lemah dan tidak berdaya.

​BRUK!

​Tubuh Gu Xiong ambruk, jatuh berlutut di atas ubin batu yang retak tepat di depan sisa kasur bulu angsa Ji Huang. Tubuhnya gemetaran hebat, matanya menatap piring perak di tangan pemuda itu dengan ketakutan spiritual yang teramat sangat pekat.

​Menghancurkan ranah Core Formation dengan sebuah kibasan tangan kosong, dan mengubah niat membunuh mutlak menjadi sepiring sayap ayam panggang?! Ini bukan lagi kekuatan seorang kultivator. Ini adalah kemampuan manipulasi realitas milik Dewa Pencipta!

​"P-Pakar... Pakar Agung..." Gu Xiong merangkak mundur dengan sisa tenaganya, air mata dan keringat dingin bercucuran membasahi janggut peraknya. Belasan penatua inti di belakangnya langsung menjatuhkan diri, bersujud dengan dahi menempel rapat ke tanah hingga ubin batu di bawah mereka basah oleh keringat ketakutan.

​Ji Huang sama sekali tidak melirik ke arah mereka. Dia mendekatkan hidungnya ke arah piring perak, menghirup aroma uap panas dari sayap ayam tersebut, lalu menggigitnya sedikit dengan renyah.

​KREKK... NYAM...

​Ji Huang mengunyahnya dengan dahi sedikit berkerut, lalu menggelengkan kepalanya dengan ekspresi kecewa untuk kesekian kalinya.

​"Hmph, sedikit terlalu gosong di bagian ujungnya, khasiat bumbunya juga agak kurang meresap ke dalam daging," kritik Ji Huang dengan nada cemberut, seolah-olah dia sedang menilai masakan seorang koki amatir di pasar loak. "Tapi... setidaknya rasanya tidak sepahit pil obat sialan milik sektemu itu."

​Ji Huang menggunakan tangan kanannya yang bersih untuk menunjuk ke arah atapnya yang bolong, membiarkan sinar matahari siang menyengat wajahnya. "Hei, janggut ompong. Lihat ini. Karena ulah berisikmu, atap kamarku hancur. Estetika tidur siangkuku sekarang terancam gagal total karena silau."

​Gu Xiong langsung membenturkan kepalanya ke lantai berulang kali dengan panik. "Hamba salah! Hamba pantas mati! Sekte Harimau Barat kami akan membayar ganti rugi sepuluh kali... tidak, seratus kali lipat untuk membangun kembali penginapan ini, Senior! Mohon ampuni nyawa anjing kami yang hina ini!"

​"Sudah, pergi sana. Berisik sekali," kata Ji Huang sambil melambaikan tangan tidurnya dengan sangat malas, mengusir mereka seolah mengusir segerombolan lalat hijau yang mengganggu. "Bawa semua anak buahmu keluar dari kota ini sebelum aku selesai menghabiskan sayap ayam ini. Kalau sampai aku mendengar suara langkah kaki kalian lagi saat aku mencoba tidur siang..." Ji Huang melirik piring peraknya, "...aku akan menggoreng seluruh sekte kalian menjadi keripik fana."

​"Baik, Senior! Terima kasih atas kemurahan hati Anda!"

​Gu Xiong dan belasan penatua intinya langsung bangkit berdiri dengan gerakan paling cepat yang pernah mereka lakukan sepanjang hidup mereka. Tanpa memedulikan basis kultivasi mereka yang hilang atau harga diri sekte yang hancur, mereka berlari terbirit-birit keluar dari area Penginapan Awan Surgawi, menghilang di balik tikungan jalanan kota dalam hitungan detik layaknya tikus yang dikejar kucing raksasa.

​Ji Huang menghela napas panjang, menatap sisa sayap ayam di piringnya, lalu melirik kasur bulu angsanya yang kini tertutup bayang-bayang puing bangunan. Dengan wajah watados tanpa beban, dia kembali menyeret sandalnya menuju tepi tempat tidur, bersiap untuk mencari cara agar bisa kembali melanjutkan ritual rebahannya yang sempat tertunda.

1
Shen shandian luo
semua di labeli fana..tusuk gigi fana segala
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!